Bandung, 2000
Udara Bandung yang dingin membuat tangan Amanda semakin membeku saat masuk ke gedung pertemuan yang dipenuhi cahaya lampu kristal. Suara musik klasik mengalun pelan, mengiringi langkah-langkah formal para tamu undangan.
Amanda menarik napas panjang, merasa asing di tengah keramaian yang penuh protokol dan para Taruna Akademi Militer.
Malam itu Amanda memakai dress terusan warna biru gelap dengan make up tipis, membuat Amanda seperti bukan siswi SMA.
Amanda nervous, ini kali pertamanya datang ke pesta dansa.
Amanda merasa yang tak seharusnya berada di antara para taruna Akademi Militer. Tapi sepupunya, Taruna angkatan pertama, mengajaknya hadir dalam acara jamuan kehormatan Akademi Militer yang diadakan Tahunan di Bandung.
Dan di sanalah ia melihatnya—untuk pertama kalinya.
Donny Atmadja.
Tinggi, tegap, dengan rahang kokoh dan mata yang tajam menembus keramaian. Ia berdiri bersama para seniornya,
mengenakan seragam taruna lengkap dengan atribut kebesaran.
Tapi di tengah keangkuhan postur para calon pemimpin bangsa itu, hanya satu yang membuat jantung Amanda berdetak tidak karuan: pria itu.
Seolah alam semesta melambat ketika mata mereka bertemu. Donny tidak tersenyum. Tatapannya serius. Tapi cukup untuk membuat Amanda melupakan caranya bernapas.
"Amanda, ayo, aku kenalkan ke Kakak Seniorku itu," Raka Sepupunya, menarik tangan Amanda yang masih terpaku.
Ia tak punya waktu menolak.
Takdir telah menggiringnya tepat ke depan Donny.
Dan ketika tangan mereka bersalaman untuk pertama kali, tubuh Amanda seolah dialiri aliran listrik halus yang membuatnya gemetar diam-diam.
"Donny Atmadja," ucap pria itu singkat, dalam dan mantap.
"Amanda Larasati," jawabnya pelan, nyaris berbisik.
Beberapa jam setelah perkenalan itu, malam kian larut, tapi kemewahan pesta belum juga surut. Musik berganti menjadi lebih ritmis—irama klasik perlahan berubah menjadi waltz yang mengundang pasangan-pasangan beranjak ke lantai dansa.
Amanda duduk sambil melihat pasangan yang mulai berdansa di ballroom. Matanya tanpa sadar terus mencari sosok itu—Donny.
Tapi pria itu tak lagi di tempat semula. Mungkin sudah pergi. Mungkin... memang tak tertarik padanya.
Namun sebelum pikiran-pikiran kecewa itu berkembang lebih jauh, Donny menghampirinya dan suara berat nan lembut menyapanya.
“Amanda, bersediakah berdansa dengan saya malam ini?”
Di hadapannya, Donny berdiri. Tegap dan gagah, seperti keluar dari buku cerita.
Ia ingin menolak. Bukan karena tak mau, tapi karena takut. Kakinya mungkin akan lemas, pikirnya. Tapi bibirnya justru membentuk senyuman kecil, dan tangannya—entah bagaimana—sudah menyambut uluran tangan Donny.
Mereka melangkah ke tengah ruangan. Musik mengalun pelan. Di antara langkah-langkah terlatih Donny, Amanda merasa ringan, seperti melayang. Tangan pria itu kokoh di punggungnya, memandu tanpa ragu.
“Kamu terlihat berbeda dari semua orang,” kata Donny lirih, hampir seperti rahasia.
Amanda menatapnya. “Berbeda bagaimana?”
“Tidak seperti mereka yang datang untuk dihormati. Kamu datang dan membuatku merasa... menemukan belahan hati yang hilang.”
Jantung Amanda berdebar. Langkahnya hampir terpeleset, tapi Donny menggenggam lebih erat, menstabilkan dirinya.
Ia tak berkata apa-apa. Tak bisa. Tapi matanya cukup bicara—bahwa detik itu, di antara denting piano dan cahaya lampu kristal, dunia mereka mulai berputar dalam poros yang sama.
Saat tangan mereka terlepas, dunia tak lagi sama bagi Amanda. Ia tahu, malam itu, ia jatuh cinta.
Bukan pada taruna biasa. Tapi pada pria yang suatu hari akan membuatnya berdosa karena mencintainya terlalu dalam.
-----
Sejak malam itu, Amanda tahu hidupnya tidak akan pernah sama. Ada sesuatu dalam diri Donny Atmadja yang terlalu memikat, terlalu dalam untuk sekadar disimpan sebagai kenangan satu malam.
Ia mulai menantikan kabar dari Magelang, meski tak pernah tahu apakah Donny akan benar-benar ngechat Amanda.
Dan ternyata... pria itu menepati janjinya.
Ting.. hape Amanda berbunyi
Chat Dari Donny
Tiga hari setelah pertemuan mereka.
Isinya singkat, namun Amanda membacanya hingga berulang-ulang seolah itu puisi cinta pertama dalam hidupnya.
“Hai Amanda,.....'
"Aku ingin mengenalmu lebih sekedar teman"
"Jika kamu mau menjadi Kekasih hatiku
Aku akan menjadi pelindungmu selama hidupku"
Dari pernyataan Donny itulah, kisah cinta mereka di mulai.
---
Mereka tidak bisa bertemu setiap minggu. Jarak antara Akmil Magelang dan Bandung terlalu jauh, apalagi bagi Amanda yang masih harus sekolah dan Donny yang terikat disiplin militer.
Tapi setiap kali Donny mendapatkan libur, ia akan menyempatkan waktu datang ke rumah Amanda yang tinggal dengan neneknya.
Dalam diam, cinta mereka tumbuh semakin kuat.
Setiap kali Donny menggenggam tangan Amanda, Donny merasakan hangatnya hati Amanda.
Berkali-kali Donny menyampaikan rindu
Membuat Amanda semakin mencintai Donny.
Karena ia tahu: cinta mereka tidak membutuhkan janji. Hanya keberanian untuk tetap bertahan dalam sunyi.
Tapi tidak semua sunyi bisa ditanggung selamanya.