- ROSIE POV -
Aku memegangi tangan ku yang tergores dan berdarah karena aksi ku tadi pada Gerardo. Jujur, Aku juga tak menyangka akan berani melakukan hal itu senekat itu hanya untuk meloloskan diri dari cengkraman lelaki menyeramkan itu.
Alexa teman kerja ku di bar yang tak sengaja melihat pergelangan tangan ku juga ikut terkejut dan melemparkan pertanyaan pada ku.
"Oh my god! Apa yang terjadi, Rosie? Apa kau menggores pergelangan tangan mu?" tanyanya panik dan membantu ku masuk ke dalam ruangan karyawan bar.
"Astaga.. apa yang kau lakukan pada tangan mu, Rosie!" keluh Alexa menyeka darah itu yang membalut pergelangan tangan ku.
"Ini hanya kecelakaan saja, Alexa.." balas ku berusaha tersenyum meskipun rasa perih itu masih terasa pada pergelangan tangan ku.
"Bullshit, Rosie! Mana mungkin! Ayo, ceritakan pada ku!" pinta Alexa sambil mengobati luka Rosie.
Alexa terus memaksa ku untuk bercerita namun Aku tetap berbohong padanya hingga ia berhasil membalut pergelangan tangan ku dengan perban.
"Pulanglah beristirahat, Aku akan menggantikan shift mu hari ini"
"Tidak perlu, Alexa. Aku baik-baik saja" jelas ku.
"Hm.. yeah. Thank you, sudah membantu ku mengobati pergelangan tangan ku" lanjut ku sebelum meninggalkannya dengan senyuman.
Aku kembali keluar untuk melayani para tamu bar di meja bartender, di mana biasanya Aku berdiri memberikan minuman kepada mereka. Namun lagi dan lagi kesabaran ku harus di uji, saat pria menyeramkan itu muncul kembali di hadapan ku.
"Apa tangan mu tak apa?" tanyanya saat duduk di kursi hadapan ku.
"Apa yang Anda ingin pesan, tuan?"
Aku tercekat saat tangannya tiba-tiba saja memegangi pergelangan tangan ku yang sontak membuat ku sedikit merintih.
"Whoa.. apa yang kau lakukan padanya, tuan?" tegur seorang lelaki yang menepis tangan Gerardo dari tangan ku.
"Apa urusan mu?" tanya Gerardo pada lelaki tersebut.
"Apa kau sedang menggodanya saat dia menolak mu?"
Aku dapat melihat kilatan menyeramkan dari sorotan mata Gerardo. Aku tak ingin mendapat masalah dan menarik Gerardo keluar dari bar sebelum perkelahian kembali terjadi.
"Kenapa kau menarik ku keluar?"
"Berhenti membuat onar di tempat kerja ku!" bentak ku.
Ia kembali meraih tangan ku dan menatapnya lama hingga membuat jantung ku berdegub kencang. Aku memaksa menarik tangan ku dari genggamannya.
"Berhenti sok perduli pada ku. Dan Aku mohon menjauh lah dari ku!" pinta ku sebelum meninggalkannya kembali masuk ke dalam bar.
Langkah besar ku menuntun ku kembali ke meja bartender ku di mana Alexa menyakan soal keberadaan ku sejak tadi. Namun tiba-tiba saja Gerardo kembali muncul yang membuat Alexa menatap bingung ke arah ku berdua.
- AUTHOR POV -
Gerardo kembali masuk menyusul Rosie di mana perasaannya belum puas sebelum ia menjelaskan semuanya pada Rosie. Namun Rosie tak ingin mendengar apapun dari mulut Gerardo, Karena ia berpikir kalau ia mendengar semuanya. Itu sama saja kalau keduanya memililki hubungan, dan Rosie tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Apa yang ingin kau pesan, tuan?" tanya Alexa saat mendapati Gerardo berdiri di hadapannya.
"DIA!" balas Gerardo menunjuk ke Rosie.
"Rosie? Kau menginginkannya?" tanya Alexa memperjelas bersamaan dengan kedatangan Allio dan para anak buah Gerardo yang lain.
Kedatangan mereka membat Gerardo dan juga Rosie menjadi sangat mencolok dari yang lainnya. Semua pandangan jatuh kepada keduanya.
"Iya. Apa bisa Aku meminjamnya sebentar saja, nona?"
"Maaf, tuan. Tidak bisa" ungkap Alexa melindungi Rosie.
"Kalau begitu Aku harus memaksanya!"
Gerardo mendorong Alexa dari hadapannya lalu beralih mengangkat tubuh Rosie dan membawanya keluar dari bar. Rosie terus saja meronta meminta segera di lepaskan saat Gerardo mengangkat tubuhnya.
"Hey.. lepaskan Aku!"
Kalimat itu terus saja terlontar dari bibir Rosie hingga Gerardo melepaskannya.
"Apa mau mu!" teriak Rosie frustasi.
"Kenapa kau selalu saja mengganggu ku!" lanjutnya.
Allio yang melihat Rosie selalu saja bersikap tak sopan pada Gerardo membuatnya sedikit kesal.
"Aku ingin berbicara pada mu saja" ungkap Gerardo dingin.
Baru saja Gerardo menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja ia melihat seorang pria dengan pakaian tertutup berjalan ke arah Rosie sembari mengeluarkan sesuatu dari saku jaket gelapnya. Melihat hal itu, Gerardo yang sudah terlatih karena pekerjaannya menarik tubuh Rosie lalu memutarnya hingga posisi keduanya berganti dan membuat Gerardo lah yang mendapat goresan itu pada lengan bagian kirinya.
"Gerard!" teriak Allio panik.
"Hey! Stop!" teriak Gerardo.
"Allio! Lucky, kejar lelaki itu! Now!" lanjut Gerardo.
Mendengar perintah itu membuat Allio dan lainnya berlari mengejar pria tersebut dan meninggalkan Rosie serta Gerardo.
Rosie yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri sangat terkejut saat mendapati lengan Gerardo yang terluka karena sayatan pisau itu.
"Oh my god! Tangan mu!" ucap Rosie panik.
Ia memegang lengan Gerardo lalu menekannya agar darah itu tak terus saja mengalir.
"Astaga.. apa yang harus ku lakukan?"
"Bawa mobil ku sekarang!"
"Aku yang menyetir?"
"Lalu? Apa harus Aku, Rosie?!" sela Gerardo sembari memegang lengannya yang terluka.
Rosie tak memiliki pilihan lain selain mengikuti permintaan Gerardo untuk membawa mobilnya.
"Apa ada rumah sakit terdek--"
"Tidak rumah sakit. Bawa Aku ke apartement ku saja" pinta Gerardo.
"What? Tangan mu terluka dan kau ingin di bawa ke apartement saja?"
"Apa bisa kau sekali saja tak membantah perintah ku, Rosie! Aku yang akan mengobati luka ku sendiri!" tegas Gerardo.
Ponsel Rosie berdering dengan menampakkan nama Alexa pada layarnya. Rosie yang lupa akan pekerjaannya meminta Alexa untuk menggantikan shiftnya malam ini. Ia kembali melirik lengan Gerardo yang masih mengeluarkan darah, ia tak membayangkan kalau saja sayatan tadi melukai dirinya bukan Gerardo.
"Siapa lelaki tadi?" tanya Rosie.
"Mana Aku tau! Mungkin saja dia salah satu lelaki yang kau tolak lalu membuat ia nekat untuk membunuh--"
"Kya! Jangan menakuti ku seperti itu! Mana mungkin hal itu terjadi" sela Rosie serius mengemudikan mobil milik Gerardo.
"Sepertinya kau banyak menolak lelaki yang menyukai mu, Rosie.." goda Gerardo.
"Kya! ini bukan saat yang cocok untuk bercanda! Kau sedang terluka!"
Gerardo tampak senang melihat sikap khawatir Rosie padanya. Rasanya sakit yang lengannya perlahan menghilang hanya karena raut wajah panik Rosie.
"Ini semua karena Aku menyelamatkan mu! Sial! Kenapa Aku selalu saja menjadi korban saat menyelamatkan mu?" keluh Gerardo sengaja mendengarkannya pada Rosie.
Mendengar hal itu, Rosie tak memiliki kalimat bantahan seperti biasanya. Ia menyadari kalau luka sayatan itu memang terjadi karena Gerardo menyelamatkannya. Ia juga mengingat soal kebakaran, serta suara tembakan dari apartement Gerardo di mana Gerardo yang melindunginya dari peluru mematikan tersebut.
Namun tak ada kata maaf ataupun terima kasih yang terucap dari bibir kaku Rosie.
Gerardo melirik ke arah wajah Rosie yang terlihat sangat merasa bersalah padanya. Bukannya malah kasihan, namun Gerardo memiliki ide untuk membuat Rosie selalu berada di dekatnya.
Rosie berhasil memarkirkan mobil Gerardo pada basement apartement berkat petunjuk Gerardo yang menunjukkan jalan apartementnya pada Rosie.
Rosie layaknya seorang pelayan Gerardo saat ini, di mana ia terlihat membukakan pintu mobilnya dan berjalan sejajar dengan Gerardo menuju kamar apartementnya.
"Hm.. Aku sudah mengantar mu. Apa Aku bisa pulang sekarang?" ucap Rosie kaku.
"Pulang? Kau ingin pulang setelah Aku seperti ini karena menolong mu?"
Gerardo menatap wajah Rosie yang tertunduk lalu melirik ke arah pergelangan tangan Rosie juga yang terluka karenanya.
"Tunggulah sampai Allio dan anak buah ku kembali" pinta Gerardo sambil membuka pintu apartementnya.
"Kau bisa membantu ku mengobati luka ku saja" lanjutnya.
Rosie melangkah masuk ke dalam apartement yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia duduk di atas sofa sembari menunggu Gerardo membawakan kotak obat yang ia ambil di dalam ruangan yang berada di sisi pojok kanan apartement mewahnya.
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih mu" ungkapnya menyodorkan kotak obat itu pada Rosie.
Rosie meraihnya yang membaut Gerardo duduk di hadapannya.
Jantung Rosie berdegub hebat saat ia membuka kotak obat itu di mana ia yakin kalau saat ini Gerardo sedang menatapnya. Sorotan mata itu membuat Rosie gugup.
Rosie sesekali melirik dan membuat kedua pasang matanya bertemu dengan milik Gerardo membuat napasnya tercekat.
"Sial! kenapa dia terus saja menatap ku seperti itu" batin Rosie.
Gerardo membuka setengah kemejanya yang memperlihat bentuk tubuh atletisnya serta lengan kekarnya yang ternyata tidak cukup dalam tergores.
"Sepertinya ini harus di jahit oleh dokter ahlinya, Tn. Edmundo" ungkap Rosie.
"It's okay. Aku akan memintanya datang setelah kau mengoleskannya dengan alkohol agar pendarahannya berhenti" pinta Gerardo dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Rosie.
Rosie menelan salivanya saat tatapan itu masih saja terarah padanya dan semakin dekat hingga hembusan napas Gerardo menyapu rambutnya.
"Permisi, tuan. Apa kau bisa berhenti menatap ku seperti itu?" keluh Rosie yang sudah tak dapat menahannya lagi.
Namun ucapannya tak di gubris oleh Gerardo.
Rosie mengoleskan alkohol itu lalu membalut lengan Gerardo yang terluka dengan perban untuk menghentikan pendarahannya.
Rosie tercekat saat tiba-tiba saja tangan lebar Gerardo menangkup wajahnya hingga membuat kedua pasang mata itu saling terpaut. Rosie menatap lekat bola mata hitam pekat milik Gerardo. Tak di pungkiri kalau Rosie juga memuja ketampanan pria menyeramkan itu dengan pahatan pada wajahnya yang terlihat sangat sempurna.
Hembusan napas itu menyapu wajah Rosie sembari menelan salivanya yang tertahan. Jantungnya semakin berdebar saat wajah tegas Gerardo semakin dekat padanya.
"Oh s**t! kau harus mendorongnya, Rosie!" batin Rosie.
Namun ia tak kunjung melakukannya. Pesona yang di berikan Gerardo sangat sulit membuat Rosie memalingkan wajahnya hingga kedua bibir itu bersentuhan bersamaan dengan kedatangan Allio yang tiba-tiba membuka pintu apartement milik Gerardo dan membuat Rosie mendapatkan kembali kesadarannya lalu memalingkan wajahhnya. Hal itu tentu saja membuat Gerardo frustasi dan kesal pada Allio yang membuat semuanya musnah.
"s**t, Allio!" desis Gerardo yang dapat di dengarkan oleh Rosie.
"Aku tak mendapatkan lelaki itu" ucap Allio menduduk.
"Apa kau harus datang saat ini?" keluh Gerardo yang tak di mengerti Allio.
"Maksud mu?"
"Oh god! So.. ?"
"Ini semua karena ulah wanita ini!" tegas Allio tiba-tiba saja menyerang Rosie.
"Kau tak perlu berteriak seperti itu pada ku!" keluh Rosie tak mau kalah.
"Sifat terlalu kekanak-kan----"
"Allio, stop!" sela Gerardo.
Gerardo memijit pelipisnya saat Allio menyalahkan Rosie dan memintanya berhenti.
"Apa Aku bisa pulang sekarang?" ucap Rosie lalu melirik sinis ke arah Allio.
"Iya pulang lah! Dan jangan menunjukkan wajah mu lagi di hadapan Gerardo!" jelas Allio.
"Lucky akan mengant---"
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri!" selanya berjalan menabrak tubuh Allio.
"Sial! benar-benar wanita tak kenal takut!" tegas Allio setelah kepergian Rosie.
*****