Lana menutup pintu kaca di boks kamar mandi. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum menyalakan pancuran air hangat. Kepalanya benar-benar nyeri. Ada dengung memekakkan telinga yang membuatnya sangat ingin menjerit. Kelebat peristiwa yang terjadi dalam beberapa jam terakhir menekannya. Semua seperti misteri yang saling tumpang tindih.
Dmitri pernah mengatakannya, lelaki itu juga pernah mengatakan hal yang sama, Svetlana Orlov adalah gadis yang selalu penasaran.
"Suatu hari, rasa penasaran itu akan membunuhmu, Cantik. Hentikan saja. Tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya," kata lelaki itu setelah mereka bercinta. "Banyak orang berpikir tahu lebih sedikit berarti lebih aman."
"Tidak," jawab Lana cepat. "Lebih baik aku tahu siapa yang membunuhku daripada tiba-tiba mati tanpa tahu yang terjadi."
Lelaki itu tertawa, renyah. Dia menyibakkan rambut pirang ikalnya yang selalu beraroma busa pencukur jenggot. "Itulah yang membuatmu berbeda dengan gadis lain." Dia memegang wajah Lana dengan dua tangan. Mata birunya menggelap, seiring perubahan ekspresinya yang menjadi keras. "Aku memperingatkanmu, Babe. Berhenti menjadi detektif. Ini demi kebaikanmu."
Itu kalimat terakhir sebelum lelaki itu melanjutkan percintaan mereka, sebuah percintaan tidak biasa yang mengerikan. Lana menikmatinya. Rasanya, dia kembali ke saat bertahun-tahun lalu, saat ia melihat Dmitri berbaring dengan mata terbuka di lantai dingin di Siberia.
"Hei, Lana!" panggil suara perempuan di luar. Silvia?
"Ya?" jawab Lana dengab suara keras, berharap cukup keras untuk mengimbangi suara pancuran airnya.
"Kami akan ke kamar lagi. Kau sendirian di sini," kata Silvia dengan suara keras lagi.
"Ya, tidak masalah. Aku hanya sebentar," jawab Lana lagi. Padahal, dia tidak ingin sebentar. Dia ingin selamanya ada di bawah pancuran air hangat ini. Sekalipun mereka berkata mandi air panas yang terlalu lama bisa menyebabkan vertigo dan kerusakan kulit, dia tetap akan melakukannya. Hanya kehangatan ini yang membuatnya merasa lebih baik.
Ia hanya duduk diam di lantai pancuran, membiarkan air hangat membasahi tubuhnya. Perban di tangannya basah, tapi tidak meninggalkan bekas nyeri. Ia melepas pelan-pelan perban itu. Lukanya belum menutup, tapi tidak mengeluarkan darah lagi. Dia menekan luka itu, mencari rasa sakit yang mungkin masih tersisa. Tidak ada. Luka itu sudah hampir sembuh. Sudah berapa hari mereka di sini? Kenapa luka bisa sembuh secepat ini? Apa sebenarnya mereka sudah lama di dalam rumah ini?
Ah, manusia tanpa waktu tidak akan punya takaran untuk hidup. Seharusnya di menyembunyikan sesuatu yang bisa dipakai untuk mengukur waktu.
Ia teringat kamera di sekeliling rumah. Ia menatap pasrah ke bagian atas kamar mandi berharap tidak ada kamera yang mengintipnya. Mustahil. Mereka menonton. Mereka menikmati semua yang terjadi di rumah ini.
Mereka? Benarkah ada banyak orang yang terlibat semua ini?
"f**k YOU!"
Lana menjerit pasrah. Mengerikan rasanya berada dalam ketidakberdayaan dan sadar kalau ada orang yang menikmati keadaan itu. Lana menutup kepalanya dengan tangan. Sudah lama dia tidak merasakan tekanan seperti ini. Sesuatu di dalam kepalanya menggali lagi kenangan bertahun-tahun silam, saat ia sangat ingin pergi dari Siberia.
Entah berapa lama dia membiarkan air hangat menyiraminya. Ia hampir tertidur di atas lantai pancuran saat ia melihat bayangan seseorang masuk. Sulit melihat dengan jelas di tengah kabut dan uap air hangat.
"Zac?" Lana memanggil dengan lirih. Tenggorokannya terasa kering karena terlalu lama berada di air panas. "Zac?" Ia memanggil lagi.
Ia benar-benar berharap Zac datang. Ia tidak yakin akan perasaannya pada Zac, tapi kehadiran Zac mungkin membuatnya menjadi lebih baik.
Bayangan itu menutup pintu kamar mandi dengan sangat pelan dan mulai melucuti pakaiannya sendiri. Lana tersenyum membayangkan apa yang mungkin dilakukan Zac padanya.
Sosok itu masuk kotak pancuran sekarang, membuka dan menutup pintu kaca tanpa bersuara. Lana tersenyum. Seluruh tubuhnya mendambakan kehadiran Zac di sini, saat ini. Ia ingin Zac bersamanya berbagi cerita dan cinta di bawah siraman air hangat yang nyaman, seperti saat lelaki itu membawanya ke penthouse Rockwood Tower.
"Zac," Lana berdiri menghadapi bayangan buram di depannya. Ia melihat sepasang tangan. Lana merentangkan tangan untuk menyentuh kulit di depannya. Lembut sekali. Ada jemari yang menyentuh kulitnya. Jemari lembut dan halus.
"Eh?" Lana terkejut. Jari-jari Zac kasar dengan bekas-bekas alat olah raga di buku-buku jarinya. Jari ini terlalu halus. "Kau bukan..."
"Ssshhh..." Suara All. "Biarkan aku menyenangkanmu sedikit. Tidak akan ada yang tahu jika kau tidak bersuara keras. Kita akan melakukannya dengan baik di sini."
"Tidak! All, Tidak! Silvia..."
"Jangan pikirkan orang lain, Baby. Ini milik kita."
All mendesak Lana hingga ia terdesak pada dinding. Lana merasakan All menyentuhnya. Ia menolak. Bukan ini yang ia harapkan. Ia ingin menjerit. Tangan All membungkam mulutnya. Laki-laki ini mengerahkan seluruh tenaga untuknya.
Sebelah tangan All mangangkat pangkal paha Lana, membuat gadis itu terangkat dari lantai licin. Tangan Lana menggapai mencari pegangan. All melakukannya. Rasa sakit itu kembali lagi, rasa sakit yang dipikirnya tidak akan didapatkannya lagi.
Tangannya meraih mata All. Dengan sekuat tenaga ia menekan mata All dengan kuku jarinya. Lelaki itu meraung, membanting Lana ke lantai.
Lana merasa pergelangan kakinya cidera saat mendarat dengan keras ke lantai yang licin. Iaa tidak mengeluh. Ia merangkak di tengah kabut air panas. All mendapatkannya. Tangan lelaki itu menarik pahanya. Lana terseret. Ia berusaha menjerit meminta tolong. All menekan mulutnya lagi.
"Kenapa kau membuat ini sulit? Seharusnya ini menyenangkan, b***h!" Tangan All masuk ke dalam k*********a, menyakitinya.
Lana merasa sesuatu di dalam dirinya terluka. Mungkin kuku All atau dua jarinya yang menyentuh ke dalam dengan kasar.
Lana menangis. Ia tahu All tidak akan berhenti hingga selesai. Ia tahu lelaki itu tidak akan melepaskannya hingga nafsunya tersampaikan. Seluruh tubuh All menekannya di lantai yang dingin. Pinggang All menahan bagian bawahnya. Lelaki itu tidak akan peduli sekalipun telah menyakitinya. Selalu begitu, seperti bertahun-tahun lalu. Pemerkosa tidak pernah punya belas kasih. Tidak akan ada ampunan. Dia akan terus bermain sampai puas.
Kesakitan itu menjalari tubuhnya seperti gelombang besar yang menghancurkan kapal. Di dalam kepalanya ada jeritan gadis yang memohon ampun. Seluruh tubuhnya menjerit. Ia merenggangkan tubuh, mencoba menerima yang rasa sakit itu, menerima All. Ini mengurangi penderitaannya, cara yang dipelajarinya dari Lelaki itu.
Dia menutup mata, berharap All segera menyelesaikam urusannya. Semua akan selesai. Penderitaan ini akan lenyap sebentar lagi. Dia bersumpah dalam hati akan menusuk kepala All jika laki-laki itu menyentuhnya lagi.
Laki-laki itu melepaskannya. Sesuatu mengangkat tubuh All dari tubuhnya.
Apa?
Lana memberanikan diri membuka mata. Ada suara berisik di samping suara air. Lana menoleh. Bayangan di luar pintu kaca. Ada bayangan-bayangan yang saling bergumul. Lana merangkak untuk berdiri. Perih. k*********a berdarah. Apa yang dilakukan b*****h itu padanya?
"Zac?" Suara Lana seakan berasal dari tempat yang sangat jauh. Suara Lana tercekat jauh di dasar tenggorokannya.
Ia melihat Zac bersemangat memukuli All. Zac duduk di atas tubuh All. Tangan telanjangnya memukuli kepala All hingga darah mengucur di lantai yang basah. Lana menoleh. Di depan pintu dia bisa melihat Silvia yang shock melihat perkelahian mereka. Ada Mike yang sama terkejutnya melihat Lana dalam keadaan telanjang.
"Lana," Teriak Zac saat melihat gadisnya merangkak keluar dari pintu kaca. Tangan berat Zac melepaskan All dari pukulannya. Ia mengambil handuk untuk menutupi tubuh Lana.
All bergerak-gerak lemah di tempatnya. Silvia menarik All untuk menolongnya.
"Dia tidur dengan banyak laki-laki. Kenapa aku--"
Zac Tidak menunggu All menyelesaikan kalimatnya. Ia menghajar lagi wajah All. Silvia menjerit. Lana merengek. Mike berusaha menghentikan Zac tapi sikut Zac menepis wajah Mike hingga darah segar mengucur dari hidungnya.
Di tengah kegaduhan itu, Lana melihat sosok Ella bergabung bersama mereka. Lana melihat Ella membawa benda berkilat di tangannya. Dengan cepat, Ella menjambak rambut Silvia dan menggorok leher gadis latin itu dengan pisaunya.
Zac menghentikan pukulannya.
Lana berusaha menjerit. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya erangan parau.
Darah segar menyembur dari leher Silvia. Ella menjatuhkan pisaunya. Dia melihat Silvia dengan ketakutan. Silvia memegangi lehernya dan memandang Lana untuk meminta pertolongan.
Tidak ada yang bisa dilakukannya. Silvia sudah selesai. Semburan darah itu adalah akhir dari hidupnya.
"Maafkan aku," lirih Lana saat Silvia ambruk. Matanya terbelalak di atas darah pekat, persis seperti Dmitri dulu.
Zac dengan sigap memungut pisau yang dijatuhkan Ella. Gadis remaja itu bergetar ketakutan di sisi lain kamar mandi. Zac mencoba meraihnya. Namun, gadis itu berlari menuju kamarnya sendiri.
"Sialan!" desis All yang masih terbaring lemas di lantai.
Zac melihat Lana, memberinya handuk dan menggosok bahunya. "Kau baik-baik saja?"
Tidak ada yang baik. Tidak ada gadis yang baik setelah diperkosa.
Terdengar bunyi barang jatuh di atas lantai. Tepat di bawah lubang atap yang tadi dicari Lana.
"Tas kulit lagi." Wajah Mike sama sekali tidak menunjukan simpati. Ia terlihat
Lana merasakan gelombang putus asa mengaliri nadinya. Meninju perutnya hingga mendorong jantungnya berdegup sangat kencang. Ia menangis. Ia menjerit dengan suaranya yang parau. Ia menyuarakan keputusasaan yang dalam. Sekelompok orang sedang menikmati bencana mereka.
Zac menyeret All keluar dari kamar mandi. Sementara Lana memakai pakaiannya sendiri. Ia bersumpah tidak akan mandi lagi di tempat terkutuk ini.
Zac kembali dengan membawa selimut milik Silvia. Ia membungkus gadis itu dengan selimut seperti yang dilakukan Lana pada Gabriella sebelumnya. Lana menangis. Ia menangis dengan keras dan putus asa. Tidak pernah ia merasa sebegitu putus asa dalam hidupnya.
"Aku akan membawanya naik." Zac berucap pada Lana yang menatapnya penuh kesedihan. "Kau baik-baik saja?"
