Hari cepat berlalu dan sekarang di rumah besar kanjeng Kaseni sangat ramai karena disibukkan oleh pesta pernikahannya yang akan dilaksanakan besok. Para pekerja yang biasanya di ladang, mau pun berkebun, kini sibuk mengaduk jenang untuk sajian di acara inti. Meski begitu, kemanten pria sengaja dilarang datang lebih dulu agar tidak menimbulkan kegaduhan. Rencananya besok saat proses nikah, baru kemanten prianya datang. Sekar kini berada di kamar Biyung-nya itu, membantu memakaikan lulur dari kunyit yang dicampur bengkuang itu, dan sedikit memijit punggungnya juga, “Biyung, apa ini nyaman?” “Tentu saja to, Nduk ayu. Kamu tadi sudah makan apa belum?” kanjeng Kaseni suka jika Sekar melayaninya seperti ini. Tangan putrinya ini sama dengan tangan mbok Jum, sangat lembut dan telaten. Jika peke

