Kanjeng Kaseni terkelepai dengan buliran keringat yang masih membuat tubuhnya yang kuning langsat itu menjadi mengkilap. Napasnya naik turun membuat bongkahan kembar itu mengindah juga, “tenagamu ... boleh juga ... anak muda ... .” ucap kanjeng Kaseni ke pemuda yang belum dia ketahui namanya itu.
Pemuda itu terkekeh, “boleh minta lagi, Kanjeng?” izinnya. Sungguh, wanita matang yang seran-jang dengannya saat ini sangatlah enak dan tiada duanya. Bukan hanya sekali ini saja dia bermain dengan permainan seperti ini, bahkan dengan beberapa gadis desa yang sangat cantik dan juga bertubuh molek, tapi hanya kanjeng Kaseni-lah yang paling sempurna menurutnya. Durian motong itu rasanya sangat pulen dan nikmat, jangankan gigitannya, sedo-tannya pun bisa membuatnya merem melek merasai surga dunia itu. “Boleh ya, Kanjeng?” meski belum mendapat jawaban, tangan kanannya dia ulurkan untuk memijit dan membelai lubang yang masih basah akibat sisa miliknya, sesekali menye-lip juga meski akan membuat jarinya basah dan berlendir bening miliknya.
“Setelah ini sudah, ya? Kamu ini cuma kelas rendahan, tidak pantas meminta itu lagi dan lagi, tidak sopan.” jawab kanjeng Kaseni, napasnya sudah mulai teratur dan lelahnya juga sudah pergi, meski keringatnya itu belum kering betul.
“Iya, Kanjeng. Setelah ini saya tidak akan memintanya lagi.” sejujurnya pemuda itu pun juga sangat bingung dengan dirinya sendiri. Tidak pernah berpikir untuk seberani ini, tapi setelah menemukan sapu tangan merah jambu itu, entah kenapa akalnya menjadi tidak waras, dan terus saja menyebut nama kanjeng Kaseni. Semakin kuat dia mencoba melupakan sosok itu, hanya semakin sakit saja jiwa dan juga raganya. Dan berakhir dengan perginya ke mari dengan menung-gangi sepeda ontel yang dia pinjam dari raden Danuri tadi.
Sangat bahagia mendapat persetujuan itu. Pemuda itu pun membersihkan sisa miliknya dengan kain yang berada di lantai, mungkin jarit milik kanjeng Kaseni yang sudah dilepas tadi, mengelapnya sampai sedikit kering, dan langsung membuka kembali paha itu lebar, menye-sap dan juga menye-dot, rasa asin dan gurih yang sangat nikmat dan menjadi candu itu, seakan tidak pernah menjijik meski sudah bercampur dengan miliknya sekali pun. “Kanjeng, durenmu sangat nikmat, aku mudah berdiri hanya dengan melihatnya seperti ini saja.” puji pemuda itu.
“Hmm ... jangan mempermainkanku ... atau aku akan membuatmu kehabisan tenaga nanti, Tole (panggilan nak bagi laki-laki).” bukannya tidak suka, hanya saja kanjeng Kaseni sudah sangat basah kalau pemuda itu terus menye-dot dan memainkan pucuk kecil kemerahan itu terus menerus.
Pemuda itu terkekeh, “suka, Kanjeng?”
“He’em/iya, Tole. Kanjeng sangat suka ... yang seperti itu, hm ... .” dengan matanya yang terpejam rapat dan berdesis-desis, kanjeng Kaseni terus menikmati sensasi itu lagi dan lagi.
“Aku masuk, Kanjeng.” ucap pemuda itu menyudahi permainannya dan mengurut miliknya yang tegak dan kokoh itu. Membasahinya dengan air liurnya seperti tadi, dan mulai meng-gosok-go-sok merah muda basah itu. Memutar dan mengoleskannya dari bawah sampai ke atas, sangat suka menggoda kanjeng Kaseni kalau sudah seperti ini.
“Oh ... Tole, jangan bermain denganku.” kanjeng Kaseni hanya bisa terus mengawasi pemuda yang terus mempermainkannya itu.
Pemuda itu terkekeh, memilih untuk menekap kepala bawahnya dan mendorongnya perlahan agar terlahap oleh durian montong itu untuk sesi ke dua ini. Bibirnya mende-sah pelan, kepalanya mendongak dengan mata terpejam untuk merasai semua kenikmatan itu.
Sama.
Kanjeng Kaseni pun juga, mende-sah dengan suaranya yang merdu seperti erhu yang digesek dengan jemari lentik memesona, atau bahkan suling yang tertiup oleh angin dengan tekanan pas sehingga membuat pendengar menjadi lupa. Sungguh, kanjeng Kaseni rasanya sudah sangat lama tidak merasai gai-rah yang membara seperti ini. Itu karena selama ini hanya dia sibukkan untuk mencarikan tum-bal untuk Kanjeng Ratu Kidul saja, sampai dia sendiri pun melupakan kesenangannya.
Berapa kali pemuda itu terus mengujam ke kanjeng Kaseni, rasanya sangat panas dan juga mampu membuat kanjeng Kaseni mengejang kembali, perasaan puas seakan membuat kanjeng Kaseni seakan ingin terus melakukan semuanya lagi dan lagi.
Pemuda itu menyeringai, menarik tonggak miliknya dan menyuruh kanjeng Kaseni menung-ging untuk saat ini. Melihat bo-kong semok itu pun membuat pemuda itu semakin bersemangat untuk memulai pertem-purannya lagi.
'Plak. Plak.' Ditamparnya bo-kong semok itu, menggambarkan ruam kemerahan yang memperindahnya. Sungguh, pemuda itu sangatlah suka.
Tapi apa...
“Aaaaaaa!!! Panas Kanjeng! Panas Kanjeng!!” pemuda itu mendorong bo-kong itu sangat kuat, membuat miliknya menjadi tercabut, terlepas dan menjadikan dirinya sendiri menjadi terduduk di lantai. Dipandanginya miliknya kini yang menjadi merah seperti tomat yang siap panen, dan juga mengeluarkan asap seperti sosis bakar.
“Ada apa, Tole?” kanjeng Kaseni kebingungan melihat pemuda itu yang seakan kesakitan, dirinya merasa tidak sedang memanggil Kanjeng Ratu Kidul saat ini, tapi kenapa pemuda itu menjadi seperti ini.
“Ampun, Kanjeng. Ampuni hamba.” pemuda itu pun menekan miliknya yang rasanya sangat terbakar itu, dan segera memunguti pakaiannya, memakainya ala kadarnya dan ke luar setelah membuka gerendel dari pintu yang terkunci itu. Mencari di mana tadi dia meletakkan sepeda ontel milik raden Danuri, dan mendorongnya dengan sisa tenaga yang dia miliki, berdoa di dalam hatinya semoga masih bisa sampai di rumah juragannya dan mendapatkan kesempatan hidup lagi setelah ini. Dia tidak akan pernah melakukan hal seperti ini lagi, apa lagi dengan seorang kanjeng Kaseni. Kapok sudah dengan semua kelancangannya itu.
Meninggalkan kanjeng Kaseni yang masih bergeming di ran-jangnya, dan bingung dengan pikirannya sendiri.
Namun tidaklah lama. Saat asap mulai mengepul memenuhi seluruh kamar, kanjeng Kaseni segera mencari jarit sembarang untuk menutupi tubuh polosnya itu. Turun dari ran-jang dan duduk di lantai dengan tangan yang menangkup tepat di atas kepalanya, “ampuni hamba, Kanjeng Ratu.” ucap kanjeng Kaseni meski Kanjeng Ratu Kidul itu belum muncul di kamarnya yang seperti kapal pecah ini.
“Hahahahahahaha.” tawa menggema memenuhi ruangan, asap tebal putih yang tadinya mengaburkan pandangan itu, kini menjadi samar dan menyamar. Wangi bunga kantil yang bercampur dengan bunga melati menyeruak ikut andil mewarnai kamar itu juga. Lambu oblik/templek yang mabat-mabit/tergoyang-goyang menjadi madam dan suasana kamar pun menggelap dan mencekam.
'Tek. Tek. Tek. Tek. Tek.' Langkah kaki mendekati kanjeng Kaseni. Jangan kan jantungnya yang rasanya mau melompat ke luar itu, napasnya pun tercekat karena sadar dengan kemarahan dari Kanjeng Ratu Kidul ke padanya saat ini, 'Cetarrrrrr.'