Rey mengerjapkan mata saat baru terbangun dari tidurnya. Laki-laki itu menyibak selimut dan melihat dirinya tidak mengenakan apa-apa. Dilihatnya Nina sedang bersolek di depan cermin, hendak berangkat kerja. Sebagai perempuan yang ambisius, tidak cukup bagi Nina memiliki satu pekerjaan saja. Lagi pula, dia termasuk tipikal perempuan pekerja keras yang tidak bisa jika hanya sekadar duduk diam berpangku tangan tanpa menghasilkan apa-apa. “Semalem kayak ... aku ketemu sama ....” Rey membuka suara. Dia hendak menyebut nama Vey, tetapi seperti mustahil mengingat di mana dirinya berada sekarang. Lagi pula yang benar saja? Mana mungkin Vey mendatangi apartemen Nina? “Uh ... Rey, semalem kamu mabuk, bikin aku enggak bisa kerja. Ngerepotin banget di klub bukannya ngawasin aku, malah ngoceh sendiri

