18. "Ah, Stress!"

1770 Kata
Renat mengambil baseball caps warna hitam dan langsung menutupi kepalanya, rambutnya sudah diikat rendah. Diambilnya masker warna hitam yang masih berada dalam kotak, menggunakan pengaman wajah tersebut sebelum beralih pada tas selempang dengan warna senada. Hari ini, tema Renat memang hitam, termasuk kemeja kebesaran yang ia pakai dan legging berbahan kaus sebagai bawahan. Renat keluar dari kamar setelah selesai mengurus penampilannya. Tiba di lantai bawah, dilihatnya sang mama tengah asik membokar sesuatu sementara lagu dengan alunan musik lembut terputar memenuhi seluruh ruang keluarga. Renat berjalan mendekat, berjongkok untuk ikut melihat apa isi dari kotak-kotak besar yang tengah dibongkar mamanya. "Astaghfirullah!" pekik mamanya dengan wajah terkejut, matanya melotot pada Renat yang tampak bingung. "Mama kirain siapa item-item." Renat melepas satu tali masker dari telinganya, menunjukkan wajah cemberut. "Nih, Ma, liat!" "Ya ampun, kenapa jadi separah ini? Tadi bangun tidur merahnya nggak gini." Renat tampak sendu, lebih tepatnya sebal. Seperti yang Renat duga, wajahnya break out dan hal tersebut sangat mengesalkan untuknya. Cuaca Jakarta benar-benar membakar kulit dan Renat kebingungan hanya untuk sekedar memilih skincare. Sedang skincare yang diberikan mamanya semalam tidak membantu banyak untuk kulit sensitif Renat. "Nggak tau, Ma," rengek Renat seperti yang sudah-sudah. Renat bahkan hampir gila ketika bercermin tadi. Jika bukan karena ingin mencari skincare bersama Zahwa, Renat enggan keluar dan lebih memilih berdiam diri di rumah sembari merawat kulitnya. "Malu ketemu Abi." "Cengeng!" Gita tertawa ketika melihat bibir merah hati putri semata wayangnya mencibir. Dipasangkannya lagi masker Renat, kemudian berdiri dan berjalan masuk kamar. Renat hanya memperhatikan kemana mamanya pergi, kemudian mengalihkan tatapan pada barang-barang di dalam kotak. Kebanyakan berisi frame dengan foto-foto Renat bersama mama dan almarhum opa. Renat lantas tersenyum, tiba-tiba rindu opa. Tangan Renat mengambil album foto dengan cover wajah bayi. Penasarannya kambuh lagi. Renat tidak pernah membuka album tersebut sebelumnya sebab tidak berminat melihat potret dirinya ketika kecil. 'Pasti lucu-lucu aja nggak jauh beda sama gedenya,' begitu Renat membatin. Namun kali ini Renat ingin membuka, selagi album tersebut ada di depannya dan Renat tidak perlu jauh-jauh mengambil. Diperbaikinya duduk, kemudian memangku album tersebut bersamanya dan mulai membuka halaman pertama. Renat meringis, ketika melihat potret bayi perempuan tengah tertawa tanpa mengenakan sehelai benang pun di badan. Cukup banyak foto seperti itu dengan beberapa pose, wajah tengil benar-benar sudah terlihat sejak kecil. Renat terus membalik lembar demi lembaran. Melihat fotonya bersama papa dan mama, saling tertawa entah pada guyonan apa. Ketika dirinya berulang tahun yang pertama dan memakai topi ulang tahun, baju coklat dengan karakter beruang tampak lucu menempel di tubuhnya yang gembul. Renat sukses geleng kepala, tidak percaya bahwa dia pernah bulat seperti mochi ketika kecil dulu. Renat masih melanjutkan, melihat potret dirinya dengan rambut dikepang tengah menunjukkan wajah songong ke kamera, sedang kedua tangannya mengarah ke depan memberikan jari dengan lambang peace. Renat mencoba mengingat kapan foto tersebut diambil. Kalau tidak salah, ketika Renat berumur lima tahun dan merupakan kali pertamanya berada di Pantai Kuta bersama kedua orangtuanya. Liburan pertama dan terakhir lengkap sebagai keluarga. Miris sekali memang, karena setelah itu Renat lebih kerap berpergian kemanapun bersama sang papa. Renat membalikkan kembali halaman album, membiarkan kenangan pada potret sebelumnya menguap entah kemana. Lagipula, tidak ada gunanya bila Renat bersedih sebab semuanya sudah lama sekali berlalu. Renat kini tertawa, melihat potret kedua bayi tengah bertengkar. Renat berumur dua tahun di sana tampak bengis ketika menarik rambut lawan bermainnya yang merupakan anak lelaki seumuran. Di detik berikutnya, Renat sukses terdiam. Dia familiar dengan wajah bayi lelaki di dalam potret tersebut. "Ma!" Renat berteriak, jantungnya berdegub kencang sedang kepalanya berusaha berpikir. "Apa?" balas mamanya lebih santai sembari keluar dari kamar, tampilannya sudah lebih rapi dengan kunci mobil di tangan. "Ini yang di foto, Re bareng siapa?" Gita menunduk, menyipitkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas. Lalu diliriknya Renat yang tengah memasang wajah tegang. Gita tersenyum, mengelus bahu putrinya lembut sebelum berdiri baik-baik. "Ma!" rengek Renat karena sudah tidak tahan dipeluk oleh rasa penasaran. "Kenapa?" Gita tertawa, "ya masa kamu nggak hapal muka calon suami sendiri kecilnya gimana?!" "Hah?" respon Renat, wajah yang ditutupi masker tersebut pasti semakin keruh karena tidak paham pada hal yang satu ini. "Maksudnya, Ma? Jadi ini beneran Abi?" "Kamu nggak tau kalau dulu Mama pernah kerja bareng Tante Nadine?" Renat mencoba mengingat-ingat, dan matanya langsung saja melotot sebab semuanya tampak menyambung. Pantas saja dulu Nadine pernah mengatakan bahwa Renat merupakan teman kecil anaknya---walau kala itu Renat tidak begitu paham apa maksudnya. "Tapi Re nggak pernah kepikiran loh bakalan punya foto kayak gini bareng Abi, Ma. Speechless aja, kecilnya jambak-jambakan gedenya malah saling suka. Mama kenapa nggak bilang, sih, kalau simpen foto selucu ini." Gita mendelik, tidak terima disalahkan. "Kamu nggak nanya ke Mama! Lagian Mama pikir kamu udah tau dari Abi. Lagian kan yang harus dipikirin banyak. Biaya tagihan listrik, hari ini mau masak apa, urusan kerja gimana. Nggak bisa dong nyalahin Mama." Renat mencebik sebal, lantas kembali fokus melihat potret dirinya dan Abi dalam satu frame yang sama. Seketika, sebuah ide terlintas begitu saja di dalam kepala Renat. "Yaudah yuk berangkat, Mama anterin." Renat mendongak seraya menutup album foto ditangannya, sadar bahwa penampilan mamanya sudah berganti. "Loh? Mama mau kemana?" Gita terlihat geleng kepala dengan raut sabar, "Kalau persiapan pernikahan kamu sama Abi nggak diurus dari sekarang, terus mau kapan? Mama mau ketemu Tante Nadine, banyak yang mau dibahas." "Kok Re nggak diajak?" tanya Renat kebingungan. Mama dan calon mama mertuanya tampak memang bersemangat. Bahkan Renat dan Abi sendiri tidak tahu menahu perihal yang satu ini. Padahal mereka yang akan menikah, dan mereka pula yang terlampau tidak punya waktu. "Yaudah ayo ikut Mama sama Tante Nadine," ujar Gita sambil menerima uluran tangan Renat dan membantu putrinya berdiri. "Yah, Ma, kan Re mau pergi bareng Zahwa. Kalau nggak sekarang mau sampai kapan muka Re kayak gini? Nggak betah mau garuk aja rasanya. Gatel!" "Awas aja sampai kamu salah beli," peringat Gita dengan tegas. "Kalau mau beli lapor Mama dulu." Renat jarang bermasalah dengan muka. Apabila wajahnya sudah cocok dengan satu produk, maka ia hanya akan setia dengan produk tersebut. Terlebih, kulit Renat sudah terbiasa dengan produk Korea karena mencocokkan dengan cuaca di sana. Dan hampir tidak ada keluhan sama sekali. Itu mengapa Renat merasa kesal melihat perubahan wajahnya yang terlalu tiba-tiba sekarang, seperti alergi. Diperbaikinya letak masker dan topi, kemudian mengambil sandal teplek dengan bagian berbulu yang menjadi penutupnya. "Ah stress!" celetuk Renat sebelum menyusul mamanya masuk mobil. ♦ r e t u r n ♦ "Hati-hati!" teriak Gita ketika Renat keluar mobil. "Iya," jawab Renat kemudian menutup pintu mobil, berjalan cepat untuk masuk ke dalam gedung mall. Langkah Renat lantas berhenti tepat ketika ia masuk. Wanita itu celingak-celinguk, bingung harus kemana. Rasanya begitu banyak yang berubah dan Renat sendiri juga sudah lupa, dia tidak tahu dimana café tempat Zahwa sedang menunggu. Dikeluarkannya ponsel, kemudian menghubungi nomor Zahwa. "Wa, kamu dimana, sih? Aku bingung mesti kemana. Masuk mall berasa masuk hutan." Zahwa terbahak, "Yaudah ke eskalator aja, di lantai dua, ya. Kamu sekarang dimana?" "Pas banget di depan pintu masuk." Renat mulai berjalan, memperhatikan sekitar dengan baik-baik. "Kamu kok bisa udah duduk di café aja, jadi pergi bareng sepupu?" "Nah ini dia di samping aku," jawab Zahwa dan Renat langsung saja membuang napas berat, pantas saja Zahwa terlihat santai. "Yaudah tunggu, ya," ucap Renat sebelum memutuskan sambungan telepon dan fokus memperhatikan jalan di depannya. Pikirannya mengingat-ingat, lantai dua. Tandanya Renat harus berjalan naik dua kali. Renat sudah menemukan eskalator, buru-buru wanita itu kesana dan mulai menginjakkan kakinya pada tangga robot yang kini tengah bergerak naik tersebut. Renat sesekali mendongak dari ponsel, menatap punggung seorang pria. Sebenarnya tidak ada yang menarik, hanya saja, pria itu sedang menelepon seseorang dan Renat pikir ia kenal akan suaranya. Batin Renat bertanya-tanya, sebenarnya siapa pria di depannya. Namun ketika di penghujung eskalator, pria itu langsung saja berbelok ke kanan dengan langkah cepat. Sedang Renat harus berhenti lagi, melihat sekitar dimana eskalator berikutnya. Helaan napas Renat keluar begitu saja, kesusahan sendiri disaat wajahnya sedang break out adalah perpaduan yang pas untuk membuatnya kian gila. "Ah stress!" celetuk Renat entah untuk ke berapa kalinya. Sementara di mobil sebelumnya ia sudah banyak sekali mengatakan dua kata tersebut karena macet, bahkan Gita yang mendengar ikut-ikutan stress. Renat kembali menemui eskalator, dan sadar bahwa ia baru saja bertindak bodoh. Jadi untuk apa sebenarnya orang pintar menciptakan lift, sedangkan Renat harus berkeliling layaknya anak ayam hanya untuk eskalator. Menyebalkan. Setibanya Renat di lantai dua, dia mencoba membuka masker berharap bila bukan dirinya yang menemukan Zahwa, maka sebaliknya. Renat mencoba membuka aplikasi chatting, mencoba menghubungi Zahwa. "Nata-ya!" Renat menoleh ke samping, helaan napasnya keluar begitu saja karena lega. Zahwa terlihat tertawa melihat penampilan Renat, kasihan temannya kesusahan. "Nat, makin parah banget nggak sih dari yang semalem kamu fotoin?" "Iyakan?! Aku sama mama juga mikirnya gitu." Renat mendesah lelah. "Makin gatel pula, Wa. Masalahnya kamu taukan yang beginian hampir nggak pernah aku rasain. Nah, liat sekarang tiba-tiba banget munculnya. Apa karna skincare yang mama kasih semalem, ya?" "Kamu nggak pakai skincare sebelumnya?" Renat menggeleng, kemudian menoleh pada sepupu remaja Zahwa yang asik mendengarkan celotehan Renat dan Zahwa. "Halo, aku Renata." "Halo Kak Nata," sapa adik sepupu Zahwa sopan, terlihat cantik. "Aku Abigael." "Abi?" ceplos Renat begitu saja dan Zahwa tertawa. "Panggilannya juga Abi?" "Iya, Kak." "Wah...." Renat menggeleng dengan raut kagum. "Terus, Nat, ceritanya bisa langsung ganti skincare gimana?" Zahwa melanjutkan tanya yang sempat tertunda karena acara perkenalan antara Renat dan Abigael. "Jadikan Mama mikirnya kalau udah tinggal di sini, berarti cocokin sama cuaca di sinikan. Makanya diganti. Soalnyakan juga gitu waktu baru pindah ke Seoul, semua shampoo, skincareku, dibuang semuanya karena nggak ada yang cocok. Tapi itu untungnya aku nggak pakai yang mukakan. Aku ingetnya, aku pakai body lotion abis itu aku keluar rumah sama mama ya biasalah namanya jalan-jalan baru nyampe di sana. Nah anehnya ternyata mama sadar aku garuk-garuk tangan terus, pas diliat, kulit tanganku udah merah kayak apasih, kebakar gitulah, Wa." "Ih serem," respon Zahwa dengan wajah tidak enak. "Atau jangan-jangan, kulit kamu emang lebih cocok pakai skincare sebelumnya kali, Nat. Jangan langsung ganti harusnya. Cobain dulu pakai yang kemarin, kalau masih nggak cocok baru nanti kita cek-cek skincare di sini." "Iya juga ya," angguk Renat dengan ekspresi menyesal. Tangannya baru akan kembali memegang wajah sebelum ditepis oleh Zahwa. "Nggak usah dipegang-pegang." Zahwa melotot dan Renat nyengir bagai kuda. "Kamu nggak mau minum? Pesen dululah, abis ini baru kita beli tiket buat nonton." Renat berdiri, menyetujui ucapan Zahwa. Tapi sebelumnya wanita itu kembali menyeletuk asal. "Gimana dong, Wa, aku malu ketemu Abi kalau mukaku kayak udang rebus gini! Ah stress!" Zahwa tertawa, namun sepupu remajanya, Abigael, malah memasang raut bingung sebab merasa terpanggil. ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN