Mata bengkak dan hitam layaknya panda, rambut kusut, wajah lelah, Renat benar-benar melewati malam berat semalam. Ketika Abi hanya diam selama perjalanan pulang mereka. Beruntung memang, sebab pria itu masih bertanggung jawab untuk keselamatan Renat sampai di rumah.
Renat berdiri menatap Abi, "Makasih." Renat bersuara dengan rasa takut yang melingkupi seluruh tubuh.
"Bye, Re," ujar Abi kecil kemudian berbalik, memasukkan tangan ke dalam saku celana dimana terdapat sebuah cincin yang lagi-lagi menerima penolakan di sana.
Renat kembali menutupi wajah yang untuk kesekian kalinya, air mata wanita itu mengalir tanpa diminta. Bayangan wajah Abi kembali beterbangan dalam kepalanya, bolak-balik seakan-akan tengah mencemooh pilihan bodoh yang sudah Renat buat. Pagi Renat benar-benar hancur bahkan sebelum ia sempat memulainya.
Renat menjangkau ponsel pada meja nakas, dan tangisnya kembali terdengar kala wajah Abi tampak manis pada layar ponselnya. Lockscreen favorit Renat---dimana Abi dengan bando mickey mouse tampak tersenyum manis ke kamera---dan tidak pernah lagi Renat ganti.
Sudah selesaikah semuanya? Semudah inikah? Pertanyaan itu yang terus Renat tanyakan dalam kepalanya. Dari semua perkelahian kecil atau besar yang sering terjadi antara Renat dan Abi, tidak pernah sekalipun ada kata selesai yang terucap. Namun semalam, tampaknya semua kesabaran Abi sudah habis untuk menghadapi Renat. Renat akui dia pantas mendapatkan ini, namun ia tahu pasti akan sulit. Setelah bertahun-tahun ia terbiasa akan Abi, ternyata dalam hitungan detik pria itu dapat menghilang.
Belum lagi, semua kenangan manis mereka juga ikut berputar di dalam kepala Renat bagaikan kaset rusak. Wanita itu menghela napas berat, kembali menutup wajah dengan selimut berharap semua kejadian yang menimpanya hanyalah mimpi buruk.
Pintu kamar Renat terbuka, tampak mamanya yang tengah membawa handuk dan baskom kecil berisikan air hangat.
"Re," panggil Gita lembut sambil meletakkan barang yang ia bawa di atas meja nakas. Disingkapnya perlahan selimut Renat, dan terkejut melihat kondisi putri satu-satunya seperti sekarang.
Malam ketika Renat memasuki rumah, ia langsung menceritakan segala kejadian menyakitkan itu pada Gita. Gita hanya diam, tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti layaknya seorang ibu. Ucapan Renat tempo hari sudah cukup membuat Gita sadar untuk tidak terlalu memaksakan Renat. Kesalahannya karena sudah menumbuhkan trauma di dalam diri Renat.
"Sayang," ucap Gita lebih lembut, duduk di sebelah Renat dan merengkuh tubuh rapuh itu dalam dekapannya. Bukan pertama kalinya Gita melihat putrinya seperti ini. Namun setiap kali Renat berada di titik terbawah hidupnya, Gita mengerti bahwa anaknya akan mudah sekali hancur. "Nggak apa-apa. Re masih punya mama. Sekalipun Re nggak mau nikah, Mama bakalan terus temenin Re. Sampai Re tua, sampai Re nggak kuat lagi buat jalan, Mama yang bakalan gendong Re kemanapun Re mau pergi. Ada Mama, Sayang. Jangan nangis. Jangan sedih."
Renat kembali terisak keras. Dipeluknya sang mama sembari mencengkeram erat tubuh wanita yang sudah melahirkannya. Renat tahu kata-kata mustahil itu hanya untuk menghiburnya. Walau umur Renat kian bertambah, ia tahu sang mama masih menganggapnya putri kecil yang dapat ia bohongi dengan kalimat penenang semacam ini. Padahal, bagaimana pula caranya sang mama dapat menemani Renat hingga tua dan tidak mampu lagi berjalan?
"Re salah ya, Ma?" tanya Renat dengan suara serak. "Re nggak mau nyakitin siapa-siapa, Ma. Tapi Re bener-bener takut buat mulai semuanya. Nikah, Re nggak pernah bayangin itu."
"Re nggak salah," ujar Gita menenangkan, tangannya terus mengusap lembut tengkuk Renat yang terasa panas. "Mama tau Re bisa tanggung jawab sama semua yang Re pilih."
"Re takut, Ma." Suara Renat penuh getaran dan rasa sakit. "Re nggak bakalan bisa jadi istri yang baik nanti. Re cuma bakalan bikin Abi kecewa karna punya istri kayak Re."
"Re!" Gita bersuara sedikit tegas. "Mama bisa terima alasan kamu takut buat nikah. Tapi kalau kamu ngerendahin diri kamu sendiri, Mama nggak suka. Kamu anak mama, kamu putri mama yang paling baik."
Ini yang Gita takutkan. Renat selalu saja berpikiran negatif ketika kegelapan menyapanya. Menghancurkan dirinya sendiri seolah-olah itulah jalan terbaik yang dapat ia ambil. Padahal, lebih dari 1001 cara untuk memperbaiki semua hal.
"Re, kalau kamu cinta, kamu nggak akan nolak Abi." Gita mencoba mengeluarkan nasehat yang sebenarnya. "Mama tau kamu takut, tapi kalau kamu nggak pernah yakinin diri kamu sendiri, kamu yang bakalan nyesel nanti. Berhenti bilang kamu cinta Abi kalau cuma buat nerima lamarannya pun, kamu nggak bisa. Kamu terlalu cinta sama diri kamu sendiri, Re. Kamu mau Abi kayak gimana lagi supaya bisa diterima kamu? Nyusulin kamu sesering yang dia bisa, lamar kamu dua kali. Tapi kamunya sendiri masih kekeh bilang kalau kamu nggak sanggup."
"Ma...," lirih Renat tanpa tenaga. Rasanya, untuk berpikir jernih saja ia kesulitan.
"Kejar kalau kamu mau bahagia. Lepasin kalau emang mau dilepas, tapi jangan malah kayak gini. Nangis seakan-akan Abi yang udah nyakitin kamu."
"Re mesti gimana, Ma?" Renat menatap mata Gita dengan pandangan pias. Wanita itu sudah tidak mampu lagi.
"Apapun pilihan kamu, asal kamu bisa tanggung jawab buat itu. Tapi sekarang yang harus bener-bener kamu lakuin pertama, itu mandi!"
Gita mengulurkan handuk kepada Renat, mencium puncak kepala putrinya sebelum benar-benar meninggalkan kamar. Renat yang masih duduk pun kembali menjangkau ponsel, menyalakan benda tersebut dan untuk kesekian kalinya ia menghela napas berat. Tidak ada satupun panggilan atau pesan yang masuk dari Abi. Pun semua yang Renat lakukan, tidak mendapat balasan apapun.
Renat berdiri. Dia harus memulai hari ini setidaknya dengan satu senyuman kecil. Dilangkahkannya kaki menuju kamar mandi. Bagaimanapun, dia harus segera menemui Abi dan meminta maaf pada pria itu.
♦ r e t u r n ♦
Seoul hujan. Di bawah salah satu bangunan Renat berdiri sambil memandangi rintik hujan dari balik kacamatanya---sengaja menggunakan kacamata agar matanya tidak terlalu terekspos. Dan karena Renat terlalu fokus dengan masalahnya, ia sampai lupa untuk mengecek keadaan cuaca. Alhasil, ia tidak membawa payung.
Renat tersentak, kala sebuah tangan mulai memayunginya. Ia menoleh, melihat Tae Joon tengah tersenyum.
"Sendiri?" tanya Tae Joon dan Renat tidak menanggapi. "Kenapa tidak membawa payung? Padahal perkiraan hujan hari ini 80 persen."
Renat menggeleng, "Aku lupa lihat perkiraan cuaca."
"Ah, begitu." Tae Joon terlihat mengangguk paham. "Jadi, mau pergi bersama?"
"Aku ingin pergi ke suatu tempat dulu, Tae Joon-ah. Kamu bisa pergi lebih dulu. Aku sudah memberi kabar kepada orang di rumah sakit bahwa aku akan datang terlambat."
Tae Joon menatap Renat dalam diam. Pikiran pria Seoul tersebut tentu saja langsung menebak satu nama; Abirayyan.
"Kalau begitu, kamu bisa membawa payung ini." Tae Joon memberikan Renat payungnya dengan gerakan cepat, bahkan Renat belum sempat menolak. "Hati-hati. Jangan sampai terluka. Aku pergi dulu." Tae Joon meletakkan telapak tangan di kepala, kemudian berlari segera menuju bus stop.
Renat yang masih berpikir akan perlakuan Tae Joon tetap menatap payung tersebut. Ia benar-benar kesulitan untuk sekedar memfokuskan pikiran. Perlakuan Tae Joon tadi hanya terasa seperti kilatan cahaya.
Renat geleng kepala, mencoba fokus pada keadaan di depannya. Setelah yakin, ia akhirnya mulai melangkahkan kaki untuk berjalan menuju halte agar tidak ketinggalan bus. Renat harus segera menuju hotel tempat Abi menginap.
Sembari terus berjalan, Renat sesekali mencoba menghubungi Abi. Sayangnya, ponsel pria itu mati. Padahal beberapa saat sebelumnya, panggilan Renat masih terhubung walau tidak menerima jawaban.
Renat mempercepat langkah, sebab busnya sudah tiba di pemberhentian. Dengan napas tersengal, Renat menjangkau bagian pintu bus dan segera menutup payungnya. Ia masuk setelah membayar dan duduk di bangku dekat jendela.
Renat memperhatikan jalanan, lagi-lagi tatapannya kosong. Ia benar-benar terlihat terpukul sebab kelakuan konyol dan bodohnya semalam. Mamanya benar, Abi harus bagaimana lagi agar dapat diterima olehnya. Sedang semua cara sudah dilakukan oleh Abi. Renat egois, bodoh, dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
Mata wanita itu kembali panas dan buru-buru ia usap. Dilihatnya ponsel sebab ingin menatap wujud Abi. Prianya, benar-benar terlihat sempurna. Dan apalagi alasan Renat menolak? Untuk keseribu kali, Renat mengutuk diri bahwa ia bodoh.
Beberapa saat berlalu, bus Renat akhirnya berhenti di bus stop yang terletak tidak jauh dari hotel tempat Abi menginap. Renat buru-buru turun, membuka payung dan segera berlari menuju hotel.
Jantungnya tidak tenang, sejujurnya. Sedang kepalanya sibuk menyusun kalimat untuk meminta maaf kepada Abi. Kala kakinya sudah mencapai hotel, Renat langsung menuju lift. Beruntung ia pernah kemari dan masih mengingat kamar Abi.
Renat memegangi d**a, ia sudah berdiri di depan kamar Abi dan hanya diam tidak melakukan apa-apa. Rasanya sangat canggung. Dinyalakannya ponsel, kembali menghubungi nomor Abi dan suara dari pihak operator kembali terdengar. Ponsel Abi tetap mati.
"Tidur kali, ya?" Renat bersuara kecil. Akhirnya, menguatkan diri untuk mengetuk pintu kamar.
"Permisi." Suara lain terdengar dan Renat buru-buru menoleh. Dilihatnya seorang pelayan yang tampaknya mengurus bagian cucian.
"Iya?"
"Anda mencari pria di kamar ini?"
Renat mengangguk, "Ibu lihat dia?"
"Oh, saya lihat tadi pagi-pagi sekali dia keluar dengan koper dan membawa ransel."
Seketika, badan Renat terpaku. Itu tidak mungkin, kan? Abi tidak mungkin pergi secepat ini meninggalkan Seoul, bukan? Atau matinya ponsel pria itu disebabkan pada satu alasan?
"Abi," panggil Renat lirih pada pintu kamar pria itu. "Abi kamu beneran pergi?"
♦ r e t u r n ♦