Lana ingin mengatakan dia tidak baik-baik saja. Ia ingin mengeluhkan k*********a yang berkedut nyeri dan masih berdarah. Ia ingin mengeluhkan pergelangan kakinya yang cidera. Ia ingin berteriak mengumpat All. Ia ingin mengatakan pinggulnya seperti habis ditabrak truk. Ia ingin meneriakkan kesedihan dan keputusasaan yang dirasakannya saat ini. Saat ia membayangkan sekelompok orang sedang tertawa bahagia dan menaikan taruhan untuk tiap kesengsaraan yang mereka alami. Ia ingin mengutarakan semua kepasa Zac agar lelaki itu tahu betapa menderitanya dirinya saat ini.
"Ya, Zac. Aku baik-baik saja."
Ia tahu Zac merasakan keputusasaan yang sama. Mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan.
Lana melihat All meringkuk tanpa pakaian di luar kamar mandi. All menatapnya dengan mata yang hampir tidak terlihat karena bengkak parah. Tidak ada yang lebih menjijikkan dari lelaki itu. Tanpa lelaki itu perlu meludah, Lana sudah merasakan kemarahan teramat di seluruh tubuhnya.
"Kenapa sih kau ini?" All meludahkan darah ke lantai. "Kenapa kau tidak membuatnya lebih mudah?"
Lana mendekat padanya. "Demi semua kekacauan ini, aku memaafkanmu. Setelah semua ini selesai, percayalah aku akan membunuhmu."
"Tapi tadi nikmat sekali kan?"
Lana tidak bisa menahan diri lagi. Dia mengepalkan genggamannya dan menghajar pipi All yang sudah memar. Satu kali untuk kejutan yang dibuatnya. Dua kali untuk kesakitan yang dialaminya. Tiga kali untuk masa lalu yang muncuk ke permukaan.
All terbaring di lantai. Tapi wajahnya tertawa. Mulutnya menyemburkan darah. "Aku suka gadis pemarah."
Mike menghitung uang dari dalam tas. Mike menaikan beberapa jarinya untuk membagi perolehan uang dengan adil.
"Kau puas?" Zac melempar handuk di depan tas uang itu.
Mike menatapnya kesal. "Kau tidak mau uang memangnya?"
"Tidakkah kau berpikir tentang Silvia? Tentang apa yang terjadi? Apa yang ada di otakmu?"
"Ini bagianmu." Mike menyodorkan setumpuk tinggi uang kepada Lana. "Dengar, aku ikut prihatin pada apa yang terjadi. Silvia mati. Lalu aku bisa apa? Menghidupkan dia lagi. Ini peninggalannya. Jadi kupikir sebaiknya menyelamatkan kalian yang masih hidup."
"Apakah itu cukup untukmu atau kau perlu kematian lagi?"
"Cukup. Tapi aku tetap mengharapkan mereka memberiku uang setelah kita berhasil keluar dari sini." Dia mengerutkan kening, mempertimbangkan hal penting. "Apa menurutmu aku bisa mengambil uang Silvia? Toh dia sudah mati sekarang."
Lana mengacungkan jari tengah saat melewati lelaki itu. Dia mengacungkan jari tengah pada semua orang di tempat ini, juga pada nasib yang membuatnya begini.
"Kenapa tidak kau bunuh saja kami semua agar bisa menguasai semua uang itu?" Lana mendekat pada Mike. "Apa kau tidak merasa ini hal buruk? Mereka membayar kita lebih banyak. Nyawa teman-temanmu--"
"Teman?" Mike mengangkat alis. "Aku bahkan tidak mengenal mereka sebelum ini. Bagaimana aku bisa menganggap mereka teman?"
Bunyi barang berat yang dijatuhkan dari tempat tinggi terdengar lagi. Tas kulit besar berwarna cokelat jatuh lagi dari langit-langit, mengejutkan mereka. Kali ini mereka saling memandang, memastikan tidak ada dari mereka yang berkurang atau celaka.
"Siapa lagi yang mati?" Mike bertanya antara terkejut dan senang yang tidak bisa ditutupinya sama sekali.
"Bukan aku," ucap All dengan susah payah. Lelaki itu sudah berhasil duduk di tempatnya sekarang. “Aku masih hidup walau kehilangan gigi. Sial!” Dia meludahkan gigi yang putus ke lantai.
Zac dan Lana saling berpandangan.
Ella.
Gadis itu di kamar sendirian.
Mereka berlari ke kamar Ella, berharap tas itu salah. Tidak perlu ada kematian lagi malam ini. Tidak untuk saat ini.