"Don't you ever try to leave without me," you said. But at the end, you're finally gone. And leave me all alone.
♦ ♦ ♦
Detik jarum jam seakan bergerak lamban. Bahkan suaranya dapat terdengar begitu jelas di dalam kamar sunyi yang kini penuh akan luka. Seperti halnya bertahun-tahun lalu, Renat terpaksa harus menanggung apa yang ia pilih. Dulu Renat terluka disebabkan ketidakjujuran dirinya sendiri, dan kini Renat terluka akan ketidakyakinan yang awalnya tidak bisa ia temukan.
Penyesalan itu datang dan menertawakannya tanpa ampun. Sudah dua hari Renat memilih berada di dalam kamarnya, tanpa satupun kabar berita yang ia dapatkan mengenai Abi. Hari ini, untuk sekedar menjangkau ponsel di atas meja nakas rasanya Renat tidak sanggup. Wanita itu benar-benar terlihat hancur dan kacau.
Jari telunjuk milik tangan kanannya sibuk mengetuk-ngetuk perut---terlihat bahwa ia tengah berpikir di sela pandangannya yang kosong menatap langit-langit kamar. Lima menit kemudian, Renat menghadap ke arah kanan. Meringkuk persis bayi dalam kandungan.
Keyakinan yang Renat cari selama ini ternyata datang begitu lambat. Jika saja Abi tidak pergi hari itu dan masih bersabar untuk Renat, Renat pastikan dia akan menerima Abi tanpa ragu.
Semalam, entah apa yang tengah Renat pikirkan sebelum ia tidur. Sebab ketika terbangun, yang Renat ingat bahwa ia baru saja melewati mimpi menggetarkan. Air matanya pun ikut mengalir kala ia membuka mata. Di dalam mimpinya, ada seorang malaikat kecil cantik dengan dress kuning cerah. Rambutnya terlihat seperti mangkuk dan memiliki poni tepat di atas alis. Anak perempuan tersebut terus saja berlari di bawah indahnya pohon musim semi sembari melambaikan tangan ke arah Renat.
"Kamu siapa?" bisik Renat dalam ringkukannya. Air matanya kembali mengalir mengingat mimpinya semalam.
Entah mengapa, Renat yakin bahwa malaikat kecil tersebut adalah miliknya. Walau ia tidak tahu siapa nama dan siapa ayah dari anaknya tersebut. Sebab Renat ingat jelas, tidak ada pria manapun di dalam mimpinya kecuali ia dan si kecil. Dan yang membuat Renat semakin memiliki keyakinan, sebab si kecil miliknya tampak tertawa bahagia. Seakan-akan tengah mengatakan bahwa ia bahagia memiliki ibu seperti Renat.
Kini, Renat bahkan benar-benar ingin menikah dan menimang seorang anak. Berharap ia dapat bertemu dengan si kecil di dunia nyata. Sebahagia itukah perasaan setiap wanita ketika mereka memiliki anak?
Setelah sekian lama dihantui oleh pikiran negatif akan pernikahan, secara ajaib Renat menemukan keyakinan tersebut. Ia percaya bahwa keluarga kecilnya nanti akan dipenuhi kebahagiaan, bukannya perkelahian aneh yang selama ini Renat pikirkan. Renat tahu, ketika nanti mereka harus hidup berdampingan satu sama lain, mereka tidak akan pernah merasa bosan, melainkan akan terus mengucap syukur atas semua hal yang mereka dapatkan.
"Re." Panggilan sang mama disertai ketukan pada pintu terdengar, namun tampaknya tidak berpengaruh apa-apa pada Renat sebab wanita itu masih bertahan pada posisinya.
Pintu kamarnya terbuka, membuat sepintas cahaya masuk dalam kamarnya yang gelap. Sang mama buru-buru duduk di dekat Renat dan memeriksa suhu tubuh sang putri.
"Mama dapet kabar dari Abiana," ujar mamanya dan Renat sedikit tertarik, ia melihat sang mama berharap mendapatkan lanjutan. "Abi pulang ke Jakarta. Dia nggak balik ke London."
Renat kembali menatap kosong ke depan. Ekspresi wajahnya kian pias kala tahu bahwa tebakannya benar; Abi pulang menuju Jakarta. Renat menghela napas panjang. Sembari menahan kepalanya yang terasa berat, Renat mencoba bangun. Ditunjukkannya senyum samar pada sang mama, sebelum akhirnya mencoba berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
"Re mau ke tempat kerja, Ma." Renat bersuara sebelum benar-benar menutup pintu kamar mandi.
Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar tersebut, Renat berjalan menuju bathup dan duduk disana sembari memeluk dirinya sendiri. Wanita itu tengah memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat ia lakukan. Semisalnya Renat benar-benar menyusul Abi, apakah pria itu akan menyikapinya sama seperti biasanya?
"Abi, aku kangen." Renat bersuara sembari membenamkan wajah dalam lipatan tangannya. Lagi-lagi, ia tidak bisa menahan isakan keras yang keluar lewat mulutnya.
♦ r e t u r n ♦
Renat menatap blouse batik warna coklat yang ia kenakan lewat cermin. Dipadu dengan jeans hitam yang tampak padu dengan corak batik pada blousenya. Diambilnya jam tangan, lalu mengambil tas dan segera berjalan menuju pintu.
"Re, makan dulu," ujar Gita kala melihat putrinya sudah keluar dari kamar.
"Re makan di luar aja, Ma. Buru-buru soalnya." Renat menjawab sembari memakai sport shoes warna peach miliknya dengan cepat. "Oh iya, Ma, Mama berangkat dua hari lagikan ke Jakarta? Pesenin Re tiket juga ya, Ma. Dah, Re pergi dulu."
Gita yang mendengar tuturan tersebut tentu saja terkejut. Namun tidak lagi bisa bersuara untuk sekedar merespon sebab Renat sudah menghilang di balik pintu.
Renat menatap jalanan lurus sembari menggosokkan kedua telapak tangannya. Hidungnya sudah tidak baik sejak kemarin disebabkan oleh flu. Setelah menyelesaikan semua urusannya nanti, Renat akan segera menuju apotek untuk membeli obat.
Renat berjalan secepat mungkin untuk mencari taksi, dia ingin segera sampai di rumah sakit. Setelah mendapatkan taksi, Renat dengan cepat masuk dan duduk setelah menyebutkan alamat yang dituju. Dikeluarkannya ponsel untuk menghubungi Zahwa, berniat mengabari temannya itu untuk mereka bertemu nanti malam.
"Wa, dimana?" tanya Renat dengan bahasa Indonesia fasih.
"Akhirnya kamu nelfon!" Zahwa terdengar lega dan bersemangat. "Kenapa-kenapa? Aku di tempat kerja. Kamu mau aku ke rumah?"
"Enggak," jawab Renat pelan. "Kita ketemu aja ya nanti di resto deket gedung tempat kamu kerja. Jam kamu pulang, jangan lupa langsung kesana."
"Seriusan kamu keluar rumah?"
Renat tersenyum tipis, lalu mengangguk walau Zahwa tidak dapat melihat. "Iya. Yaudah ya, aku lagi jalan ke rumah sakit nih. See you, Wa!"
"See you!"
Renat mematikan ponsel setelah sebelumnya kembali mengecek ada atau tidakkah pesan dari Abi untuknya. Namun harapan memang tinggal harapan, dia sudah mengira bahwa abi tidak akan pernah menghubunginya lagi.
Sepuluh menit yang singkat, akhirnya Renat tiba di depan rumah sakit tempat ia bekerja. Wanita itu buru-buru masuk dan menyapa setiap orang yang ia kenal. Renat harus terbiasa setelah ini. Sebab tidak akan ada lagi suasana seperti ini di Jakarta nanti. Sebagaimanapun ia tumbuh dan tinggal di Jakarta dulu, rasanya Seoul masih berada di urutan pertama untuk membuat kesan bagi Renat. Ia terlalu cinta dan nyaman untuk tinggal di sini. Semuanya, hampir semuanya, bisa Renat dapatkan dengan mudah baik secara sendiri atau dengan bantuan orang lain.
"Nata-ya!" panggil seorang teman dan Renat refleks menoleh. "Apa yang membawamu datang kemari? Aku dengar kamu jatuh sakit sejak kamu datang terlambat kemarin. Bagaimana? Sekarang sudah membaik?"
Renat mengangguk dengan senyuman, "Aku memang sakit, Bo Na-ya! Tapi setidaknya, aku harus mencoba datang di hari terakhir aku bekerja di sini, kan?"
"Ya?" Bo Na, menegur Renat seakan-akan wanita itu sudah salah dalam berbicara. "Kamu ingin pergi? Kenapa mendadak sekali."
"Aku akan pulang ke Indonesia, Bo Na-ya."
"Benarkah? Apa ada masalah?"
Renat menggeleng dengan senyum terlihat tulus. "Tentu tidak. Hanya saja, aku harus bertemu seseorang."
"Pacarmu, ya?" Bo Na tertawa walau ia hanya asal menebak. Renat pun membalas dengan tawa ringan. Sudah seperti itu kebiasaan di sini, atau mungkin dimanapun. Pertanyaan yang kerap keluar dari orang lain kadang kala bukan menunjukkan bahwa mereka benar-benar peduli. Namun hanya basa-basi semata. Pun ketika mereka menanyakan kabar. Bukan berarti mereka ingin tahu, tapi memang sudah seperti itulah kebiasaan menyapa mereka.
"Kalau begitu aku permisi, aku harus cepat-cepat mengurus sesuatu."
Bo Na mengangguk, "Hati-hati, Nata-ya!"
Renat lanjut berjalan menuju bagian kantor dari rumah sakit. Buru-buru menuju ruangan dimana karyawan lain terlihat fokus di meja kerja mereka.
"Annyeonghaseo!" Renat menyapa seraya menundukkan badan. Membuat orang-orang di sana menatapnya sedikit kaget. "Maaf aku begitu terlambat."
"Apa yang terjadi, Nata-ya? Kenapa tiba-tiba datang?"
Renat meringis, "Aku akan memberitahumu nanti, Minho Sunbae."
Renat segera menuju meja miliknya, menyalakan laptop dan mulai berkutat dengan benda tersebut. Padahal, Renat tidak pernah sekalipun membayangkan dirinya akan duduk di sini dan sibuk membuat surat pengunduran diri. Namun pada akhirnya, ia melakukannya.
♦ r e t u r n ♦
Renat berjalan beriringan dengan Tae Joon yang kini memegang box berisikan barang-barang milik Renat dari tempatnya bekerja. Pria itu benar-benar tidak percaya akan apa yang baru saja menimpa Renat. Terlebih, pilihan wanita itu kini sedikit banyak membuat Tae Joon tidak rela.
"Kamu akan berangkat besok?" tanya Tae Joon dengan nada takut-takut. Dia ingin agar Renat tidak pergi.
"Iya," jawab Renat terdengar pasti. "Kamu datang?"
"Mengantarmu ke bandara?" tanya Tae Joon lagi.
"Apalagi?"
"Entahlah. Mungkin jadwalku akan penuh besok."
"Ya! Kamu harus mengantarku, Tae Joon-ah! Aku tidak mau mendengar alasan apapun. Kamu harus datang."
"Kenapa? Akan lebih baik aku tidak ikut agar aku tidak perlu repot-repot mencegah kepergianmu, Nata-ya!"
Renat mengernyit, merasa ada yang aneh dari perkataan Tae Joon. "Maksudmu?"
"Aku ada pekerjaan besok. Jadi tidak bisa mengantarmu."
Tae Joon mencoba menatap ke arah lain sebab tidak ingin menatap mata Renat. Dia tahu dia bisa saja berbicara jujur akan perasaannya malam ini. Tapi tidak disaat ia tahu fakta bahwa seorang Abirayyan ternyata sudah melamar Renat lebih dulu. Tae Joon tidak akan pernah menghancurkan impian wanita di sampingnya hanya karena perasaan yang tumbuh dalam hatinya. Entah dimulai sejak kapan, Tae Joon sendiri tidak tahu jawabannya.
"Ayolah, aku bahkan tidak tahu kapan pastinya akan kembali ke sini. Kamu benar-benar lebih memilih pekerjaanmu, ya?"
Tae Joon menoleh, menatap Renat yang kini tengah mencibir sebal. Renat sendiri benar-benar mengharapkan keberadaan Tae Joon beserta Zahwa besok hari. Tidak peduli seperti apa teman-teman kantornya membuat perayaan kecil bagi Renat tadi, yang Renat ingin agar kedua sahabatnya ini dapat mengantarkannya besok ke bandara.
Sebenarnya masih terasa seperti mimpi. Renat lepas dari pekerjaan yang begitu ia senangi. Menjadi karyawan dengan gaji tinggi di sebuah negara maju, siapa yang akan menolaknya? Renat pikir tidak ada.
Jika saja ini bukan perihal Abi atau sesuatu yang menyangkut masa depannya, Renat tentu lebih memilih bekerja terus menerus dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Untuk apa dia menghabiskan waktu menjadi seorang istri sedang dirinya bisa berkeliling dunia dan hidup bebas seorang diri?
Namun semua jawabannya, ada pada mimpi Renat malam tadi. Malaikat kecil itu lebih menggetarkan daripada apapun di dunia ini. Dan ia benar-benar berhasil mematahkan keyakinan Renat tentang buruknya sebuah pernikahan. Dia alasan kuat mengapa Renat melakukan ini semua.
"Baiklah." Tae Joon bersuara, membuat Renat dan lamunannya terpecah. "Aku akan datang."
Renat tersenyum, kemudian dengan semangat mengambil tangan Tae Joon dan mereka pun melakukan highfive.
"Kalau begitu ayo! Zahwa sudah menunggu kita!"
♦ r e t u r n ♦