“Maaf, ya. Mama sama Papa ke sini enggak bilang-bilang.” Valerie menghampiri Vey yang sedang menikmati pemandangan malam melalui balkon. Wanita itu menyampirkan selimut tebal di bahu sang anak. “Jangan marah sama Mama. Kalau mau marah sama Papa aja, soalnya Papa yang ajak Mama ke sini.” Altezza menyahut sebelum Vey berbicara. Anak perempuannya itu menyambut selimut tebal dan menunjukkan kenyamanan saat selimut itu menutup badan. Udara di vila memang lebih dingin, tetapi sedari tadi Vey sengaja mengabaikannya hingga mengundang reaksi sang Mama. Vey sedikit terkejut karena saat tiba di sisinya, Altezza menyorongkan segelas s**u hangat ke arah Vey. “Apa ini, Pa?” Kening Vey mengerut. “s**u untuk Ibu hamil. Buatan Kenan barusan,” jawab Altezza sambil mengulas senyum. “Papa merasa bersalah

