- GERARDO POV -
Mata ku tercekat saat melihat nama Rosie yang tertera pada pesan yang masuk ke dalam ponsel ku. Aku tak menyangka wanita barbar itu mengirimi ku pesan setelah sikapnya yang sangat kasar dan tak perduli dengan ku.
Aku tak mungkin membuang waktu serta kesempatan ini untuk menghubunginya dan membuat ia jatuh cinta pada ku.
Baru saja terdengar deringan itu pada panggilan ku, seketika suara wanita barbar itu berada dalam panggilan ku.
"Halo?"
"Hello, it's me.. Gerardo" ucap ku.
"Ah, yeah. Hm.. sorry Aku mengirim mu pesan. Aku hanya---"
"Mengkhawatirkan ku?" sela ku sembari tertawa.
"What? Mana mungkin, jangan terlalu percaya diri"
"Lalu apa?"
"Hm.. Aku hanya penasaran saja" balasnya dengan nada ketus yang ku dengar.
"Baiklah.. kalau kau tak ingin jujur pada ku--so, yeah! Aku sudah tiba di Manchester sejak pagi tadi"
Aku sengaja berbohong dan tak mengatakan soal kepulangan ku kembali di Chicago padanya.
"Ah.. yeah. hm.. baiklah, kalau begitu Aku akan menut---"
"Wait! Rosie, wait!" sela ku.
"Ada apa?"
"Aku akan merindukan mu" ungkap ku dengan senyuman tipis pada panggilan ku.
"Shut up!" balasnya seketika mengakhiri panggilannya.
Aku tak dapat menahan senyum ku yang semakin melebar karena wanita itu. Dia membuat suasana hati ku yang buruk menjadi lebih baik. Aku meminta Lucio untuk kembali memantaunya, Aku ingin mengetahui apa saja yang ia lakukan.
Hari kembali berubah menjadi gelap, di mana Allio masuk ke dalam apartement ku dan mengejutkan ku saat keluar dari kamar mandi.
"s**t! Bisa kah kau mengetuk pintu dulu?" ungkap ku memicingkan pandangan ke arahnya.
"Sorry..." balasnya singkat.
"What?!"
"Kau tak melupakan pertemuan mu dengan para pejabat serakah itu kan?"
Yah! Aku selalu memiliki pertemuan setiap bulannya dengan para pejabat yang haus akan uang dan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau, seperti halnya diri ku. Kali ini mereka meminta pada ku untuk mengirimkan senjata ilegal ke negara sekutunya, yaitu Rusia untuk membantu melawan dari serangan China.
Hal itu tentu tak dapat Aku tolak di mana Aku bisa mendapatkan keuntungannya yang bernilai fantastis, meskipun pada kenyataannya hal itu tentu membuat penduduk di negara ini sengsara dan juga rugi. Perdagangan senjata ilegal tentunya harus memiliki dana yang sangat besar, dan dari mana lagi dana itu berasal kalau bukan dari dana negara yang di kontrol oleh para pejabat serakah itu. Tapi, Aku tak perduli selama itu tidak merugikan ku.
Aku mempersiapkan diri ku untuk menghadiri pertemuan rahasia malam ini. Di mana Robbert Alstein menjadi salah satu dari para pejabat serakah itu yang akan menentukan tempat pertemuan malam ini.
"Allio!" teriak ku.
"Apa kau sudah mendapat kabar dari mereka?" lanjut ku setelah mendapati Allio masuk ke dalam kamar ku.
"Iya.. dan sepertinya kau mengenal tempat ini" balasnya sembari memegang ponselnya.
"Di mana?"
"Bar tempat wanita itu bekerja" ungkap Allio mengidikkan bahunya lalu menghilang dari pandangan ku.
Aku menghela napas kasar sambil memasang jam tangan ku dan siap untuk pertemuan malam ini.
"Gerardo! Mereka sudah tiba!" teriak Allio dari luar kamar ku.
Aku menatap pantulan diri ku pada cermin sebelum keluar menemui Allio dan para anak buah ku.
"Sepertinya mereka memilih tempat di sana sekaligus memesan para wanita seperti biasanya untuk membuat suasana hati mu bagus saat membahas hal itu dengannya" ungkap Allio sebelum masuk ke dalam mobil.
"Okay, let''s go!"
***
- AUTHOR POV -
Mobil limousine mewah mengkilap itu melaju menuju bar tempat kerja Rosie. Di mana para pejabat itu sudah berada di sana lebih dulu dan memesan satu ruangan VVIP untuk membahas pembahasan rahasia tersebut.
Para anak buah Gerardo memisahkan jalan di saat para tamu bar itu terlihat sedang berkerumun dan menari di lantai dansa. Gerardo melihat sekeliling dan tak mendapati Rosie pada tempat yang biasa Rosie berdiri melayani para pelanggan bar.
Gerardo, Allio dan beserta pria berjas hitam rapi dan lengkap dengan senjata di dalam jas milik masing-masing telah berdiri di depan pintu ruangan VVIP yang di pesan oleh para pejabat itu.
Gerardo dan Allio masuk ke dalam, di mana anak buahnya terlihat di depan pintu menjaga ruangan tersebut agar tak ada yang memasukinya.
"Hello.. Tn. Gerardo Cartez Edmundo" sapa Robbert sembari menjabat tangan Gerardo lalu beralih pada Allio.
"Iya.. lama tak melihat mu, Tn. Robert"
"Wow... kau terlihat sangat sehat" puji pria baru baya dengan kacamata yang melekat di hidungnya. Di mana pria itu akrab di sapa dengan Merrick Jordan.
"Ya! Thank you, Tn. Merrick" balas Gerardo sebelum duduk di kursinya.
"So.. Aku menyiapkan hadiah kecil untuk mu, tapi setelah kita membahasnya" ucap Robert.
Di mana hadiah yang ia maksudkan sudah di ketahui oleh Gerardo dan Allio soal para wanita yang akan memuaskan napsunya malam ini seperti biasanya.
"Iya.. kita bisa langsung memulainya---hm, so.. berapa banyak yang kalian butuhkan dan berapa yang ku dapatkan?" tanya Gerardo pada intinya.
"Dua kali lipat dari biasanya dan USD $5,000,000? Bagaimana? Nilai yang sangat fantastis kan, Tn. Gerardo?" ungkap Tn. Merrick dengan senyuman liciknya.
"Wow.. menarik!"
"Kapan kau bisa mengirimkannya?"
"Setelah kalian membawakan uang itu" ungkap Gerardo.
"Kau tak perlu menunggu lama, Tn. Gerardo. Kami sudah menyiapkannya untuk mu" ucap Tn. Merrick menyodorkan lima koper yang berisikan USD $1,000,000 di setiap koper.
"Wow.. rupanya kalian sangat terburu-buru" balas Gerardo sembari menyandarkan punggungnya.
"Bukannya lebih cepat lebih baik?"
"Yap! baiklah---Allio!"
Gerardo meminta Allio menghubungi Mac dan menyiapkan semua senjata yang akan ia kirimkan ke Rusia malam ini juga.
"Be careful, Tn. Gerardo. Kau tau hal ini sangat sensitif dan berbahayakan?"
"Kau tak perlu khawatir Tn. Merrick! Aku bukan seorang yang baru menjalankan bisnis ini. Dan kau juga sudah biasa melihat hasilnya kan?" tegas Gerardo dengan sorotan mata yang tajam.
"Whoa.. tenang, Tn. Gerardo.." sela Robert panik kalau saja suasana hati Gerardo buruk karena ucapan Merrick yang menyinggungnya.
"So.. hm, kau juga sudah bisa menikmati hadiah mu malam ini" lanjut Robert memanggil para wanita seksi itu masuk ke dalam ruangan seperti apa yang sudah di terka Gerardo serta Allio sebelumnya.
Dan tak di pungkiri juga kalau hal itu memang selalu di nantikan Allio dan para anak buahnya untuk bercinta satu malam dengan para wanita itu.
Para pejabat itu satu persatu pergi meninggalkan ruangan tersebut setelah para wanita itu menuangkan bir serta menari di hadapan semuanya.
Salah seorang wanita yang menjadi pemimpin dari wanita yang lainnya, telah mengclaim lebih dulu untuk mendekati Gerardo dan hanya boleh dia yang melayaninya. Tentu saja, itu ia lakukan untuk menarik perhatian Gerardo.
Wanita berambut blonde sepunggung itu duduk di samping Gerardo sembari menuangkan wiski ke dalam gelas minuman Gerardo. Tangan wanita itu juga menyusuri setiap bentuk tubuh atletis Gerardo.
"Tuangkan wiskinya saja" pinta Gerardo menepis tangan wanita tersebut.
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan semua yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Lucio! Buka!" pinta Allio.
Mata Lucio tercekat saat mendapati Rosie yang berada di depan pintu membawakan pesanan tequila milik Allio.
"Permisi, Aku membawakan pesanan Anda.. tuan" ucap Rosie dengan kedua tangannya yang sedang membawa dua botol wiski itu pada nampan.
"Hm.. iya. Aku akan menerimanya" balas Lucio yang tak sepenuhnya membuka pintu itu agar Rosie tak melihat Gerardo di dalam ruangan tersebut.
Namun Allio berteriak dari dalam ruangan tersebut dan menyuruh pelayan itu masuk membawakannya tanpa mengetahui bahwa pelayan itu adalah Rosie.
"Masuklah.. siapa tau dia bisa ku sewa malam in---oh, s**t!" ucap Allio yang menyadari kalau itu adalah Rosie.
Tatapannya seketika beralih pada Gerardo yang saat ini menatap tajam ke arah Rosie.
Rosie tercekat saat mendapati Gerardo yang berada di ruangan tersebut setelah tadi pada panggilannya Gerardo mengatakan bahwa ia masih berada di Manchester. Namun Rosie berusaha mengontrol raut wajahnya dan bersikap profesional pada pekerjaannya. Ia menyimpan dua botol tequila itu di meja tepat di hadapan Gerardo. Ia melirik wanita berambut blonde itu yang tampak begitu dekat pada Gerardo.
Gerardo menatap Rosie yang mengabaikan dirinya dan beranjak pergi setelah menyimpan dua botol tequila itu di hadapannya.
"Stop!" ucap Gerardo tiba-tiba.
Ucapan itu membuat semuanya berhenti melakukan aksi ataupun tariannya. Namun tidak bagi Rosie yang terus saja berjalan mengacuhkan perkataan Gerardo.
"Aku bilang stop.." lanjutnya.
"Rosie, Stop!" teriaknya saat Rosie berhasil sampai pada pintu keluar ruangan tersebut.
"Apa Anda membutuhkan yang lainnya lagi, tuan?" tanya Rosie berbalik lalu menatap ke arah Gerardo.
"Iya.. Aku membutuhkan hal lainnya!" tegas Gerardo.
"Kalian semua keluar!" pinta Gerardo.
Mendengar perintah itu membuat semuanya keluar dari ruangan tersebut. Allio menarik wanita berambut blonde itu yang tetap setia duduk dan menatap kesal ke arah Rosie yang sudah mengacaukan kesempatannya.
"Kau tetap di sini, Rosie!" lanjut Gerardo saat mendapati Rosie yang seakan beranjak keluar dari ruangan tersebut.
Semuanya terlihat sudah meninggalkan ruangan VVIP tersebut dan hanya menyisakan Rosie dan juga Gerardo di dalamnya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau meminta semua orang keluar?" ungkap Rosie dengan sorotan mata sinis yang menjadi ciri khasnya.
"Aku tak ingin kau salah paham---"
"Untuk apa Aku salah paham, Tn. Edmundo?" sela Rosie kesal.
"Aku tak bermaksud membohongi mu soal keberadaan ku yang sudah di Chicago" jelas Gerardo.
"Iya.. it's okay. Aku juga tak perduli" tegas Rosie mengalihkan pandangannya dari Gerardo.
"So.. apa Aku bisa keluar sekarang?" lanjut Rosie yang tak mendapat jawaban dari Gerardo.
Rosie berbalik memunggungi Gerardo dan berjalan kembali menuju pintu keluar ruangan VVIP itu. Gerardo masih menjunjung tinggi egonya dan tak berkomentar meskipun hatinya terasa begitu pilu mendengar Rosie yang tak memperdulikannya.
"What? Merindukan ku? f*****g bullshit!" umpat Rosie sebelum mencapai gagang pintu ruangan tersebut.
Mendengar umpatan kasar itu yang keluar dari mulut Rosie membuat Gerardo tak tahan lagi dengan dirinya. Ia dengan langkah besarnya menarik pergelangan tangan Rosie sebelum sampai pada pintu dan mendorongnya hingga menabrak dinding ruangan tersebut lalu mendaratkan bibirnya dengan kasar dan agresif.
Gerardo sudahh cukup lama menahan dirinya untuk tidak melakukan hal itu pada Rosie hingga ucapan Rosie yang tadi berhasil membuat Gerardo sesungguhnya bangkit.
"Sial! Lepaskan Aku!" ucap Rosie di sela ciuman liarnya yang di berikan Gerardo.
"Stop it!" lanjutnya mengumpulkan tenaga dan mendorong tubuh kokoh Gerardo hingga pangutan bibir itu terlepas.
Buuuukkkk!! (Suara pukulan)
"Aw! s**t!" teriak Rosie kesakitan saat lagi dan lagi ia harus merasakan sakit pada pergelangan tangannya saat meninju wajah tegas Gerardo.
Rosie berusaha keluar dari ruangan tersebut namun Gerardo tak membiarkannya lolos dari cengkramannya malam ini.
"Minggir! Biarkan Aku pergi, Gerardo!"
Ada sesuatu yang beda di rasakan Gerardo saat Rosie menyebutkan namanya. Di mana biasanya ia hanya mendengar Rosie menyebut marga namanya saja.
Hal itu membuat Gerardo semakin enggan melepaskan Rosie. Ia kembali memaksa Rosie untuk berciuman dengannya, meskipun Rosie terus saja meronta untuk lepas dari genggamannya.
(Suara pecahan kaca)
Suara pecahan itu membuat Allio dan para anak buah Gerardo panik di luar sana.
"Gerardo, apa kau tak apa?" teriak Allio panik.
"Iya, it's okay!" balas Gerardo dari dalam ruangan.
"Biarkan Aku pergi, atau Aku akan menggores pergelangan tangan ku dengan pecahan botol ini!" ancam Rosie dengan menempelkan pecahan botol wiski itu pada pergelangan tangannya.
"Stop! Jauhkan itu dari pergelangan tangan mu, Rosie!" teriak Gerardo frustasi.
Gerardo belum juga beranjak dari tempat ia berdiri, di mana tubuhnya masih saja menghalangi Rosie dari pintu keluar ruangan tersebut.
Melihat Gerardo yang tak mempercayai ucapannya membuat Rosie menekan botol pecah itu pada pergelangan tangannya dan menggoresnya dengan pelan-pelan.
"Damn! Kau benar-benar wanita gila, Rosie!" umpat Gerardo ketakutan.
"Minggir!" teriak Rosie.
Gerardo tak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah Rosie. Di mana ini menjadi pertama kalinya lagi Gerardo mengikuti perintah seseorang. Sedangkan biasanya, ia mengharuskan semua orang yang mengikuti perintahnya.
Rosie membuang botol wiski pecah itu setelah berhasil membuka pintu tersebut dan kabur.
Allio sangat terkejut melihat Rosie keluar dari ruangan itu dengan pergelangan tangan yang berdarah.
Allio dan para anak buahnya masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Gerardo.
"Apa kau yang melukai pergelangan tangannya?" tanya Allio penasaran.
"Mana mungkin! Dia melukai pergelangan tangannya sendiri, Allio!" teriak Gerardo frustasi.
"Wow.. benar-benar wanita barbar!"
Gerardo menyambar semua minuman yang berada di atas meja hingga semua botol itu terjatuh di lantai dan pecah berserakan.
*****