Malam turun pelan-pelan di Giethoorn.
Langit Belanda berubah menjadi kelam keperakan, dan suara jangkrik mulai menggantikan celoteh bebek di kanal.
Amanda berdiri di balkon penginapan kayu mereka—penginapan kuno bergaya rustic Belanda dengan lampu temaram dan perapian kecil di dalam.
Donny ada di belakangnya. Diam. Tapi hadiran lelaki itu begitu kuat, membuat udara tipis di antara mereka seperti terbakar.
“Aku tahu ini salah…”
Suara Amanda lirih. Matanya menatap kosong pada air kanal yang tenang.
Donny melangkah mendekat. “Apa masih salah, kalau sejak dulu perasaannya tidak pernah berubah?”
Amanda memejamkan mata, menahan gelombang perasaan yang sejak tadi menyesakkan.
“Karena itu justru menyakitkan, Don. Kau milik orang lain sekarang.”
Hening.
Lalu tiba-tiba, Donny memutar tubuh Amanda perlahan. Ia menatap wajah wanita itu dalam-dalam, seolah mencari sisa-sisa keberanian yang dulu pernah mereka miliki bersama.
“Bukan aku yang memilih hidupku seperti ini, Amanda,” bisiknya pelan. “Tapi untuk mencintaimu, aku tak pernah ragu. Bahkan sampai hari ini.”
Amanda ingin berkata ‘berhenti’. Tapi bibirnya tak sanggup.
Karena dalam hati yang paling dalam, dia juga rindu disentuh. Direngkuh. Dipeluk. Dicintai dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh satu orang—Donny.
Ciuman pertama itu datang seperti badai.
Pelan. Lalu dalam. Lalu menggila.
Mereka terhempas di antara selimut dan bantal, dalam kamar yang temaram oleh cahaya kuning lampu gantung. Tidak ada pangkat. Tidak ada gelar. Tidak ada status.
Hanya dua manusia yang pernah kehilangan, dan sekarang terdampar kembali dalam satu pelukan.
Desahan rindu tercampur isak kecil.
Amanda tak tahu apa yang lebih menyakitkan: rasa bersalah... atau rasa bahagia yang selama ini ia tahan mati-matian.
Dan malam itu, mereka berdosa.
Tapi juga malam itu, mereka merasa paling hidup.
----