Gadis itu persia manekin. Wajahnya seputih s**u dengan bentuk sempurna. Kulitnya berkilau, menunjukkan kelembutan yang sebenarnya. Selain rambutnya yang kering dan tangannya yang luka, gadis itu perwujudan kata sempurna yang sebenarnya. Mike duduk berlutut di lantai, memandangi sisi samping gadis itu. Sejak Zac membawa gadis itu ke tempat tidur, Mike tidak berhenti menyentuh wajahnya.
"Sepertinya Tuhan benar-benar serius saat mengerjakannya," ucap Mike pelan.
"Lalu, Tuhan sedang kesal saat menciptakanmu?" All menghela napas dalam. "Jangan apa-apakan dia. Lihat apa yang terjadi padaku karena menyentuh gadis di rumah ini." Dia melirik Zac yang berusaha tidak melihatnya.
"Bisakah kita lakukan sesuatu agar dia bangun?" tanya Mike lagi, mirip lelaki yang terhipnotis. Sepertinya tidak menghiraukan peringatan All.
"Kuharap dia tidak bangun selamanya," desis Lana sungguh-sungguh. Dia terus menjaga jarak dari gadis itu, seolah gadis itu penerita kusta.
"Ada apa denganmu?" Mike menggeram marah.
Lana melotot pada Mike. "Kau tidak tahu setan apa yang kau hadapi." Ia mendesis marah pada laki-laki pucat itu.
Mike berdiri, melipat tangan di d**a dengan tatapan menantang. "Ceritakan!"
Lana menggeleng. Dia tidak mau menggali masa lalu lebih dalam. Namun, tiga laki-laki di ruasangan itu terlihat sama penasarannya. Lana menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri mengupas lagi luka masa lalunya.
"Itu... Irina Nureyev. Adikku. Dialah pusat dari semua masalah dalam hidupku. Dia manipulatif dan..." Lana menelan ludahnya dengan gemetar. "Psycho. Aku masih ingat jelas bagaimana dia menghabisi adik bayi kami yang baru berumur tiga bulan dan menuduhku yang melakukannya."
"Kenapa dia melakukannya?"
Lana hampir terlonjak, terkejut dengan pertanyaan All. Dia berusaha mengingat-ingat awal kebencian Irina. Pikirannya terbang ke musim dingin dua puluh tahun lalu di Siberia. Gadis itu menguntitnya. Dia tidak pernah berbicara banyak padanya. Gadis itu hanya melihatnya, mengikutinya. Pada awalnya, Lana merasa menyenangkan memiliki teman kecil yang manis. Dia ingin menjadi sahabat gadis itu. Namun, bukan pertemanan yang diinginkan gadis itu.
"Nyet!" protes Dmitri padanya. "Irina masih terlalu kecil, Lana. Dia tidak boleh ikut kita masuk ke hutan. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya di hutan jika ada serangan serigala. Aku tidak mau ambil risiko."
"Kau takut Papa marah?" tanya Lana sedih. Dia benar-benar ingin Irina ikut. Kasihan Irina sendirian di rumah saat mereka berburu di hutan.
"Aku takut dia mati." Dmitri melihat gadis yang duduk diam seperti kagum pada mereka. "Maaf, Irina. Aku tidak bisa mengajakmu. Kita harus menunggu sampai kau lebih besar."
Gadis itu tersenyum lebar. "Tidak apa-apa. Aku menyerti."
Namun, ketika mereka akan pergi, ransel dmitri sobek dan anjing yang mereka bawa untuk berburu mati terjerat tali. Tidak ada yang tahu bagaimana anjing itu bisa menggigit tali pengikat kayu bakar. Hingga saat malam Lana melihat bekas merah di tangan mungil Irina. Bekas menarik tali dan gigitan anjing.
"Aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke mana pun dengan Dmitri. Dia milikku," bisik Irina lembut sebelum merapatkan selimut usang mereka dan tidur.
Lana bernapas dalam, berusaha memasukkan lebih banyak oksigen ke kepalanya yang sakit.
"Karena Dmitri. Irina menginginkannya." Lana menatap Zac lekat-lekat. "Dmitri, kakakku."
"Ya, Tuhan. Kalian di Rusia sudah benar-benar kehabisan laki-laki?" All terlihat sangat melecehkan. Lana tidak menghiraukannya.
"Dialah alasan aku meninggalkan Rusia." Lana terus memandangi wajah adiknya. "Sekarang dia ada di sini. Mereka membawanya untukku. Mereka ingin mempermainkanku. Menghancurkan kita."
"Kenapa?" Mike melongo seperti orang bodoh.
"Karena selama ini Lana lah yang menggerakkan kita." Suara Zac terdengar tenang. "Kalian tidak merasakannya? Lana yang meminta kita melakukan ini-itu. Dia juga yang membebaskan kita dari ikatan."
Lana menggeleng dengan lemah. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Ya memang tidak. Bahkan seharusnya kau memang tidak merencanakan yang tidak-tidak dan menutup mulutmu. Mungkin kita sudah tenang di sini. Mungkin mereka akan mengeluarkan kita sebentar lagi." Mike meradang di depan wajah Lana. Ludahnya menyembur menjijikan.
"Jangan konyol. Kalau mereka berniat mengeluarkan kita, mereka tidak akan mengutus setan ini ke sini." Lana menunjuk gadis yang mulai bergerak-gerak di tempat tidurnya. Semua orang menatap gadis itu dengan tegang.
Gadis itu membuka matanya yang besar. Mata kelabu yang sama dengan Lana. Mata itu langsung menatap Lana. Lalu, senyumnya mengembang. Dia malah jadi jauh lebih cantik.
"Svetlana." Panggil gadis itu lirih. Wajahnya tersenyum bahagia. "Sestra?"
"Aku tidak berbahasa Rusia." Lana mengeratkan giginya.
"Aku mengerti" Gadis itu membulatkan matanya. Penampilannya seperti malaikat yang lugu. Setiap pria di ruangan itu ternganga melihatnya.
"Bagus. Bicaralah. Kenapa kau ada di sini?"
"Aku merindukanmu, Svetlana."
"Lana." Terdengar suara geraman dari mulut Lana. Matanya mengeras. Seolah ia bisa membunuh orang lain dengan tatapannya.
"Eezveeneete. Maaf." Gadis itu bangun dari tidurnya dan duduk manis di depan Lana. Lana hampir tidak percaya gadis itu dalam keadaan tidak sadar tadi. Gadis itu sama sekali tidak bertanya di mana dia atau apa yang terjadi. Gadis itu langsung mengenali Lana dan mengajaknya berbicara.
All meradang. "Kau gila. Apa sih masalahmu? Adikmu hanya ingin bicara denganmu dan kau menggeram-geram seperti singa lapar."
Lana mengacungkan jari tengahnya di depan All dengan marah. Mulutnya ingin mengucapkan sesuatu. Tapi dia menahannya. Tidak ada kata baik di dalam dirinya untuk mendeskripsikan Irina. Tidak ada hal baik yang tertinggal di kepalanya tentang Irina, gadis yang menjadi ketakutan terbesar Lana.
"Tidak apa-apa," kata Irina santai. Dia menggerakkan kepala di bantal. "Aku hanya ingin kita mengulang lagi cerita indah di masa kecil kita, Lana. Saat Dmitri masih ada."
Lana maju, hampir saja menghajar wajah gadis itu jika Zac tidak menahan tangannya.
"Sekali lagi kau sebut namanya, aku akan membuatmu menyesal. Aku bersumpah akan membuatmu menyesal."
"Kenapa? Dia juga kakakku, Lana. Aku mencintainya."
“Tidak. Tidak. Tidak, Irina. Sialan! Kau bukan saudara kami. Kau monster. Kau perempuan sial yang menghancurkan hidup kami.”
Lana menendang satu-satunya kursi di kamar itu sampai terpental sebelum berjalan marah ke kamarnya sendiri.
“JANGAN IKUTI AKU!" bentaknya pada Zac yang menahan pintu kamarnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Lihat apa yang terjadi pada Ella saat sendirian. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu."
Lana menelan ludah. Kesungguhan di mata Zac membuatnya sadar kalau dia sudah menangis.
"Kenapa?" tanyanya lirih.
"Tempat ini jahat. Tempat ini memang diatur untuk membuat orang depresi. Lihat, aromanya, suhu udaranya, warnanya. Mereka ingin kita berpikir kalau sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup."
Lana melihat sekeliling, setuju dengan ucapan Zac. Semua keteraturan di tempat ini bukan untuk menjaga kebersihan, tapi untuk membuat orang bosan dan tertekan. Warna putihnya membuat siapa pun berpikir tentang masa depan yang tidak akan datang.
"Kau percaya padaku?" tanya Lana.