SISTER 2

1021 Kata
"Tergantung, seberapa baik kau menceritakannya padaku." Zac duduk di tempat tidur, menepuk tempat di sebelahnya untuk Lana. "Ayahku seorang pemburu. Beruang, serigala, dan apa pun yang kulit dan dagingnya bisa dijual. Saat aku berumur empat tahun, mereka berkata ayahku tewas di hutan. Ibuku menikah lagi dengan Boris Nureyev dan mendapat seorang anak. Dia cantik sekali, yang tercantik di keluarga kami. Tidak ada yang tidak menyukainya. Dia gadis penurut yang sangat berbeda denganku." Lana duduk di sebelah Zac memainkan permukaan seprai dengan jari. "Kami tumbuh bersama hingga dengan normal hingga ibuku hamil lagi dan ayahku kembali. Mereka mengira ayahku tahanan dari Gulag yang melarikan diri. Butuh bertahun-tahun untuk bisa membuktikannya tidak bersalah." "Itu mengerikan. Aku pernah mendengae tentang Gulag. Kupikir mereka sudah menutupnya." "Itu yang mereka katakan pada publik." Lana tertawa hambar. "Itu juga yang kami ketahui hingga ayahku kembali." "Bagaimana dengan ibumu? Dia sudah menikah lagi." "Ayahku membunuh Boris. Dia mengayunkan kapak tepat di kedua mata Boris." Lana menyentuh titik di antara kedua matanya. "Ibuku yang histeris demam selama berbulan-bulan. Tubuhnya jadi sekurus kayu. Seperti yang kami duga, ibuku tidak bisa bertahan. Setelah melahirkan adik kami, ibu meninggal." Lana menarik napas dalam-dalam, mengingat lagi jerit memilukan dari ibunya saat meregang nyawa. Tangan ibunya yang menggenggam tangannya seperti masih terasa. Kulit licin bayi baru lahir juga masih bisa dia rasakan. Lana merasa takjub, bagaimana dia bisa melupakan ini semua kemarin? "Ayahmu menerima bayi itu?" Lana tertawa. "Tentu tidak. Laki-laki mana yang mau merawat anak hasil perselingkuhan istrinya? Tidak, Zac. Ayahku hampir membunuh bayi itu juga. Aku dan Dmitri membawanya lari ke rumah bibiku dan baru pulang satu bulan kemudian." "Saat kami pulang, tingkah Irina menjadi semakin aneh. Dia terus memohon mendapat giliran menjaga bayi. Dia masih terlalu kecil untuk itu. Hingga suatu malam, Dmitri tidur di sebelahku. Dia menciumku dan mengatakan suati hari kami akan meninggalkan rumah. Kami ingin memiliki anak kami sendiri." "No s**t!" Lana menoleh.  "No s**t," ulang Zac lagi. "Tidak, Lana. Dia kakakmu." Lana tertawa pelan. "Aku tahu. Tapi, memang aku hanya mencintainya." Lana memejamkan mata, membayangkan betapa hangat senyum Dmitri. Dia masih ingat bagaimana Dmitri memperlakukannya dengan lembut, jauh berbeda dengan yang didapatnya dari kehidupan. "Uhm... bisa kita lewati? Uhm... maksudku, aku... maaf. Aku tidak bisa berpikir tentang hubungan sedarah. Yah... kau tahu, seharusnya orang tidak melakukan hubungan sedarah."  Lana menertawakan ekspresi tidak nyaman Zac. "Sudahlah, silly! Aku mengerti. Kalau kau tidak berada di sana, kau tidak akan paham." Lana menarik napas dalam-dalam. "Saat kami kembali ke kamar, Irina sudah memeluk bayi itu. Dia memeluk dengan sangat erat sampai bayi itu jadi biru. Saat itu dia baru empat tahun. Dia berkata bayi itu lebih baik bersama ibuku di surga. "Tidak ada yang menghukum Irina. Mereka menyalahkanku. Mereka berkata itu kelalaianku, meninggalkan bayi dengan anak sekecil Irina. Aku dikurung di dalam kamar selama satu minggu tanpa makanan. Kalau bukan Dmitri yang memberiku rotinya, pasti aku sudah mati. "Irina sangat ingin menari balet seperti aku dan Dmitri. Tapi dia selalu gagal. Aku terus melatihnya. Irina sama sekali tidak memiliki bakat menari. Akhirnya dia mengadukanku kepada ayah. Ayahku yang tidak sudi melihatku dan Dmitri menari menghancurkan lututku dengan kayu. Aku kesakitan selama berminggu-minggu. Dia pikir itu bisa membuat Dmitri menari bersamanya. Penolakan Dmitri membuatnya kesal dan mengadukan kami pada Ayah. Dia berkata kami akan kabur ke Moskow." Lana mengambil nafas dalam-dalam.  "Ayah memukuli kami berdua. Tanpa ampun. Siang malam." Lana mulai menangis lagi. Dia menghapus air mata dengan ke dua telapak tangannya yang gemetar. "Irina terus mengadukan pada ayahku tentang banyak hal. Buku-bukuku, ciuman Dmitri, dan semuanya. Hingga akhirnya ayah membunuh Dmitri di depan mataku." Nafas Lana tersengal dalam kesedihan teramat. "Dia ... sinting." Pintu dibuka dengan cepat. Rina berdiri di depan pintu dengan tangan di belakang tubuhnya. Senyum gadis itu terlihat manis, membuat Zac meragukan cerita Lana.  "Svetlana. Saudariku," panggilnya dengan lembut. "Mereka bilang aku bisa menemukanmu jika mengikuti mereka. Aku melakukan apa saja, Saudariku. Aku memang sangat ingin bertemu denganmu." "Siapa yang membawamu?" "Laki-laki. Aku tidak bertanya namanya. Tidak penting. Asal tujuan kami sama, aku tidak peduli yang lain." "Tujuan?" "Kau, saudariku. Kaulah tujuan kami." "Terima kasih. Kuharap aku tidak melihatmu selamanya." "Kau meninggalkanku, saudariku." Irina mendekat, seperti tidak peduli pada ucapan Lana. "Kau bersenang-senang di Amerika sementara aku sendirian menghadapi ayah sialan di rumah. Kau pikir itu menyenangkan?" Emosi menghajar jiwa Lana melihat betapa tenang wajah adiknya yang mengeluarkan suara mendesis-desis itu. Bagaimana mungkin Irina menyalahkan dirinya setelah semua siksaan yang telah diberikan kepadanya? "Aku tidak meninggalkanmu, Irina. AKU LARI DARIMU." Lana terkejut dengan amarah yang keluar dari mulutnya sendiri. "Kau yang menyedihkan berharap semua orang mau mencintaimu. Tidak Irina. Kau salah. Wajah bonekamu tidak akan menutupi kejahatan yang kau simpan." Irina menatap Lana dengan tajam. Lana tahu dia telah menyakiti hati adiknya. "Di antara mereka semua, hanya aku yang peduli padamu, Irina. Hanya aku. Itulah kenapa kau mencariku." Suara Lana terdengar lebih menyakitkan daripada sayatan pisau di telinga Irina. "Tidak ada yang menyukaimu, Irina. Mereka hanya melihat wajahmu. Mereka takut padamu." Gadis itu menjerit dan menerjang Lana, berusaha menancapkan pisau yang disembunyikan di belakang punggungnya.  Zac menarik gadis itu, memuntir tangannya hingga pisau itu terjatuh. Irina menendang s**********n Zac, lalu menerjang Lana lagi. Dia berusaha mencekik Lana. Tangan-tangan kurusnya erat di leher Lana, membuatnya buta. Kepalanya berdengung, telinganya seperti ditusuk besi besar. Lana tahu dia harus bergerak. Dia tidak boleh mati sebelum membalaskan dendam Olga dan Dmitri. Lana mencubit pinggang Irina. Sejak kecil, gadis itu tidak pernah tahan dengan cubitan pinggang. Tidak ada yang tahu rahasia kecil ini. Hanya Lana. Gadis itu memelanting ke belakang dengan jerit memilukan. Lana terus mengeratkan cubitannya.  Otak Lana terasa panas saat udara menyerbu masuk paru-parunya. Ia bernafas dengan susah payah.  Zac menarik Irina lagi, melempar gadis itu ke pintu, tepat saat All dan Mike datang. "Bunuh dia! Bunuh dia!" Lana berusaha menjerit dengan putus asa. Tenggorokannya masih terasa nyeri. "Dia akan membunuh kita semua. Dia setan." Irina tersenyum dingin. "Setan pun tidak suka denganku." Irina menarik napas dalam, seperti bersiap untuk berperang. "Lana, aku sudah menunggumu terlalu lama untuk ini semua." "Aku juga sudah muak lari darimu, Baba yaga." Lana mengepalkan tangan, bersiap menyambut perang Irina. "Aku tidak takut lagi padamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN