“Udah malem banget, kenapa belum tidur?” Kenan menghampiri Vey yang merebah miring di atas daybed rotan yang terletak di balkon kamar. Dia yang tidak sengaja terbangun dan menyadari Vey tidak ada di tempat tidur, segera bangkit dan mencari di mana keberadaan sang istri. “Kebangun,” jawab Vey super singkat. Dalam posisi rebahan menyamping, perempuan itu tidak mengalihkan pandang dari kerlip bintang di langit. Kenan duduk di lantai dengan kaki terlipat, tepat di sisi perut Vey. “Kenapa? Tidurnya enggak nyenyak?” Laki-laki itu ingin tahu. Dalam benak Vey masih teringat jelas akan bisikan Kenan tadi pagi ketika sarapan di meja makan yang seakan melarangnya membicarakan tentang kehamilan. Kini dia paham, Kenan hanya sedang menghindari agar pembicaraan mereka tidak berlanjut sehingga berujung

