Teman Ranjang Cadangan

1074 Kata
"Maaf, Pak. Maaf. Saya baru mau ketuk pintu tapi Bapak udah buka duluan," ujar Zashi, salah satu chef andalan yang bagi Altezza sangat penting keberadaannya di restoran. "Oh, iya. It's okay. Saya buru-buru, jadi enggak tahu kalau di depan pintu ada orang. Ada apa, Za?" Zashi menoleh ke kanan-kiri, juga belakang. Perempuan itu melihat keadaan sekitar, barang kali ada yang melihatnya bertandang ke ruangan sang pemilik restoran. "Bisa bicara sebentar?" Zashi menarik paksa lengan Altezza untuk kembali memasuki ruangan. Perempuan yang berusia sepuluh tahun lebih muda dari Altezza itu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. "Zashi, ada apa? Saya buru-buru." "Enggak ada apa-apa, Pak. Saya cuma ...." Altezza menautkan kedua alisnya saat Zashi sengaja menggantung kalimat. Janda muda itu mulai melepas kancing kemejanya satu per satu. "Jangan sekarang, Zashi, Sayang. Saya buru-buru." Altezza menegaskan. Namun, bukan Zashi namanya jika tidak bisa membuat Altezza luluh. "Saya kangen sama Bapak," bisik Zashi di telinga Altezza. Melihat pemandangan indah di depannya tanpa halangan apa pun membuat Altezza terbuai dalam belaian maut Zashi yang selalu bisa membuat lupa segalanya. Janda muda yang dipekerjakan Altezza sejak tiga tahun lalu itu selalu saja menjadi penghibur di kala gundah gulana. Dengan berani Zashi mengecup bibir atasannya. Altezza yang mulai tergoda pun membiarkan Zashi melepas satu per satu kancing kemejanya. Pikiran campur aduk yang sempat membuat hati tidak tenang, kini luntur perlahan karena sentuhan Zashi yang membuatnya sedikit lupa akan masalah yang dihadapi perihal kehamilan anak semata wayang. "Saya enggak bawa pengaman, Baby. Harusnya jangan di sini," bisik Altezza yang telah menghunjamkan ‘senjatanya’ pada kekosongan milik Zashi. "Bapak tenang aja. Saya udah minum pil," balas Zashi yang kini merasa tubuhnya menggelenyar hebat diiringi dengan desahan nikmat. Melakukannya sambil berdiri sudah menjadi kebiasaan mereka sejak dua tahun lalu, waktu di mana Altezza mulai tergoda dengan body sintal milik Zashi. Tubuh Zashi tidak kalah indah dengan tubuh istri Altezza yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga berkurang waktu mereka untuk mengarungi samudera cinta. Hal itulah yang membuat Altezza kerap kali kecewa dan memilih Zashi untuk menjadikannya teman ranjang cadangan. Lelah berdiri, Altezza menuntun Zashi dan memintanya merebah di sofa. Di sana, Altezza kembali menikmati permainan terlarang bersama sang janda muda. Hingga dia lupa akan janjinya menjemput paksa sang istri. *** "Non, makan dulu. Ini ada kiriman makanan dari Bapak. Kata Mas Rey, ini spesial dimasak sama Pak Rudi. Tahu kan, Pak Rudi salah satu chef kebanggaan Bapak," ujar Nia saat memasuki kamar Vey. Vey menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Tatapannya kosong menuju ke luar jendela yang terbuka lebar. Penyesalan yang terlalu dalam telah dia rasakan. Vey tidak ingin dirinya hamil di luar nikah apalagi melahirkan bayi tanpa adanya seorang suami, tetapi kenyataan pahit itu telah terjadi. "Taruh di situ aja, Bi," titah Vey tanpa menoleh ke arah Nia yang baru saja memasuki kamarnya. Nia merasa bingung melihat nasi yang sejak pagi ditaruhnya di meja belajar Vey, tetapi tidak disentuh sama sekali. "Kalau cuma ditaruh aja, apa iya nanti Non Vey bakal makan? Ini ... nasi tadi pagi aja masih utuh. Non Vey belum makan lho dari semalem." Nia tidak tega melihat Vey yang sejak kemarin selalu diam. Perempuan itu sama sekali tidak bicara jika tidak ada yang mengajak bicara. Hal itu membuat Nia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Kalau udah selesai keluar aja, Bi." Suara Vey terdengar parau. Dia terlalu banyak menangis sejak kemarin, sejak dia tahu bahwa dirinya tengah berbadan dua. Nia terpaksa keluar dari kamar anak majikan meski sebenarnya dia iba melihat keadaan Vey yang berantakan. Dia ingin sekali menghibur, tetapi apalah daya jika Vey saja tidak menginginkan siapa pun memasuki kamarnya. "Ada apa, Bi?" tanya Rey yang kebetulan melihat Nia keluar dari kamar Vey dengan raut murung. "Mas Rey bisa tolong bantu Bibi? Biasanya kan Mas Rey yang bisa buat Non Vey ketawa-ketiwi, mau makan, bisa buat Non Vey semangat lagi," ujar Nia sambil melihat iba ke arah Vey yang tengah duduk membelakanginya. "Saya coba, Bi. Emangnya kenapa Vey enggak mau makan?" Nia mengangkat bahu. "Udah dari kemarin Non Vey kelihatan kacau, enggak ada senyum, enggak ada semangat, enggak mau makan. Kalau Bibi enggak ajak bicara, Non Vey cuma diem aja. Selain itu, Non Vey juga banyak ngelamun, tuh," jawabnya. Rey mendadak khawatir. Dia pun memutuskan untuk mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Vey. Namun, sebelum itu Rey meminta Nia kembali menyelesaikan pekerjaannya. Nia mengangguk perlahan, lalu meninggalkan Rey yang melangkah memasuki kamar Vey. "Vey, ada apa? Apa yang terjadi?" sapa Rey pada anak atasannya yang masih melamun dan menatap kosong ke luar jendela. Vey tidak menjawab. Dia hanya menggigit bibir bawahnya dengan mata sedikit berkaca. "Vey ...." Rey berusaha meraih lengan Vey, tetapi perempuan remaja itu menepisnya. "Kamu kenapa? Cerita, Vey. Siapa tahu saya bisa bantu." Sungguh, Rey tidak tega melihat kondisi Vey yang jauh berbeda dari biasanya. Dia mencoba untuk lebih mendekat, kemudian berlutut di samping Vey. Satu tangannya kembali meraih lengan perempuan itu, tetapi lagi-lagi Vey menepisnya. "Apa yang sebenernya terjadi? Kamu bisa cerita ke saya seperti biasa. Saya di sini buat kamu, Vey." Rey setengah berbisik. Suaranya terdengar lirih. "Pergi! Keluar dari kamar aku sekarang juga!" pinta Vey dengan suara pelan, tetapi terdengar tegas di telinga Rey. Dia mulai terisak. "Kamu ada masalah apa? Saya pasti akan bantu kamu seperti biasa, Vey." Rey masih mencoba untuk merayu anak atasannya supaya lebih terbuka. "Aku enggak butuh Om Rey lagi. Jadi Om bisa keluar dari kamar aku sekarang." "Tapi apa masalahnya, Vey? Tolong, kasih tahu saya. Saya enggak bisa kalau harus lihat kamu seperti ini. Bersikaplah seperti biasa. Saya tahu, Gladys Alveyra itu anak yang manis dan penurut. Jadi jangan begini, Vey." "Om Rey enggak usah sok tahu! Sekarang Om keluar dari kamar aku, karna aku enggak butuh Om Rey lagi!" ketus Vey disertai dengan isak tangisnya yang semakin menjadi. Seharusnya seperti biasa, Vey menghambur ke dalam dekapan Rey supaya dirinya bisa merasa lebih tenang. Namun, situasi sekarang berbeda. Vey tidak lagi bisa mempercayai apa pun yang dikatakan Rey sejak melihat kejadian kemarin malam. Vey sangat menyesal, karena tidak pernah mau sekali pun mendengar cerita Kenan yang ternyata benar adanya. Cerita tentang keburukan Rey yang tidak pernah dia tahu selama ini. "Tapi ... kamu tahu sendiri, kan, kalau Papa dan Mama kamu selalu minta saya buat jaga kamu? Jadi gimanapun juga—" "Pergi! Aku kecewa sama Om! Pergi!" Vey menjerit histeris. "Vey ....” Rey mendadak diam karena bingung. Apa yang sebenarnya terjadi, sehingga Gladys Alveyra tidak bisa menerima kedatangannya seperti biasa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN