Tubuhku masih gemetar hebat, napasku tersengal, dan tubuhku terasa lemas ketika akhirnya ledakan itu reda. Vaginaku mengeluarkan begitu banyak cairan yang sudah tertahan sejak tadi, kurasakan sprei ranjang menjadi sedikit lembab karenanya. Aku terkulai lemas, masih diliputi kenikmatan yang membuat kepalaku pusing. Tapi di sela kabut kenikmatan itu, aku merasakan sesuatu yang membuat darahku seolah berhenti mengalir- sebuah tatapan. Perlahan, aku menurunkan bantal dari wajahku... dan mataku langsung membelalak. Centia. Ia sudah bangun. Matanya terbuka, menatap lurus ke arahku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Ia jelas sudah melihatku-melihat bagaimana tubuhku meledak dalam permainan Jo. "A-astaga..." aku spontan menutupi tubuhku dengan selimut. Air mataku jatuh lagi-kali ini bukan

