Lupa

1066 Kata
'Cetarrrrrr.' Kanjeng Kaseni mendesis merasai sabetan tajam dan panas membelai punggungnya yang masih telan-jang. “Kaseni.” Gema suara itu mampu membuat bulu kuduk merinding. Seperti halnya kanjang Kaseni saat ini, namanya yang tersebut itu membuatnya sadar bahwa sebentar lagi akan ada kemurkaan, “inggih/iya, Kanjeng Ratu.” “Hahahahahahaha.” tawa itu menggema kembali memenuhi kamar itu lagi, “menapa kok awakmu nganti lali marang aku, Kaseni (kanapa kamu melupakanku, Kaseni)?” 'Dep.' Oblik/damar kembali menyala, menerangi semua celah sampai di sudut kamar kanjeng Kaseni juga. Wajah ayu, putih, bersinar, senyum bersahaja seteduh aura keibuan. Siapa pun akan sangat kagum dan mengidola walau hanya bertemu untuk sekali saja. “Ampuni hamba, Kajeng Ratu. Saya hanya ingin bermain tadi.” kanjeng Kaseni tetap menunduk menatap lantai setelah bertemu pandang dengan Kanjeng Ratu Kidul itu, netranya tidak akan kuat menatap keayuan itu. “Aja dibaleni maneh yo, Cah ayu. Njauko marang aku lek awakmu arep dolanan karo wong lanang seng mok gendugani. Ilingo! Aku ini junjunganmu! Lek enek enak e aku sing ngrasakno disek, huduk awakmu! (jangan diulangi, Cantik. Minta ke aku kalau mau bermain lelaki yang kamu suka. Ingat! Aku Ratumu! Kalau ada yang enak aku yang duluan, bukan kamu!)” pekik Kanjeng Ratu Kidul. “Maafkan hamba, Kanjeng Ratu. Saya sudah menyiapkan tum-bal untuk malam Sura, dan saya ingin menyimpan satu pemuda hanya untuk seumur hidup saya, Kanjeng Ratu.” ucap kanjeng Kaseni sejujurnya, meski dia sangat takut tapi dia juga ingin Kanjeng Ratu Kidul itu membebaskan satu pemuda untuk dirinya setelah pengabdian besarnya selama bertahun-tahun ini. “Opo? Siji?” tanya Kanjeng Ratu dan mendekat lagi ke kanjeng Kaseni. “Hahahahahahahaha.” Kanjeng Ratu Kidul itu malah terbahak dan membuat kanjeng Kaseni langsung mendongak karena kebingungan dengan situasi ini. Dengan mimiknya yang kebingungan itu, kanjeng Kaseni hanya bisa diam tanpa berniat menjawab atau bahkan menanyakan kebingungannya ke Kanjeng Ratu-nya itu. “Aja cacak kok siji, limo ae tak kek i, Cah ayu (jangankan satu, lima saja aku beri, Cantik).” ucap Kanjeng Ratu Kidul setelah berhasil menghentikan tawanya itu. “Mboten/tidak, Kanjeng Ratu. Mboten sios/tidak jadi.” sungguh kanjeng Kaseni tidaklah berani kalau sudah dilulu/disanjung seperti ini. “Lek kowe iso oleh loro tum-bal gawe aku Sura mene, tak kek i siji lanangan gawe awakmu (kalau kamu bisa memberiku dua tum-bal untukku Sura besok, kuberi satu pemuda untukmu).” tanpa menunggu jawaban atau apa pun juga, Kanjeng Ratu Kidul pun segera berputar pelan beberapa kali, dan membuat pusaran angin kembali, putih dan membumbung tinggi memenuhi kamar itu lagi, dan segera sirna. Asap putih itu seakan tersedot ke dalam tanah dengan waktu kurang sedetik saja, tanpa meninggalkan apa pun juga. Kanjeng Kaseni mengangkat kepalanya. Cahaya temaram dari oblek/damar yang menerangi kamar membuatnya tersadar jikalau junjungannya, sosok Kanjeng Ratu Kidul, sudah kembali ke singgasananya di Pantai Selatan sana. Tubuhnya melemas. Kanjeng Kaseni menyandar di dinding dingin itu, dan menarik napasnya panjang dan dalam agar kerja jantungnya segera normal seperti sedia kala. *** Burung berciutan seakan menyanyi meski sinar mentari belum muncul, ayam berkokok terus berteriak membangunkan semua orang yang masih malas berpisah dengan bantal dan guling nyaman mereka. Sama. Kanjeng Kaseni pun masih enggan beranjak dari ran-jangnya yang semalam sempat hangat dan memanas itu. Tok. Tok. Tok. “Biyung?” panggil Sekar, dia sangat ingat bahwa hari ini masih akan memanen ke ladang yang kemarin juga. “Biyung?” panggilnya lagi, cukup heran karena biasanya Biyung-nya itu tidak pernah bangun seterlambat ini. “Kenapa, Nduk ayu?” tanya mbok Jum yang melihat Sekar kembali ke pawon/dapur dengan wajah yang murung. “Biyung belum bangun, Mbok. Tidak biasanya seperti ini.” Sekar pun menjadi kawatir sendiri. Mbok Jum malah tersenyum melihat Nduk ayunya itu murung, “kanjeng pasti lelah, Nduk. Kan beberapa hari ini panen terus.” “Lalu hari ini gimana, Mbok?” tanya Sekar. “Biar semuanya berangkat sendiri saja, toh bekalnya juga sudah disiapkan.” Sekar pun mengangguk, setuju dengan pendapat mbok Jum. Dirinya juga tidak mungkin ke ladang sendirian, itu akan membahayakan dirinya nanti. Setelah membantu menyiapkan bekal para pekerja di ladang, Sekar pun memilih untuk membantu mbok Jum di warung, meski nanti di sana hanya akan berdiam diri saja, setidaknya dia tidak akan bosan menghabiskan hari ini. “Pagi, Mbok. Kanjeng Kaseni ke mana?” tanya pemuda yang baru saja masuk ke warung itu kepada mbok Jum yang sedang sibuk mela-yani para pelang-gannya. Sekar mengintip dari balik buku pepak yang dipegangnya saat ini. Pemuda yang umurnya tidak jauh darinya itu, sangat pantas jika dia memanggilnya dengan sebutan ‘Akang’ (kakak pria). “Di dalam, mau saya panggilkan?” tawar mbok Jum ke pemuda itu. “Inggih, Mbok.” jawab pemuda itu sambil mengangguk. Mbok Jum pun tersenyum, segera berbalik dan berencana ke dalam untuk memanggil kanjeng Kaseni. “Mbok. Biar Sekar saja.” Sekar segera menutup pepak yang sedari tadi dibacanya, dan sedikit berlari dengan menyincing jarit yang dikenakannya. Meninggalkan rumah besar kanjang Kaseni, kepanikan malah melanda peternakan dengan kejadian yang sangat langka ini. “Kenapa bisa seperti ini?” tanya Gimin, beliau sangat heran dengan salah satu baji-ngan-nya yang memiliki penyakit seperti ini setelah kepulangannya di tengah malam semalam. “Tidak ... tahu, Tuan ... .” jawab pemuda yang terus mengerang kesakitan itu. Tidak peduli dengan tuannya dan juga raden Danuri yang kini sedang memandangi barang berharganya yang merah dan membesar seperti mau meledak itu juga. “Semalam kamu ke mana? Kamu kan pinjam ontelku?” desak Danuri, cukup yakin baji-ngan-nya ini sedang berbohong saat ini. “Sumpah, Raden. Aku tidak bisa mengingat apa pun.” jawab baji-ngan itu jujur. Gimin dan Danuri saling melempar senyum, rasanya ada yang tidak beres di sini. “Tidak penting, Romo. Sekarang lebih baik kita sembuhkan dulu yang ini.” Danuri kembali menatap baji-ngan itu, ikut nyeri meski yang membengkak itu bukanlah miliknya. Gimin pun segera duduk di lantai, ‘ong dewa ning jagat, sira rupa marang aku kang anyuwun pitulungan niki, dadio sehat kaya kasida kala, marang barange si jabang bayine baji-nganku ini (dewa pemimpin jagat raya, pemilik wajah yang akan aku mintai pertolongan, jadilah sehat seperti sedia kala, barang milik baji-nganku jadi sembuh).’ ditiupkannya mantra itu ke dalam cawan berisi air sumber itu sebanyak tiga kali, dan menyodorkannya ke baji-ngan itu, “basuhlah perlahan dari atas ke bawah, aku harap segera membaik.” Gimin segera berbalik dan mengangguk ke Danuri, agar mau mengikutinya ke luar dan meninggalkan baji-ngan itu sendirian di kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN