"Mas Abi!"
Abi yang tengah membaca berita perihal kecelakaan bermotor di ponselnya seketika mendongak, menatap pekerja perempuan yang berdiri di balik meja pesanan. Namanya baru saja dipanggil, pertanda makanan yang sejak tujuh menit lalu Abi tunggu akhirnya siap untuk diambil.
Sembari berjalan menuju meja pesanan, Abi lagi-lagi memperbaiki letak topi yang selama beberapa hari ini terus saja menemaninya. Dibalasnya senyum ramah pekerja tersebut, kemudian berbalik dan berjalan sedikit lebih cepat.
Beberapa saat yang lalu, Abi kembali dihubungi Renat, bahkan Zahwa. Namun pria itu tidak cukup bodoh untuk menebak mengapa ponsel Zahwa menghubunginya---jelas saja karena Renat. Abi ingin sekali menutup akses untuk Renat agar wanita itu tidak dapat menjangkaunya, setidaknya untuk beberapa saat saja sampai nanti Abi lebih mudah untuk kembali berbicara pada Renat.
Abi tahu masih banyak sekali hal yang harus mereka luruskan. Namun tidak sekarang karena Abi masih dalam kondisi tidak enak. Terlebih pertemuan pertamanya dengan Moza setelah sekian lama kembali membangkitkan rasa aneh di dalam diri Abi---sebuah ketidaknyamanan.
Rumah makan yang jaraknya memang tidak jauh dari hotel karena masih bisa dijangkau dengan jalan kaki selama lima menit, setidaknya ketika kembali ke hotel, Abi hanya membutuhkan waktu tiga menit. Pria itu berjalan santai hendak menuju lift, namun panggilan seseorang menginterupsinya.
"Selamat sore, Bapak Abi." Abi menatap bingung wanita yang jika ia tidak salah, adalah seorang penjaga meja resepsionis. Dengan tatapan bingung Abi menunggu wanita itu melanjutkan kalimatnya. "Tadi ada wanita yang datang mencari anda."
Abi mengernyit, mengeluarkan tanya bingung. "Siapa?" Sepertinya Abi tidak memberitahukan perihal tempatnya menginap kepada siapapun, kecuali Bia. Dan rasa-rasanya tidak mungkin jika adik perempuannya itu memilih terbang jauh-jauh dari London menuju Jakarta hanya untuk melihat keadaan Abi. Terlebih kesibukan Bia juga tidak bisa dihindari.
"Dia bilang, dia calon istri anda."
Abi kian dibuat sakit kepala sebab jawaban tersebut. Calon istri? Calon istri bagaimana. Sedang terakhir kali ia meminta seseorang untuk menjadi istrinya, Abi harus menahan penolakan keras yang sekarang menjadi alasan mengapa pria itu ada disini.
Namun jantung Abi juga tidak bisa berbohong. Walau raut wajahnya tetap datar seperti biasa, Abi tetap saja dibuat gila akan tebakan di dalam kepalanya.
"Terus, dia pergi?" tanya Abi dengan nada terkontrol, padahal sebenarnya, ia dikukung oleh rasa penasaran yang bergejolak minta segera dipuaskan.
Wanita resepsionis itu menggeleng, "Dia naik. Sepertinya menuju lantai dimana kamar Anda berada."
Abi mengangguk, segera mengucapkan terimakasih lalu berjalan menuju lift. Pria itu masuk dan segera menekan tombol lantai yang ia tuju. Dalam hati, Abi benar-benar takut bahwa yang ia pikirkan sekarang akan berganti menjadi kenyataan. Bukannya Abi tidak suka, hanya saja, ia sendiri merasa belum siap dan kekesalan akan harga diri yang terinjak sepertinya masih ada padanya.
Belum sampai pada lantai kamar Abi, lift tersebut berhenti, kemudian terbuka tepat di lantai olahraga. Abi menatap ke depan dan terpaku. Pertemuan yang sama di depan lift, namun dalam keadaan yang berbeda. Karena kali ini Abi tetap berada di dalam dan tidak keluar seperti pertama kali mereka bertemu. Abi refleks menunduk kala wanita dengan tanktop hitam dan memakai bawahan legging sepanjang betis itu masuk.
Suasana seperti terbakar. Abi tidak suka kala dirinya berada di posisi seperti sekarang. Ia yang berdiri bersebelahan dengan Moza, benar-benar terlihat kaku dan rasanya untuk bergerak saja sulit. Abi enggan memulai obrolan karena rasanya memang tidak perlu. Semua hal yang ada pada mereka sudah berakhir sebelum sempat untuk dimulai. Abi sudah melupakan segalanya.
Abi mengeluarkan ponsel dengan sengaja, pura-pura terlihat sibuk bersama benda itu. Walau Abi tahu bahwa ia sempat menerima beberapa kali lirikan dari sebelah, tapi Abi mencoba tidak peduli. Jika Abi bisa menghancurkan lift, mungkin sejak tadi sudah ia lakukan. Sebab detik-detik yang tercipta di antara mereka benar-benar terasa seperti berabad-abad. Lagipula, Abi pikir Moza tidak akan menginap di hotel ini. Lebih parah dari yang Abi pikirkan, karena tampaknya kamar mereka terletak pada lantai yang sama karena Moza tidak kunjung menekan tombol nomor.
Ting!
Lift terbuka dan Abi langsung saja berjalan keluar tanpa pikir panjang. Namun langkahnya yang berawal cepat menjadi lambat dan akhirnya terhenti. Tepat beberapa langkah di depannya, seorang wanita berperawakan bocah remaja juga tengah menatap Abi dengan pandangan yang sulit untuk Abi mengerti.
Abi terlampau kaget pada seseorang di depannya walau tadi ia sudah sibuk menerka di kepala. Apa yang sebenarnya Renat inginkan? Mengapa wanita itu memutuskan untuk terbang jauh-jauh setelah melakukan penolakan pada Abi. Renat tentu saja masih sehat, kan?
Jika saja tidak ada masalah yang tumbuh di antara mereka pada detik sekarang, Abi pasti sudah berjalan cepat mendekati Renat dan membawa wanita bersweater itu dalam gendongannya, kemudian mengunci Renat di kamar. Karena Renat benar-benar tampak menakjubkan dengan rok, sweater, serta boots yang ia gunakan. Belum lagi wajah putih bersihnya yang masih tampak bercahaya walau Abi lihat dari jarak jauh.
"Abi." Bahkan panggilan dari suara tersebut, masih terasa menyakitkan di telinga Abi. Penolakan Renat terhadapnya kembali muncul bolak-balik di dalam kepala Abi.
Abi tersentak, kala sebuah tangan terulur di depannya. Moza, dengan wajah tanpa rasa bersalah menunjukkan senyum manis pada Abi. Wanita yang baru saja selesai olahraga tersebut sepertinya tidak tahu mengenai situasi yang tengah terjadi di sekitar. Siapa Renat, mengapa Abi mematung, apa alasan Renat memanggil nama Abi, Moza sepertinya tidak peka.
"Kamu nggak mungkin lupa aku, kan?" ujar Moza sembari menyisipkan anak rambut di balik telinga. Jelas sekali bahwa ia tengah mencoba menunjukkan pesonanya. Sedang tangannya yang masih terulur, tetap menunggu balasan Abi.
"Maaf?" respon Abi seadanya, tangannya yang jahat sama sekali tidak membalas Moza. Sedang matanya masih menangkap Renat yang berdiri menatap mereka---Abi dan Moza---dengan fokus.
"Kok maaf, sih?" Moza tertawa ringan, "aku Moza. Nggak mungkin deh kayaknya kamu lupa sama aku."
Abi ingin mendengus kasar bak banteng hitam menyeramkan, namun ia tidak melakukannya dan tetap memasang wajah datar pada Moza. Abi jadi mual sendiri dengan pemandangan Moza di depannya. Jika kasar, Abi mungkin saja sudah menarik karpet yang menutupi lantai dan menggulungnya ke badan Moza. Walau tubuh wanita itu termasuk dalam kategori indah, Abi sendiri malah ingin bergidik secara terang-terangan agar Moza paham dan segera enyah.
"Bi?" panggil Moza lebih lembut. "Aneh ya karna obrolan pertama kita aku malah asal nyemprot pertanyaan gitu? Gimana kalau aku tanyain kabar kamu dulu? Kamu baik-baik aja, kan? Selama ini dimana? Mama papa kamu sehat?"
Abi diam, ingin tertawa remeh. Kadang kala, Abi sampai pula pada titik dimana ia tidak ingin mengerti wanita. Moza maupun Renat, sama-sama membuatnya bingung dan sukses tidak bisa menjawab apapun. Terlebih dengan Moza, bagaimana pula wanita itu bisa bertanya perihal orangtua Abi bila pria itu sendiripun yakin bahwa ia tidak pernah bercerita pada siapapun perihal keluarga kepada teman SMP. Moza benar-benar terlihat begitu berjuang agar Abi dapat menjawabnya. Sayangnya, Abi memiliki ingatan yang baik akan seseorang---terlebih ketika orang tersebut telah menolaknya.
"Aku nggak harus jawab pertanyaan-pertanyaan itu." Setelahnya Abi berlalu, berjalan menjauhi Moza dan menatap lurus menuju Renat. Moza yang ditinggalkan di belakang pun kini juga sibuk dengan berbagai pertanyaan di kepala. Konyolnya, Moza berpikir bahwa wanita yang sejak tadi menunggu di depan pintu kamar Abi adalah adik kandung pria itu.
Mungkin besok, lusa, dan seterusnya Moza akan kembali menghampiri Abi. Mencoba berbicara dan berusaha mendapatkan perhatian pria itu. Padahal Moza tidak tahu, bahwa Abi sudah lama tidak pernah memikirkan lagi sosoknya. Sedang Moza sendiri merasa, bahwa Abi akan tetap melihatnya tidak peduli apapun. Bahkan Moza masih mengingat dengan jelas bagaimana kecemburuan Abi ketika pada akhirnya Moza memilih Raskal, dulu.
Sementara Renat, wanita dengan tas bahu putih tersebut masih bertahan pada raut bingungnya. Abi dan wanita yang Renat pikir akan masuk angin tersebut, entah baru saja membicarakan apa. Walau Abi terlihat tidak berekspresi sama sekali, setidaknya wanita itu lebih beruntung karena Abi menanggapinya. Sedang Renat? Panggilannya saja tidak diacuhkan oleh manusia tembok satu itu.
Renat tersentak kala lengan Abi yang telanjang---karena pria itu hanya mengenakan kaus biasa---dengan sigap memeluk perut Renat dan memutar tubuh wanita itu. Kini lengan kanan Abi yang memeluk pinggang belakang Renat benar-benar terasa protektif, seakan takut Renat lepas.
Tanpa emosi dan nada yang terkesan datar, Abi berbicara tepat di telinga Renat. "Calon istri, huh?"
Renat sukses merinding hebat. Belum lagi dengan napas pria itu yang terasa panas di kulit Renat secara tidak sadar membuat wajah Renat berubah merah seperti tomat. Pun setelah tidak pernah mendengar kembali suara Abi, akhirnya Renat mendapatkannya kembali.
Abi tanpa pikir mengajak Renat masuk ke dalam kamarnya. Dan sejenak terdiam setelah mereka berada di dalam ruangan dengan suhu rendah tersebut. Renat yang baru hendak bersuara memanggil Abi tiba-tiba saja merasa ada yang hilang dari dirinya, kala pelukan Abi terlepas dan pria itu kembali menjaga jarak.
"Abi," panggil Renat takut-takut.
Abi yang tengah mendekati meja sofa dan meletakkan makanannya di sana menoleh, menatap Renat seperti tidak berminat sama sekali.
"Kalau kamu pikir kedatengan kamu di sini bisa perbaikin semuanya, mendingan kamu pulang." Abi dengan kejamnya mengeluarkan kalimat. "Jakarta bukan rumah kamu. Bukannya Seoul udah sukses narik perhatian kamu? Nggak taulah. Apa emang Seoul yang bikin kamu betah, atau malah temen laki-laki sauna kamu itu."
"Abi aku kangen," ujar Renat bergetar, jemarinya kian mencengkram tali tas.
Abi tersenyum miris, "Udah, kan? Cuma itu? Sekarang kamu udah liat aku. Berarti kangen kamu udah dipenuhin."
Mata Renat terasa panas. Abi bahkan tidak pernah sekasar ini padanya. "Aku minta maaf, Bi."
"Aku nggak butuh maaf kamu, Re," ujar Abi tenang. Di mata Renat, melihat Abi seperti sekarang benar-benar mengingatkannya pada Abi yang dulu. Kala Abi dengan dinginnya dan terasa sulit sekali untuk digapai.
"Aku nyesel udah ambil keputusan itu, Bi." Renat mengaku sembari mulai terisak. Nyatanya, sekuat apapun Renat mencoba menahan air mata, cairan bening tersebut tetap saja mengalir. "Harusnya aku yakin sama kamu. Harusnya aku tau aku bisa bahagia bareng kamu. Cuma aku masih nggak bisa mikir kesitu karena aku masih belum nemuin keyakinan itu. Tapi akhirnya aku tau, Bi. Aku ngerti."
Abi yang bertahan pada posisi berdirinya---jauh dari Renat---tetap bertahan dengan ekspresinya sendiri. "Ngerti apa?" Abi bertanya, mencoba menantang Renat.
"Kalau aku bisa bahagia bareng kamu. Aku cinta kamu, Bi."
Abi tertawa, namun terdengar seperti remehan di telinga Renat. "Nggak seharusnya kamu bilang cinta ke aku padahal jelas-jelas kita udah selesai, kan?"
"Bi." Renat mencoba untuk menyangkal, langkah kakinya pun mencoba maju walau pada akhirnya ia berhenti untuk melangkah. "Aku pengen kita sama-sama lagi. Maafin aku, Bi. Aku bener-bener salah malem itu."
"Nggak usah ngelakuin inilah, Re." Abi masih mencoba bertahan pada pendiriannya.
Namun Renat pada akhirnya berlari, melompat pada pelukan Abi sehingga pria itu harus sigap menopang tubuh Renat. Disembunyikannya wajah pada lekuk leher Abi, terisak disana. "Aku sayang Abi."
"Jangan kayak gini, Re." Abi mencoba melepaskan Renat, tetapi sulit.
"Maunya kayak gini terus aja, sama Abi. Aku kangen Abi pokokya."
Abi menghela napas berat, merasa semakin dipermainkan. Masih dengan raut dan nada yang sama---datar---Abi bertanya. "Mau kamu apa sekarang?"
"Nikah sama kamu!" jawab Renat tanpa ragu. Sedang Abi, entah mengapa ada rasa tidak puas dan aneh di dalam dirinya kala Renat mengatakan itu.
♦ r e t u r n ♦