Daun pandan

1691 Kata

“Nuwunsewu / permisi.” 'Deg.' Kanjeng Kaseni merasakan pipinya memanas saat ini. Da daa Danuri yang tercetak di surjannya yang sedikit ketat, jarit celana yang memperlihatkan kaki dengan bulu tak terlalu tebal, serta rambut basah yang terlihat begitu rapi setelah disisir. Darah kanjeng Kaseni berdesir dengan begitu cepat, berkumpul di ujung ubun-ubunnya. “Biyung.” pemuda bernama Danuri itu langsung menghampiri kanjeng Kaseni dan menyalaminya tanpa menempelkan punggung tangan itu di bibirnya, melainkan di keningnya. 'Wussss.' Kanjeng Kaseni sengaja meniup pelan puncak kepala Dauri setelah menyanyikan tembang yang sama dengan saat dirinya mandi kembang tadi, berharap semuanya akan berjalan lancar setelah ini. “Mbok Jum.” Danuri pun juga menyalami mbok Jum yang duduk agak jauh dari calon

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN