Ngapusi / berbohong

1414 Kata

“Ough ... Kakang ... ah ... oughhhh ... .” sangat senang, saat tubuhnya mampu mengejang dan melemas dalam waktu yang bersamaan. Kanjeng Kaseni meresapi semuanya dengan sangat nyata. 'Duarrrrrrrr.' Kilap guntur membuat semua telinga yang mendengarnya beringsut ketakutan. Tak terkecuali Tejo dan mbok Jum yang juga mendengarnya. Meski jarak ke duanya cukup jauh, tapi hanya dua orang itu yang tahu sebab apa sampai terjadi hal yang demikian. Tejo mengikat kuda dokar yang tadi disopirinya lebih erat, dan memilih untuk masuk ke warung mbako / tembakau agar matanya tidak menangkap gambar petir yang menyambar-nyambar serta gemuruh yang menakutkan. Di dalam setidaknya Tejo bisa memakan sesuatu dan minum kopi untuk menghangatkan tubuhnya. Warung yang buka setiap sore sampai menjelang fajar tiba ini

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN