Bagian Lima

893 Kata
*** Gevania sampai pukul tiga dini hari di bandara internasional Tokyo. Berangkat sendirian tanpa didampingi siapa pun, dia menggerek kopernya menuju pintu keluar. Sebelum berangkat, Gevania dihubungi Tamara. Diberitahu tentang mobil yang akan menjemputnya ke bandara, sang adik berpesan agar dia tidak mencari taksi. Entah dikendarai oleh siapa mobil yang menjemputnya, Gevania tidak bertanya. Namun, yang jelas Tamara memberitahu plat nomor mobil, sehingga kini—di depan bandara, Gevania mencari keberadaan mobil tersebut. "Di mana parkirnya ya mobil yang mau jemput aku?" tanya Gevania, celingukan. "Takut keburu disamperin taksi." Terus menggerek koper, senyuman di bibir Gevania terbit setelah mobil dengan plat nomor yang sama dengan yang dikirim Tamara, terparkir di pinggir jalan. Dengan perasaan lega, dia lekas menghampiri kemudian dari samping kursi kemudi, Gevania mendaratkan ketukan. "Excuse me," ucap Gevania. Tidak perlu menunggu lama, kaca mobil yang semula tertutup rapat, turun secara perlahan—membuat sang pengemudi mobil akhirnya terlihat. "A—Abyan," panggil Gevania, spontan mundur dengan raut wajah shock. "K—kenapa kamu yang jemput?" Demi apa pun Gevania tidak berekspektasi jika Abyanlah yang menjemputnya ke bandara. Sopir asli orang jepang, atau mungkin sang papa, Gevania menebak salah satu diantara keduanya yang datang. Namun, ternyata dugaannya salah, karena kini di kursi kemudi, sang mantan duduk dengan raut wajah yang begitu dingin. "Cepat naik," ucap Abyan, tanpa menjawab pertanyaan yang Gevania lontarkan—bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh. "Nanti ditegur orang sini." Tidak bergerak ataupun berkata, Gevania masih mematung dengan perasaan tidak habis pikir. Coba menebak tujuan di balik datangnya Abyan menjemput, itulah dia sekarang, hingga sang mantan yang pada akhirnya menoleh, lamunannya buyar. "Habis kabur sama selingkuhan, telinga kamu mendadak tuli?" tanya Abyan sinis. "Masuk! Kaya orang enggak paham bahasa Indonesia aja." "I—iya sebentar." Tidak langsung masuk, Gevania berjalan menuju bagasi untuk memasukan koper. Tanpa dibantu Abyan, susah payah dia memasukan koper besarnya sebelum kemudian bergegas menuju pintu mobil bagian belakang. Sadar diri, Gevania berniat duduk di belakang Abyan. Namun, baru masuk selama beberapa detik, sebuah tanya menodongnya. "Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Abyan—masih dengan raut wajah sinis. Selain sakit hati, pria itu marah pada Gevania yang meninggalkannya di hari pernikahan mereka, sehingga setelah dengan terpaksa setuju pada ide sang mertua, Abyan berniat untuk membalas rasa sakit hatinya atas apa yang sang mantan kekasih lakukan. "Kamu suruh aku masuk, kan?" tanya Gevania. "Iya, tapi apa aku nyuruh kamu duduk di belakang?" tanya Abyan. "Kamu boleh mencampakan aku gitu aja, tapi bukan berarti kamu boleh juga memperlakukan aku seperti supir. Pindah ke depan. Aku bukan supir kamu." "Tapi Abyan ...." "Pindah atau mobil ini enggak akan maju?" tanya Abyan. "Lagian seharusnya yang menjauh itu aku bukan kamu. Aku korbannya dan kamu penjahat di sini. Ingat itu." Tidak memberi respon apa pun, Gevania memilih untuk lekas turun dari mobil. Berpindah tempat sambil terus menguatkan hati, dengan segenap rasa sakit dia duduk di samping Abyan. Tidak ada obrolan apa pun, selanjutnya mobil melesat pergi meninggalkan area bandara. Sepanjang perjalanan, suasana hening menyelimuti. Gevania mau pun Abyan sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Abyan buka suara. "Aku benci sama kamu, Geva," ucap pria itu tiba-tiba—membuat Gevania menoleh, kemudian memandangnya dari samping. "Aku pikir kamu perempuan yang mencintai aku dengan tulus, tapi ternyata enggak. Aku terlalu bodoh sampai-sampai di hari yang seharusnya paling membahagiakan, kamu bikin aku pengen menghilang dari dunia ini. Dua tahun bersama, apa enggak ada sedikit pun rasa kasihan di hati kamu buat aku?" Gevania tidak menjawab, sementara hatinya kembali teriris. Jika bisa, ingin sekali dia membela diri kemudian mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Namun, sial, fakta tersebut hanya bisa Gevania simpan karena jika sampai Abyan tahu, dia akan dibenci orang tua juga adik bungsunya itu. "Kenapa diam?" "Selama beberapa bulan terakhir aku ngerasa hubungan kita hampa. Jadi daripada setelah menikah nanti kita sering berantem, aku lebih baik pergi." Abyan mengeratkan pegangannya pada kemudi. Tidak berbeda jauh dari Gevania, hatinya juga terasa begitu sakit karena jika mengingat lagi bagaimana manisnya hubungan mereka, rasanya tidak mungkin Gevania sekejam itu. Namun, inilah yang terjadi. Bukan sekadar karangan, Gevania mengakui sendiri perbuatannya—membuat Abyan tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan rasa cintanya pada perempuan itu. "Tapi sekarang kamu lihat, apa selingkuhan kamu itu bikin kamu bahagia? Enggak, Geva. Kamu enggak lebih bahagia sama dia. Dua minggu kabur, kamu udah balik. Masih untung Papa Nolan sama Mama Rachel masih menerima kamu. Kalau aku jadi mereka, aku usir sekalian anak yang hampir bikin malu keluarga. Masih untung ada Tamara. Kalau enggak? Semua orang kamu bikin malu." Gevania tidak menimpali. Bukan karena tidak punya kosa kata, alasannya tidak buka suara adalah; karena air mata yang terus meringsek keluar sehingga mati-matian Gevania harus menahannya. "Aku harap kamu dapat karma yang lebih sakit dari apa yang kamu rasakan sekarang, supaya kamu bisa ngerasain apa yang aku rasain," ucap Abyan lagi. "Iya," jawab Gevania. "Akan aku tunggu karma itu. Kamu tenang aja." Dua puluh menit di jalan, mobil yang dikendarai Abyan sampai di hotel. Tidak membiarkan Gevania turun sendiri, dia mengantar perempuan itu sampai ke resepsionis hingga setelah Gevania mendapatkan kunci kamar, Abyan pergi untuk kembali menjaga Tamara. "Andai kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi, Abyan," ucap Gevania, yang masih berada di lobi hotel. Menarik napas sambil menahan sakit di bagian d**a, dia berbalik lalu sambil melangkah menuju lift, Gevania berkata, "Tuhan, setelah ini rasa sakit seperti apalagi yang akan aku rasain?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN