"Nasi goreng super pedas dan es teh tanpa gula satu ya, Mbak."
"Siap, Mas."
Aroma bawang putih yang ditumis menguar kuat, menggugah selera di sudut kantin Rumah Sakit Bhayangkara. Erika, dengan rambut yang dicepol rapi dan apron abu-abu yang melilit pinggang rampingnya, bergerak dengan tangkas. Tangan wanita itu menari di atas wajan panas, menggoyang sudip dengan ritme yang konstan. Suara denting sudip bertemu wajan menjadi musik latar di kedai kecil yang berlabel "Dapur Nyonya Mirah".
Di bangunan luas yang khusus disediakan untuk area kuliner rumah sakit ini, terdapat belasan lapak berjajar. Namun, lapak "Dapur Nyonya Mirah" lah yang selalu tampak paling hidup. Bukan hanya karena rasa nasi goreng, mie goreng, mie rebus, atau capcaynya yang terkenal lezat, melainkan karena sosok sang pemilik. Erika adalah oase di tengah penatnya lingkungan rumah sakit.
Wajah Erika yang cantik alami, keramah tamahannya yang tulus, serta senyum yang tak pernah luntur, membuat banyak pria — mulai dari para pengunjung, perawat, dokter, staf administrasi hingga polisi yang bertugas — betah mengantre di sana.
Matahari sudah mulai condong ke barat, menandakan jam makan siang telah berlalu. Suasana area kuliner rumah sakit itu mulai lengang, hanya menyisakan beberapa orang yang ingin sekadar menyesap kopi dan memakan cemilan.
"Er, capcay satu pakai nasi, ya. Minumnya jeruk hangat, pakai gula sedikit." Suara bariton yang familiar menginterupsi Erika.
"Siap, Dokter Mahesa!" jawab Erika dengan kerlingan ramah.
Mahesa adalah dokter spesialis forensik di rumah sakit Bhayangkara itu. Pria yang sehari-harinya berurusan dengan dinginnya meja otopsi dan misteri kematian itu merasa menemukan kehangatan dan kenyamanan di kedai "Dapur Nyonya Mirah". Dia berdiri di depan etalase, memperhatikan wanita itu bekerja.
"Sendirian, Er?" tanya Mahesa sambil memperhatikan Erika memotong wortel dengan sangat presisi. "Asistenmu mana?"
"Mbak Dina izin ada acara keluarga, Dok. Tapi saya tadi dibantu sama Ibu dan sekarang Ibu lagi pergi ke sekolah, mau jemput si kembar," sahut Erika tanpa mengalihkan pandangan dari pisau yang beradu dengan talenan kayu.
Mahesa menumpukan kedua sikutnya di atas etalase kaca, menatap Erika dengan binar yang sulit diartikan. "Pasti kamu capek banget hari ini karena kerja sendirian."
Erika terkekeh, menatap Mahesa sebentar lalu kembali menunduk untuk mengiris sayur kol. "Nggak kok, Dok. Saya kan sudah biasa bekerja keras. Namanya juga single mom."
Mahesa mendengus pelan, ada nada tidak puas dalam suaranya. "Kamu sih, nggak mau jadi istri saya. Kalau jadi istri saya, kamu nggak perlu lagi bekerja keras. Tinggal duduk manis, biar saya yang cari uang."
Tawa Erika pecah, terdengar sangat renyah. "Jangan mulai lagi lah, Dok. Banyak loh perawat atau staf administrasi yang masih perawan dan cantik-cantik di rumah sakit ini. Kenapa malah milih saya yang sudah punya buntut dua, sih? Saya ini sangat tidak pantas jika bersanding dengan seorang Dokpol."
"Ya gimana ... ini tuh urusan hati, Er. Memang banyak yang masih perawan, tapi hati saya maunya berlabuh di kamu. Di mata saya, di lingkungan rumah sakit ini yang paling cantik ya cuma kamu," balas Mahesa, kali ini suaranya merendah, membuat suasana di antara mereka mendadak sedikit canggung.
Erika menggeleng-gelengkan kepala, segera memasukkan aneka potongan sayur ke dalam mangkuk. "Dasar gombal! Sudah, sana Dokter duduk saja di meja! Nanti capcaynya lama matangnya kalau Dokter ngajak saya bercanda terus."
Sambil menunggu masakan matang, Mahesa akhirnya memilih duduk di salah satu kursi kayu. Namun, baru saja dia hendak membuka ponsel, seorang wanita dengan jas putih dokter yang masih nampak baru dan kaku melangkah masuk ke kantin. Wajah wanita itu berbinar saat menangkap sosok Mahesa.
"Loh ... Mahesa?!"
Mahesa mendongak, matanya membelalak. "Loh, Hanita?"
"Astaga, aku nggak nyangka bisa ketemu teman lama di sini! Benar kata orang, dunia itu sempit," seru wanita bernama Hanita itu dengan nada riang.
"Ah iya, lama sekali kita nggak ketemu sejak wisuda dokter umum. Ayo, sini duduk!" Mahesa mempersilakan teman lamanya itu.
Tepat saat itu, Erika datang membawakan nampan berisi nasi capcay dan jeruk hangat pesanan Mahesa. Hanita, yang baru saja duduk, matanya langsung tertuju pada piring yang mengepulkan aroma gurih tersebut.
"Wah, aroma makanannya enak banget. Apa nama menu ini?" tanya Hanita penuh minat.
"Nasi capcay. Kamu harus coba, Han! Ini tuh obat paling manjur setelah lelah bekerja seharian di rumah sakit ini," jawab Mahesa dengan mata berbinar bangga.
"Boleh deh." Hanita mengangguk lalu menatap Erika dengan senyum ramahnya. "Saya pesan satu yang sama seperti pesanan Mahesa ya, Mbak. Tapi minumnya pake es."
Erika mengangguk sopan. "Siap, Bu Dokter. Ditunggu ya."
Erika kembali di balik etalase kedai. Karena suasana kantin sedang sepi, suara obrolan kedua dokter itu terdengar jelas di telinganya. Sambil memotong sayuran, Erika secara tidak sengaja menyimak percakapan mereka.
"Kamu kok bisa ada di sini, Han? Bukannya terakhir kudengar kamu dinas di luar pulau jawa, ya?" tanya Mahesa di sela suapan nasinya.
"Iya bener, dan sekarang aku adalah dokter spesialis anak yang baru di rumah sakit ini. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja," jawab Hanita dengan mata berbinar.
"Oh, gitu ...." Mahesa mengangguk. "Kamu sudah menikah?"
Hanita tersenyum lebar, ada rona bahagia yang tulus di wajahnya. "Sudah dong. Aku nikah enam tahun yang lalu. Suamiku polisi, jadi ceritanya dia dipindahtugaskan di kota ini. Mau nggak mau aku ikut dong sebagai istri yang baik, soalnya kita juga sama-sama nggak kuat kalau LDM. Terus nih, aku ngerasa bosan dan kesepian kalau cuma di rumah. Akhirnya suamiku yang lobi-lobi tuh sama atasannya, dia tanya, apakah di rumah sakit ini butuh tambahan dokter spesialis anak? Dan untungnya rumah sakit butuh, makanya aku bisa masuk sini lewat jalur orang dalam."
Erika yang sedang menata memasukkan sayuran ke dalam mangkuk refleks membatin, "Beruntung sekali Dokter Hanita punya suami yang perhatian. Suaminya bahkan rela cari jalan agar istrinya tidak suntuk di rumah dan tetap bisa berkarir."
Ada secercah rasa kagum, sekaligus sedikit rasa iri yang menyesakkan d**a Erika, mengingat betapa berbedanya nasibnya dengan Hanita.
Setelah menyajikan pesanan Hanita, Erika memutuskan untuk membereskan tatanan botol saus, mengelap kompor, dan merapikan etalase kaca agar terlihat lebih bersih. Tiba-tiba, suara Hanita yang ceria kembali terdengar, kali ini volumenya lebih keras karena dia berteriak memanggil seseorang.
"Sayang! Aku di sini!" Hanita berdiri dari kursinya sembari melambaikan tangan ke arah pintu masuk.
Erika secara otomatis menoleh, ingin melihat sosok suami ideal yang baru saja diceritakan Hanita. Namun, saat matanya menangkap sosok yang berdiri di ambang pintu, dunianya seolah meledak menjadi jutaan kepingan yang menyakitkan.
Seorang pria berdiri di sana. Tubuhnya tinggi tegap, mengenakan seragam dinas kepolisian berwarna cokelat gelap yang melekat sempurna pada bahunya yang lebar. Di pundaknya, lambang pangkat itu tampak berkilau. Wajahnya memiliki garis rahang yang sangat tegas, dengan tatapan mata yang dalam dan tajam — mata yang sama persis dengan mata Nakula, putra kembarnya.
Pria itu melepas pet polisi, menampakkan rambut hitam yang dipotong rapi sesuai aturan dinas. Langkah kakinya yang menggunakan sepatu PDL hitam mengilat terdengar mantap di lantai kantin, memberikan aura d******i.
Erika merasa seluruh persendiannya meloloskan diri. Tangan yang memegang kain lap kini terkulai lemas di sisi tubuh. Napas seolah tersangkut di tenggorokan saat melihat pria itu membalas lambaian Hanita dengan sebuah senyum tipis — senyum yang dulu pernah menjadi alasan Erika untuk menyerahkan sesuatu miliknya yang paling berharga untuk pria itu.
Sosok itu adalah Sadewa, pria dari masa lalu Erika. Pria yang benihnya Erika bawa kabur. Pria yang seharusnya menjadi ayah dari si kembar, dan kini pria itu sedang berjalan mendekat untuk merangkul wanita lain di depan mata Erika.
"Sudah lama menunggu?" tanya pria itu dengan suara berat yang menggelegar di gendang telinga Erika, suara yang selama enam tahun ini hanya berani dia dengar dalam rekaman ingatannya yang paling gelap.
Erika membeku, dia ingin lari, tapi kakinya terasa seperti semen yang sudah mengeras. Dia hanya bisa mematung di balik etalase, berharap bahwa uap dari kuali panasnya bisa menutupi wajahnya yang kini sepucat mayat.
Namun takdir sepertinya sedang ingin bermain api, pria itu kini menolehkan kepala, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mata tajam milik Sadewa itu bertemu langsung dengan mata Erika yang berkaca-kaca.