CHAPT. 8 "RASA KETERTARIKAN?"

1454 Kata
- ROSIE POV - Aku berjalan menuju kamar hotel yang telah di pesankan Gerardo untuk ku. Langkah ku terhenti sembari memegangi secarik kertas yang berada dalam genggaman ku. Di mana dalam kertas itu bertuliskan nomor ponsel milik Gerardo. "Hubungi Aku jika kau merasakan ada seseorang yang mengintai mu.. " Aku mengingat ucapan Gerardo sebelum tadi Aku turun dari mobil miliknya. Lalu sesuatu kembali terbesit di pikiran ku, di mana saat Aku yang ingin meminjam ponsel miliknya hanya untuk menghubungi Karen. Namun dia tak memberikannya karena alasan privasi dan sekarang dia memberikan nomor ponselnya pada ku. Aku kembali melanjutkan langkah ku hingga Aku berhasil mencapai pintu di mana kamar ku berada. Aku membukanya dan segera menutupnya lalu membaringkan tubuh ku di atas ranjang. Pikiran lainnya kembali terbesit dalam pikiran ku, di mana Aku yang sangat takut apabila sendiri di dalam rumah ku sendiri. Aku memiliki trauma saat berada sendiri di dalam rumah ku, di mana saat itu ayah ku baru saja meninggal karena terbunuh dan seseorang yang terus saja menghantui ku hingga Maddie datang menemani ku di rumah itu. Awalnya Maddie mengira ku hanya halusinasi saja karena kematian ayah ku, namun ia mempercayai ku saat mendapati diri ku yang tengah di cekik oleh lelaki tersebut hingga membuat Maddie memukul kepalanya dengan tongkat bisbol dan melaporkannya pada pihak polisi. Namun hingga sekarang Aku tidak mengetahui motif dari lelaki tersebut. Bahkan setelah ia di adili Aku masih tak bisa menghilangkan rasa trauma ku saat berada sendiri di dalam rumah pada malam hari.  Aku masih saja merasa takut kalau saja lelaki itu kembali dan menyerang ku. Dan Maddie mengetahui semuanya. Alasan itu lah yang membuat Maddie menyuruh ku untuk menginap di hotel ataupun rumah Karen yang menurut ia aman. Pikiran ku saat ini sangat kacau, di mana Aku juga masih saja terus memikirkan apa yang akan di perbuat lelaki berbahaya itu di Manchester. Aku beranjak dari ranjang berjalan menuju jendela, membuka sedikit agar mendapatkan pasokan udara yang lebih banyak sembari menatap keindahan kota Chicago malam ini. "Aku akan membuat mu jatuh cinta pada ku, Rosie.." Kalimat itu kembali terngiang di kepala ku, membuat ku semakin sulit mengabaikan lelaki itu. Namun harus ku akui sikapnya tadi yang sangat melindungi ku dari peluru yang mungkin saja akan menembus jantung ku dan membuat ku dalam sekejap akan mati menyusul ayah ku. "Benar-benar pengalaman yang menarik, Rosie!" Kejadian itu kembali mengingatkan ku pada malam di mana peluru itu berhasil menembus d**a ayah ku tepat di hadapan ku. Aku berusaha menutup mulut ku dan menahan jeritan ku yang akan membahayakan ku. "Jangan keluar apapun yang terjadi" Ucapan itu masih ku ingat dalam kepala ku. Aku bergidik ngeri mengingat kejadian malam yang sangat menyeramkan bagi ku. Malam di mana Aku juga kehilangan ayah ku sekitar tiga tahun lebih yang lalu. Cuaca semakin dingin menusuk tulang membuat ku menutup pintu jendela kamar dan meringkuk dalam selimut ku. "Apa kau akan pergi?" "Hm.. Iya, besok pagi" "Kemana?" "Manchester, Aku harus menyelesaikan semuanya" Pikiran ku kembali teralih lagi padanya, membuat malam ku terasa sangat gelisah hingga mata ku sangat sulit untuk terpejam. *** Manchester, Inggris - AUTHOR POV - Mobil limousine yang di kemudikan Lucky berhasil membawa Gerardo dan juga Allio tiba di Manchester untuk menyelesaikan semuanya dengan Paul. Kedua saudara yang membuat Gerardo hilang kesabaran. Gerardo meminta seorang pesuruh untuk melacak di mana keberadaan Paul sembari menunggu di salah satu hotel termewah di Manchester. Gerardo memberikannya waktu 24 jam untuk menemukan Paul dan membuat perhitungan dengannya. Gerardo menyandarkan punggung lelahnya pada tempat tidurnya sembari memikirkan kondisi Rosie di Chicago. Ia menatap ponselnya yang tak kunjung mendapat panggilan ataupun pesan dari Rosie. Gerardo terdengar mengumpat kesal karena kegelisahannya yang sulit ia kendalikan. Lalu ia menghubungi salah satu anak buahnya yang berada di Chicago menjaga markasnya untuk mengamati Rosie dari kejauhan. Ponsel itu berdering di mana besar harapan Gerardo bahwa panggilan itu dari Rosie, namun panggilan itu dari anak buahnya yang berada di Chicago. Ia melaporkan kalau saja Rosie masih berada di dalam kamar hotel milik Aiden. Di mana sebelum Gerardo berangkat ke Manchester ia menitipkan Rosie pada Aiden. Mendengar hal itu Gerardo sedikit lega dan kegelisahannya memudar. Matahari tampak kembali terbit di kota Manchester, namun ia belum juga mendapatkan kabar dari pesuruhnya yang menyelidiki keberadaan Paul. Gerardo berusaha menahan dirinya untuk tidak menggunakan kekuasaannya. "Apa belum mendapat kabar darinya?" tanya Gerardo sembari menghisap rokok miliknya. "Iya, sepertinya dia tidak berada di Inggris" balas Allio dengan terkaannya. "s**t!" umpat Gerardo mematikan rokoknya. "Hubungkan Aku dengan Philip!" pinta Gerardo pada Allio. Mendengar perintah tersebut membuat Allio menghubungi Philip Lincoln, seorang pejabat yang memiliki kedudukan penting di Inggris. Panggilan itu berhasil tersambung oleh Philip di mana Gerardo yang mengambil alih ponsel tersebut. "Hello.. Tn. Lincoln" sapa Gerardo. "Yeah.. Tn. Edmundo. Lama tidak mendengar suara Anda" balas Philip. "Apa Aku bisa minta bantuan mu?" ungkap Gerardo pada pointnya tanpa berbasa-basi. "Tentu! Apa yang bisa ku bantu untuk mu?" "Aku sedang mencari seseorang yang mencuri berlian ku dan membuat apartement ku di Chicago berantakan. Aku memburunya hingga ke sini, namun pesuruh bodoh itu belum juga menemukannya. Apa bisa kau membantu ku?" pinta Gerardo jelas. "Tentu saja, Tn. Edmundo. Anda bisa mengandalkan ku. Siapa nama lelaki yang Anda cari dan tunjukkan pada ku gambar wajahnya" balas Philip. Gerardo memberitahukan nama lengkap Paul serta menyuruh Allio untuk mengirimkan wajah Paul pada Philip. Philip yang sudah mendapat informasi yang cukup untuk menjalankan permintaan Gerardo menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Paul lewat cctv kota Inggris. "Dan yah.. jangan lupa mengecek penerbangan, bisa jadi dia beralih ke negara lain" ungkap Gerardo. "Iya, baik tuan. Aku akan mengabari Anda secepatnya" balas Philip. Percakapan itu di akhiri Gerardo lebih dulu lalu mematikan panggilannya sembari menatap jendela kamarnya dengan kedua tangan yang menyilang pada dadanya. Ponselnya kembali berdering dengan nomor milik anak buahnya yang ia suruh untuk mengintai Rosie. Ia memberitahu Gerardo kalau siang ini Rosie sudah kembali ke rumahnya dan bertemu dengan sepupunya di rumah tersebut. Mendengar hal itu Gerardo mengangguk sembari meminum winenya di siang hari. Cukup lama Gerardo menunggu hingga ponselnya kembali berdering dengan nama Philip yang tertera pada layar ponselnya. "Allio, jawab panggilan ini!" pinta Gerardo melemparkan ponsel miliknya pada Allio. Philip menjelaskan kalau ia baru saja mendapatkan informasi kalau pemilik nama Paul Casio sejak dua hari yang lalu melakukan perjalanannya ke Roma, Italia. Hal itu di sampaikan Allio pada Gerardo. Gerardo melemparkan botol wine yang berada di atas meja hingga wine itu berserakan pada lantai hotel. Dengan penuh kemarahan Gerardo merampas ponsel miliknya yang berada dalam genggaman Allio lalu mematikan panggilan Philip. Tak ada kata kalah ataupun menyerah dalam kamus milik keluarga Cartez Edmundo. Gerardo menghubungi kenalannya yang berada di Italia untuk mencari keberadaan Paul dan jika mereka berhasil menemukannya, ia dapat menembakkan peluru panas itu pada kepala ataupun d**a milik Paul. Tak ada yang berani menolak permintaan Gerardo, meskipun mereka harus di suruh membunuh seseorang. Keturunan keluarga Cartez Edmundo sangat terkenal di kalangan para mafia serta gengster bahkan para politikus di negara Amerika Serikat, Inggris hingga Eropa. Dan karena hal itu tak ada yang berani berurusan dengan keluarga menyeramkan tersebut, di mana mainannya hanyalah uang dan nyawa seseorang. "Kita kembali ke Chicago siang ini juga!" pinta Gerardo yang tak mendapat bantahan dari Allio. Allio meminta Lucky menyiapkan mobil yang di ikuti oleh anak buahnya yang lainnya. Mobil yang di kemudikan Lucky berhasil melaju kembali menuju Chicago siang ini. Perjalanan yang cukup memakan waktu yang lebih lama dari keberangkatannya tengah malam, di mana kondisi kendaraan tidak sepadat siang hari. Gerardo menatap televisi raksasa yang di pajang di tengah jalan, di mana saluran tersebut menampilkan wajah seorang pria yang dulu menolak permintaan Gerardo dan kini ia menjadi salah satu pengusaha tersukses di tahun ini. Seperti itu lah yang tertera pada judul berita tersebut. Melihat pemberitaan itu membuat Gerardo mengulas senyum tipis yang menyeramkan. "Long time no see, Jeremy.." ucapnya berbisik. Allio juga menyadari hal itu lalu memberitahukannya pada Gerardo. "Sepertinya dia sudah melupakan apa yang dulu kau perbuat untuk bisnisnya.." ungkap Allio. "Iya.. manusia tak tau terima kasih harus ku lenyapkan agar tidak menjadi sampah di dunia ini" balas Gerardo. Mobil itu kembali melaju meninggalkan televisi raksasa itu yang memperlihatkan seorang pengusaha muda yang sukses bernama Jeremy Plugn. *** Chicago, Amerika Serikat Gerardo berhasil tiba di apartementnya yang terlihat sudah seperti semula sebelum penembakan itu terjadi. Gerardo meminta Allio dan anak buah lainnya untuk meninggalkannya agar ia dapat beristirahat. Suara notification ponsel miliknya yang tadi ia lempar di atas ranjangnya berbunyi, menampilkan sebuah pesan dari nomor tak ia kenali. Gerardo memicingkan matanya menatap nomor tanpa nama yang mengetahui nomor ponselnya yang hanya di ketahui oleh beberapa orang saja. Rasa penasaran itu menyelimuti Gerardo, di mana ia meraih ponsel tersebut lalu membuka pesan tersebut. +1312117887 "Apa kau sudah tiba di Manchester?" Gerardo menatap bingung siapa pengirim pesan tersebut. "Hm.. ini Aku, Rosie" Pesan baru kembali masuk yang menuliskan nama Rosie pada pesan tersebut. Melihat nama Rosie yang tertera membuat Gerardo mengulas senyum di sudut bibirnya. Ia tak menyangka kalau wanita barbar itu akan menghubunginya. Hal itu membuat Gerardo puas, di mana ia dapat membuat Rosie tertarik padanya. Gerardo tak ingin membuang waktunya untuk segera menghubungi Rosie dengan nomor yang baru masuk pada ponselnya. Baru saja terdengar deringan yang pertama, panggilannya berhasil di jawab oleh Rosie. "Hello, it's me.. Gerardo" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN