Abi mengendarai mobilnya dengan kecepatan lambat karena sedang berada di belakang mobil lainnya, tugasnya sore ini untuk menjemput si nona cerewet. Setelah mobil di depannya bergerak, akhirnya giliran mobil Abi yang maju. Pria itu menekan tombol kartu sebagai tanda masuk, setelah mendapatkannya buru-buru Abi menjalankan kembali mobil.
Ponsel Abi berbunyi, memperlihatkan nama Renat di sana. Abi mengusap layar ponsel untuk menerima panggilan Renat.
"Dimana?" tanya Abi tanpa basa-basi.
"Sebentar, A," jawab Renat di ujung telepon dengan suara terjepit, seakan sedang berlari untuk cepat.
"Buruan ini udah sore."
"Iya ih kan dibilang sebentar!"
"Buruan aku udah di depan!"
"Iya!"
"Nggak usah nyolot jawabnya!"
"IYA!"
"Buruan dibilangin, lama aku tinggal."
"Yaudah sana pulang! Nyebelin banget jadi orang."
"Buruanlah lama banget lagian," pancing Abi terus-terusan sambil menahan diri untuk tidak tertawa. Menyulut emosi Renat memang sangat mudah, apalagi disaat wanita itu tengah kelelahan.
"Ya sabar dong! Kamu pikir aku bisa terbang?" Renat mencerca Abi tidak mau kalah. Di tempatnya, Renat sibuk celingak-celinguk hanya untuk sekedar menebak jalan mana untuk menuju pintu keluar.
"Cepetanlah, Re!"
Renat tidak mendengar karena sekarang malah dilanda kebingungan. "Mati gue lewat mana, ya?"
"Hah?" celetuk Abi kebingungan sekarang. "Mati apa? Re, kamu dimana?"
"Bentar dulu ah kamu ribut!"
Sambungan terputus, dan Abi hanya mampu menahan gemas karena sikap Renat yang terlampau suka-suka. Tidak hanya itu, sekarang wanita itu sukses membuat Abi khawatir. Abi menghela napas, mencoba keluar dari mobil sembari menatap ponselnya yang kembali mencoba menghubungi nomor Renat. Wanita itu tetap tidak menjawab dan membuat Abi semakin panik.
Abi memutuskan masuk untuk mencari Renat walaupun ia tahu caranya sedikit tidak efektif. Tetapi baru akan mencapai pintu masuk mall, seorang perempuan dengan wajah merah seperti udang rebus berjalan keluar, tatapannya lega karena akhirnya bisa keluar dan menghirup oksigen alami. Sedang Abi diam memperhatikan, merasa itu memanglah Renat walaupun dirinya sedikit tidak yakin. Namun kala Renat juga ikut mengernyit dengan raut tidak percaya, Abi baru percaya bahwa wanita itu murainya.
Abi menunjukkan senyum, sementara Renat melemparkan tatapan jahat pada Abi. Langkah Renat pun dengan pasti mendekati Abi, walau pada akhirnya, wanita itu melengos begitu saja dengan raut tidak peduli.
Abi buru-buru mengejar langkah Renat, menggapai lengan terbuka wanita itu.
"Apasih pegang-pegang!" semprot Renat dan Abi refleks menahan napas. Tampaknya ia akan benar-benar menerima amukan sekarang. "Buru-buru, kan? Sana pulang! Aku pulang sendiri juga bisa."
Abi meringis setelah ditepis Renat, dilihatnya wanita itu masih terus lanjut berjalan tanpa mau menoleh. "Maaf, ya?"
"Udahlah," ujar Renat terdengar malas. "Aku capek."
"Aku anterin pulang kalau gitu," putus Abi membujuk lagi.
"Sanalah, urus urusan kamu aja kan udah kerja. Udah sibuk. Semuanya mau cepet-cepet aja. Yaudah sana pergi." Renat mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi nomor sang mama.
Abi lagi-lagi meringis, merasa bersalah sekali. Dalam diam, Abi masih memperhatikan Renat yang mulai menelepon seseorang dan kembali memasangkan masker agar mukanya tertutupi. Abi kemudian menyisir sekitar, memperhatikan orang yang terus saja keluar masuk mall.
Abi berjalan mendekati Renat. Bagaimanapun tetap ia yang bersalah karena sudah membentak-bentak Renat. Diraih lagi lengan Renat dengan lembut, dan wanita itu langsung saja memberikan Abi tatapan tidak suka.
"Mukanya kenapa?" tanya Abi, kini pelan-pelan.
Renat membuang muka, tetap diam terhadap ucapan Abi sebab merasa bahwa Abi hanya akan mengoloknya. Abi berusaha menarik kembali perhatian Renat dengan cara tersenyum manis.
"Apa?!" semprot Renat langsung. Raut wajahnya terlihat begitu kelelahan.
"Muka kamu kenapa?" tanya Abi lagi, pria itu mencoba membuka satu tali masker Renat dan berakhir menerima tepisan dari Renat. "Alergi, ya? Kok merahnya kayak abis dicium aku."
Renat melotot, "Iya ini alergi dicium sama kamu makanya gini." Renat berubah bengis sembari melayangkan pukulan pedas ke lengan bisep Abi. Pria itu tertawa geli, kemudian mengambil lagi tangan Renat dan kali ini menggenggamnya erat.
"Aku minta maaf, niatnya tadi cuma mau bercanda."
"Nggak lucu!" Renat menyambar setelah menurunkan maskernya. "Mukaku lagi break out, kepalaku pusing, mau keluar mall aja susah terus kamu dateng-dateng ngebentak. Yaudah kalau nggak mau jemput nggak usah jemputlah susah banget. Tinggal bilang, Re, kamu naik taksi aja, ya. Aku iyain kok tenang aja."
"Re, maafin aku, ya?"
"Udahlah males ngomong sama kamu." Renat melepaskan genggaman Abi dan berjalan menjauh. Dia ingin mencari taksi karena nomor sang mama malah mati ketika tadi Renat menghubungi.
"Re," panggil Abi sambil menyusul langkah Renat dan berdiri tepat di depan wanita itu. "Serius aku minta maaf, maksudku nggak gitu. Aku nggak tau kalau kondisi kamu lagi kayak gini. Kamu juga kenapa nggak kasih tau aku kalau lagi sakit. Udah di cek ke rumah sakit? Mau aku temenin sekarang?"
Renat gerah bahkan ingin menangis. Belum lagi keringat di tubuhnya seperti menambah laju agar wajahnya semakin gatal. Renat mencibir, sedang lengan kemejanya digunakan untuk mengusap wajah.
"Mau pulang," ujar Renat pada akhirnya karena sudah tidak tahan lagi.
"Iya pulang, aku anterin, ya?"
Renat mengangguk, lalu membiarkan dirinya ditarik oleh Abi menuju mobil. Dibukakannya pintu untuk Renat, membiarkan wanita itu masuk lebih dulu. Setelah itu Abi memutari mobilnya, cepat-cepat masuk dan mulai menyalakan mesin. Sesekali dilihatnya Renat yang kini malah berkeringat.
Abi mengulurkan tangan untuk mengusap dahi Renat. "Re, kenapa?"
"Abi," suara Renat pelan, matanya sudah terpejam dengan posisi meringkuk seperti bayi. "Perutku sakit banget."
Abi semakin meringis, seharusnya ia tidak sembarangan bercanda, terlebih ketika keadaan Renat sedang seperti ini.
"Siang tadi makan apa?"
"Ayam," jawab Renat dengan mata tetap terpejam. "Tapi pedesnya kebangetan, aku cuma makan setengahnya."
"Re, kamu makan yang ringan-ringan dulu, kan udah aku bilang tadi siang."
"Ya tapi Abi ngajakin aku sama Zahwa buat makan ayam, katanya Abi enak."
Abi mengernyit, merasa bingung dengan kalimat Renat. "Aku nggak pernah nyuruh kamu sama Zahwa makan ayam pedes."
"Ih ada! Jelas-jelas Abi ngerengek minta makan di sana."
"Re, beneran aku sama sekali nggak minta nyuruh kamu makan ayam."
Renat membuka mata karena suara Abi yang meninggi, matanya mengerjap, awalnya bingung mengapa Abi jadi kembali marah-marah.
"IH BUKAN ABIRAYYAN! TAPI ABIGAEL!" Renat balas memekik karena tidak terima, dicebikkannya bibir dan kembali mengeratkan dekapan pada diri sendiri.
Abi yang sudah disemprot oleh pekikan Renat mencoba menahan helaan napasnya. Dia harus mengerti bahwa kondisi Renat sedang tidak baik. Membalas ucapan wanita itu dengan sama tingginya hanya akan membayahakan keduanya. Tapi jika keadaan Renat sehat-sehat saja, sudah Abi pastikan keadaan Renat sekarang akan sesak napas karena dihimpit.
"Terus Abigael siapa?" tanya Abi setelah lebih tenang.
"Adik sepupunya Zahwa, perempuan, rambutnya ngelebihin bahu, baru masuk SMA, tadi waktu ketemuan dia pakai dress."
"Iya, Sayang, makasih informasinya." Abi mencubit pipi Renat gemas, dan hanya dapat geleng kepala karena jawaban yang diberikan terlampau lengkap.
"Udah diem, mau bobo," celetuk Renat sebelum dirinya benar-benar terlelap bersama gelap.
♦ r e t u r n ♦
"Re, muka kamu ya ampun, makin parah! Itu liat dahinya padahal tadi sebelum kamu keluar Mama liatin nggak ada. Udah sana buruan mandi, mukanya dibasuh sama air hangat."
Gita yang baru membukakan pintu utama rumah langsung saja menceramahi putrinya kala mendapati bagaimana kondisi muka Renat. Tanpa suara, Renat masuk melewati mamanya. Sudah tahu ini memang kesalahan mamanya karena sembarangan memberikan Renat skincare, masih saja menyalahkan Renat dengan acara marah-marah tidak jelas. Jika bukan karena skincare tersebut, mood Renat pasti akan baik-baik saja.
"Abi jangan pulang dulu!" Renat berteriak ketika hendak naik tangga.
Beruntung Abi yang baru saja masuk rumah mendengar. Gita mengajak Abi duduk di ruang keluarga, ingin memperbincangkan perihal kelanjutan persiapan pernikahan Abi dan Renat. Abi tentu saja ikut, lantas duduk tidak jauh dari Gita.
"Abi udah mulai kerja, ya? Selamet, semoga lancar!"
Abi tersenyum, "Makasih, Tante."
"Sebentar Tante ambilin camilan.
Gita baru akan berdiri dan Abi mencegat, "Nggak usahlah, Tan."
"Nggak boleh kayak gitu," geleng Gita memberitahu. "Masa calon menantu main ke rumah nggak disuguhin apa-apa."
Abi tertawa pada ucapan Gita, kemudian ikut-ikutan berdiri untuk menyusul langkah calon mertuanya. Sembari menuju dapur, Abi membiarkan matanya terhibur oleh arsitektur bentuk rumah Gita. Abi tahu bahwa ini merupakan hasil kerja keras sang papa. Sesaat, Abi sibuk diam karena berpikir.
"Kenapa, Bi?" tegur Gita dengan tangan sudah penuh dengan minuman dan makanan ringan. "Oh iya, makanannya cuma ada ini. Punyanya Renat, soalnya dia yang ke supermarket kemarin. Makanan yang lain Tante belum sempet beli."
"Nggak apa-apa kok, Tan," kata Abi tidak enak hati.
"Kamu tadi ngelamunin apa?"
Abi melongo, merasa tertangkap basah. "Enggak sih, Tan, cuma lagi mikirin kayaknya Abi mesti buru-buru beli kamar apartment. Yah, bangun rumah sendiri uangnya juga belum cukup."
Gita tersenyum dengan rasa haru, "Tante sebenernya mau bilang ini, cuma belum ketemu aja waktu yang cocok. Tapi tadi Tante sama mama kamu udah nentuin kalau besok malem kita dua keluarga dinner bareng. Lagian, apartment juga nggak buruk kok. Renat bakalan seneng kalau punya tempat yang isinya cuma kamu sama dia doang."
Abi meringis, kemudian mengangguk paham. Sesaat pria itu baru peka untuk mengambil makanan di pelukan sang calon mertua.
"Bi," panggil Gita setelah mereka duduk di sofa sebelumnya.
"Ya, Tan?" respon Abi sambil membuka bungkus makanan.
"Makasih udah sayang sama anak tante," ucap Gita dengan senyum penuh makna. Dalam hati sibuk merapalkan doa bahwa memang Abi lah tempat putri semata wayangnya berlindung sampai nanti entah waktu kapan. "Makasih karena nggak pernah capek hadepin Renat yang manja, tengil, bahkan egoisnya. Tante sendiri malah sering angkat tangan. Tapi kamu enggak. Bertahun-tahun kamu letakin kepercayaan ke Renat, begitupun Tante yang percaya sama kamu, percaya kalau kamu bisa jagain Renat. Tante bahkan nggak tau harus apa waktu putri tante cuma bisa nangis di tempat tidur, nggak mau keluar kamar, salahin dirinya terus. Tante pengen marah, tapi Tante nggak bisa karena masalah sensitif kayak gini emang nggak bisa ditanggepin sembarangan."
Abi diam, menunduk pada camilan yang belum sempat ia sentuh barang sedikitpun. "Jadi Renat kayak gitu waktu kemarin Abi pulang diem-diem?"
Gita mengangguk, "Tante alasan Renat nggak berani ambil langkah besar bareng kamu."
"Enggaklah, Tan, lagian udah lewat juga, kan? Abi sama Re juga udah sama-sama setuju, sama-sama yakin, nggak perlu pikirin yang kayak gitu lagi, Tan. Abinya aja yang emang waktu ngelamar mungkin keliatan main-main. Makanya Renat jadi nggak yakin."
Gita menggeleng dengan tatapan tidak terima, "Anak tante emang suka jual mahal, Bi, kayak mamanya." Gita tertawa diikuti Abi. Baru sedetik yang lalu wanita itu serius, sekarang malah menganggap anaknya bahan untuk dibuat candaan. Untuk saja Renat yang sedang stress tidak mendengar ucapan mamanya, atau dia akan semakin stress.
Setelahnya, antara si calon mertua dan calon menantu tersebut hanya diisi oleh obrolan-obrolan ringan seputar kegiatan masing-masing. Abi tidak pulang karena Renat memintanya menunggu, makanya Abi tidak kemana-mana. Lagipula, Abi memang ingin menemani Renat.
Lebih tiga puluh menit, ponsel Abi berbunyi dan nama Renat muncul di layar. Diusapnya benda tersebut sebelum meletakkannya di telinga.
"Apa?"
"Kesini dong, aku males turun, kamu aja yang ke atas, ya. Lagi males banget sama mama."
Abi berdehem, menatap Gita yang kini tengah menaruh perhatiannya pada Abi dan ponsel pria itu.
"Sebentar, ya," ujar Abi pelan.
"Cepetan! Kalau lama mending nggak usah."
Abi tertohok, merasa bahwa Renat tengah mengulang kalimatnya ketika di depan mall tadi. Abi langsung saja berdiri, mematikan ponsel dan mengukir senyum kecil pada Gita.
"Abi ke kamarnya Renat boleh, Tante?" ujar Abi dengan rasa segan.
"Dia yang minta, ya?" Abi mengangguk. "Yaudah kamu naik aja, bilangin sebentar lagi Tante naik bawain teh hangat."
"Siap, Tante," jawab Abi semangat kemudian berbalik, berjalan menuju tangga penghubung ke lantai dua.
Abi berbelok ke arah dimana kamar Renat berada, berdiri di depan pintu dan mengetuknya tiga kali.
"Bentar," ujar Renat dan membuka pintu kamarnya. Rambut wanita itu basah, ia tengah sibuk memegang hair dryer dan membiarkan kabelnya terseret di bawah.
"Angkat dulu mukanya," ujar Abi mencari wajah Renat. Wanita itu menurut, memperlihatkan wajahnya yang masih merah-merah. "Besok ke dokter aja kalau emang belum baikan."
Renat memalingkan badan, berjalan menuju stopkontak dan mencolokkan steker hair dryer di sana. Di atas karpetnya yang lembut, Renat duduk bersila. "Kamu tau nggak sih ini mukaku karna skincare yang mama kasih."
"Ya tapikan kamu nggak perlu marah-marah, mama kamu juga nggak tau bakalan jadi kayak gini." Abi mencoba memberi nasehat, ikut duduk di sebelah Renat.
"Yang marah-marah tuh siapa? Orang mama yang terus bentak-bentak. Nggak tau muka anaknya udah gatel kayak apa."
"Dokter aja, ya?" bujuk Abi pada akhirnya agar Renat berhenti mengatakan hal konyol. "Aku temenin sekarang deh."
Renat melirik Abi, tatapannya sendu tiba-tiba. Diletakkannya hair dryer yang belum sempat dinyalakan sama sekali, kemudian bergerak mendekati Abi dan langsung memeluk pria itu. Abi balas mendekap Renat erat, mencium lama leher Renat sembari menikmati aroma shampoo yang bercampur dengan wangi sabun Renat.
"Kalau gitu istirahat aja," ujar Abi memberikan opsi lain. "Besok jangan kemana-mana, biarin muka kamu normal dulu kalau emang nggak mau ke dokter."
"Iya ngantuk mau bobo, tapi maunya sama kamu." Renat sudah mulai meracau sembarangan layaknya murai.
"Aku di sini," jawab Abi pelan. "Tapi kalau tidur kamu kayak gini nanti badannya sakit."
"Abi, ppoppo."
Abi mengerjap beberapa saat. Calon istrinya memang termasuk ke dalam deretan wanita plin-plan. Merasa malu ketika Abi menciumnya tetapi secara terang-terangan malah meminta Abi melakukannya.
"Tidur," ujar Abi kini datar, agar Renat tidak semakin menjadi-jadi.
"Abi kasih ppoppo mukaku yang merah-merah."
"Semuanya dong?"
Renat mengangguk, pendengarannya tetap bekerja baik walau sejak tadi ia sudah memejamkan mata. "Ppoppo aja, aku mau tidur soalnya."
Abi menceraikan pelukan mereka, menatap wajah kantuk Renat yang masih merah-merah. Perlahan di dekatinya wajah wanita yang kini hanya dibungkus oleh piyama tersebut, berhenti di dahi Renat untuk memberikan kecupan yang Renat minta.
Setelahnya, Abi mulai menyisipkan satu tangannya di belakang bahu Renat dan tangan yang lain di lekukan lututnya, menggendong Renat bermaksud memindahkannya ke tempat tidur.
"Udah, sana pulang, tadi katanya mau pulang." Renat berceletuk asal setelah dirinya mendapatkan apa yang ia mau. Dibalikkannya tubuh, memeluk erat guling sebelum akhirnya benar-benar terlelap. Begitu nyenyak.
Sementara Abi, dihelanya napas panjang dan setelah itu menutupi tubuh Renat dengan selimut. Pria itu lantas memilih keluar dari kamar. Ketika hendak menuju tangga, dilihatnya Gita tengah berjalan naik.
"Loh? Mau balik?"
"Renatnya udah tidur, Tante."
Gita meringis, "Maaf ya, Bi, kamu malah jadi repot ngurusin sampai dianya tidur. Kayak ngurus bayi."
"Renat emang kayak bayi kok, Tan," ujar Abi sembari menunduk berniat pamit mengingat tangan Gita tengah sibuk dengan baki dan cangkir teh. "Kalau gitu Abi pamit sekarang, permisi, Tante."
Abi lanjut berjalan keluar dari rumah dengan raut lega, yah, walaupun pada akhirnya ia diusir oleh Renat.
♦ r e t u r n ♦