Tidak Bisa Dipercaya

1169 Kata
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang penjaga apotek yang didatangi Vey. Perempuan remaja yang ditanya tidak kunjung menjawab. Dia sedikit menunduk, menyembunyikan wajah dalam balutan hoodie yang sengaja dibiarkan menutup kepala. Sedang jemarinya lebih dimasukkan lagi ke dalam lengan untuk menyembunyikan tangan yang gemetar. Vey sedikit mendekat ke penjaga apotek setelah dirasa aman. "Saya mau beli test pack," ucapnya dengan suara yang sangat lirih karena khawatir akan ada yang mendengar. Perempuan itu segera kembali ke rumah setelah mendapat apa yang dia inginkan. Dengan rasa yang mulai tidak karuan, Gladys Alveyra memasuki kamar dengan langkah lebar. Merasa ada yang janggal dengan dirinya dalam beberapa hari terakhir, membuatnya penasaran dan terdorong untuk membeli alat tes kehamilan. Ya, Vey khawatir jika dirinya hamil. Tepat di hari ulang tahunnya satu bulan yang lalu, seperti biasa, Gladys Alveyra merasa kesepian seperti hari-hari sebelumnya. Kedua orang tua yang maniak bekerja, bahkan tidak ada satu pun yang pulang cepat untuk sekadar memberi ucapan atas bertambahnya usia. Kekecewaan Vey yang membuncah saat itu membuatnya kalap. Dengan sangat memaksa, dia meminta Rey untuk menemaninya pergi ke klub. Dan tentu saja, Vey berhasil masuk dengan bermodal ID card asisten pribadi papanya. Belum juga habis satu botol whiskey, Vey sudah banyak meracau tidak jelas. Malam itu adalah pertama kalinya dia merasa bagai melayang di udara setelah menenggak minuman haram. Rey tentu tidak akan membiarkan anak atasannya menjadi pusat perhatian karena terus saja meracau. Dia pun segera membawa Vey pulang. Tiba di dalam kamar, Vey yang tengah mabuk secara tidak sadar menarik Rey hingga tubuh mereka terjatuh dan berguling di atas ranjang dengan posisi Vey menindih tubuh Rey. Mendapati serangan Vey yang dengan panas mengecup bibirnya, membuat Rey merasa tergerak dan menginginkan yang lebih. Apalagi, kejantanannya di bawah sana sudah mengeras. Pada akhirnya, mereka pun melakukan permainan panas yang tidak seharusnya dilakukan. Kejadian itulah yang membuat Vey berada pada kondisi di mana dirinya merasa waswas seandainya hamil. Terlebih, sudah beberapa hari Vey tidak nafsu makan karena perutnya yang sering mual saat menghidu aroma makanan yang tidak disuka. Dan di sinilah Gladys Alveyra berada sekarang. Setelah melepas hoodie yang dikenakan, dia mengambil test pack dari dalam tas dengan tangan gemetar. Dia pun melangkah pelan menuju kamar mandi dan mulai mencari tahu akan kehamilannya dengan alat tes kehamilan yang kini berada dalam genggaman. Vey mondar-mandir sesaat, menunggu hasil untuk bisa dilihat. Perlahan, garis merah mulai muncul dengan samar. Vey yang merasa waswas, semakin menajamkan penglihatan. Alat kehamilan yang berada di tangan secara refleks terlepas dari genggaman begitu terlihat dua garis dengan jelas terpampang di sana. Kedua tangan yang gemetar dengan cepat menutup mulut yang menganga lebar saking terkejutnya. Wajah Vey terasa panas seiring dengan air mata yang mulai merebak. Secepat kilat dia menyambar ponsel dari dalam tas dan menghubungi Rey. Vey sangat berharap, laki-laki dewasa yang dicintainya itu akan bertanggung jawab karena telah membuatnya berbadan dua. Namun, beberapa kali Vey memanggil, tidak juga ada jawaban. Padahal hari sudah malam dan seharusnya Rey sudah lepas dari pekerjaan yang membuatnya sibuk seharian. "J—jangan-jangan ...." Vey mendadak teringat dengan kata-kata Kenan yang selama ini hanya dianggapnya sebagai bualan. Sepenggal cerita tentang Rey yang konon pernah dilihat Kenan saat memasuki sebuah klub bersama perempuan cantik nan seksi, melintas dalam ingatan. Secara tidak sadar, Vey menggelengkan kepala dengan cepat. Vey menolak seandainya berita buruk itu ternyata benar. "Halo, Kenan. Kamu pernah cerita kalau Om Rey ... kamu pernah lihat dia di klub. Di klub mana? Bisa kasih tahu aku? Se-ka-rang!" Permintaan tegas itu secara langsung dikatakan Vey pada Kenan yang telah menerima panggilan. "Kenapa tiba-tiba kamu tanya soal itu? Bukannya kamu enggak pernah percaya kalau aku bahas masalah itu?" balas Kenan dari ujung telepon. Bukan jawaban yang diinginkan Vey tentunya. "Please banget, Nan. Kasih tahu aku. Aku harus cari di mana Om Rey. Sekarang." Vey kembali meminta dengan sangat. Bahkan dia tidak bisa menyembunyikan suaranya yang bergetar menahan tangis. "Vey, kamu nangis?" tanya Kenan di luar topik pembicaraan. "Enggak usah banyak tanya, Kenan. Yang jelas, aku butuh jawaban kamu sekarang. Please," lirih Vey yang semakin tidak sabar. Bagaimanapun juga, Vey ingin segera menemui Rey untuk memberi kabar atas kehamilannya. Dia sengaja tidak memberi tahu Rey melalui pesan singkat karena yang ingin dilakukannya adalah berbicara langsung secara empat mata. "Ya udah, oke. Aku chat kamu sekarang," balas Kenan yang sebenarnya sangat penasaran kenapa 'bidadari' yang dia suka mendadak tertarik dengan cerita Rey. Pasalnya, sejak lama Vey tidak pernah percaya jika Kenan menceritakan tentang asisten pribadi papanya tersebut. "Oke, thank you. Aku tunggu," ucap Vey yang merasa sedikit lega karena setidaknya dia memiliki tujuan untuk mencari di mana keberadaan Rey. Beberapa menit setelah panggilan berakhir, Vey segera membuka pesan yang dikirim Kenan. Dia pun dengan terburu-buru kembali mengenakan hoodie dan menutup kepala. Vey harus mencari Reyhan dan berbicara dengan laki-laki itu sekarang. Laki-laki dengan usia lebih tua 11 tahun dari Vey, yang telah membuatnya hamil. "Ya ampun, Non Vey mau ke mana? Kenapa buru-buru banget, Non?" Nia terkejut saat Vey membuka pintu kamar dengan tergesa dan hampir saja menabraknya yang sedang membawa nampan berisi makanan. Vey yang sangat merasa tidak sabar, berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan asisten rumah tangganya. Dia sengaja menghindar dari makanan karena khawatir akan kembali merasa mual. "Non, tunggu! Enggak makan dulu? Ini udah Bibi siapin," teriak Nia yang sama sekali tidak dihiraukan Alveyra. Tiba di depan rumah pun sama. Vey tidak menghiraukan sopir maupun satpam yang menegur dan bertanya tentang tempat yang akan dituju. Bahkan, Vey menolak mentah-mentah saat sopir menawarkan untuk mengantarnya. Dia justru lebih memilih untuk memesan taksi online. Berbekal sebuah alamat klub yang terbilang lumayan jauh dari kediaman, Vey dengan tekad bulat meminta kepada sopir taksi online untuk membawanya ke sana. Dalam hati, Vey terus berdoa supaya bisa menemukan Rey di tempat yang akan dituju. Karena sangat tidak mungkin jika Vey harus menemui Rey di kediaman laki-laki itu dan mengatakan semua di sana. Hampir satu jam dalam perjalanan, Vey merasa lega setelah tiba di tempat yang dituju. Dia pun segera melangkah masuk ke dalam klub tanpa menghiraukan penjaga yang bertanya tentang ID card. Vey sangat berharap bahwa apa yang Kenan ceritakan kepadanya itu hanya kebohongan mengingat Rey yang selalu terlihat baik dan sangat sopan terhadapnya. Namun, setelah beberapa saat mencari, pemandangan itu terpampang secara nyata di depan mata. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Vey melihat Rey sedang mencumbu seorang perempuan seksi dengan pakaian minim yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tidak hanya minim, belahan d**a pun terlihat dengan jelas meski dari kejauhan. Vey menutup mulut yang menganga lebar, dia merasa sangat syok karena cerita Kenan ternyata benar. Dengan hati gundah gulana, Vey memutuskan untuk lebih memilih pergi. Tidak ada gunanya lagi berada di dalam sana dengan mengharapkan tanggung jawab Rey yang tidak bisa dia percaya lagi. Tanpa menunggu lama, perempuan malang itu segera berlalu pergi dengan langkah cepat tanpa melihat keramaian sekitar. Pandangannya buram tertutup dengan deraian air mata yang tiba-tiba saja berdesakan keluar. Alhasil, dia menabrak seseorang dan hampir membuatnya jatuh. Beruntung, laki-laki itu dengan sigap menangkap badannya yang terbalut hoodie besar. "Vey, kamu enggak apa-apa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN