Jejak dalam Bayang-Bayang

211 Kata
Hujan gerimis mulai turun di Giethoorn. Rintik-rintik air menari di permukaan kanal, menciptakan irama melankolis yang menyatu dengan benak Amanda yang tak tenang. Ia duduk di tepi ranjang, masih memandangi pesan singkat di ponselnya. Kata-kata ancaman itu seperti terpatri dalam pikirannya, menggeliat dalam setiap tarikan napas. Ia mencoba menelusuri nomor tak dikenal itu, tapi tak ada hasil. Nomor anonim. Tanpa identitas. Tanpa jejak. “Ini bukan sekadar tentang cinta lama. Ini tentang hidupmu.” Siapa yang mengirim? Apa maksudnya? Dan lebih dari itu—apa yang sebenarnya disembunyikan Donny darinya? Amanda memutuskan tak bisa hanya duduk dan menunggu jawaban. Ia bangkit, mengenakan mantel panjang, dan keluar ke udara dingin. Kepalanya tertunduk, langkahnya cepat, menuju satu-satunya warung internet kecil di ujung desa—tempat turis biasanya mencari arah atau memesan tiket. Di dalam, lampu kuning remang menciptakan bayangan panjang di lantai kayu. Ia menyewa bilik komputer, lalu mulai browsing. Ia mencari berita terbaru tentang Brigjen Donny Atmadja. Sebuah kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—mengawasi dari jauh, mengingat dari dalam luka. Tapi hari ini, pencariannya berbeda. Dan untuk pertama kalinya, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia duga: Donny sedang diselidiki oleh pihak internal militer Indonesia. Tuduhan? Penyalahgunaan wewenang dalam misi rahasia yang tak pernah tercatat secara resmi. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN