Jijik Sama Om

1073 Kata
Vey terkejut saat mendapati laki-laki yang tidak sengaja ditabraknya, ternyata adalah Kenan. Dia segera menyembunyikan wajah yang basah dari penglihatan Kenan, laki-laki yang telah lama menaruh hati padanya. "Vey, apa yang terjadi?" tanya Kenan karena Vey sejak tadi tidak menjawab pertanyaannya. Gladys Alveyra segera menyeka air mata dengan punggung tangan. "Enggak ada apa-apa," jawabnya sambil berusaha menghindar dari tatapan Kenan. Perempuan itu pun berlalu dengan langkah terburu-buru, tapi Kenan dengan sigap menyusul Vey yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. "Kamu mau ke mana, Vey?" Kenan meraih lengan Vey dan perempuan itu menepisnya. "Aku mau pulang." Vey menjawab samar, dengan wajah yang masih tertunduk. "Tapi ... kamu enggak apa-apa, kan? Apa kamu udah ketemu sama Om Rey?" Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Kenan. Beberapa menit yang lalu, Vey menanyakan alamat klub yang pernah didatangi Rey. Untuk apa lagi tujuannya datang jika bukan untuk mencari di mana keberadaan Rey? Kenan bisa memahami diamnya Vey. Sudah pasti dia tidak ingin menjawab pertanyaan. Apalagi saat ini, Vey yang sedang berada di dekatnya itu terlihat kacau dan tidak seperti biasa. "Aku anter kamu pulang, ya?" Kenan menawarkan bantuan. Tidak mungkin dia akan membiarkan Vey pulang seorang diri dalam keadaan seperti itu. "Enggak perlu. Aku bisa pulang sendiri, Nan," tolak Vey mentah-mentah. Namun, Kenan tidak bisa membiarkan Vey pergi begitu saja. Dengan sigap, diraihnya pergelangan tangan Gladys Alveyra ke dalam genggaman dan membawanya berjalan menuju mobilnya di parkiran untuk diantar pulang. *** "Vey, tolong katakan ada apa?" Rey masih mencoba membujuk Vey supaya gadis itu bersedia cerita tentang masalah yang sedang dia hadapi. Lelaki yang usianya lebih tua 11 tahun dari Vey itu kembali meletakkan tangan di pangkuan Vey, berharap anak majikannya akan luluh seperti biasa. Namun, Vey terlanjur kecewa dengan Rey. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa laki-laki yang dianggapnya baik itu ternyata memang lelaki 'nakal' di luar sana. Entah bagaimana dia bisa bersikap seperti malaikat di hadapannya. Jika biasanya Vey akan luluh dengan pendekatan dan rayuan maut yang dilakukan Rey, maka tidak untuk kali ini. Vey merasa jijik telah bersikap manis, bahkan menaruh hati pada laki-laki b***t itu. Dan yang membuatnya lebih menyesal lagi adalah ... mengingat saat malam panas di mana dirinya bergumul dengan Rey tanpa memikirkan konsekuensi yang harus ditanggung sekarang. Perlahan tapi pasti, Vey menyingkirkan tangan Rey dari pangkuan. "Keluar," desisnya perlahan. "Vey, ayolah. Apa yang harus saya lakukan buat kamu? Jangan seperti ini, Vey." Rey masih tetap kukuh dan tidak sedikit pun merasa gentar untuk meninggalkan kamar Vey, tempat di mana mereka pertama kali saling memadu cinta, memberi kehangatan satu sama lain. "Aku bilang pergi!" pekik Vey yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap baik yang diperlihatkan Rey terhadapnya. Dia benar-benar muak. "Saya akan pergi, tapi setelah kamu bilang ada apa. Apa yang sebenernya terjadi sama kamu, Vey?" Rey sangat memohon. Gladys Alveyra tetap tidak acuh terhadap laki-laki yang telah menghamilinya. Jika saja dia tidak melihat Rey sedang berciuman dengan perempuan seksi yang bersamanya saat itu, mungkin Vey masih bisa membuka hati untuk Rey. Namun, kejadian tidak senonoh yang dia lihat membuat sakit yang tak terperi di hati Vey, membuatnya enggan untuk kembali percaya pada asisten papanya tersebut. Rey merasa tidak sanggup melihat Vey yang tampak layu. Perempuan remaja di hadapan yang terbiasa bergelayut manja padanya itu mendadak bersikap angkuh. Apakah hal itu disebabkan karena dia telah meniduri Vey? Rey menggeleng samar. Rasanya tidak mungkin jika itu penyebabnya. Karena setelah mereka tidur bersama, Vey masih bersikap biasa bahkan lebih manja dan tidak segan untuk mengecup bibirnya. Kedua tangan Vey mengepal. Sesaat kemudian, kedua tangan itu menutup wajah yang mulai terisak perlahan. Vey ingin Rey enyah dari kamarnya, tetapi dia tidak ingin banyak berbicara dengan lelaki itu. Rey masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Gladys Alveyra. Perempuan itu tampak rapuh dan Rey bergerak maju untuk meraih tubuh si perempuan ke dalam dekapan. Namun, dengan tegas Vey menghindar dan mendorong d**a Rey, sehingga laki-laki itu jatuh terduduk di atas dinginnya lantai marmer. "Vey, kamu—" "Pergi!" pekik Vey sambil berdiri dan menunjuk ke arah pintu. "Keluar dari kamar aku!" Vey bukan bermaksud untuk memperlakukan Rey dengan tidak sopan. Tetapi rasa kecewanya terhadap laki-laki itu membuat Vey tidak ingin berurusan lagi dengannya. "Keluar dari kamar aku dan jangan pernah muncul lagi! Aku enggak mau lihat Om Rey, pergi!" pekik Vey dengan tangis yang semakin menjadi. Niat Vey yang tadinya ingin memberi tahu Rey tentang kehamilannya sirna begitu saja. Berbanding terbalik dengan keinginannya saat ini, supaya Rey jangan sampai tahu bahwa dirinya sedang mengandung darah daging lelaki itu. "Tapi apa masalahnya, Vey? Jangan begini. Kamu udah dewasa, kamu bukan anak kecil lagi dan seharusnya kita bisa bicara baik-baik," ujar Rey setelah bangkit dan kedua tangannya mencengkeram erat bahu Vey. "Lepas, Om! Jangan pernah sentuh aku lagi!" seru Vey di antara isak tangis yang masih terdengar. "Enggak, Vey. Saya enggak akan lepaskan kamu sebelum kamu jelaskan ada apa. Saya sayang sama kamu, Vey. Jadi tolong, jangan seperti ini." Nada bicara Rey terdengar begitu lembut di telinga. Mungkin, siapa pun yang mendengar akan mengira bahwa lelaki itu betul-betul sosok yang baik dan sangat perhatian kepada Vey. Namun, siapa sangka bahwa sebenarnya Rey tidak sebaik itu. "Lepasin, Om, pergi!" Vey tetap saja berontak karena bagaimanapun juga, dia sudah terlanjur sakit hati pada Rey yang selama ini dianggapnya sebagai sosok berhati baik seperti malaikat. Rey dengan paksa membawa Vey ke dalam dekapan. Tetapi bukan lagi rasa sayang, aman dan nyaman yang Vey rasakan melainkan rasa pedih yang teramat dalam. "Lepasin, Om! Aku jijik sama Om! Pergi!" Teriakan itu terus keluar dari bibir tipis Vey. Entah mendapat kekuatan super dari mana sehingga dia berhasil melepaskan diri dari dekapan Rey. "Vey, saya sayang sama kamu dan saya enggak mau lihat kamu seperti ini. Jadi tolong, cerita sama saya, ya?" Rey yang memang sudah terbiasa membujuk Gladys Alveyra, tetap tidak menyerah dengan usahanya sebelum Vey tunduk dan mau bercerita. Namun, di luar dugaan, Vey terus menggeleng dan tetap saja bungkam. "Vey, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Kenan mendadak muncul di ambang pintu kamar Vey. Vey mendekati Kenan dan meraih lengan lelaki itu ke dalam genggaman. "Nan, tolong aku. Suruh Om Rey pergi dari sini karna aku enggak mau lihat dia lagi," pintanya dengan air mata berderai. Reyhan dan Kenan pun saling beradu pandang. “Om denger, kan, apa yang diminta Vey? Bisa pergi sekarang?” Kenan menuruti permintaan Vey. Sementara Rey, lelaki itu menatap tidak percaya ke arah Vey. Akankah dia menyerah begitu saja tanpa mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN