But the most beautiful things in life are not just thing. They're people, places, memories, and pictures. They're feelings, moments, smiles, and laughter. - unknown.
♦ ♦ ♦
Dibalik gorden hitam yang menutupi jendela, matahari pelan-pelan naik. Giliran bumi bagian timur yang kini diberikan segenap cahaya terang dari raja surya. Waktu yang normal untuk memulai aktivitas, walau untuk beberapa orang subuh hari sudah dijadikan waktu untuk mencari nafkah. Suasana Jakarta perlahan pun terlihat ramai. Jalanan dari pusat kota hingga seluk beluk perkampungan mulai diisi oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Bukti nyata seberapa padatnya ibukota di masa sekarang.
Renat, salah satu orang yang memilih untuk memulai aktivitas sesudah subuh. Menghabiskan waktu di dapur setelah salat subuh dengan mencoba satu resep masakan baru yang ia temukan di internet. Renat tidak begitu pandai dalam memasak, hanya menguasai bagaimana cara memasak ramyeon, telur, air, dan membakar daging ketika makan di restoran. Bisa dikatakan, Renat sama sekali tidak jago dalam hal sewanita ini. Ketika di Seoul, saat sang mama mulai mengajak Renat untuk masak bersama, Renat pasti akan dengan cepat meninggalkan rumah lalu membuat alasan ada pekerjaan penting yang menunggunya.
Namun perlahan Renat sadar, jika terus begini, makanan apa yang harus ia hidangkan kepada suaminya ketika mereka sudah menikah dan hidup dalam satu atap. Tidak mungkin Abi memakan mie setiap hari, bisa-bisa mereka berdua berakhir mati dengan tragis karena tidak dapat memakan makanan yang lebih sehat. Renat bergidik ngeri karena pikiran konyolnya.
Ia mencoba untuk kembali fokus, mengambil beberapa tomat dan mulai memotongnya sebagaimana instruksi dari internet. Renat mengerjap, menyeka dahi untuk mengawaskan beberapa anak rambut yang terasa mengganggu dengan pergelengan tangannya. Wanita itu benar-benar merasa buruk, sebab untuk beberapa potongan tomat saja, ia sudah ingin menyerah. Padahal Renat cukup sering memotong tomat untuk dijadikan masker wajah. Membahas perihal wajah, Renat benar-benar bersyukur sebab merah-merah aneh pada wajahnya sudah mulai berkurang. Dan yang terpenting, wajahnya tidak segatal semalam. Renat pikir dia memang tidak boleh banyak beraktivitas di luar ruangan dan membiarkan wajahnya terkena debu. Merah-merah tersebut menyukai debu.
Kali ini Renat beralih pada kentang, napasnya terdengar kasar sebab kurang suka pada kulit kentang yang kotor.
"Cuci dulu." Renat menoleh, melihat mamanya dengan tangan memegang gelas tengah berjalan menuju lemari pendingin. "Terus kalau kamu potong ukurannya gede, api buat masaknya kecil aja. Biar masak sampai ke dalem."
Renat menuruti ucapan mamanya, beralih pada wastafel dan mulai mencuci tiga kentang di tangannya. "Perlu dikasih sabun nggak, Ma, kulitnya?"
"Hah?" respon Gita dengan kernyitan di wajah. Anak semata wayangnya benar-benar terdengar konyol dengan pertanyaan tersebut. "Kamu mau cuci piring atau cuci kentang, Re? Kalau kamu kasih sabun, sekalian aja kentangnya kamu jemur di luar, sore nanti baru kupas kulitnya terus goreng."
"Emang iya?" celetuk Renat tiba-tiba, mata mamanya sudah melotot karena respon Renat. Namun setelah itu Renat tertawa kecil sembari mengangkat kentang yang sudah ia cuci dan meletakkannya ke tempat kering. "Re bercanda, Ma. Gini doang sih kecil."
"Awas aja gosong atau dalemnya nggak masak." Sang mama berujar sembari mendekati Renat dan mencuri satu potongan tomat. "Mama ke kamar dulu deh, kalau masakannya udah selesai panggil Mama, ya. Abi disuruh dateng biar sekalian coba masakan kamu, nggak?"
"No!" ujar Renat cepat. "Nggak mau, ah. Bukannya jadi serius kerja malah nanti dia sakit perut."
Renat mendorong mamanya sedikit agar wanita itu buru-buru pergi dari dapur dan meninggalkan Renat dengan eksperimennya sendiri. Renat membuka laci, mencari pisau pengupas kulit kentang. Kala tidak bisa menemukan apa yang ia cari, Renat harus tahan dengan hanya menggunakan pisau pemotong biasa. Masalahnya, dia tidak cukup handal mengupas kulit dengan pisau seperti itu sebab daging kentang itu dipastikan akan ikut terpotong. Tetapi mau tidak mau, Renat harus tetap menggunakannya.
Pelan tapi pasti, Renat mulai mencoba. Bahkan karena terlalu fokus, wanita itu sampai meletakkan kentang di depan perutnya dan masih sibuk mengupas kulit coklat kentang itu. Persis seorang amatir dalam memasak. Karena Renat sudah terbiasa dengan dokumen-dokumen, menganalisis data, mengetik cepat pada keyboard komputer, berinteraksi dengan orang-orang baru dan mendiskusikan segala sesuatu perihal apapun yang bersangkutan dengan tubuh manusia, terutama otak. Sehingga ketika dirinya berada di depan tomat, kentang, dan wortel, hanya kekakuan yang terlihat sebab dirinya tidak terbiasa.
Renat sukses menghela napas panjang ketika satu kentang sukses ia kupas. Bentuknya aneh, seperti kacang tanah, padahal sebelumnya lonjong sempurna. Renat berusaha mengabaikan, mengambil kentang baru dan mulai mengupas. Berharap untuk selanjutnya tidak akan ada hasil dengan bentuk persegi ataupun segitiga sebab itu akan sangat memalukan.
Jika dipikir-pikir, salah satu hal mengapa Renat tidak yakin terhadap pernikahan sebab ia tidak dapat memasak dengan baik. Sementara Abi, pria itu sudah terbiasa dengan masakan rumahan sejak lahir. Bahkan ketika di London pun, Abi tetap berusaha memasak untuk dirinya dan Abiana. Renat, dia sendiri malah akan sangat senang apabila sang mama tidak memasak, sebab Renat dapat memesan ayam dan cola.
Renat sadar akan ketidaksempurnaannya sekarang apabila disandingkan pada Abi. Terlebih fakta bahwa pria itu sudah mulai bekerja dengan jabatan Managing Director benar-benar membuat Renat lebih tidak percaya diri. Selama berkuliah di Daejon dan mendapatkan kesempatan emas untuk menyambung pendidikan di Berlin tentu membuat Renat tumbuh menjadi wanita yang mandiri. Dia pun ikut dalam organisasi Pemuda Indonesia ketika berada di Berlin dan tidak ragu untuk menyuarakan pendapat pada beberapa program mereka. Renat sudah terlampau nyaman hidup dalam kesibukan seorang wanita karir. Bahkan ketika kembali ke Seoul, Renat tidak percaya bahwa Tae Joon ternyata sudah merekomendasikannya untuk bekerja pada salah satu rumah sakit ternama di Seoul.
Renat harap, Abi akan menerima keputusannya untuk tetap bekerja di Jakarta walaupun mereka sudah menikah nanti. Mau atau tidak, setuju atau tidak, Renat akan tetap teguh pada pendiriannya sendiri dan Abi harus belajar untuk menerima. Lagipula, Renat pikir dia akan tetap berusaha untuk menjalani peran sebagai istri dan siap memberikan yang terbaik untuk Abi. Itu janji Renat.
Renat menghembuskan napas kala kupasannya pada kentang terakhir selesai. Terlihat lebih baik dari dua kentang sebelumnya. Selepas itu ia mulai memotong kentang kemudian akan beralih pada wortel. Renat ingin membuat makanan sehat dengan tema sayur-sayuran pagi ini, menjadikan kentang sebagai sumber karbohidratnya. Renat hanya sedang teringat dengan Abiana---adik perempuan Abi. Abiana memutuskan menjadi seorang vegetarian sejak tiga tahun lalu dan banyak bercerita pada Renat. Renat yang mendengar tentu hanya dapat bertepuk tangan, jika ia menjadi Abiana, sudah dipastikan Renat akan berakhir di rumah sakit karena lemas. Perutnya sudah terbiasa dengan nasi, apalagi daging sapi. Lepas dari harta karun tersebut, Renat mana sanggup. Beruntung saja sebab gen sang mama memang turun padanya sehingga Renat tidak perlu susah payah untuk berdiet. Paling hanya melakukan olahraga ringan dan gym sesekali bila sempat.
"Re," panggil mamanya yang kembali masuk dapur. Renat bergumam, asik melihat kentang yang sedang ia rebus. "Re, denger Mama manggil, nggak?"
"Apa, Ma?" Renat menoleh, melihat mamanya tengah duduk di kursi meja bar.
"Nanti malam inget loh kita ada dinner bareng Abi sama papa mamanya."
"Iya," jawab Renat sebelum memberikan tutup pada tempat rebusan kentang.
Wanita cantik itu berbalik, kini berdiri di balik meja bar sembari menatap mamanya yang tengah menuangkan s**u ke dalam gelas. "Ayo nanti ke pasar, supermarket juga, Mama pusing nggak ada makanan banget kayaknya di rumah."
"Udah Re ajakin kemarin-kemarin tapi nolak, bilangnya panaslah, cuaca nggak baguslah."
"Ya tapikan pusing juga kayak gini, Re. Sekalian ke rumah makan buat beli makanan buat dinner nanti. Mama nggak enak sebenernya karna nggak masak buat Abi sama yang lain. Tapi takut juga kalau makanan indonya nggak kayak ekspektasi soalnya Mama udah kebiasa buat makanan Korea." Mamanya kemudian meneguk s**u, sedang Renat tanpa pikir malah mengambil kotak s**u dan langsung minum dari sana, alhasil ia sukses mendapat cubitan dari sang mama. "Pakai gelas! Anak perempuan kok minumnya kayak laki-laki. Jorok kamu."
Renat meringis, berbalik untuk mencari gelas sementara mulutnya tidak tahan untuk tidak berkomentar. "Garang banget."
"Oh iya, Re," ujar Gita lagi ketika Renat baru saja mendapatkan gelas.
"Kenapa, Ma?"
Gita awalnya diam, hanya memandangi Renat menuang s**u ke dalam gelas sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara. "Kalau kamu udah nikah nanti, Mama mutusin buat balik ke Seoul."
Renat yang baru saja meneguk s**u sapi tersebut sukses tersedak, matanya melotot karena kaget akan ucapan mamanya. Renat bingung, kapan mamanya akan berhenti membuat Renat untuk terkejut dengan berita-beritanya yang terlalu mendadak. Dulu ketika di Seoul, mamanya berkata untuk pulang ke Jakarta secara mendadak pula. Kini terjadi lagi.
Renat berdehem, membersihkan tenggorokannya akibat s**u. "Mama bilang bakalan mulai hidup baru di Jakarta. Kalau gitu ngapain beli tanah, design rumah, bikin rumah, sementara nggak ada yang nempatin?! Mama ngeprank Re, ya?"
"Mama harap sih emang ngeprank," jawab Gita sambil melipatkan kedua tangan di meja bar. "Tapi kali ini Mama beneran serius. Kerjaan Mama di Seoul, Sayang. Lagipula kalau di sini, Mama nggak tau harus kerja apa. Balik jadi model---"
"No!" Renat menyambar langsung, membuat ucapan mamanya terpotong.
"Makanya, Mama harus balik ke Seoul karena tempat Mama udah bukan lagi di sini. Alasan kenapa Mama bangun rumah, ini hadiah buat kamu, buat Abi. Ya intinya Mama percayain rumah ini ke kamu sama Abi, mau ditempatin atau enggak, tapi kalian harus janji buat terus jaga." Gita mulai menyatakan niatannya yang sebenarnya. Sesuatu yang seharusnya ia bahas pada dinner nanti malam pada Abi dan Renat. Namun tampaknya Renat memang harus tahu lebih dulu sebab dia akan benar-benar mengamuk bila Gita menyampaikannya dengan tiba-tiba nanti malam.
Renat menahan diri untuk tidak melepaskan emosi. Wanita itu berbalik, berdiri lebih dekat pada kompor yang tengah merebus kentang. "Ma, ayolah, Re nggak mau bahas ginian. Lagian Re bisa kerja, Ma. Mama tinggalin Seoul, hidup bareng Re sama Abi. Semuanya bakalan terpenuhi kok. Lagian ngapain sih Mama milih tinggal sendirian di Seoul? Tau gitu mending Re nggak usah aja ke Jakarta."
"Re ... kamu harus tau kalau apa yang udah kamu lakuin sekarang itu udah yang paling bener. Sama kayak Mama yang minta kamu jagain rumah ini, Mama di Seoul juga usaha buat jagain rumah Oma sama Opa kamu."
"Ya tapi tuh Mama suka banget mendadak tau, nggak? Bikin Re jadi nggak punya persiapan apa-apa buat ngelawan kemauan Mama karna Re nggak pernah tau rencana mama. Kemarin juga gitu, Mama bilang mau pulang ke Jakarta karna emang udah waktunya buat mulai yang baru di Jakarta. Sekarang apa? Tiba-tiba mau balik ke Seoul pakai alasan kerjaan sama rumah." Seperti yang diduga, Renat memang akan mengamuk padahal Gita sudah berusaha memberi tahunya lebih awal. Untung saja tidak nanti malam.
Gita terlihat menghela napas, kedua tangannya memijat dahi sedang matanya enggan menatap mata Renat. "Kamu udah gede, Re."
"Terus kalau udah gede? Berarti Re bukan anaknya Mama lagi jadi Mama bisa tinggal sendirian semau Mama? Karna Re udah gede, Ma, Re jadi punya tanggung jawab buat jagain Mama."
Gita tersenyum sebab tersentuh dengan ucapan Renat walaupun putrinya berujar dengan emosi meledak-ledak layaknya berondong jagung. "Kamu bakalan jadi istrinya Abi, Re."
"Ma, Re nggak peduli mau jadi istrinya Abi atau enggak, karna tanggung jawab Re ke Mama bakalan tetep sama."
"Kamu nggak boleh kayak gini," ujar mamanya lembut. "Mama udah bangga banget karna bisa jadi mamanya Re. Punya anak perempuan pinter, mandiri, kuat, itu yang bikin Mama bahagia bisa jalanin hari-hari mama sampai sekarang. Kalau bukan karna Re, Mama pasti udah berhenti bertahun-tahun lalu. Niat Mama buat ajakin kamu tinggal di Seoul biar bisa temenin Mama ngobatin luka, walaupun bayarannya mahal karna kamu harus berantem sama Abi dengan ninggalin dia. Tempat kamu bukan Seoul, Re, tapi Jakarta. Semua yang kamu cari ada di sini. Mama udah cukup ditemenin sama kamu beberapa tahun belakangan ini dan Mama nggak mau ngehalangin mimpi kamu bareng Abi. Kamu harus bahagia, berguna buat masyarakat di sekitar kamu, jadi penyembuh buat orang-orang yang kamu sayang. Kamu sama Mama bakalan tetep jadi ibu sama anak, tapi enggak kalau kamu milih ninggalin Abi dengan cara ikut Mama balik ke Seoul, kamu sama dia bakalan selesai. Mama nggak bakal biarin kamu sia-siain sesuatu dua kali."
Raut wajah Renat terlihat rumit, walau hatinya banyak ditekan ketika mendengar ucapan mamanya tadi. Renat sadar seberapa besar wanita yang ia sebut mama itu menyayanginya selama ini. Tanpa syarat, tanpa banyak meminta dan malah selalu menyokong Renat dari belakang. Dan kali ini, Renat malah diberikan tiket emas untuk hidup berkomitmen bersama Abi sementara sang mama akan kembali ke Seoul untuk menjalani kehidupan seperti biasa.
"Re, jarak itu nggak masalah," ujar mamanya lagi, memasang senyum di wajah agar Renat ikut luluh. "Yang jadi masalah kalau kamu sama mama nggak saling ngedukung."
"Ma...," lirih Renat karena tidak sanggup untuk mengatakan apa-apa lagi.
"Bahagia, Re, sama apa yang udah kamu pilih."
Renat mencoba tersenyum, walau pada akhirnya ia harus balik badan. Bukan untuk mengecek kentang yang sudah matang atau belum, tapi untuk menghapus air mata yang meluncur begitu saja ke pipi akibat obrolannya bersama sang mama.
♦ r e t u r n ♦
Renat memandang pantulan dirinya lewat cermin panjang, mematut penampilannya dari atas sampai bawah. Dress warna peach selutut dengan lengan mencapai siku, sementara di bagian d**a banyak ditaburi hiasan dimana dress tersebut akan semakin terlihat bersinar bila terkena siraman cahaya lampu. Renat baru saja membeli dress ini tadi bersama sang mama. Seharusnya mereka membeli dress yang sama agar terlihat lucu, namun Renat menolak dan langsung berceletuk kalau mamanya tidak cocok memakai dress seperti milik Renat. Alhasil, ibu dari wanita tersebut mengambil terusan warna putih s**u.
Renat memegang rambutnya yang diikat satu ke belakang, hanya ikatan rendah, membuat tampilannya terlihat lebih lembut dengan beberapa anak rambut yang sengaja ia sisakan. Sementara wajahnya yang merah-merah sudah tertutupi make up. Blush on dan lipstick yang Renat padu bersama liptint tampak matching dengan warna dress yang ia pakai. Belum lagi sebuah kalung dengan bandul mungil sebagai hiasannya, hadiah dari Abi yang sudah lama sekali diberikan oleh pria itu pada Renat.
"Kok deg-degan ya," ujar Renat pada dirinya sendiri. Ia memajukan wajah pada cermin, menatap make up di wajah sebab takut bila ada yang salah. Dia tidak ingin memiliki kesan buruk di depan calon suami dan kedua calon mertuanya. Dan yang lebih istimewa, papa Renat juga akan ikut hadir malam ini.
Sembari mengambil ponsel yang terletak di atas tempat tidur, Renat dapat mendengar jelas suara klackson mobil. Entah keluarga Abi yang datang atau papanya, Renat tidak tahu pasti. Yang jelas, dia harus segera turun untuk mulai menyambut siapapun tamu pertamanya. Dirapikannya lagi anak-anak rambut, menyisipkannya dengan gerakan pelan ke belakang telinga. Kemudian memilih membuka pintu kamar dan menghilang di baliknya.
"Re!" Panggilan mamanya sudah terdengar, membuat jantung Renat kian tidak baik-baik saja.
"Turun, Ma," jawan Renat sedikit keras. Jemarinya mulai saling bertautan, sesekali ia mencoba menghela napas, kali saja gugupnya juga ikut terbuang bersama karbondioksida.
Tepat ketika Renat mencapai anak tangga terakhir, dia dapat melihat dengan jelas seorang Abi yang baru saja masuk ke ruang keluarga---bersama Nadine, Aldric, papa Renat dan mamanya. Wanita itu benar-benar seperti disambut bersama situasi yang menurutnya sangat-sangat oke seperti ini. Timing yang pas untuk Renat turun tangga dan bertemu Abi yang kini menatapnya penuh kagum. Tanpa sadar, Renat mulai tersenyum percaya diri. Membiarkan Abi datang menjemputnya, membuat hidung Renat perlahan mulai disapa oleh aroma lembut khas pria itu.
"Malam, Re," sapa Abi dengan senyuman.
Renat tertawa, menatap Abi dengan pandangan geli sebab tidak percaya akan sikapnya yang terlampau dibuat-buat. "Malam, A! Aduh geli." Renat tertawa di telinga Abi, dan dibalas kekehan singkat pria itu.
Jika begini, Abi malah lebih ingin untuk membawa Renat pergi berdua bersamanya, daripada membuang waktu dengan acara makan malam yang bisa dilakukan kapan saja. Tapi melihat Renat seperti ini, Abi pikir tidak akan bisa setiap hari.
"Aku suka deh kamu pakai suit kayak gini," ujar Renat masih berbisik, sedang tangannya sudah memeluk erat lengan Abi.
"Ganteng, ya?"
"Ha?" respon Renat dengan wajah tidak terima. Kepercayaan diri Abi kadang kala memang membuat Renat tidak habis pikir. Pria itu memang sadar bahwa dirinya tampan, dan hanya Renat yang kerap menerima pengakuan Abi mengenai seberapa tampan ia. Namun ketika bersama yang lain, Abi selalu saja berakting bahwa dirinya bukanlah apa-apa.
"Kamu cantik, kenapa nggak setiap hari kayak gini?" Abi berbisik di telinga Renat. Wanita itu terkekeh geli pada awalnya, sengaja memberikan respon malu-malu terhadap pujian Abi. Walau pada akhirnya raut Renat sukses datar dengan bibir terkatup.
"Kamu pikir make up kayak gini sebentar?! Terus emangnya sebelum-sebelum ini aku jelek?!"
Abi meringis karena diserang, lantas menggeleng dengan senyum lucu. "Enggak, kamu cantik terus kok."
"Iya gitu, bagus." Renat tertawa, sehingga binar matanya terlihat semakin berkilau persis dress yang ia pakai.
Baru akan menarik Abi untuk ikut bersamanya, suara deheman yang entah berasal dari siapa membuat Renat menoleh. Seketika wanita itu tersadar bahwa ia belum menyapa papa dan calon mertuanya. Renat meringis dengan perasaan bersalah. Langkahnya pasti berjalan menuju Nadine dan membiarkan mama Abi mencium pipi kanan dan kirinya. Begitu bersama Aldric, Renat dengan sopan mencium tangan pria itu. Barulah ketika tiba giliran sang papa, Renat tanpa ragu menjatuhkan diri pada pelukan papanya. Mendekap erat tubuh tersebut tanpa takut bahwa make up di wajah bisa saja hancur. Beruntungnya, tidak hancur.
"Kangen," ujar Renat pelan sekali, memastikan hanya sang papa yang mendengar.
"Papa juga," balas papanya sembari mengusap lembut punggung Renat. "Ayo, anterin Papa sama yang lain ke ruang makan."
Renat melepas pelukannya, lantas mengangguk dan menoleh pada sang mama.
"Yuk semua, kita ke ruang makan." Gita bersuara, memberi gerakan untuk mempersilahkan calon besannya berjalan lebih dulu.
Renat sendiri sudah mendekat pada Abi, memeluk lengan pria itu. Ketika tiba di meja makan, Abi dengan sigap mengeluarkan satu kursi dan meminta Renat untuk duduk, baru ia menyusul duduk di sebelah wanita itu. Abi benar-benar terlihat keren dengan kemeja merah maroon berpadu jas hitam, celana kain yang ia pakai membuat tampilannya terlihat penuh karisma. Khas pria dewasa. Terlihat begitu serasi dengan Renat.
Acara makan malam dimulai dengan sambutan papa Renat, walaupun ia bukanlah tuan rumah, tetapi tetap saja posisinya begitu kuat di sini. Baru dibalas dengan tidak kalah mengagumkan oleh Aldric. Renat dan Abi hanya diam sembari mendengarkan ucapan-ucapan pada orangtua. Ketika mulai makan pun, Abi membiarkan tangan Renat dengan cukup cekatan mengambilkan Abi makanan. Abi diam, memperhatikan wanitanya sembari menahan kebahagiaan yang membuncah. Abi mana mungkin menunjukkan reaksi yang berlebihan ketika tepat di depan matanya, orangtua mereka juga tengah tersenyum geli.
"Maaf ya makanannya aku sama mama cuma bisa beli," ujar Renat pada Abi, baru setelah itu menatap tidak enak pada Nadine dan Aldric. "Maaf ya, Tante, Om."
"Nggak apa-apa, kok," balas Nadine tertawa, tangannya tetap semangat mengambil makanan yang dihidangkan tanpa perlu repot-repot memikirkan apa makanan tersebut dibuat sendiri atau dibeli. "Lagian Tante kadang kalau males masak juga pasti beli. Re nggak usah ngerasa bersalah gitu."
"Tadi pagi udah belajar masak, Mbak." Kini Gita yang berbunyi, menatap Renat dengan senyum geli sebelum akhirnya melihat Nadine lagi. "Tapi ya gitu, masih jauh banget."
"Namanya juga usaha, Ma," celetuk Renat pelan sehingga sukses membuat Abi menoleh dengan raut penasaran. Selama ini, dia jarang mendengar Renat memasak. Hubungan wanita itu dengan dapur benar-benar tidak baik, jauh, tidak akrab sama sekali. Sekalipun mereka bertemu, Abi yang akan selalu memasak. Maka dari itu, ketika Renat dulu pernah berkata ingin memasak untuk Abi, pria itu senang sekali. Sayangnya, belum sempat rencana itu terjadi, Abi sudah memilih pulang lebih dulu ke Jakarta bersama kekecewaannya.
"Kamu masak apa?" tanya Abi begitu saja, penasarannya belum hilang.
Renat menoleh dengan raut malu, pipinya yang sudah merah karena blush on sukses mengkover wajah yang dipastikan kini sedang berubah menjadi merah alami. Renat memberikan gelengan, "Cuma sarapan biasa, tapi ada yang nggak mateng sama over cooked. Sedih."
Abi tertawa renyah, membuat wajah orangtua di hadapan keduanya refleks berubah. Sedikit demi sedikit dapat melihat dengan jelas sebenarnya seperti apa interaksi di antara anak-anak mereka sehingga keduanya dapat bertahan hingga sekarang, salah satunya seperti ini. Renat yang masih tidak sadar bahwa gerakannya tengah diperhatikan tanpa pikir melemparkan cibiran sedih pada Abi, persis anak kucing yang minta dimanjakan.
"Untung kamu nggak makan aja sih, A," ujar Renat sudah pelan namun nyatanya masih terdengar oleh yang lainnya.
"Ya ampun! Re ternyata sering panggil Aa ya ke Abi? Tante baru pertama kali denger loh, lucu banget." Nadine yang bersemangat tentu langsung bersuara tidak percaya, membuat Renat dan Abi jadi menoleh dengan ekspresi kepergok.
"Eh...?" Renat tergagap, merasa malu karena ketahuan.
"Udah." Nadine mengibaskan tangannya, tersenyum penuh kelembutan pada Renat. "Besok kalau udah nikah jadinya nggak susah ngebiasain diri buat manggil Aa ke Abi. Lagian lucu kok, Tante suka."
"Ma." Abi mencoba protes, wajahnya terlihat tidak bersahabat karena sikap sang mama. Abi malu bila sudah seperti ini. Harusnya memang pria itu tidak ikut kemari dan lebih memilih untuk menculik Renat agar mereka dapat menghabiskan malam berdua saja.
"Kenapa deh, A?" semprot Nadine tidak senang. "Kamu tuh harusnya gemes dipanggil Aa sama Re."
"Ya nggak mungkin Abi nunjukin gemesnya terang-terangan," balas Abi tidak mau kalah.
"Sok malu-malu kamu!"
Abi diam, tidak menjawab ucapan mamanya lagi. Ketika tatapannya ingin kembali ke makanan, Abi dapat melihat dengan jelas binar bahagia di wajah papa Renat. Jantungnya seketika berdegub sedikit lebih kencang, teringat akan rencananya malam ini untuk mengobrol bersama Jerry. Abi sendiri memang tidak sering berhubungan dengan ayah dari calon istrinya itu. Setelah makan malam ini, mungkin memang waktu yang tepat untuk mendatangi Jerry dan meminta izin secara baik-baik.
"Oh iya, Bi, coat Abi ketinggalan kemarin." Abi mendongak, menatap Gita penuh tanya.
"Coat apa, Tante?" tanya Abi dengan wajah polos, benar-benar lupa.
"Terakhir kali kamu ke Seoul, yang tiba-tiba dateng, kan pakai coat. Tapi ternyata kamu tinggal di sofa depan tv. Tante juga tau itu punya kamu waktu Renat yang bilang. Sekarang coatnya di kamar Renat, abis di laundry."
"Loh?" Nadine yang merasa ada sesuatu mengganjal tentu berbunyi, berbeda dengan Aldric yang kini tetap memasang ekspresi tenang karena sudah paham akan situasi. "Abi emang kapan ke Seoul lagi? Kok Mama nggak tau?"
Gita tertawa ringan, merasa bahwa tidak akan apa-apa bila ia berterus terang. "Kemarin, yang waktu Abi balik kesini nginapnya di hotel."
"Gimana maksudnya?" tanya Nadine lagi, masih belum mengerti. Matanya jeli menatap gelagat Abi yang sekarang berusaha tenang. Abi tahu, tidak lama lagi, nyawanya akan habis di tangan sang mama bila mama Renat terus saja bersuara.
"Iya, Mbak, kan Abi dari London ke Seoul. Terus balik ke Jakarta disusul sama Renat. Ini nih, aku sebenernya mau ngomong ini karna masih nggak enak sampai sekarang. Mau minta maaf."
"Ngomongin apa?" Nadine terus menjawab cepat, berharap Gita akan segera menyelesaikan ucapannya.
"Iya, masalah kenapa Renat sempet nolak lamaran Abi kemarin di Seoul, terus Abi nya milih balik duluan ke Jakarta. Aku masih nggak enak sama sikapnya Renat karena nggak dewasa, untungnya dia bener-bener yakin buat nyusul Abi ke Jakarta."
Nadine melotot. Benar! Perihal lamaran kedua yang Abi lakukan dan berujung ditolak tersebut hanya diketahui oleh sang papa. Nadine sama sekali tidak tahu karena bila terjadi, Nadine tentu akan mengamuk pada Abi karena sudah melakukan hal yang salah; pulang meninggalkan Renat begitu saja. Sebagaimanapun benarnya Abi, pria itu tahu bahwa mamanya tidak akan pernah menyukai kelakuan Abi ketika ia mulai membuat seorang wanita sedih. Namun kali ini, Nadine sukses tahu. Maka dari itu, Abi harus mempersiapkan nyawa cadangan untuk dapat hidup di esok hari.
Abi dan Renat memilih sibuk dengan makanan di depan mereka, mengabaikan tatapan Nadine yang penuh selidik. Seakan-akan tengah berkata, 'Mama tunggu penjelasan kamu di rumah nanti ya, A! Dasar bandel!' Namun setelahnya Nadine berusaha bersikap tenang, walau tatapannya menyembunyikan amarah yang harus segera dituntaskan. Bersama Gita, Nadine akhirnya terbawa bersama tema-tema pernikahan yang dibahas. Membuat Abi dapat sedikit terbebas sekejap dari tatapan maut mamanya. Jika begini, Abi lebih ingin menumpang untuk tidur di sini saja.
♦ r e t u r n ♦