Bab 1. Mimpi Buruk Yang Nyata
"Siapa yang menghamili kamu, Erika?"
Langit sore hari ini nampak mendung, seolah turut merasakan sesak yang menghimpit d**a Erika. Di dalam kamar paviliun belakang, Erika bersimpuh di lantai, memeluk lutut Mirah — ibunya sembari menumpahkan tangis yang sejak tadi dia tahan.
"Mas Sadewa, Bu ... ini anak Mas Sadewa."
Dunia seolah runtuh seketika bagi Mirah. Janda yang sudah mengabdi belasan tahun di rumah megah seorang Irjen Pol itu kini sedang memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak, mata membelalak tak percaya menatap putri tunggalnya.
"Astaga Erika! Kamu serius?! Dia itu putra tunggal majikan kita! Dan kita ini cuma menumpang tinggal di rumah ini, Nak!"
"Aku nggak bohong, Bu ... Mas Sadewa yang mengajakku melakukan itu, dan dia berjanji akan menikahi aku," jawab Erika disusul suara tangisnya yang semakin pecah.
Ketakutan dan rasa tanggung jawab bergejolak di d**a Mirah. Tanpa menunggu lama, dengan sisa keberanian yang bercampur keputusasaan, dia menarik paksa tangan Erika untuk berdiri. Dia tahu, rahasia sebesar ini tidak bisa disimpan. Mereka harus menghadap sang majikan sebelum semuanya terlambat.
Langkah kaki mereka yang gemetar membawa mereka melintasi taman belakang menuju bangunan utama yang megah.
Di ruang tengah yang luas, ada Sandra — nyonya rumah, ibu Sadewa — sedang menyesap teh dengan anggun. Namun, ketenangan itu hancur saat Mirah dan Erika datang bersimpuh di atas marmer yang mengilat, tepat di bawah kaki Sandra.
Begitu kalimat pengakuan itu meluncur dari bibir Mirah yang bergetar, denting keras porselen yang menghantam lantai memecah keheningan.
Sandra berdiri tegak, wajah cantiknya seketika mengeras karena murka. "Mana mungkin anakku menghamili anak pembantu?!" Suaranya melengking, menggema di setiap sudut ruangan. "Kalian pasti ingin memeras keluarga kami, kan?"
"Saya bersumpah ini anak Mas Sadewa, Nyonya." Erika terisak, air matanya mengalir deras hingga membasahi lantai marmer.
Sandra tersenyum sinis, langkahnya mendekat hingga ujung sepatunya menyentuh jemari Erika. "Sadewa itu sebentar lagi akan menikah dengan seorang dokter. Wajahnya jauh lebih cantik dari wajahmu. Yang cocok mendampingi seorang Iptu ya seorang dokter! Masak anak pembantu! Aku tahu kamu pasti sakit hati karena cintamu ditolak sama Sadewa, ya? kamu terobsesi padanya, kan?"
"Tidak, Bu! Sungguh, saya berani bersum—"
"Ada apa ribut-ribut ini?"
Suara bariton yang berat dan penuh wibawa itu membuat suasana seketika membeku.
Irjen Pol Prabu melangkah masuk ke ruang tengah. Seragam dinas kepolisiannya masih melekat sempurna, bintang dua di pundaknya berkilau tertimpa cahaya lampu kristal, memberikan tekanan intimidasi yang luar biasa tanpa perlu berkata banyak.
"Ini, Pa! Anak pembantu kita ini masak mengaku hamil anak Sadewa. Dia benar-benar tidak tahu diri!" lapor Sandra dengan napas memburu karena emosi.
Mata tajam Prabu menghujam Erika yang sudah menggigil hebat. Tak ada raut terkejut di wajah sang Jenderal, yang ada hanyalah ketenangan yang mematikan. "Apa Sadewa sudah tahu kalau kamu hamil?"
"Be-belum, Tuan. Rencananya saya mau bicara setelah Mas Sadewa pulang dinas nanti," jawab Erika terbata-bata, berharap ada sedikit belas kasihan di mata pria itu.
Namun, harapan itu pupus seketika. Bukannya memberikan solusi atau keadilan, tangan sang Jendral bergerak mantap ke arah holster di pinggangnya. Suara klik dari kokangan senjata api itu menggema, memutus harapan Erika dalam sekejap.
Moncong pistol jenis Glock hitam itu kini terarah tepat ke arah Erika.
"Tuan, tolong jangan bunuh anak saya!" Mirah menjerit histeris, dia memeluk tubuh Erika erat-erat, mencoba melindungi sang anak dengan tubuh tuanya yang ringkih.
"Keluarga saya sudah membangun reputasi selama puluhan tahun." Suara Prabu merendah, tapi penuh penekanan yang mengerikan. "Saya tidak akan membiarkan benih liar dari seorang anak pembantu menghancurkan masa depan putra saya dan mempermalukan nama besar keluarga saya."
Erika hanya bisa memejamkan mata, merasakan dinginnya maut yang seolah sudah di depan mata.
"Jika kalian sayang dengan nyawa kalian, cepat pergi dari rumah ini! Sekarang juga!" gertak Prabu dengan mata menyalang, tangannya tak goyah sedikit pun memegang senjata. "Jangan pernah temui Sadewa lagi. Jangan pernah muncul di hadapan kami. Jika aku melihat wajah kalian lagi di kota ini, aku tidak akan segan-segan menarik pelatuk ini."
***
"Argh!"
Erika tersentak bangun. Napas memburu, peluh dingin membasahi kening. Dia refleks memegangi d**a yang terasa sesak, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya yang seolah menyempit.
"Ya Tuhan ... mimpi kejadian itu lagi," gumamnya lirih.
Meski bertahun-tahun telah berlalu, moncong pistol Glock dingin milik Irjen Pol Prabu seolah masih terasa ada di hadapannya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Erika meraih segelas air putih di atas nakas kayu yang ada di samping tempat tidur. Tegukan air dingin itu sedikit menenangkan debar jantungnya yang menggila.
Baru saja Erika meletakkan kembali gelas itu, pintu kamar kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas itu terbuka lebar. Dua pasang kaki kecil berlari riang menghampirinya memecah kesunyian pagi.
"Selamat pagi, Ibu!" sapa mereka kompak, dengan suara cempreng yang menjadi musik paling indah bagi telinga Erika.
Senyum Erika mengembang seketika, menghapus sisa-sisa mimpi buruknya. "Selamat pagi Nakula, Narista ... anak kesayangan Ibu."
Erika menarik keduanya ke dalam pelukan, menciumi kening anak kembar laki-laki dan perempuannya itu bergantian. Menatap wajah mereka selalu menjadi pengingat pahit sekaligus manis akan sosok pria yang pernah dia cintai di masa lampau.
"Sekarang kalian mandi, ya. Ibu akan siapkan sarapan yang super enak untuk kalian," perintah Erika lembut.
"Siap, Ibu!" Keduanya berpose hormat dengan kompak, lalu berbalik dan berlari berebut menuju kamar mandi.
Erika terkekeh kecil melihat tingkah mereka. Dia turun dari ranjang, merapikan daster dan melangkah menuju dapur yang menyatu dengan ruang makan. Saat dia mulai membuka kulkas untuk mencari bahan masakan, pintu depan terbuka.
"Hari ini Dina izin nggak berangkat. Jadi nanti setelah anter si kembar sekolah, Ibu mau ke kantin dan bantu-bantu kamu," ucap Mirah yang baru saja masuk.
Napas wanita paruh baya itu agak tersengal, di kedua tangannya ada dua kantong plastik besar berisi aneka bahan makanan segar hasil berburu di pasar subuh.
Erika menoleh, merasa iba melihat ibunya yang masih harus banting tulang di usia senja. "Ibu di rumah saja, ya. Istirahat. Tenang aja, aku bisa handle kantin sendirian."
"Nggak, Er. Pokoknya nanti habis anter si kembar, Ibu mau langsung ke kantin. Kasihan kamu kalau jaga kantin sendiri. Kamu pasti kualahan, pelanggan bisa protes kalau nunggunya kelamaan," sahut Mirah bersikeras sambil mulai membongkar belanjaannya di atas meja dapur.
Erika menghentikan aktivitasnya, dia berbalik sepenuhnya menatap wanita paruh baya yang sudah berjuang keras membesarkan dia dan kedua anak kembarnya. "Ibu kapan istirahatnya? Ibu kan sudah susah payah belanja di pasar, masak masih harus jaga kantin? Tenang saja, aku bisa urus semuanya. Anakmu ini kan cekatan."
Mirah menggeleng tegas, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang mulai berkerut. "Nggak, Er. Pokoknya nanti Ibu mau bantu kamu di kantin. Titik."