10. Kejutan

2904 Kata
"Stay." I whispered, as you shut the door behind you. [ R u p i K a u r ] Udara dingin Seoul kembali menyapu lembut wajah Renat---menemani perjalanan wanita itu menuju Bandara Incheon. Diantar oleh Tae Joon dengan mobil miliknya, Renat dan sang mama tentu saja merasa sangat berterimakasih. Sementara Zahwa akan datang sendiri, si cantik asal Semarang itu juga sudah dalam perjalanan menuju bandara. Dengan kaca mobil yang sengaja Renat turunkan, ia bisa menatap dengan jelas gedung-gedung tinggi milik Seoul. Renat tampak menikmati perjalanan singkat tersebut. Namun ketika mobil yang dibawa Tae Joon melewati jembatan panjang yang menjadi penghubung karena dipisah oleh Sungai Han, sekelabat kenangan bersama Abi kembali muncul. Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka mendatangi Sungai Han walau tidak lama. Renat bahkan masih ingat bagaimana Abi mencium lama puncak kepalanya. Hangat, seolah-olah tengah menunjukkan segala rasa sayang yang ia punya untuk Renat. Walau keadaan Renat sudah tampak segar dari kemarin, tapi tetap saja, ia tidak bisa memungkiri bahwa jantungnya tengah berdetak tidak karuan kini. Renat sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Sebab ia yakin akan ada pelangi setelah hujan deras disertai petir. Cukup kemarin air matanya terus mengalir tanpa bisa dikontrol untuk berhenti. Hari ini, tidak lagi. Tidak akan.  Renat memperbaiki duduk, menatap paspor beserta tiket pesawat yang sejak tadi sudah ia genggam. Selain Abi, ada hal sebenarnya yang membuat Renat juga takut. Yakni, bertemu papa. Setelah sekian lama hanya dapat berkomunikasi lewat ponsel, akhirnya Renat memiliki lagi kesempatan untuk bertemu sang papa. Semalaman mereka kembali menghabiskan waktu dengan bertelepon. Papanya juga terdengar begitu bahagia. "Semalam ngobrolin apa aja sama papa kamu, Re?" tanya sang mama dari jok belakang, bertepatan sekali ketika Renat tengah memikirkan sang papa. Renat menggeleng dengan tatapan tetap ke depan. "Ya itu, semuanya. Tentang mama, tentang Re, gimana Seoul akhir-akhir ini. Emangnya Mama telfonan sama papa berapa kali seminggu, sih?" Kini Renat kembali menyerang sang mama dengan guyonan yang sudah sering ia tembakkan. Gita terlihat merengut dengan tanya putrinya, "Enak aja berapa kali seminggu. Sekali sebulan udah cukup." Renat tertawa dengan jawaban mamanya. Terlebih merasa geli jika semua perlakuan sang mama kepada papa. Renat seakan sadar bahwa semuanya sudah lama sekali berlalu. Bagaimana dulu ia hancur sebab perpisahan kedua orangtuanya. Dan Abi yang tiba-tiba muncul menawarkan segala kepeduliannya untuk Renat. Tidak sadar, bahwa nyatanya waktu begitu cepat berlalu. Sekarang mungkin Renat dapat melihat senyum puas sang mama secara utuh. Jangan tanya ketika dulu, sebab Renat sendiri juga takut membayangkannya. Senyum dan tawa palsu, semangat yang dipaksakan, mencoba kuat walau nyatanya tidak seperti itu. Dan Renat tahu bahwa sang mama berjuang keras seperti itu hanya supaya Renat tetap berpikir bahwa ia akan aman bersama sang mama. Padahal begitu jelas, kala malam, Renat yang baru tiba di rumah sebab harus mengikuti les terlebih dahulu acap kali mendengar isak tangis dari dalam kamar sang mama. Itulah, mengapa Renat begitu takut akan pernikahan. Jika pada akhirnya hanya akan saling menyakiti, lantas untuk apa dilakukan? Renat hanya takut hal tersebut akan terjadi padanya, persis bagaimana sang papa menghianati mama dulu. Perihal jodoh, rezeki, hingga maut, manusia mana yang bisa menentukan? Mungkin Abi akan terus mencintainya hingga detik sekarang, namun satu detik kemudian dan selanjutnya? Siapa yang akan tahu. Itu hal yang memang Renat khawatirkan hingga dirinya kesulitan untuk menemukan keyakinan. Sebab ketakutan terbesarnya adalah; ditinggalkan. Namun pada akhirnya, sebuah senyum mungil datang memberikannya semangat serta keyakinan untuk mengejar kembali seseorang yang mungkin memang diciptakan Tuhan untuk melengkapinya. Renat ingin semuanya akan terus berjalan lancar tanpa adanya perpisahan atau apapun yang begitu Renat harapkan tidak terjadi. "Oh iya, Ma," ujar Renat sembari balik badan untuk melihat mamanya. Melirik Tae Joon sesekali dan kembali menggunakan bahasa Indonesia seperti biasa. "Re mimpi. Di dalam mimpi Re ada anak perempuan cantik lagi lari-lari di bawah pohon waktu musim semi. Dia ngelambai tangan ke Re. Seolah-olah, Re ibunya dia." Gita terlihat terkejut walau tatapannya penuh akan haru. Pikirannya sibuk menebak apa arti mimpi milik Renat. Entah mengandung sebuah maksud atau hanyalah bunga tidur. Tapi apapun alasannya, Gita pikir memang mimpi tersebut yang membuat putrinya yakin untuk mengambil pilihannya kini. Benar saja, cara orang untuk bangkit tentu berbeda. Sepanjang apapun Gita mencoba menasehati Renat, nyatanya hal tersebut tidak berpengaruh banyak. Dan mimpi Renat berhasil. "Terus gimana anaknya?" tanya Gita terlihat penasaran. "Lucu. Pakai dress kuning, putih terus badannya bulet gitu loh, Ma. Pipinya apalagi. Rambutnya yang kayak jamur, tebel warna hitam. Ada poni. Re inget banget dia lari-lari pakai sepatu karakter beruang warna putih." Mata Renat kembali berkaca-kaca sebab ingat dengan gadis kecil di dalam mimpinya. Untuk saat ini, biar hanya mamanya yang tahu perihal mimpi indah tersebut. "Mirip kamu nggak? Atau malah mirip Mama?" Renat mencibir, "Enak aja. Ya mirip Re, lah!" "Ketawanya mirip siapa?" "Enggak inget. Re padahal penasaran banget ketawanya dia bakalan mirip Re atau mirip si ayah." "Emang di sana nggak ada ayahnya?" Renat menggeleng sembari melipat bibir, "Re pikir cuma ada Re sama si kecil deh, Ma. Nggak ada siapa-siapa lagi." Sementara Tae Joon yang sejak tadi mendengar hanya dapat menerka-nerka apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Renat dan mamanya. Dari seluruh percakapan tersebut, tidak satupun kata lengket di dalam kepala Tae Joon. Dia pikir memang perihal serius bila dinilai dari raut wajah Renat. "Bibi Gita, akan sampai kapan di Jakarta?" Tae Joon mulai membuat obrolan saat memiliki celah. "Ah, Bibi pikir akan sedikit lebih lama. Tapi akan Bibi sempatkan kembali kesini beberapa kali nanti." Gita berbicara dengan nada teratur. Han Gul wanita itu benar-benar terdengar lancar. Memiliki darah Korea yang turun dari ibunya memang membuat Gita sudah paham dasar Han Gul sedari kecil. Tapi walau begitu, tidak sekalipun ia berbicara memakai Han Gul bila bersama Renat, alasannya agar putrinya tersebut tetap terbiasa dengan Bahasa Indonesia. "Berarti memang akan begitu lama di sana, Bi?" tanya Tae Joon lagi. Jika tidak mengingat seperti apa pekerjaannya akhir-akhir ini, Tae Joon mungkin akan memutuskan untuk ikut ke Jakarta. Melihat bagaimana kota kelahiran Renat terdengar menyenangkan. "Masih belum bisa diperkirakan, Tae Joon-ah. Tapi jika Renat, mungkin akan menetap di sana untuk beberapa waktu. Itu terserah padanya. Bibi sendiri memutuskan untuk pulang sebab ingin melihat rumah." Tae Joon terlihat mengangguk, kini diliriknya Renat yang sibuk bertukar pesan bersama Zahwa. "Zahwa jadi ikut dengamu?" Renat mengangguk, "Aku sudah bilang jangan ikut. Tapi Zahwa bersikeras untuk tetap ikut karena takut aku berbuat sesuatu yang aneh. Padahal aku tidak begitu." "Apanya yang nggak gitu? Sampai nggak mau keluar dari kamar kamu pikir nggak aneh?" Renat melotot ketika sang mama ternyata merespon dengan menyemprot sebal. Tae Joon tertawa, membuat wajah manis pria itu semakin bersinar. Renat sendiri mengakui, bahwa sebelum mereka sempat menjadi teman, Tae Joon termasuk ke dalam daftar pria yang diam-diam sering ia perhatikan. Sampai pada akhirnya Renat memiliki kesempatan untuk mengenal Tae Joon dan hubungan mereka semakin naik menuju sahabat dari hari ke hari. "Jangan mengulanginya, Nata-ya. Aku sudah bilang padamu beberapa waktu lalu, jangan sampai terluka." "Aku selalu berusaha, Tae Joo-ah." Renat membalas sembari membuang napas panjang. "Hanya saja, dunia sering menunjukkan hal berbeda dari apa yang kita harapkan. Untuk menyikapinya dengan kuat, itu yang belum aku bisa sampai sekarang." "Aku harap priamu itu tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang kamu lakukan. Sebab jika begitu, aku mungkin harus terpaksa memberikan pukulan keras di wajah dan perutnya." Renat meringis, "Aku harap juga begitu." Selama sisa perjalanan, Renat, Tae Joon, dan sang mama kembali membunuh sepi dengan obrolan dan guyonan ringan. Selang beberapa menit kemudian, mereka tiba di bandara dan Tae Joon segera mencari parkiran. Renat turun dari mobil dan Tae Joon sendiri juga sudah siap siaga mengeluarkan koper Renat dan mamanya. Dengan rok putih mengembang hingga lutut dipadu dengan sweater warna kuning lembut yang terlihat begitu lucu, Renat mendorong koper miliknya dengan pelan sedang Tae Joon membawa koper Renat yang lainnya. Wanita itu benar-benar terlihat seperti remaja yang akan siap untuk terbang libur sekolah. Beruntung saja karena tinggi badannya tidak seperti anak SD, atau Renat akan benar-benar diduga sebagai remaja. Sedang Gita kini terlihat sibuk dengan ponsel---entah sedang menghubungi siapa. "Nata!" Renat balik badan dan melihat Zahwa tengah berlari penuh semangat ke arahnya. "Aku pikir aku telat tau nggak!" "Telat bangun lagi kamu?" tanya Renat terdengar seperti tuduhan. "Yaiyalah. Aku begadang buat packing barang." Zahwa tersentak ketika Tae Joon berjalan mendekat ke arahnya dan tanpa peringatan memberikan Zahwa sebotol air mineral. "Minumlah! Lihat keringatmu, Zahwa-ya. Kamu seperti habis dikejar oleh anjing bosmu sendiri." "Aku tidak bisa melihatnya, Tae Joon-ssi!" ujar Zahwa dengan nada lebih menyolot. Sengaja pula memanggil Tae Joon dengan tambahan 'ssi' agar pria itu tersindir dengan sikap Zahwa yang terlampau sopan. "Lagipula, Tae Joon-sii, keringat di wajah tidak bisa dilihat jika tidak dengan cermin." "Mari, aku antarkan kamu untuk membeli cermin terlebih dahulu. Bagaimana, Zahwa-ya?" Zahwa mendelik,"Tidak perlu. Aku cukup menghapusnya dengan tisu dan masalahnya selesai." "Terserahmu," balas Tae Joon tidak lagi mempedulikan Zahwa dan sibuk bersama Renat. Tidak lama lagi, Tae Joon harus siap dengan fakta bahwa ia ditinggalkan. Renat yang awalnya tegang berubah lebih ringan sebab melihat debat kedua temannya itu. Tanpa ragu dipeluknya Tae Joon, menyandarkan dagu pada bahu pria itu. Ketika ia mencoba melepaskan pelukan, nyatanya Tae Joon menolak. Pria itu kembali menarik Renat dalam dekapannya dan mencoba mengingat dengan baik wangi wanita itu. "Jaga dirimu, Nata-ya! Selesaikan urusanmu dengan cepat, lalu kembalilah." Renat mencoba melepaskan diri, menatap Tae Joon dengan pandangan penuh terimakasih. Tanpa Tae Joon, Renat tidak tahu akan seperti apa ia melewati kesehariannya di sini. "Semua yang kamu lakukan untukku dan mama, aku tidak akan melupakannya. Kamu juga jangan lupa untuk memperhatikan kesehatanmu. Makan yang banyak. Baiklah, sampai jumpa, Tae Joon-ah." Renat mencoba tersenyum. Sebenarnya ia juga tidak rela meninggalkan Tae Joon seperti ini, tapi apa boleh buat, Renat harus. "Sampai jumpa, Nata-ya," balas Tae Joon terpaksa. ♦ r e t u r n ♦ Pesawat yang membawa Renat terbang baru saja melandas mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Ia sukses meninggalkan Negeri Gingseng tersebut. Kala di udara pun, Renat tidak dapat menutupi rasa kagumnya terhadap gugusan pulau milik Indonesia. Hal yang sudah begitu lama tidak lagi ia lihat. Zamrud Khatulistiwa seakan memang menyambut kepulangannya---kepulangan siapapun, yang sudah pergi begitu jauh dan tidak pernah kembali untuk rentang waktu yang lama. Renat mengambil ranselnya, siap keluar dari pesawat dan akan kembali mendengarkan bahasa ibunya untuk beberapa waktu ke depan. Dua orang pramugari menyapanya, dan Renat tanggapi dengan senyum singkat sebelum ia benar-benar keluar dari pesawat. Bersamaan dengan sang mama dan Zahwa, mereka berjalan bersamaan. "Wah, udah lama banget ternyata aku nggak balik, ya?" Zahwa bersuara dengan semangat sehingga tas merah jambu yang ia sandang bergerak-gerak lucu. "Iyakan, Wa!" Renat menyetujui dengan cepat. "Aku juga terakhir balik waktu yang Abi ngajakin ketemu mamanya. Yang kita ngedaki Rinjani dulu baru ke Jakarta." Zahwa mengangguk dengan pandangan melihat kiri kanan. Wajah-wajah khas Indonesia kembali ditemuinya dengan mudah. "Aku juga balik nggak sering. Terakhir balik dua tahun lalu kayaknya." "Parah sih kita keenakan di negara orang." Zahwa mencibir, "Siapa suruh disana banyak oppa-oppa ganteng. Betah, deh!" Rena tertawa karena guyonan tersebut. Di umur yang sudah menginjak kepala dua, Renat dan Zahwa masih acap kali menghabiskan waktu menjadi seorang penggemar dari artis-artis Korea Selatan. Seakan lupa dengan umur, mereka tidak peduli kala uang yang mereka cari dihabiskan untuk membeli tiket konser, barang-barang lucu yang berhubungan dengan si artis, atau sekedar album yang sebenarnya tidak tahu akan mereka apakan. Namun Renat tidak seberuntung Zahwa yang sudah pernah mendapat kesempatan untuk pergi ke acara jumpa idola dimana disana ia dapat berinteraksi langsung dan mendapatkan tanda tangan. "Jangan bilang kalau kemarin kamu nyempetin pergi ke SM Town dulu?" tebak Renat dan Zahwa sukses nyengir lebar. SM Town COEX Artium, merupakan salah satu tempat yang Renat dan Zahwa jadikan tempat bila sudah lelah sekali dengan urusan pekerjaan. Menghabiskan uang di sana seakan membayar seluruh letih di kepala kedua wanita itu. "Sekalian beliin oleh-oleh buat sepupuku yang suka banget sama Korea, Re." Renat hanya mengangguk walau bibirnya tetap mencibir. "Nggak ajak-ajak, sih? Padahal aku juga mau ikutan." "Daripada ngikut mending kamu pikirin aja caranya ngebujuk Abi biar nggak ngambek lagi." Zahwa menyambar. "Lagian laki kok mainnya ngambek sama kabur-kaburan." "Hus," celetuk Renat akan emosi Zahwa yang lagi-lagi keluar. Walau terlihat lembut di luar, Zahwa memang tidak bisa menahan emosi ketika tahu Renat ditinggalkan tanpa ucapan apa-apa. "Ya aku bukan sepenuhnya ngebelain kamu juga, Re. Tapi laki-laki yang langsung kabur gitu aja, nggak pernah nanggepin telfon kamu, nggak jawab pesan-pesan kamu, kamu pikir nggak jahat? Awas aja sih dia ngehindar lagi kalau liat kamu. Aku nggak bakal diem aja." "Udah, sabar." Renat menepuk-nepukkan tangannya pada bahu Zahwa, berharap temannya itu lebih tenang. Renat memilih diam, begitupun Zahwa yang yang kini lebih peka pada perubahan Renat. Semantara Gita yang mendengarkan percakapan mereka hanya diam dan tidak mau berkomentar banyak. Nasehatnya lebih baik di simpan untuk waktu di depan daripada sekarang. Beberapa lama berfokus mengikuti prosedur dan aturan, mereka akhirnya selesai dan kemudian dengan cepat mencari taksi. Renat meraih ponselnya, mencari kontak Abi dan menekan lambang telepon. Berharap bahwa pria itu mau menjawabnya. "Nyambung?" tanya Zahwa di sebelah Renat yang sibuk menatap supir taksi dengan koper-koper milik mereka. Hanya memastikan koper tersebut diletak rapi. "Nyambung, sih, tapi ya gitu." Renat menghela napas berat, menatap layar ponselnya sedikit putus asa. "Nggak diangkat lagi." "Telfon pakai HP aku aja deh dicoba," tawar Zahwa dan sudah mengeluarkan ponsel miliknya. Renat menerimanya, kembali mencoba menghubungi Abi. Tapi tetap saja, tidak ada jawaban. "Abi pasti tau kalau aku coba hubungin dia lewat HP kamu." Zahwa ingin sekali mengutuk, tapi ditahannya karena tidak ingin Renat sedih. "Kita ke rumah Abi, gimana?" "Tunggu deh aku hubungin Bia dulu," ujar Renat sembari masuk ke dalam taksi disusul Zahwa, sedang mamanya sudah masuk dari tadi. "Adiknya yang model itu?" tanya Zahwa dan Renat mengangguk. "Gila ya, kita kalau dibandingin sama adiknya gimana ya, Nat. Cantik, model terkenal pula. Dia masih tinggal di London?" "Masih," jawab Renat. "Dia keliatan ngeintimidasi gitu emang cuma kalau di kamera doang. Kalau ketemu langsung kamu pasti linglung liat dia aslinya baik, ramah, banyak ngomong---eh, halo?" Zahwa duduk lebih tegap ketika tahu panggilan Renat diterima oleh Bia. "Iya nih, Bi, Teteh baru aja sampai di Jakarta." "Teh, maafin Aa ya udah giniin Teteh. Terus Teteh mau nemuin Aa sekarang atau gimana?" "Iya, Bi, sekarang. Bia tau A Abi dimana?" "Yang Bia tahu Aa sempet ke Bandung beberapa hari lalu bareng Victor. Tapi kayaknya udah balik ke Jakarta terus stay di hotel. Abis ini Bia send location hotelnya ke Teteh. Tapi Bia nggak bisa bantu nomor kamar yang Aa tempatin ya, Teh. Si Victor nggak mau kasih tau." Renat tersenyum puas sembari terkikik geli, "Makasih banyak ya, Bi, udah bantuin Teteh. Ngomong-ngomong itu coba deh panggil Victor pakai Aa. Kamu kalau udah sama Victor bawaannya kesel mulu sampai nggak pernah mau panggil dia Aa." "Nggak akan, Teh!" jawab Bia dan tawa Renat kian keras. "Yauda ya, Teh, Bia tutup dulu abis ini langsung Bia send." Renat memutuskan sambungan seraya membuka aplikasi chat untuk menunggu kiriman dari Bia. "Seriusan itu suaranya Bia, Nat?" Zahwa bersuara tidak percaya. "Aku tadi mikirnya kalian bakalan bicara pakai Bahasa Inggris terus dia pamerin aksen Britishnya. Taunya gitu, pakai embel-embel Teteh pula. Gila keren banget." "Wa, udah ya? Alai kamu kurang-kurangin sedikit." Renat menatap ponsel setelah bersuara pada Zahwa. Dilihatnya pesan yang masuk dari Bia, kemudian diberi tahunya kepada supir taksi. Renat menghela napas, setelah ini dia harus lebih kuat. ♦ r e t u r n ♦ Renat memegangi jantungnya yang menggila. Dia sudah sendiri sekarang sebab akan lebih baik bila sang mama dan Zahwa tidak ikut. Kaki yang ditemani oleh boots hitam setinggi betis tersebut mulai berjalan dengan yakin menuju meja resepsionis. Renat berdehem, ketika resepsionis tersebut menunjukkan senyum manisnya sembari menyapa Renat dengan formal. "Sore." Renat membalas singkat, kemudian mencoba menyalakan ponsel dan tersenyum pada wanita di depannya. "Ah, saya mau cari tamu yang namanya Abirayyan." "Maaf?" "Saya---" Renat dengan cepat mengulurkan ponsel untuk memperlihatkan gambar dirinya bersama Abi. Dia tahu bahwa dirinya akan berdosa bila mengatakan hal selanjutnya. "Saya calon istrinya." Resepsionis tersebut awalnya terlihat ragu, namun pada akhirnya memberitahukan nomor kamar Abi. Lagipula, sulit saja rasanya untuk curiga pada Renat dan menganggap wanita itu orang jahat. Renat berterimakasih. Lalu buru-buru menuju lift yang beruntungnya langsung terbuka. Ditekannya lantai yang akan dituju, kemudian sibuk memegangi jantungnya kembali. Ting! Renat sukses tersentak dan rasanya benar-benar sulit untuk sekedar menelan saliva. Pelan ia mencoba keluar dari lift dan melihat nomor kamar yang ia lewati. Untuk sesaat Renat terpaku bahkan betisnya terasa seperti jeli. Renat pikir dia akan segera jatuh, membayangkan Abi ada di balik pintu dan tertidur lelap membuat badan Renat seketika berubah hangat. Dalam hati, ia terus merapalkan doa. Diberanikannya diri untuk mengetuk pintu. Dan berbagai dugaan muncul di benaknya. Pertama, Abi tahu dirinya datang dan ia juga enggan membukakan pintu. Kedua, Abi sedang keluar. Tetapi, baru akan kembali mengetuk, suara lift yang terbuka refleks membuat Renat menoleh. Seketika Renat membeku, begitupun dengan pria yang kini hanya berjarak beberapa langkah di depannya. Abi berdiri di sana, dengan ponsel yang nyatanya terus berada di tangan pria itu. Kantung makanan di tangannya yang lain seakan-akan menjelaskan darimana Abi datang. Namun bukan hanya Abi yang membuat Renat terkejut, melainkan seorang wanita yang sejak tadi juga berdiri di sebelah Abi. Renat pikir wanita itu hanyalah orang asing, namun ia tidak juga kunjung pergi dan malah ikut-ikutan berhenti di samping Abi sembari melihat Renat penuh tanya. "Abi," panggil Renat pelan. Sedang berbagai tuduhan jelek terhadap Abi muncul begitu saja di kepalanya. ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN