Bayangan dari Indonesia

464 Kata
Pagi menyapa Giethoorn dengan langit kelabu dan angin yang menggigit. Musim semi di desa ini tak selalu cerah. Kadang, seperti pagi ini, kabut turun begitu tebal hingga kanal-kanal nyaris tak terlihat. Amanda terbangun dengan tubuh masih dibalut selimut linen yang dingin. Di sisinya, ranjang sudah kosong. Hanya ada sisa hangat di tempat Donny tadi malam tidur. Dan aroma samar kopi hitam yang datang dari dapur. Ia bangkit perlahan, mengenakan jubah tidur tipis, melangkah ke jendela dan menatap keluar. Donny berdiri di dermaga kecil di belakang penginapan. Sendirian. Seragam militernya tergantung di satu tangan, sementara tangan lainnya memegang telepon. Bahunya menegang. Wajahnya serius. Seketika, firasat buruk merayap naik ke d**a Amanda. Ia turun pelan-pelan, menyusuri lorong penginapan yang berderit lembut di tiap pijakan. Saat sampai di belakang, Donny menoleh cepat. Tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan sesuatu yang berubah. “Ada apa?” Amanda bertanya pelan. Donny menghela napas, menyimpan ponselnya. “Panggilan dari Jakarta. Ada sesuatu yang terjadi.” “Seberapa serius?” “Cukup serius hingga aku harus pulang hari ini juga.” Amanda diam. Angin meniup helaian rambutnya, dan tiba-tiba dunia kembali terasa asing. “Berarti… ini sudah selesai?” tanyanya nyaris tak bersuara. Donny menatapnya. Mata itu masih sama—lembut tapi penuh badai. “Kau tahu, ini tak akan pernah benar-benar selesai.” “Tapi kita harus berpura-pura begitu, bukan?” Lelaki itu menunduk, seolah kalah pada perang yang tak bisa ia menangkan. “Aku akan kembali jika bisa.” “Kau akan kembali kalau berani,” jawab Amanda tajam, tapi matanya berkaca. Donny melangkah mendekat, menggenggam wajahnya. “Aku akan berani… kalau kau masih di sini.” Air mata Amanda jatuh, tapi tak ada tangis. Hanya diam, yang lebih memekakkan dari jerit mana pun. --- Siang itu, mereka berpisah di stasiun kecil di Meppel, kota terdekat. Kereta menuju Amsterdam akan membawa Donny kembali ke dunia nyata—dunia yang penuh pangkat, kewajiban, dan rahasia yang tak bisa disebutkan. Amanda berdiri di peron, tubuhnya diam, tapi jiwanya bergemuruh. Saat kereta mulai bergerak, Donny membuka jendela dan menatapnya. Sekali lagi. Untuk terakhir kali—atau setidaknya, begitulah kelihatannya. Tatapan itu berkata: Aku mencintaimu. Tapi aku harus pergi. Dan Amanda, dengan bibir bergetar dan hati remuk, hanya bisa membalas dengan senyum setengah mati. Karena cinta bukan tentang siapa yang pergi. Tapi siapa yang cukup hancur untuk tetap menunggu. --- Beberapa jam kemudian, di kamar penginapan yang sepi, Amanda baru membuka pesan di ponselnya—yang masuk pagi tadi tapi tak sempat ia lihat. Dari nomor yang tidak dikenal. "Jangan berani mendekati Brigjen Donny Atmadja. Ini bukan sekadar tentang cinta lama. Ini tentang hidupmu." Pesan itu hanya satu kalimat. Tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Amanda membeku. Karena ternyata… yang paling berbahaya bukan rasa bersalah. Tapi kebenaran yang belum sepenuhnya ia ketahui. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN