Pria di Dermaga

452 Kata
Langit malam Giethoorn berubah kelam, seolah ikut menyembunyikan rahasia yang hendak menyergap dalam gelap. Hujan belum reda, tapi Amanda tak bisa menunggu lebih lama. Ia hanya membawa koper kecil dan tas selempang berisi paspor, dompet, dan satu foto tua yang entah mengapa selalu ia simpan: foto Donny, dirinya, dan… seorang pria yang wajahnya kini samar dalam ingatan. Ia melangkah cepat melewati lorong penginapan. Lampu-lampu temaram membuat suasana makin sunyi, seolah dunia sedang menahan napas. Di tangannya, tiket kereta ke Paris sudah dipesan. Ririen akan menjemputnya di perbatasan Belgia, membawa Amanda keluar dari permainan berbahaya ini. Setidaknya, itu rencananya. Tapi ketika ia sampai di dermaga kecil di belakang penginapan—tempat biasa Donny berdiri di pagi hari—seseorang sudah menunggunya. Sosok pria dengan jas panjang hitam dan topi fedora menutupi sebagian wajahnya. Ia berdiri membelakangi lampu dermaga, membuat wajahnya nyaris tak terlihat. Amanda berhenti. Nafasnya tercekat. “Donny?” tanyanya, meski hatinya tahu itu bukan suara kekasihnya. Pria itu menoleh perlahan. “Bukan. Tapi aku tahu segalanya tentang dia. Dan tentangmu, Amanda.” Suara itu dalam, tenang, dan sangat... mengenal. “Siapa kau?” Amanda menggenggam koper erat, mundur satu langkah. “Namaku Adrian. Kita pernah bertemu. Tapi waktu itu kau terlalu sibuk mencintai lelaki yang salah.” Amanda menatap pria itu dengan mata menyipit. Nama itu—Adrian. Ada sesuatu yang menggeliat di ujung memorinya. “Donny mengkhianati misi kami. Tapi dia juga mengkhianati dirimu. Kau pikir kau korban? Tidak, Amanda. Kau adalah saksi kunci yang harus dihapus… atau diselamatkan. Tergantung siapa yang lebih dulu menemukamu.” “Kau mengancamku?” suara Amanda bergetar tapi berani. Adrian tersenyum miring. “Aku menyelamatkanmu. Sekali lagi. Sama seperti dulu.” Sebelum Amanda sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong penginapan. Dua pria berbadan besar muncul dari bayangan, berseragam sipil tapi gerakannya terlalu terlatih untuk sekadar petugas hotel. Amanda panik. Ia melangkah mundur, hampir jatuh ke air kanal. Adrian bergerak cepat, menarik tangannya. “Kalau kau ikut aku sekarang, kau hidup. Kalau tidak—mereka akan menyerahkanmu pada orang yang bahkan Donny tak bisa lawan.” “Siapa mereka?” “Mereka yang membayar untuk menghapus masa lalumu. Dan masa depan Donny.” Amanda menatap Adrian, lalu ke dua pria yang kini mulai mendekat. Ia harus memilih. Sekarang juga. Dan hatinya... tak punya waktu untuk ragu. Ia menyerahkan koper pada Adrian. “Bawa aku pergi.” Adrian mengangguk. Ia membuka tali perahu motor kecil yang sudah disiapkan di dermaga. Dalam hitungan detik, mereka meluncur ke kanal, meninggalkan suara teriakan dan bayang-bayang yang mengejar dari belakang. Angin malam memukul wajah Amanda. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa... hidup. Karena kini, bukan cinta yang harus ia perjuangkan. Tapi kebenaran—dan nyawanya sendiri. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN