Kanjeng Kaseni segera berjalan dengan cepat ke kamar Sekar, segera mengguncang tubuh itu keras agar Sekar yang mungkin memang tertidur segera bangun untuk membuka matanya, “Nduk? Nduk Sekar? Nduk?” panggil kanjeng Kaseni agak keras agar Sekar bisa mendengar suaranya. Namun tetap jasa tidak ada gerakan berarti di tubuh putri semata wayangnya itu. Bahkan bukan hanya kanjeng Kaseni yang kelabakan melihat semua ini, tapi juga mbok Jum yang bingung sendiri menyikapi semuanya. “Nduk Sekar? Ayo bangun Nduk.” Panggil mbok Jum kali ini. “Sekar, Nduk Sekar!” panggil kanjeng Kaseni lagi. “Bagai mana ini, Kanjeng. Saya kok takut.” jujur mbok Jum. “Apa maksudmu, Jum!” bentak kanjeng Kaseni, “cepat ambilkan aku air dari sumur, beri kembang tiga warna, cepet!” imbuh kanjeng Kaseni agar mbok Jum seg

