Loh

1004 Kata
“Maturnuwun/terima kasih, Kanjeng. Kalau tidak bertemu dengan Kanjeng mungkin cikar saya tidak akan bisa ke luar dari lumpur tadi.” kata Danuri yang akan meneruskan perjalanannya. Ternyata kanjeng Kaseni adalah wanita yang sangat baik. Mungkin kata orang memang tak selalu benar, seperti saat ini contohnya. “Sudah biasa untuk kita saling bahu membahu menolong sesama manusia, saya tidak keberatan sedikit pun.” jawab kanjeng Kaseni, “kami pulang dulu,” imbuhnya, “ayo, Nduk.” katanya sambil menoleh ke putrinya yang sedari tadi hanya banyak diam itu. Sekar pun mengangguk, “aku pulang dulu, Mas.” ucapnya sambil tersenyum dan mengangguk. “Iya, Dik.” Danuri sangat bersyukur, setidaknya kemalangan yang menimpa cikarnya ini membuatnya bertemu dengan pujaan hatinya itu. ‘Met omat amit si jabang bayine Danuri sing ono ing mburiku iki, ora iso turu yen gurung ketemu marang aku, yaiku si jabang bayane Kaseni (oh! Orang yang bernama Danuri yang ada di belakangku saat ini, tidak akan pernah bisa tidur jika tidak bertemu dulu denganku, yaitu Kaseni.)’ kanjeng Kaseni meniupkan mantra sakti itu ke sapu tangan yang selalu dibawanya ke mana pun itu, menoleh ke Danuri lagi dan tersenyum saat pemuda itu juga tersenyum dan mengangguk ke arahnya. Segera naik ke cikar yang tadi mengantarnya itu, dan kini melaju perlahan melewati cikar Danuri yang sedang menaikkan kembali beberapa bungkusan daging yang tadi diturunkan untuk meringankan muatannya. Saat sudah hampir tidak terlihat lagi, kanjeng Kaseni menjatuhkan sapu tangan itu tepat dan terjatuh di sebelah kaki Danuri. Kanjeng Kaseni tersenyum, dia kana menyimpan pemuda itu untuk dirinya sendiri karena sudah ada Sugeng untuk Kanjeng Ratu Kidul. Setelah selesai menaikkan semua daging itu ke cikar, Danuri mengajak, dua pekerjanya untuk naik juga dan bersiap menuju ke tempat yang berikutnya. “Raden? Ini milik siapa?” tanya bajin-gan yang menemukan kain selebar dua telapak tangan orang dewasa dan berwarna merah jambu itu, dan memberikannya ke radennya, yaitu Danuri. Danuri pun menerima sapu tangan itu dan menimang-nimangnya, “mungkin punya dik Sekar, aku akan mengembalikannya kalau bertemu lagi.” disimpannya saku tangan itu di saku celananya, dan naik ke cikar, waktu semakin cepat, Danuri tidak mau sampai kemalaman di jalan, jadilah dia mengajak agar cepat jalan ke tempat tujuan. Malam semakin larut, bukannya semakin lelap tertidur, tapi malah semakin gelisah. Rasanya ada sesuatu yang sangat ingin dia keluarkan. Kakinya terus menggosok kakinya sendiri dan bergantian antara yang kiri mau pun yang kanan. Sungguh, dirinya sangat tersiksa malam ini. Dengan tekatnya yang kuat dan raganya yang sudah menggebu, dia pun bangun dan mencari obor. Menyerah sudah, dia akan mencari apa yang seakan sudah tercetak dan terpampang rapi di dalam kepalanya saat ini. Kanjeng Kaseni sengaja membuka gerendel pintu kamarnya kali ini. Tamunya sebentar lagi pasti akan datang, dan dia pun sangat siap menyambut kedatangannya nanti. Kamarnya ini memanglah khusus, selain ada pintu untuk ke luar dari kamar yang akan menuju ke ruang tengah, ada juga pintu yang sengaja dipasang di sisi jendela, jika itu dibuka maka kanjeng Kaseni langsung bisa sampai di halaman samping rumahnya. Pintu itu memang sengaja dipasang sedemikian rupa untuk jalan bagi Kanjeng Ratu Kidul masuk menjemput wa-dal yang disiapkan kanjeng Kaseni setiap malam satu Sura (Januarinya bulan Jawa). Namun karena malam ini sangat istimewa, kanjeng Kaseni pun membuka gerendelnya, siap untuk melewati malam panas bersama pemuda kekar dengan otot yang menggiurkan sebentar lagi. Tok. Tok. Tok. “Kanjeng? Ini saya ... .” suara yang begitu kanjeng Kaseni tunggu sedari tadi. Jangan kan hanya nama, bahkan alamat dan di mana keberadaannya saja pasti bisa ditahui oleh penerima dari sapu tangannya tadi. Kanjeng Kaseni pun memilih untuk segera menanggalkan semua kain yang membelit tubuhnya itu, dan memperlihatkan kulitnya yang mulus kuning langsat. Berjalan dengan bersemangat sampai gu-nung kem-bar itu ikut naik turun bergerak indah. 'Kletek.' Kanjeng Kaseni membola setelah membuka pintu itu. Serudukan yang sangat keras langsung membuat da-danya nyeri karena pu-tingnya langsung dihisa-p dengan sangat kuat oleh pemuda dari luar kamarnya itu, “sopo kowe (siapa kamu)?” pekik kanjeng Kaseni yang tidak menemukan Danuri tapi malah pemuda lain yang dia tidak tahu namanya ini. “Wes to, Kanjeng. Manukku wes nga-ceng. Aku gak iso turu ket mau, jan lara kabeh (Sudah, Kaseni. Burungku sudah berdiri. Aku tidak bisa tidur sejak tadi, sakit semua).” ucapnya yang terus mengge-rayangi setiap inci tubuh kanjeng Kaseni, dan bahkan membuatnya terlentang di atas raan-jang saat ini. Bagai mana pun juga sangatlah sulit untuk menolak, tenaganya yang hanya seorang wanita ini tidak akan kuat melawan lelaki yang bahkan umurnya lebih muda ini, “iya, tapi tutup dulu pintunya, nanti ada yang masuk.” Kanjeng Kaseni tidak mau ada yang melihat dirinya sedang bekerja nanti. Pemuda itu pun segera bangkit dan dengan cepat menutup serta menggerendel pintu itu, serta segara melucuti pakaiannya sendiri sebelum mendekat ke kanjeng Kaseni lagi, “ayo, Kanjeng.” diraupnya gu-nung kem-bar itu, dan menye-sapnya kuat seakan sangat haus setelah jauh berlari seharian. “Sekali saja, besok lupakan aku, aku gak mau sama kamu.” Kanjeng Kaseni tidak suka jika tidak sesuai dengan keinginannya seperti ini. “Iya, Kanjeng. Iya.” pemuda itu pun memanglah sudah tidak tahan, dia pun memilih untuk membuka lebar paha kanjeng Kaseni, membasahinya dengan air liurnya, dan segera menggosok tongkatnya yang tegak itu di sekitaran bibir bawah Kanjeng Kaseni, menyentaknya masuk dalam sekali dorongan saja, dan memejam menikmati semua rasa itu, “ohhhhh ... .” sangat nikmat, rasanya sangat tiada tara. “Ahhhhh ... tenagamu boleh juga ... anak muda ... .” pekik kanjeng Kaseni yang tidak menyangka kalau pemuda yang sedang mengga-ulinya ini membuatnya cukup puas bahkan walau di sodokkannya yang pertama ini. “Aku tidak akan mengecewakanmu, Kanjeng. Meski aku hanya seorang baj-ingan saja, tenagaku ini cukup kuat untuk memu-askan Kanjeng seorang.” ucapnya tanpa berniat menggerakkan miliknya itu di bawah sana. “Ayo kalo begitu anak muda.” Kanjeng Kaseni yang tidak suka menunggu terlalu lama, segera mendorong bo-kong pemuda itu dengan tumitnya agar pemuda itu segera menggerakkan pinggulnya. Pemuda itu seakan tersihir, memilih untuk bergerak maju mundur dan menghentak-hentak untuk memu-askan gai-rahnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN