Waktu seolah melambat saat mata mereka bertemu di aula megah KBRI.
Amanda berdiri mematung di ujung ruangan, mengenakan gaun panjang warna biru tua yang membalut tubuhnya dengan anggun.
Donny Atmadja berdiri tegak dalam balutan seragam dinas lengkap, d**a dipenuhi lencana dan tanda kehormatan.
Tapi tak ada yang semegah tatapan matanya—mata yang membuat Amanda lupa caranya bernapas.
“Lama tidak bertemu,” suaranya serak, rendah, nyaris seperti bisikan dosa yang telah lama dikubur hidup-hidup.
Amanda hanya mampu mengangguk.
Dunia mereka berbeda sekarang. Tapi detak jantung mereka tetap sama. Sama-sama berdebar karena luka yang belum benar-benar sembuh.
----
Dua hari setelah pertemuan itu, Amanda melakukan hal yang bahkan tak bisa ia mengerti sendiri—mengiyakan ajakan Donny untuk melakukan perjalanan singkat.
Tujuan mereka: Giethoorn, sebuah desa tersembunyi di provinsi Overijssel, Belanda timur laut.
Giethoorn bukan tempat biasa.
Tak ada mobil. Tak ada jalan aspal. Desa ini bagaikan lukisan hidup—tenang, romantis, dan nyaris tak tersentuh waktu. Semua akses dilakukan lewat kanal-kanal air.
Orang-orang bergerak dengan perahu mungil yang disebut “whisper boat” karena tak bersuara, membelah permukaan air yang bening seperti cermin.
Amanda duduk di ujung perahu,
membiarkan rambutnya yang panjang ditiup lembut angin musim semi. Rumah-rumah bergaya abad pertengahan berdiri anggun di tepi kanal, atap-atap jeraminya menambah kesan dongeng yang nyaris mustahil nyata.
“Ini terlalu indah,” gumam Amanda, nyaris seperti bermimpi. “Seperti bukan bagian dari dunia nyata.”
Donny menatapnya dari balik kemudi perahu. “Kau juga terlalu indah untuk dunia nyata,” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Amanda berpaling, menatapnya sejenak sebelum kembali menatap air.
Mereka menyusuri kanal kecil yang dinaungi lengkungan jembatan kayu, dan melewati taman-taman bunga tulip yang baru mekar.
Di kejauhan, suara bebek dan angsa liar saling bersahutan, menciptakan harmoni alam yang menenangkan.
Setelah hampir satu jam berlayar, mereka berhenti di sebuah dermaga kecil di depan rumah tua yang disulap menjadi restoran vintage.
Donny menarik napas panjang. “Aku pernah membayangkan ke sini bersamamu, bertahun-tahun lalu. Tapi hidup memilih jalannya sendiri.”
Amanda hanya tersenyum pahit. “Kita tak pernah benar-benar bisa melawan waktu. Atau takdir.”
Mereka makan di teras belakang restoran, dengan pemandangan langsung ke kanal. Sinar matahari senja memantul di permukaan air, membentuk bias jingga keemasan yang membungkus mereka dalam keheningan. Tak ada kata.
Hanya rasa.
Dan ketika Donny menyentuh tangannya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, Amanda tahu… hatinya masih lemah terhadap satu nama.
Donny Atmadja.
Luka yang tak pernah ia obati. Dan mungkin... memang tidak ingin ia sembuhkan.
---