Money Bag

2132 Kata
Pemandangan di depan mereka sangat ganjil. Ella duduk di tempat tidur dengan darah menyembur dari tenggorokannya. Tangannya berusaha menutupi luka. Matanya melotot ketakutan. Dia seperti tidak mengira kalau perbuatannya bisa mengakibatkan pendarahan sebanyak itu. Lana bergegas menutup luka dengan selimut, benda pertama yang dilihatnya di kamar itu. Zac terus berbicara untuk menenangkan gadis itu, membuat gadis itu terus sadar saat dia mengulurkan perban dari kotak P3K. Percuma sudah terlalu banyak darah. Ella mencengkeram tangan Lana sebelum matanya terputar ke menghadap langit-langit. Gadis itu mengejang beberapa kali sebelum terkulai lemas.  "Dia mati?" kata Zac yang menekan pembuluh darah di leher gadis itu. Ia berusaha mencari tanda kehidupan. Tidak ada. Luka tusuk di leher Ella meninggalkan lubang gelap. Saluran pernapasannya sobek. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menolongnya. Lana terkulai lemas. Satu nyawa lagi melayang. b******n-b******n di balik kamera itu pasti tertawa sekarang. Mereka mendapatkan tontonan bagus. Tas berisi uang tadi adalah ramalan untuk kematian ini. Mereka tahu Ella akan melakukannya. "Aku yang memberinya senjata untuk bunuh diri," keluh Lana terduduk di lantai. "Aku memberinya kesempatan untuk mati. Zac duduk di sebelahnya, menggeleng. "Kita semua makan dengan garpu itu, Lana. Tidak ada yang bunuh diri." "Seharusnya aku tahu dia akan melakukannya. Seharusnya aku melihat tanda-tandanya." "Kau tidak bisa menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Kau bukan Tuhan, Lana." Zac menarik kepala Lana ke bahunya. "Lagipula... ini sudah terjadi. Menyalahkan dirimu tidak akan membuat Ella bangun lagi." "Sampai kapan ini berakhir?" lirih Lana pada Zac.  Laki-laki itu diam saja, memandangi jasad baru di depannya. Sebenarnya, dia berharap Lana diam saja. Semua kata yang terucap pada saat seperti ini membuat kondisi menjadi makin buruk. Namun, tanpa suara Lana, tempat ini tidak berbeda dengan kuburan. "Mereka mengumpulkan monster di tempat ini. Mereka hanya menunggu kita mati." Lana membersit ingus dan menyapus air matanya.  "Siapa monsternya?" "Kita." Lana melihat padanya. "Mereka tidak melakukan apa pun, Zac. Mereka tidak menyakiti kita. Mereka tidak mengadu domba. Kita saling membunuh atas keinginan sendiri. Ada yang salah dengan kita. Ada kemarahan dalam diri kita. Kemarahan itu yang membuat kita brutal." Zac duduk di sebelahnya, merangkul bahunya, tanpa mengatakan apa pun. "Lihat dia! Dia datang dengan kemarahan. Dia menyalahkan ibunya. Dia terus-menerus menyerang ibunya. Setelah kematian tidak sengaja ibunya, dia baru merasa kehilangan. Dia... anak itu... masih terlalu kecil untuk menyimpan dendam pada Silvia. Lalu, lihat kita! Kau hampir membunuh All. Aku sangat ingin membunuhnya." Lana bernapas cepat dan pendek.  Zac meraih kepala Lana dan memeluknya. "Kita akan baik-baik saja, Lana. Kita akan baik-baik saja." Ia tahu kata-kata Zac hanya sekedar kata-kata penenang kosong. Ia tahu bahwa mereka tidak akan baik-baik saja. Tidak di tempat terkutuk ini. "Aku mengerti kalau kau ingin membunuh manusia sial tadi." Dia menelengkan kepala ke arah pintu. Lana tertawa. Tentu saja dia tahu kalau yang dimaksud Zac adalah All. "Tidak sekarang, Zac. Aku tidak mau membuat mereka senang." Mike membopong All naik. Laki-laki itu sudah babak belur, tapi tetap saja tidak ada penyesalan di wajahnya. Senyumnya seperti ejekan. Lana mengangkat jari tengah yang dibalasnya dengan tawa mengejek.  "Akan kuberi kau kesempatan menikmatinya nanti, Babe," katanya dengan suara terputus. Dia meludahkan darah baru ke lantai. "Aku menyesal tidak menghancurkan mulutnya," gerutu Zac.  "Aku tidak peduli," ucap Lana membuang muka. Mike membawa dua tas kulit. "Milikmu," ucapnya sambil melempar tas untuk Lana dan Zac. "Kau pasti suka mendapat ini, Gadis sok tahu." Mike mengulurkan sebuah amplop surat yang belum terbuka. Lana menerimanya dengan bingung dan membukanya. Surat berembos lagi. Tetap tanpa pengirim dan tanpa tanda tangan. Seperti sebelumnya, lebih bisa disebut memo sekalipun ditulis di atas kertas surat yang tebal dan mewah. Dear, Peserta The 8th Looser, Kalian melakukan pekerjaan yang luar biasa. Kami menyukai kalian. Sekarang kami akan menghadirkan peserta kedelapan untuk menemani kalian. P.s. Kau akan menyukainya, Sweet Pea. "Sweet pea?" Mike mengerutkan kening. "Nama panggilanku di Darling." Lana berucap lirih. Ia menatap Zac bingung. "Ini untukku. Mereka mempermainkanku. Ya, Tuhan! Apa dari semua mereka memamg mengincarku?" "Bullshit," ucap Zac mengambil kertas itu. "Bisa saja mereka memang mengetahui latar belakang kita semua. Hanya kau perempuan di sini. Mereka ingin mempermainkanmu saja." "Kalau kau berniat mati, katakan saja. Aku akan memindahkan isi tasmu dengan cepat." Mike terkekeh atas lawakannya yang sama sekali tidak lucu. Dia menggoyangkan tasnya. Terdengar bunyi logam di dalam tas itu. "Hei, apa yang ada di dalam tasmu?" Zac menyentuh bahu Mike. Lana ikut melihat ke arah tas lelaki pucat itu. "Uang," kata Mike tanpa melihat Zac. "Bukan. Aku mendengar yang lain." Zac merampas tas Mike. Tangan kurus Mike bukan lawan yang seimbang otot-otot Zac. Mike tidak bisa mempertahankan tasnya. Ritsleting tas terbuka. Zac mengangkat keluar dua buah pistol. Satu pistolnya sangat dikenal Lana. Makarov. Lana menutup mulutnya. Mereka benar-benar ingin mendesaknya. "Glock 17," Zac mengacungkan senjata itu di depan wajah Mike. Lebih marah dari sebelumnya. Mike mundur dengan ketakutan. "Dari mana?" "Ada di dalam tas uang. Tersembunyi di dalam tumpukan uang." Zac tahu Mike sama sekali tidak mengerti bagaimana memakain senjata "Aku akan menyimpan benda sial ini," ucap Zac dengan tegas. Mike tidak berusaha membantahnya. Ia hanya menatap Zac dengan marah. "Lalu kau akan menghabisi kami semua?" All tertawa kecut. "Aku bisa menghabisimu tanpa benda ini." Zac memasukan ke dua senjata itu ke dalam lingkar ikat pinggangnya seperti jagoan dalam film aksi. Mike dan All hanya menatapnya dalam diam. Mereka tahu benar Zac tidak main-main. Lelaki itu tidak butuh senjata api untuk bisa menghancurkan kepala mereka. Dirinya sendiri adalah mesin pembunuh berakurasi prima. "Whoo... Tenang, Man. Kau menakuti kami semua." Mike mundur ke kamarnya sendiri. All menatapnya dengan permusuhan yang sama. Bagi All semua belum berakhir. Kebenciannya pada Zac makin menjadi-jadi. Zac tahu itu. Bagi lelaki, tidak perlu banyak bahasa untuk mengutarakan betapa besar kebencian antar di antara mereka. Panas tubuh mereka sudah menceritakan banyak hal tentang kemarahan dan kebencian. "Kenapa b******n-b******n itu memberikan senjata ini? Agar kita semua saling membunuh dan permainan bisa cepat selesai? SIALAN!" "Mereka benar-benar ingin menyerangku," bisik Lana. "Soal 'Sweet pea'?" Zac menutup pintu di belakang mereka. "Makarov." Mata kelabu Lana menatap Zac dengan kekhawatiran. Kali ini Lana mengkahwatirkan dirinya sendiri. Dia ketakutan pada banyak hal yang mungkin terjadi. Zac mengerutkan kening, mengeluarkan Makarov dari celah celana belakangnya. Dengan bingung, Zac berkata, "Ada apa dengan benda ini?" "Mereka menyebutku 'Sweet Pea' dan mengirimkan Makarov untukku. Mereka ingin mengatakan kalau mereka tahu seluruh kehidupanku." "Memangnya apa hubungannya antara kau dan Makarov." "Dmitri, kakakku memiliki Makarov curian. Kami berlatih menembak di hutan. Kami menembaki burung dan hewan apa saja yang kami temui. Berharap apa yang kami tembak itu ayahku. Aku bisa melepas seluruh bagian makarov dan merangkainya kembali." Lana mengambil Makarov itu dari tangan Zac. Ia duduk di atas tempat tidur dan mulai melepas seluruh bagiannya hingga menjajarkan seluruh pelurunya di tempat tidur. "Senjata ini sangat bagus dan terawat. Lebih baik daripada milik Dmitri. Senjata ini siap pakai, Zac." Lana menatap Zac dengan tatapan putus asa. Bibirnya terlihat bergetar dengan hebat. Air mata mulai mengalir di mata kirinya. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah siapa yang memberikan informasi itu pada mereka? Lana sudah nyaris melupakan semua yang terjadi di Siberia. Tidak ada seorang pun di Amerika ini yamg tahu siapa dia dan bagaimana masa kecilnya. Tidak mungkin ada yang mengikutinya dengan mesin waktu ke masa lalu. "Biarkan saja. Mereka memang ingin menyebarkan teror. Sekalipun mereka mengeluarkan otakku dan memakannya, aku akan bersamamu. Aku akan melindungimu." Lana tertawa dalam tangisannya. "Thanks. Tapi apa yang bisa kau lakukan tanpa otak?" Lana menggeleng. "Kalau memang mereka menginginkanku, tentu saja ini medan perangku, Zac. Tidak ada yang bisa kau lakukan di sini." "Tidak ada yang bisa perang sendirian, Baby. Kau tetap membutuhkan kuda atau senjata. Akulah senjatamu. Gunakan saja aku. Akan kuhabisi semua untukmu." "Apa maksudmu kau menyukai penari telanjang yang terjebak di dalam rumah tanpa jendela dan baru dioerkosa orang?" Zac ikut tertawa. "Persis. Memang itu yang terjadi." "We are f****d up, Zac." Lana berkata untuk dirinya sendiri, mengingatkan dirinya sendiri kalau memang hidupnya sudah berakhir di sini. "Tidak ada yang menangisi kita saat kita mati." Mereka, orang-orang di balik permainan buruk ini, telah membuatnya sangat marah. Tapi sebuah hal yang luar biasa saat mereka mempertemukan Zac dengannya. Entah apa yang membuat mereka menempatkan Zac di sini. Lana mensyukurinya. Lana berterima kasih pada mereka telah menunjukan padanya bahwa ia masih perempuan yang sama yang bisa mengenal cinta. Perempuan yang memiliki keinginan untuk mencintai dan dicintai. Ah, ia harus membuang pikiran bahwa hanya satu lelaki gila yang ingin mencintainya.  Lelaki itu pernah mengatakan itu padanya. "Bagaimana kalau aku mencintaimu? Bagaimana kalau ada hal konyol yang terjadi di antara kita?" Lana tertawa. "Tidak ada. Tentu saja tidak. Kau hanya menikmati seks kita karena tidak ada gadis yang bisa melakukannya. Kau tidak mencintaiku. Kau masih mencintai gadis itu." Lana menunjuk foto gadis tanpa busana di dinding apartemen lelaki itu. "Kau akan mencarinya, tidak peduli dia sudah menikah." Lelaki itu tertawa. "Aku lelah mengejar seseorang yang terus menghindar. Bagaimana kalau aku mencintaimu saja?" Lana merangkak ke atas tubuh lelaki itu, mengusapkan bibirnya yang masih berdarah pada bibir lelaki itu. "Matahari bukan untukmu sendiri, Darling." Lelaki itu membalik tubuh Lana, memukul wajah Lana dua kali. "Aku suka kalau kau mengingatkanku kalau kau pelacur." Lana tertawa. "Itulah alasan aku di sini, A. Kau membutuhkanku dan aku menginginkanmu." "Uangku?" Gadis itu menggeleng. "Perhatianmu. Bisakah kau tidak melukai kakiku setelah ini? Sebagian besar pakaianku mini skirt." Lelaki itu menyentuh bagian bawahnya. "Akan kuingat," katanya sebelum membawa Lana pada pesta mengerikan yang membuatnya melayang di surga paling mengerikan yang bisa dilihat manusia. "Hey? Kau baik-baik saja?" tanya Zac memecah lamunannya.  "Aku baik-baik saja." Ia tahu suaranya penuh dengan kebohongan. "Seseuatu yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat, kan?" Lana tersenyum kecut kepada Zac. Ia menyelipkan tangan ke pelukan Zac. Jika ia mati di sini, paling tidak ada satu keajaiban yang sempat dirasakannya, dicintai lelaki normal. "Sampai kapan kau melakukannya?" Zac tertawa melihat Lana membongkar-pasang Makarov dan menjajarkan pelurunya di meja. "Ini sudah yang ketiga kalianya." "Lalu apa? Kita di tempat tanpa waktu. Tidak ada rasa lelah dan kantuk di sini." Zac duduk di tempat tidur Lana. "Apa waktu yang membuat tubuh kita bekerja atau tubuh kita yang mempengaruhi waktu?" "Kau dengar sesuatu, Zac?" Lana menghentikan tangannya yang sedang merangkai kembali Makarovnya. Zac menatapnya dan berusaha mendengarkan apa yang didengar Lana. "Ada seseorang di bawah." "Mike? Ayolah, Lana. Jangan memgalihkan perhatian." "Ini sungguhan. Aku... mendengar sesuatu." Ada suara gesekan, lalu sesuatu terjatuh. Bukan suara yang keras. Yang terjatuh mungkin manusia atau hewan.  Hewan? Apa mereka memasukkan monster sungguhan untuk memakan semua orang? Zac menyiagakan Glock nya. Lana mempercepat gerakannya merakit Makarov dan memasnag peluru ke tempatnya. Ia menggenggam Makarov itu dan mengikuti Zac yang mengendap ke luar kamar.  Zac dan lana mendengarkan di pintu kamar Mike dan All. Terdengar suara kecil aktivitas dari dalam kamar mereka. Berarti yang membuat suara kecil di lantai bawah bukan mereka. Zac memberi kode pada Lana untuk berdiri di belakangnya. Lana mengangguk. Ia mengarahkan moncong Makarov yang siaga ke lantai mengikuti gerakan Zac. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak bisa mendengar dengan jelas dengan jantung yang berdebar seperti ini. Ia hanya melihat Zac yang dengan tenang melangkahkan kaki menuruni anak tangga satu per satu. Di bawah chandelier tepat di mana mereka selalu menemukan tas kulit berisi uang sekarang terbaring seorang gadis berkulit seputih pualam. Gadis itu menggunakan dress tipis berwarna seputih kulitnya. Tangannya terikat dan kepalanya ditutup kain tebal berwarna hitam. Persis seperti yang perna mereka lalui. Rambut ikal pirang platina mencuat dari balik tutup kepala itu. Lana menelan ludah. Entah perasaan tidak enak apa yang merasuki hatinya. Perasaan yang membuatnya ketakutan. Ia dan Zac memasukan senjata ke balik ikat pinggang mereka. Tatapan mereka menyiratkan perintah satu sama lain. Perintah yang saling mereka pahami tanpa membuka mulut. Lana membuka tali simpul di pergelangan tangan gadis itu. Simpulnya lebih kuat dan rumit dari simpul sebelumnya. Tapi ia tahu tidak ada simpul yang tidak bisa dibuka olehnya. Sekalipun dengan mata tertutup. Tangan itu kurus dan lembut. Ada beberapa bagian kulit di telapak tangan gadis itu yang kapalan. Seperti seorang tukang masak atau pekerja keras lain. Lana sudah selesai dengan simpul-simpul itu. Gadis itu masih tertidur. Sekarang giliran kain hitam penutup wajah si gadis. Lana membuka simpul-simpulnya dan mengangkat kain yang menutupi kepala si gadis. Lana menjerit. Ia terjatuh ke belakang dengan ketakutan yang sangta di wajahnya melihat gadis cantik berbibir merah merona di depannya. Zac menatapnya dengan heran. Gadis itu terlihat sangat tidak mungkin membuat Lana yang telah melalui banyak hal dengan berani ketakutan. "Irina ... Irina ... Irina ...." Bibir Lana membisikan sebuah nama. Berulang-ulang. Zac menatap ke dua gadis itu dengan bingung. Air mata mengucur deras di pipi Lana. Dia tidak sedih sama sekali. Air mata itu bukan menunjukkan kesedihan seperti air mata biasa. Air mata itu hanya satu dari berjuta rasa yang menggaung di hatinya. Hatinya sedang berada di puncak bukit terjal dan siap untuk jatuh, dalam sangat dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN