- AUTHOR POV -
Kepergian Rosie membuat Allio menjelaskan ketidaksukaannya ke Gerardo. Allio tidak menyukai sikap Rosie yang semena-mena pada Gerardo. Dan Allio juga mengatakan pada Gerardo kalau ia tidak suka sepupunya itu terlalu melindungi Rosie.
Gerardo terdiam sembari mencerna perkataan Allio yang terdengar khawatir dengan dirinya. Gerardi juga menyadari sikapnya yang sudah sejauh ini dengan Rosie. Namun rasanya ia juga tidak bisa melihat wanita itu terluka.
Cukup lama Allio dan Gerardo berdebat hingga suara deringan ponsel milik Gerardo berdering dengan menampakkan nama Patrick Abraham seorang kenalannya di Roma, Italia untuk mencari tau keberadaan Paul yang hingga saat ini belum ia ketahui keberadaannya semejak ia kehilangannya saat di Manchester.
Keberuntungan masih belum memihak pada Gerardo, Patrick belum juga mengetahui keberadaan Paul membuat suasana hati Gerardo semakin buruk.
Terdengar kata umpatan yang terlontar dari bibir tipis pimpinan mafia itu. Allio meninggalkan Gerardo sendiri di dalam apartementnya agar ia tak mendapat pelampiasan amarahnya.
Sedangkan Rosie baru saja tiba di rumahnya, di mana Maddie baru saja selesai membersihkan dirinya.
"Hey.. kau baru kembali?" ucap Maddie sembari mengeringkan rambut curlynya.
"Hm.. iya" balas Rosie singkat menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ada apa?" tanya Maddie.
"Aku bertemu dengan pria gila itu lagi" ungkap Rosie.
"Pria gila?--- wait! Kenapa dengan pergelangan tang---oh s**t! Rosie! Apa dia menggores pergelangan tangan mu?" sela Maddie yang baru saja menyadari pergelangan tangan Rosie yang di balut dengan perban.
Rosie menarik tangannya dari genggaman Maddie yang terlihat marah.
"Hm.. bukan. Ini bukan ulahnya. Tadi, ada pelanggan bar yang mabuk dan tak sengaja memecahkan botol bir dan mengenai tangan ku" balas Rosie berbohong.
"Lalu pria gila itu yang kau maksudkan? Apa ada hubungannya dengan dia?" lanjut Maddie menyelidik.
Rosie tercekat, ia terlihat berusaha mencari alasan agar Maddie tidak tau apa yang baru saja terjadi padanya. Hingga sampai saat ini Rosie juga tidak mengerti alasan kenapa dirinya berani melakukan hal itu hanya untuk lolos dari cengkraman Gerardo. ia juga tidak tau kenapa ia harus kesal karena kebohongan pria yang sangat ia benci itu.
"Aku sedang tidak mood untuk bercerita Maddie, kita bicarakan lain waktu saja" ungkap Rosie menghindari topik yang dia sendiri menyinggungnya tadi dengan Maddie.
Maddie masih mengeringkan rambutnya sembari menatap Rosie yang terbaring di atas ranjang menatap langit-langit kamarnya. Ia sangat tau kalau akhir-akhir ini suasana hati sepupunya itu sedang buruk, di mana masalah hubungannya dengan Vanno yang menjadi penyebab utamanya.
Maddie berusaha menghibur Rosie bahkan ia mengajak Rosie untuk ikut berpesta dengan temannya malam ini, namun Rosie menolaknya. Ia tidak memiliki mood untuk bersenang-senang malam ini. Pikirannya sangat kacau, di mana ia kembali teringat saat Gerardo menarik tubuhnya dan menggantikan sayatan itu pada tubuh atletisnya.
Rosie tak habis pikir kenapa Gerardo rela melakukan hal itu padanya. Merelakan dirinya menggantikan posisi Rosie yang seharusnya mendapat luka sayatan itu pada lengan.
Sangat lama Rosie bergelut dengan pikirannya hingga ia tak tahan dengan rasa gelisah yang menyelimutinya dan membuat dirinya berani untuk mengirimkan pesan pada Gerardo.
"Bagaimana dengan lengan mu?" tulisnya pada pesan tersebut.
Dengan keadaan lengan yang masih terluka namun berhasil di balut oleh perban tak membuat Gerardo mengurungkan aksinya malam ini. Seperti biasanya ia kembali mendatangi sebuah restoran dan mengacaukannya. Di mana pemilik restoran itu melanggar kontrak perjanjiannya dengan kesepakatan yang telah di buat Gerardo untuk mengambil alih restorannya.
Gerardo yang murka mengacaukan semua is restoran itu, bahkan terdapat perlawanan dari anak buah pemilik restoran itu hingga aksi baku tembak kembali terjadi.
Gerardo meraih sebuah pistol yang menyangkut pada pinggangnya dan melayangkan beberapa kali suara tembakan yang terdengar meskipun tembakan itu belum mengenai sasarannya. Suara pecahan kaca dan benda yang terlihat hancur lebur membuat restoran sangat kacau.
Kemarahan Haruto pemilik restoran itu membuat perlawanan yang cukup menyulitkan Gerardo dan para anak buahnya.
Sebuah peluru panas berhasil mengenai kaki kanan Lucky hingga ia tersungkur dan Brown menariknya berlindung agar tak ada peluru lagi yang menembus dirinya.
"s**t! habiskan semuanya!" pinta Gerardo di balik pilar yang melindungi dirinya dari genjatan senjata di dalam restoran tersbut.
"Kau salah menilai ku, Gerardo! Kau pikir, Aku akan dengan mudahnya menyerahkan restoran ini? Kau memang sangat serakah!" ucap Haruto lantang.
Perkataan itu membuat darah Gerardo semakin panas. Ia melirik ke arah Haruto yang saat ini berdiri dan mengarahkan pistol ke arahnya hingga suara tembakan terdengar dan mengenai lengan kanan milik Haruto. Pistol yang berada di tangannya tersungkur di tanah membuat tubuhnya merunduk di sebuah meja yang akan menjadi pelindungnya.
"Allio meja itu! " teriak Gerardo.
Allio beralih menuju meja itu, namun ia harus menghentikan langkahnya saat tembakan beruntun terarah padanya namun berhasil ia hindari.
"s**t! Di sana ada beberapa yang mengarahkan tembakan ke arah ku!" teriak Allio.
Brown penembak jitu yang selalu di andalkan Gerardo berhasil melumpuhkan setengah anak buah Haruto hingga membuat Haruto menyerah. Haruto meminta semua anak buahnya yang tersisa untuk berhenti.
Hal itu membuat Gerardo mendekat ke arahnya dengan formasi yang di bentuk Allio untuk melindunginya kalau saja itu hanya akal bulus Haruto untuk melanjutkan serangannya.
Namun kali ini Haruto benar-benar menyerah saat lengan kanannya sudah berlumuran darah karena tembakan Gerardo yang berhasil mengenainya.
"Okay! Aku menyerah!" teriak Haruto.
Semua anak buahnya meletakkan senjata miliknya di lantai menandakan mereka akan menyerah.
"So? Apa kau mengaku kalah?" tanya Gerardo dengan sorotan mata tajamnya.
"Iya, Aku akan menyerahkan semuanya" ungkap Haruto sembari menahan sakit pada lengannya. Di mana peluru itu terasa panas pada bagian tembakannya.
"Beserta semuanya?" jelas Gerardo.
"Iya, kau bisa memiliki semuanya. Dan ingat para klien itu sangat sensitif tetap lanjutkan apa yang sudah ku bangun di restoran ini!" ungkap Haruto.
Di mana ia menjelaskan soal tujuan restoran ini ia dirikan. Semua memang tampak seperti restoran sungguhan, namun siapa sangka ada sesuatu di balik restoran itu. Perdagangan obat-obat terlarang, perjuadian, serta perdagangan wanita. Suatu tempat tersembunyi di balik restoran milik Haruto.
Hal itu juga yang menjadi pemicu perkelahian malam ini, di mana Haruto merasa tak yakin kalau Gerardo akan tetap menjalankan bisnis ilegal tersebut.
"Kau tak perlu khawatir, Haruto. Aku bahkan lebih mahir dari pada kau!" tegas Gerardo sembari menepuk-nepuk wajah tegang Haruto.
"Kalian bawa dia dan suruh Dr. Broke mengobati lukanya. Aku tau orang seperti mu tidak akan menginjakkan kaki di rumah sakit" lanjut Gerardo.
Haruto dan para anak buahnya adalah imigran ilegal yang berhasil masuk ke Chicago sekitar lima tahun yang lalu. Ia menjalankan bisnis ilegalnya tanpa di ketahui para pihak berwajib di Chicago. Hal itu juga yang membuat ia tak bisa mendapatkan tindakan medis saat dirinya terluka.
- GERARDO POV -
Aku meminta Allio untuk membawa Haruto pada Dr. Broke yang sudah lama bekerja pada ku. Di mana Aku juga yang tak pernah menginjakkan kaki ku di rumah sakit meskipun diri ku mendapat luka tembakan atau apapu itu. Terlalu berisik dan banyak pertanyaan. Aku sangat membenci hal itu.
Aku menatap restoran tersebut yang terlihat kacau, di mana Aku harus akan memulai memperbaiki semuanya dan kembali membukanya bersamaan dengan tempat transaksi rahasia tersebut yang pastinya sangat menguntungkan bagi ku.
Aku menatap layar ponsel ku saat Aku kembali masuk ke dalam mobil. Sebuah pesan masuk yang di kirimkan dengan nama Rosie pada layarnya.
"Bagaimana dengan lengan mu?"
Tanpa sadar senyuman membentuk pada sudut bibir ku. Aku merasa puas saat berhasil membuat wanita bar-bar itu memikirkan ku.
"Masih tidak bisa ku gunakan seperti sebelumnya" tulis ku untuk memancingnya.
Namun Aku menunggu balasan pesan itu dan tak mendapat apapun setelah setengah jam pesan itu ku balas.
Bahkan saat Aku sudah tiba kembali ke apartement ku, Aku belum juga mendapat balasan pesan tersebut. Hal itu membuat pikiran ku kembali gelisah.
Apa Aku harus menghubunginya?
Apa dia baik-baik saja?
Apa dia sudah tidur?
Sial! Pikiran itu terus saja mengganggu ku.
Aku mengganti kemeja ku yang lusuh karena kejadian di restoran tersebut. Hingga terdapat memar pada bagian tulung rusuk ku karena hantaman meja tadi yang mengenainya.
Lalu suara notification ponsel ku berdering. Dengan sangat terburu-buru berharap wanita itu membalas pesan ku. Dan yap! Aku mendapatkannya.
"Sorry"
What? Dia hanya menuliskan itu pada pesan balasannya? Damn! benar-benar menyebalkan. Dia selalu saja menguji diri ku.
Tak terima hanya kata maaf yang ku terima membuat ku menghubunginya.
"Kau hanya mengucapkan kata maaf?" ucap ku pada panggilan yang berhasil di jawab olehnya.
"Lalu apa?"
Aku menghela napas karena ucapannya yang lagi dan lagi menguji kesabaran ku. Namun di panggilan itu terdengar suara dentuman musik yang begitu mengganggu pendengaran ku.
"Apa kau kembali bekerja?"
"Tidak. Tapi, Aku sedang di bar"
"Apa yang kau lakukan di sana?"
"Maddie ingin keluar bersama temannya, dan Aku tidak suka sendiri di rumah. So, Aku ikut dengannya" jelasnya.
"Di mana bar itu?"
"Hello Rosie.." ucap seseorang yang terdengar dari panggilan ku.
"Aku akan menutupnya, by---"
"Wait--s**t!" umpat ku kesal.
Aku menggertakan gigi ku kesal karena panggilan ku yang di akhiri olehnya. Aku melempar ponsel ku di atas ranjang sembari menatap pantulan diri ku pada cermin yang terlihat begitu kesal.
Pikiran ku terus saja melayang kalau saja Rosie kembali dengan kekasih pecundangnya itu. Benar-benar menyebalkan!
Aku berusaha menenangkan pikiran ku dengan wine yang menemani malam ku. Rasa manis saat turun di tenggerokan ku tak berarti apa-apa malam ini. Semakin hari rasanya Aku semakin menginginkan wanita itu menjadi milik ku, Namun kenapa sangat sulit membuat ia tunduk dan menyerahkan hatinya pada ku.
- AUTHOR POV -
Seseorang lelaki bertubuh jangkung menyapa Rosie, Ethan kekasih Miya. Ia juga terlihat mengunjungi bar yang sama dengan Rosie serta Maddie malam ini. Namun ia terlihat sudah mabuk saat menegur Rosie, membuat Rosie harus menghindarinya.
"Hm.. yeah, Ethan" balas Rosie beringsut mundur.
Namun Ethan terus mendekat dengan tatapan yang di benci oleh Rosie.
"Bagaimana hubungan mu dengan Vanno?" tanyanya tiba-tiba.
"Hm., Aku sudah selesai dengannya" balas Rosie jujur.
"Karena Miya?"
Rosie tak menggubris pertanyaan Ethan, ia malah beralih meninggalkannya. Namun pergelangan tangannya di tarik oleh Ethan yang membuat Rosie terkejut.
Rosie melihat sekelilingnya dan tak mendapati Maddie di sana. Ethan menariknya sangat jauh dari kerumunan para tamu bar tersebut.
"Ethan, lepaskan!" pinta Rosie beberapa kali namun di acuhkan oleh Ethan.
Sekilas Rosie melihat seseorang yang pernah ia temui sebelumnya. Pria itu menatap Rosie saat Ethan menarik paksa untuk menjauh dari kerumunan tersebut.
Rosie berusaha meronta dengan sekuat tenanganya namun kekuatan Ethan tak sebanding dengannya.
"Kau harus menggantikan posisi Miya yang di rebut oleh kekasih mu, Rosie!" ungkap Ethan sembari berbisik menyesapi pipi Rosie.
"f**k you!" teriak Rosie menginjak kaki Ethan dengan sepatu miliknya.
Rosie berhasil kabur beberapa langkah hingga Ethan kembali menangkapnya dan sebuah pukulan mendarat pada wajah Ethan. Rosie meninjunya membuat Ethan marah dan menamparnya.
Rosie berusaha terlepas kembali dari cengkramannya namun sangat sulit hingga matanya melebar saat Ethan menangkup bukit kembarnya.
"s**t! Jangan menyentuh ku, Ethan!" teriak Rosie.
"Sepertinya tubuh mu lebih menggoda dari pada Miya.." ungkap Ethan dengan senyum menakutkannya.
"Stop it!" pinta Rosie meronta.
Ethan menangkup wajah Rosie, mencengkramnya hingga Rosie merintih. Rintihan itu membuat Ethan semakin b*******h. Ia mendekatkan wajahnya pada Rosie, berusaha ingin menggapai bibir Rosie namun tak ia sangka kalau Rosie akan meludahinya.
Kemarahan itu kembali memuncak di mana Ethan meninju wajah Rosie hingga hidung berdarah dan mendorongnya hingga kepala Rosie terbentur pada tembok gang pada bar itu yang sangat sunyi. Di mana itu memang menjadi tempat para remaja yang ingin melakukan hubungan badan.
"Kau benar-benar liar, Rosie!" ungkap Ethan dengan kemarahannya.
"Aku tau kenapa Miya tak tahan dengan mu dan merebut Vanno dari ku, itu semua karena ulah mu.. bodoh!" teriak Rosie.
"Jangan menyalahkan ku! Ini semua karena kau yang kurang memuaskan Vanno hingga ia menggoda Miya dan wanita sial itu meninggalkan ku!"
Baru saja Ethan menyelesaikan kalimatnya dan menarik turun celananya tiba-tiba saja tubuhnya tersungkur karena sebuah tendangan yang berhasil mengenai tulang rusuknya.
"Kalau dia bilang berhenti melakukannya, harusnya kau berhenti.. kawan!"
*****