8. Pertemuan

1214 Kata
Pukul tiga siang waktu Indonesia bagian barat. Seorang pria tampak mengambil koper miliknya sebelum berjalan menyusuri bandara menuju pintu keluar dimana sebuah mobil sudah menunggunya sejak tiga puluh menit lalu. Abi, dengan wajah minim ekspresi lagi-lagi menurunkan letak topi hitam yang ia pakai. Terlihat jelas bahwa ia sedang malas untuk menunjukkan wajah pada dunia. Diraihnya ponsel dari dalam saku jaket, kemudian menyalakannya setelah sejak tadi ia mematikan benda tersebut secara total. Sembari menunggu ponselnya, Abi mencoba menyisir keadaan sekitar. Jujur saja, Abi tidak tahu pasti mobil apa yang datang menjemputnya. Hingga pada akhirnya, kedatangan pria lain membuat Abi sedikit bernapas lega. Untung saja ia ditemukan. "Mana mobil lo?" tanya Abi datar, sesekali melirik ponsel dan sibuk menggeser layar. Victor, dengan ekspresi penuh tanya tidak ingin melepaskan Abi begitu saja. Sebab pria tersebut harus rela berangkat dari Bandung menuju Jakarta karena Abi memintanya untuk menjemput. "Lo nggak mungkin suruh gue jemput lo jauh-jauh begini kalau nggak ada masalah." "Udahlah," ujar Abi malas, "mobil lo mana?" Walau dalam keadaan dongkol sebab Abi tidak menjawab dengan baik pernyataannya, Victor tetap memilih meraih koper milik Abi dan mengajaknya menuju mobil. Sementara Abi tengah sibuk dengan ponsel, menatap banyaknya panggilan dan pesan yang masuk lewat sebuah aplikasi chat. Bukan sebuah pilihan mudah untuk Abi dengan begitu saja meninggalkan Seoul, terlebih tanpa berpamitan terlebih dahulu. Ia memiliki banyak alasan untuk dapat pergi begitu saja. Kala mengingat kembali setiap penolakan yang diberi seseorang untuknya, Abi merasa bahwa dirinya sangatlah buruk. Abi sudah melakukan segala hal yang ia mampu. Tapi tetap saja, tidak ada penghargaan yang ia dapatkan dari itu semua melainkan sebuah penolakan telak. Mendengarkan seseorang yang dulu ia anggap wanitanya mengatakan bahwa pernikahan tidak pernah menjadi tujuan hidupnya, membuat Abi seperti diinjak berulang-ulang. Ia kesakitan, sejujurnya. Dan Abi pikir, cara untuk melupakan segala rasa sakit tersebut hanyalah dengan pergi dan tidak pernah berurusan lagi. Itu kenapa Abi tidak akan mau menerima setiap panggilan yang masuk pada ponselnya, atau membalas beratus pesan yang sibuk mengungkap maaf. Abi tidak butuh ucapan maaf. Abi hanya ingin diterima sebagai seorang pria yang memang tengah diharapkan oleh wanitanya. Tapi Renat, wanita itu benar-benar berhasil meluluhlantakkan ego Abi sebagai seorang pria. Dua kali Abi meminta, dua kali pula Abi mendengar penolakan. Lalu jika begitu, untuk apa saling mempertahankan dan berpegangan tangan seakan-akan mereka memang satu tujuan? Melepaskan, sepertinya memang sudah jalan terbaik yang bisa Abi lakukan dan Renat harus menerima. "Bi," panggil Victor untuk kesekian kali sebab Abi tidak kunjung menjawab. "Lo kenapa, sih? Kenapa jadi mendadak aneh gini?" "Anterin gue ke hotel aja, Vic." Abi bersuara, walau bukan untuk menjawab pertanyaan Victor. "Jangan bikin gue stop mobil di sini ya, Bi. Daritadi gue nanyain tapi nggak dijawab apa-apa." Abi menoleh, menatap Victor karena merasa bahwa ia sedang diancam secara konyol. "Lo ngancem gue? Yaudah berhenti. Gue bisa sendiri." Victor memejamkan mata, merasa akan gila jika setiap Abi seperti ini. "Gue anterin lo ke hotel, ok? Sampai di sana, lo cerita semuanya ke gue. Lengkap." Abi tidak menjawab, melainkan memilih mematikan ponsel dan menunduk sebab ia ingin tidur. Setelah di pesawat hanya melamun seperti anak remaja labil, tenaganya seperti terkuras habis. Namun walau sudah menutup mata, berbagai kata yang diawali jika selalu menyapa kepalanya. Jika saja Abi diterima, mungkin ia tidak akan secepat ini menuju Jakarta. Tentunya, tidak akan seorang diri. ♦ r e t u r n ♦  Wajah Victor terlihat tegang. Membayangkan hal-hal yang tampaknya hanya dapat terjadi dalam drama-drama tontonan maminya, ternyata terjadi pada hidup sahabat baiknya. Bagaimana pula seorang Renat yang Victor pikir begitu mengagungkan cinta, sanggup menolak seorang pria yang sudah berjuang untuknya. Rasa-rasanya, itu sangat egois dan tidak berperasaan. Mungkin, jika Victor ada di posisi Abi, ia tidak akan sesanggup pria itu untuk menghadapi kenyataan bahwa dirinya ditolak. Victor mungkin tidak hanya pergi meninggalkan Seoul, tetapi lebih parah lagi, mengutuk wanita yang sudah menolaknya habis-habisan sebelum akhirnya menutup buku. Ah, jika dipikir-pikir, Victor memang termasuk dalam deretan laki-laki kasar. Padahal, jika hal itu memang terjadi padanya, entah ia akan benar-benar mengutuk atau malah menangis dalam pelukan Abi. Abi yang baru saja menyelesaikan ceritanya memilih melompat ke arah tempat tidur. Beruntung saja bahwa Victor memang sabar menunggu Abi sampai pria itu ingin bercerita. Jadilah, setelah mandi, dengan secangkir teh untuknya, dan segelas s**u untuk Victor, Abi mulai bercerita. "Terus lo mau sampai kapan di sini?" tanya Victor menatap Abi dari sofa tempat ia duduk. Abi membuka mata yang baru saja ia tutup, ditatapnya Victor sembari berpikir. Abi sendiripun tidak tahu sampai kapan ia akan tinggal di sini. Bahkan keluarganya pun belum tahu mengenai kepulangan Abi. Pria itu memang terlampau malas untuk berhubungan dengan siapapun kecuali Victor. Jika tidak dengan Victor, mungkin Abi sudah gila sebab menanggung semuanya sendiri. "Seminggu?" jawab Abi dengan nada bertanya. "Atau, lo balik ke Bandung lagi nggak? Gue ikut lo aja." "Gue di Bandung kan karna disuruh kantor. Nanti malam juga udah meeting terakhir. Besoknya langsung balik lagi ke Jakarta. Lo tetep mau ikut?" Abi bangun dari posisinya, meraih ponsel, dompet, dan ransel sebelum akhirnya mengajak Victor keluar. Tidak peduli dengan kaus hitam serta celana santai selutut yang tengah ia pakai sekarang. Dengan ringan, Abi kembali mengenakan topi hitamnya. "Besok anterin gue kesini lagi." Victor yang berjalan mengikuti langkah Abi menuju lift hanya mampu menghela napas keras. Apa saja yang pria itu lakukan, selagi bukan hal gila, maka akan Victor sanggupi. Abi yang lebih dulu masuk ke dalam lift tidak sekalipun ingin menatap Victor. Dia sudah terlanjur lelah menanggapi berbagai pertanyaan-pertanyaan Victor yang memang menguras emosinya. Jadilah, dalam hening yang melingkupi mereka, Abi memilih menunduk. Lift mereka terbuka. Abi refleks mendongak untuk melihat ke depan. Tapi bukannya menyusul langkah Victor untuk keluar bersama, Abi masih sanggup bertahan pada posisinya sebab pandangan yang terkunci oleh sepasang mata wanita. Ini seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Dan Abi menyesal sebab memilih keluar dari kamar jika pada akhirnya ia bertemu dengan wanita di hadapannya pada detik ini. "Bi?" panggilan Victor membuat Abi tersadar. Wanita di depannya juga terlihat salah tingkah. Tapi Abi berusaha untuk tetap mengendalikan suasana dan membuang pandangan. Ia menatap Victor dan mencoba santai ketika melewati wanita tersebut. Victor yang sadar akan adanya keganjilan di antara Abi dan wanita tersebut hanya dapat bertanya-tanya dalam kepalanya sebelum nanti kembali meluncurkan tanya pada Abi. Siapa wanita itu, dan kenapa Abi sampai terdiam tidak berkutik ketika mereka saling tatap. Tidak mungkin Abi jatuh cinta, bukan? Sebab itu akan menjadi hal paling konyol dan Victor tidak akan mengizinkan. Baginya, seburuk apapun Renat dalam menyikapi lamaran Abi, ia tetaplah wanita yang terlihat pantas menjadi pendamping untuk Abi. Tidak akan ada yang lain. Mereka menuju mobil, Victor yang membuka pintu kemudi dan Abi di sebelahnya. Namun baru saja Victor hendak bersuara sebab rasa penasarannya, ia sudah melihat Abi memejamkan mata terlebih dahulu. Jika bukan temannya, sudah Victor pastikan Abi akan ia terlantarkan. "Tidur sejam aja lu, Bi," ujar Victor sakit hati sebab kembali ditinggal tidur. Padahal, dia juga ingin bercerita. "Abis ini gantian lo yang nyetir. Capek gue." Abi tidak menjawab, melainkan terlihat hening dalam tidurnya. Padahal, pria itu tidak benar-benar tertidur. Kepalanya kini tengah dipenuhi oleh satu wanita yang secara tiba-tiba kembali muncul tepat di depannya setelah bertahun-tahun mereka tidak penah bertemu lagi. Moza, Abi harap pertemuan tadi merupakan pertemuan pertama dan terakhir untuk mereka. ♦ r e t u r n ♦ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN