Misi Rahasia

343 Kata
Amanda menatap layar, matanya membesar. Misi rahasia? Ia menggulir halaman demi halaman—menemukan nama yang tak asing dalam berita itu: Kolonel Yudha. Nama yang dulu pernah disebut Donny, dalam bisikan malam mereka, sebagai “sahabat lama yang kini menjadi musuh dalam selimut.” Namun sesuatu yang lebih mengerikan muncul di halaman forum militer tak resmi: sebuah komentar anonim. “Perempuan asing yang bersamanya di Belanda sedang dalam pengawasan. Dia bukan hanya ancaman bagi Donny… tapi bisa jadi kunci dari misi lama yang seharusnya sudah ditutup.” Amanda membeku. Perempuan asing. Itu—dirinya. Ia segera mematikan komputer, jantungnya berdentum keras. Tiba-tiba, ia merasa seperti sedang diawasi. Ia keluar dari warung internet, tapi tidak langsung kembali ke penginapan. Sebaliknya, ia menyusuri jalan kecil di samping kanal, menuju tempat tersembunyi di mana sinyal lebih stabil. Ia menghubungi satu-satunya orang yang ia tahu pernah dekat dengan Donny—dulu, ketika mereka masih bersama: Ririen, mantan analis intelijen yang kini menetap di Paris. Panggilan terhubung setelah beberapa detik. “Amanda?” suara Ririen terdengar heran tapi waspada. “Aku butuh bantuanmu. Seseorang mengancamku. Tentang Donny.” Keheningan. “Amanda… kau harus pergi dari Belanda. Sekarang juga. Kalau bisa malam ini.” “Mengapa?” “Karena Donny bukan hanya kembali untuk urusan negara. Dia kembali untuk menghapus jejak—dan mungkin, menyelamatkanmu dari sesuatu yang lebih besar dari kita semua.” Amanda terdiam. Tubuhnya gemetar. “Kau tahu sesuatu, Ririen. Katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?” Ririen menghela napas berat. “Dulu, Donny pernah menyusup ke dalam jaringan senjata gelap yang dikendalikan oleh orang dalam. Ada pengkhianat. Operasi itu gagal. Dan satu-satunya saksi yang tahu siapa pengkhianatnya… adalah perempuan yang tak pernah tahu dirinya jadi target.” Amanda mematung. “Dan perempuan itu—adalah aku?” “Ya,” bisik Ririen. “Dan mereka baru sadar kau masih hidup.” Amanda menutup telepon dengan tangan gemetar. Hujan mulai turun lebih deras. Tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Melainkan kenyataan bahwa cintanya… telah membawanya masuk ke dalam medan perang yang tak pernah ia pilih. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN