“Oh Mbak Lina. Terima kasih atas pujian itu. Aku merasa senang mendengarnya,” balas Baron dengan senyum manisnya untuk Lina. Seketika membuat Lina menegang. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk ke arahnya dari suatu arah. Siapa lagi jika bukan Dika yang kini menatap dirinya dengan tajam. Lina merasa dirinya telah menginjak suatu ranjau yang bisa membuatnya mati seketika. Walau dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Lina tetap berusaha mencairkan suasana di antara mereka. “Uhm, Mas Dika, Mas ingat Lina pernah cerita tentang orang yang telah membantu Riko pergi ke rumah sakit bukan? Dia adalah Mas Baron. Aku juga baru tahu bahwa ternyata mas Baron itu merupakan suami mbak Shelly. Tidakkah dunia begitu kecil, Mas? Hahaha,” tawa Lina dengan kikuk. “Benar, Mas Dika. Aku ju

