"Ada apa, Romo?” tanya Danuri ke romonya setelah dirinya diajak ke luar tadi.
“Ada yang salah dengan semua ini, tidak mungkin kan tiba-tiba seperti itu? Kalian kemarin bertemu dengan siapa di jalan? Atau menemukan apa?” Gimin yakin semua ini pasti ada sebab akibatnya.
“Cikarku terselip di lumpur, Romo. Aku bertemu dengan kanjeng Kaseni, beliau sedang dalam perjalanan pulang juga dari ladang, sepertinya baru panen padi.” mana mungkin Danuri lupa karena Sekar sudah menjatuhkan sapu tangan yang sejak semalam digenggamnya sebagai teman tidur.
Gimin mengerutkan keningnya saat melihat putranya itu senyam-senyum sendirian, “ana apa, Le?”
“Mboten/tidak, Romo.” Danuri tidak mau menceritakan tentang hal itu ke romonya.
“Tidak mungkin kamu senyam-senyum kalau tidak ada apa-apa.” desak Gimin.
Danuri pun terkekeh, tidak menyangka kalau romonya itu bisa membaca isi kepalanya saat ini. Danuri memilih untuk mengeluarkan sapu tangan yang memang sengaja dia simpan di dalam saku celananya itu agar merasa tidak jauh dari Sekar meski hanya memandangi sapu tangannya saja, “hanya menemukan ini, Romo. Punya Sekar yang terjatuh.”
Gimin yang melihat sapu tangan berwarna merah jambu itu mengeluarkan asap kelihatan, segera menyambarnya dan membawanya ke belakang rumah. Di rumah Gimin bagian belakang memang ada kali kecil, dan Gimin langsung mencelupkan sapu tangan merah jambu itu.
“Wonten napa, Romo (ada apa, ayah)?” Danuri heran dengan perlakuan romonya itu.
“Ini bukan punya Sekar, Le. Ini milik kanjeng Kaseni.”
Mata Danuri membola mendengar penuturan romonya itu.
“Apa baji-ngan itu yang menemukannya pertama kali?” tebak Gimin.
“Inggih, Romo.” jawab Danuri membenarkan itu.
Gimin segera mengangkat sapu tangan merah jambu yang asap hitamnya sudah menghilang itu, melipatnya rapi, kemudian masuk ke dalam, menyambangi baji-ngannya tadi, “gimana?”
“Sampun saras/sudah sembuh, Tuan.” jawab baji-ngan itu, memang rasanya sudah tidak terlalu panas dan hampir kembali ke bentuknya yang semula, hanya saja rasa linunya belum berkurang sepenuhnya, dia pun juga sudah menutupinya dengan selimut, tidak seperti tadi yang dibiarkan terlihat oleh semua orang karena tidak tahan jika sampai tersentuh oleh barang selembut apa pun juga.
“Bagus! Kamu istirahat saja. Kalau lapar kamu minta sama saja biar diantar ke mari.” tutur Gimin, bagai mana pun juga tidak akan tega melihat pekerjanya sedang sakit begitu.
“Romo, mau ke mana?” tanya Danuri yang melihat romonya menuntun sepeda ontel, ke luar ke halaman, dan sedang membersihkan sisa lumpur di bagian belakang dan bawah sepeda ontel itu. Memang romonya itu sangat menyukai kebersihan dan keindahan.
“Kamu di rumah saja, Romo ada hal penting yang harus segera diselesaikan.” segera menyengklak (naik dari sisi samping) sepeda ontelnya, dan cepat mengayuh pedal itu cukup cepat agar segera sampai di tempat yang dia tuju.
Tok. Tok. Tok. “Biyung?” Sekar mengetuk pintu kamar Biyung-nya, sedikit kawatir karena tidak melihat Biyung-nya itu sejak pagi, dan saat ini adalah terlalu kesiangan meski bagi seorang pemalas pun, apa lagi Biyung-nya bukanlah orang yang semacam itu.
'Ceklek.' Pintu itu terbuka dari dalam, memperlihatkan Biyung-nya yang tersenyum dengan wajah pucatnya dan memakai kebaya coklat menambah wajah itu semakin beraura kelam, “ana apa, Nduk?”
“Biyung? Biyung sakit, tah” Sekar segera menyentuh kening Biyung-nya, dan segera menuntunnya kembali ke ran-jang karena sangat takut dengan keadaan itu.
“Mek/cuma meriang, Nduk. Ana apa?” tanya kanjeng Kaseni, meski badannya lemas semuanya akibat dari sabetan Kanjeng Ratu Kidul semalam.
“Ada yang mencari, Biyung. Hm ... agak muda.” Sekar sedikit sungkan saat mengatakan itu.
Kanjeng Kaseni tersenyum, “itu Sugeng, Nduk. Suruh ke sini saja, Biyung gak kuat kalau ke luar, apa di warung?” tebak kanjeng Kaseni.
“Inggih/iya, Biyung.” Sekar meninggalkan Biyung-nya itu dengan raut sedih, takut karena tidak biasanya Biyung-nya sakit sampai seperti ini. Namun karena perintah Biyung-nya agar memanggil pemuda yang katanya bernama Sugeng itu, akhirnya Sekar pun tetap ke luar untuk menyampaikannya.
Setelah dipersilakan masuk ke dalam rumah besar, pemuda itu pun mengikuti Sekar masuk, dan ikut juga masuk terus bahkan bukan hanya ke dalam rumah, tapi ke dalam kamar kanjeng Kaseni.
“Sugeng?” sapa kanjeng Kaseni lebih dulu.
“Kenapa kok seperti ini? Mana yang sakit?” tanya Sugeng, melihat kekasihnya lemas seperti itu membuat dirinya menjadi ikut sakit juga.
“Tak buatkan teh dulu, nggih/ya?” kata Sekar sedikit menyela kemesraan pemuda itu dengan Biyung-nya, dan segera beranjak dari kamar Biyung-nya meski belum mendengar jawaban apa pun.
Kanjeng Kaseni fokus kembali ke Sugeng setelah ke duanya menoleh ke Sekar tadi, “mungkin kecapean, aku empat hari panen gabah/padi terus, mangkanya jadi demam.” jawab kanjeng Kaseni.
“Sudah makan?” tanya Sugeng.
Kanjeng Kaseni menggeleng, jangankan makan, untuk duduk atau bahkan mengganti posisi terbaringnya saja rasanya sangat kesulitan. “Aku gak lapar, Sugeng. Kamu kenapa lama gak datang ke sini? Apa kita gak jadi ka-win?” tanya kanjeng Kaseni.
Sugeng terkekeh, “yo, sido/jadi tah. Aku kan ya kerja, jualan jemblem (makanan dari ketela pohon yang diparut, diperas sarinya, lalu dibulat-bulatkan dan diberi isian gula merah di tengahnya.) di Cendol, ada wayang kan di sana.” Sugeng mengeluarkan beberapa koin uang dari sakunya, dan menyerahkannya ke kanjeng Kaseni, “mek titik/sedikit, disimpan buat tambahan metri/syukuran kita nanti.” kata Sugeng terdengar sangat indah di telinga kanjeng Kaseni.
“Terus kamu?” tanya kanjeng Kaseni sambil menerima uang itu.
“Sek ana/masih ada.” jawabnya sambil tersenyum manis ke calon istrinya yang kurang beberapa bulan itu.
'Tok. Tok. Tok.' Sekar masuk dengan membawa dua cangkir teh untuk Biyung dan juga tamunya, yaitu Sugeng, meletakannya di meja yang tersedia di kamar Biyung-nya itu, “mangga/silakan.” ucapnya sambil tersenyum ke Sugeng, dan diangguki oleh pemuda itu juga.
Sugeng kembali menoleh ke kanjeng Kaseni, rasanya dia ingin memeluk wanita yang dia cintai itu, sangat tidak tahan melihatnya yang lemah seperti ini.
“Kanjeng Kaseni! Metuo/ke luar, Kanjeng Kaseni! Kanjeng Kaseni?!”
Bukan hanya Sekar dan Sugeng yang terkejut mendengar panggilan itu, bahkan kanjeng Kaseni pun juga kaget karena sangat yakin, seharusnya tidak ada yang akan berani memanggilnya sampai seperti itu terlebih di rumah besarnya ini.
“Kurang a-jar!” desisnya pelan dan memaksa tubuhnya yang sakit semua itu, untuk berdiri dan melihat siapa yang berani meneriakkan namanya itu.