Sekar terbangun di tengah malam. Tidak biasanya seperti ini, tapi teriakan keras yang baru saja didengarnya, membuatnya terbangun dari tidurnya malam ini. Setelah menggelung rambutnya yang tak terlalu panjang itu, Sekar melangkah ke luar kamar, mungkin ada seseorang yang membutuhkan bantuannya saat ini. Wangi dupa yang menyengat seakan tertiup dari kamar Biyung-nya, Sekar pun mendekat dan mengangkat tangannya bersiap untuk mengetuk pintu yang dia yakin terkunci dar dalam itu. “Nduk Sekar?” Sekar menjingkat, sangat terkejut oleh panggilan dari belakang tubuhnya dan menyerukan namanya itu, “Mbok Jum? Dereng tilem / belum tidur to?” tanyanya sambil menarik napas panjang untuk menenangkan debaran jantungnya. Mbok Jum tersenyum, “la ini mau tidur, tapi kok ndak bisa tidur to, Nduk Ayu. Bol

