Diammu

1994 Kata

“Helehhhhhh ... anak e Romo lakok sudah besar.” ledek Gimin lagi, sangat tidak sabar untuk terus menggoda putranya itu. Danuri yang merasa romonya sangat menjengkelkan berniat untuk ke luar dari kamarnya. Namun, 'Tlepok.' Danuri dan Gimin melihat bunga melati yang masih segar jatuh ke lantai kamar Danuri, dari selipan surjannya yang tersingkap tadi. “Le, kamu ketemu sama siapa lagi di sana?” selidik Gimin, dia tidak ingin kekawatiran yang berkecamuk di kepalanya menjadi kenyataan. “Ya itu, Romo. Aku ketemu sama Sekar, dia ngajak aku ke tempat sepi terus megang da-daku, tapi kan gak mungkin wong Sekar itu anaknya pemalu gak agresif kayak gitu. Pas aku bilang ‘kamu siapa? Sekar gak mungkin kayak gini?’ dia cuma diem aja, Romo. Kata Sekar, Biyung-nya juga gak ke mana-mana, tetap duduk di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN