Lebih dari dua puluh tahun Abi hidup sebagai putra Nadine, baru malam ini, ia benar-benar merasakan dingin yang tidak biasa. Abi sudah tahu bahwa ia akan segera diamuk ketika calon ibu mertuanya membuka rahasia perihal apa yang terjadi di Seoul tempo hari kepada sang mama. Namun lebih menyeramkan sebab nyatanya sang mama sama sekali tidak bersuara selama perjalanan pulang. Abi tahu bahwa akan menjadi tugas utamanya untuk membujuk dan berusaha agar mendapatkan kembali kepercayaan sang mama.
Mobil yang Abi kendarai mulai memperlambat kecepatan, kemudian berhenti di depan pagar rumahnya. Baru saja akan turun, ternyata sang mama sudah turun lebih dulu dan dengan baik hatinya membukakan pagar.
"Bujukin, A," ujar Aldric juga terlihat pusing, tangannya sudah memijit dahi sejak tadi. Kenyataannya, Abi dan Aldric memang merupakan ayah dan anak yang tidak diragukan lagi kedekatannya. Sebagai sulung Aldric, Abi terbiasa mencurahkan segala hal kepada sang papa daripada mama. Dia tidak bisa sembarangan berbicara pada Nadine sebab takut dengan reaksi sang mama. Nadine mudah khawatir dan Abi pikir bukanlah ide bagus untuk menjadikan mamanya sebagai tempat untuk mencurahkan masalah. Sudah dari dulu seperti itu, sudah kebiasaan dan Abi tidak yakin ia dapat merubahnya secara total.
Abi tampak menghembuskan napas panjang, pertanda ia sangat takut menghadapi kemarahan yang tengah disimpan oleh mamanya. Ia menggelengkan kepala, menegakkan duduk seraya menatap ke arah dimana pagar rumah sudah bergeser sempurna sehingga ia dapat masuk. Pelan, Abi mulai menjalankan mobil dengan sempurna, setelahnya keluar bersama Aldric dan menatap sekitar. Mamanya sudah tidak terlihat, sedang pintu utama terbuka salah satunya.
"Pa, gimana?" tanya Abi menatap Aldric di seberangnya, wajah pria muda itu benar-benar kentara akan panik. Berbeda dengan Aldric yang tenang walau tahu wanitanya itu sudah pasti akan marah pula kepadanya. Untuk ke sejuta kalinya, Aldric setuju menutupi urusan Abi dengan tidak memberi tahu Nadine apapun. Tunggu saja, entah ucapan panjang seperti apa yang akan diberikan Nadine nanti.
"Ya bujukinlah, A," jawab Aldric masih santai, kemudian mendekat Abi dan memukul hangat pundak sulungnya. "Nggak usah dibawa bingung. Kalau nanti mama nanyain kamu, jawabnya jujur, jangan bohong-bohong lagi. Kamu selalu punya hak buat nentuin masa muda kamu. Coba jelasin pelan-pelan ke mama, nanti dia juga ngerti."
"Abi nggak tau harus sampai berapa kali Abi giniin mama."
"Ya kalau emang udah sifat kamu kayak gitu, mau gimana lagi, A? Mau nangis-nangis supaya bisa berubah?" Aldric bertanya dengan nada serius, langkahnya mengajak Abi untuk masuk ke rumah. Bukan masalah tidak menghargai orangtua di sini, hanya saja, Aldric tahu bahwa sebagai anak laki-laki tidak semua hal dapat dikatakan dengan mudah, terlebih kepada sang mama.
"Abi juga udah coba-coba kalau lagi ada sesuatu, cari mama dulu terus cerita. Tapi kalau masalah kemarin, Abi mana mungkin bisa cerita." Abi mengusap rambut, matanya memperhatikan keadaan rumah yang sepi ketika kakinya melangkah masuk. Pikirannya penuh akan sang mama, sementara rasa bersalahnya semakin lama hanya semakin membesar.
Mata yang biasanya memancarkan keyakinan tersebut kini tampak ragu. Badan tegap yang selalu mengintimidasi lawan bicaranya kini malah terlihat tidak bertenaga. Sosok pemuda yang terus ditatap penuh hormat oleh orang-orang di sekitarnya kini tidak lebih dari sekedar putra sulung Nadine dan Aldric. Bagaimanapun, sang mama adalah kelemahan Abi. Didiamkan oleh sang mama, berarti jalan buntu bagi Abi. Dia tidak akan bisa berpergian kemanapun dan hanya stuck di satu posisi bila tidak mendapatkan kepercayaan sang mama.
Abi menguatkan diri, berpikir bagaimana cara untuk membujuk mamanya. Abi bukannya tidak terima dimarahi, ia hanya tidak ingin apabila nanti sang mama menyebutkan sesuatu yang tidak seharusnya disebut. Berulang kali Abi membuat sang mama kecewa, membuatnya hapal bagaimana wanita itu akan berbicara hingga pada akhirnya menangis. Itulah dia, air mata sang mama yang Abi buat jatuh adalah kesalahan terbesarnya sebagai anak. Dan kali ini, kekecewaan yang ia perbuat jelas bukan hanya sekedar hal kecil.
Abi memasuki ruang keluarga yang sepi---kedua adik perempuannya memang sedang tidak berada di rumah sebab sudah sibuk mengurusi urusan masing-masing. Bahkan Judith, adik bungsu yang Abi pikir tidak akan pernah beranjak dewasa, kini sudah bermetamorfosa menjadi gadis cantik. Sayang saja, mengingat mereka sudah dewasa dan jarang sekali berkumpul bersama. Sudah lama, tidak ada gelak tawa di ruang keluarga tempat Abi berdiri, tidak ada canda, tidak ada rengekan bahkan perkelahian sengit antara Abiana dan Judith. Semuanya sudah berubah lama sekali.
"Mama di kamar tuh, A." Abi balik badan, melihat Aldric yang tengah membuka jas tengah menggerakkan dagunya ke arah pintu kamar utama. "Nanti Papa suruh keluar biar ngomong sama kamu. Tenang aja, Papa bantuin nanti."
"Mau sampai kapan Papa bela Abi kalau Abi selalu giniin mama?" tanya Abi lirih setelah mengambil tempat duduk di bed sofa depan televisi. Gambaran isi hatinya tampak terbaca begitu jelas dari wajahnya yang lelah. "Abi yang salah karna nggak pandai jujur ke mama. Biar Abi aja yang jelasin."
Aldric terlihat mengukir senyum, terlihat begitu bangga pada sulungnya. "Mama nggak bakalan marah lama-lama, ya kamu taulah setiap kali kamu ketahuan nyembunyiin sesuatu dari mama akhirnya bakalan gimana."
Abi hanya mengangguk, tidak melihat papanya lagi sebab ia sudah memilih memejamkan mata. Badannya terlampau lelah, sedang besok ia harus bekerja dan mendatangi beberapa meeting penting bersama Sean di beberapa tempat. Sebenarnya tidak ada masalah sama sekali bagi Abi dalam urusan pekerjaan, selain Moza. Wanita itu membuat Abi sedikit tidak nyaman---walau kinerjanya dalam bekerja patut Abi acungi jempol---dengan sikapnya ketika jam kantor mulai habis. Tadi saja, Moza tidak segan menawarkan Abi untuk makan malam bersama. Abi tentu langsung menolak dan memilih meninggalkan Moza di belakangnya. Sebab Moza hanyalah bagian kecil dari masa lalu Abi yang tidak begitu berarti. Setelah lama berpisah, bukan berarti Abi akan kembali terkurung pada sebuah perasaan sentimental sebab mereka kembali dipertemukan. Bahkan untuk kembali berteman baik, Abi pikir itu tidak perlu. Rasanya sudah cukup sebagai rekan kerja biasa.
Suara kenop pintu yang terdengar membuat Abi refleks membuka mata, pandangannya jatuh pada pintu kamar utama milik orangtuanya yang kini terbuka. Mamanya keluar, melenggang santai dengan daster rumahan menuju dapur.
"Ma," panggil Abi cepat seraya menyusul langkah sang mama.
Nadine diam saja, meneruskan langkahnya seperti tidak ada seorangpun yang memanggil. Abi yang sadar bahwa mamanya memang memilih bungkam buru-buru memikirkan cara yang tadi sempat tertunda karena dirinya malah memikirkan hal yang lain. Dengan gugup, Abi mencoba mensejajarkan langkahnya dengan sang mama, namun nihil, mamanya tidak mau menoleh.
"Ma," kata Abi lagi dengan nada memohon. Siapapun yang melihat, tentu tidak akan ada yang percaya bahwa pria yang kini tengah merengek tersebut merupakan seorang Managing Director dari sebuah perusahaan maju di ibukota. Rambutnya sudah tidak beraturan efek selalu diacak-acak. "Ma, Abi tau Abi salah, Ma. Tapi Mama dengerin dulu alasan Abi, ya?"
Nadine berhenti bergerak mendadak, membuat Abi jadi terkejut dengan unggul beberapa langkah di depan mamanya. "Alasan?" Nadine memandang Abi dengan eskpresi tidak percaya, merasa bahwa sulungnya benar-benar sudah setengah waras. "Ngapain bilang-bilang ke Mama? Cari aja papa kamu."
Abi tertohok, mamanya benar-benar tengah menyimpan amarah sekarang. Hanya tinggal menghitung sampai meledak. "Ma, nggak gitu." Abi mencoba menenangkan keadaan mamanya, dia hanya tidak ingin keadaan semakin buruk. Sudah malam, akan lebih baik bila mamanya tidur kemudian besok hari mereka dapat kembali membahas perihal masalah ini.
"Apanya?" tanya Nadine terlampau datar. "Mama nggak mau tau alasan kamu. Ya cari papa kamu aja, cerita sama papa kamu semuanya. Minta tolong ke papa buat selesein masalah kamu. Nggak butuh Mama, kan?"
"Ma, bukan kayak gitu maksud Abi."
"Terus apa?" tanya Nadine masih mempertahankan keadaan tenangnya. Entah sampai kapan, namun setidaknya untuk sekarang Abi benar-benar sukses dibuat sulit bicara. "Mama udah capek, sekarang terserah sama kamu. Mau cerita atau enggak, Mama udah nggak masalah."
Abi diam dengan pikirannya sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali bercakap. "Abi tau Mama marah waktu tau masalah ini, tapi Abi sendiri punya alasannya, Ma. Kenapa Abi nggak cerita, karna nggak mau bikin Mama kepikiran. Abi pikir Abi bisa ngatasin semuanya sendiri."
"Apapun alasannya, Aa pikir Aa punya hak untuk ninggalin orang lain gitu aja?!" Kini cara Nadine dalam memanggil Abi sudah berubah, membuat pria itu sadar bahwa mamanya masih mau diajak berbicara walaupun tengah dalam emosi tidak baik.
Abi sendiri terdiam akan serangan sang mama yang tiba-tiba, wajahnya mulai tidak tenang walau sebisa mungkin Abi tetap mencoba untuk menatap wajah mamanya baik-baik. Tapi semarah apapun sang mama, Abi merasa bahwa ia tetap memiliki alasan untuk kepulangannya menuju Jakarta. Bukan karena Abi ingin mamanya menjadi kasihan dan lantas bersimpati, Abi hanya ingin agar kali ini saja sang mama dapat mengerti pilihan yang Abi ambil.
"Kamu ninggalin Renat, A!" ujar Nadine semakin tegas, wajah yang biasanya terlihat lembut tersebut benar-benar sarat akan amarah dan kecewa. "Terus mama, kayak orang aneh karna nggak tau masalah kamu dan bisa enak-enak senyum di depan Tante Gita. Seharusnya kamu mohon, minta maaf karna udah nyakitin anak perempuannya. Bukannya malah lupain masalah seolah-olah nggak ada kejadian apa-apa."
"Ma, Mama nggak ngerti gimana hubungan Re sama Abi waktu itu." Abi bersuara sedikit, mencoba memberikan penjelasan yang menenangkan.
"Sebener-benernya kamu, kamu malah jadi orang paling salah karna udah ninggalin Renat kayak gitu, A." Amarah Nadine tidak tertahan. Wanita itu jelas-jelas merasa malu akibat perbuatan Abi terhadap Renat dan mamanya. Bagaimana mungkin Nadine dapat bersikap biasa-biasa saja padahal tengah ada kesalahan besar yang baru saja dilakukan oleh putranya. "Jawab Mama! Emang pernah Mama atau Papa ajarin kamu kayak gitu? Percuma kamu punya pendidikan tinggi tapi buat ngehargain orang yang kamu sayang, kamu masih nggak bisa."
Abi membuang napas yang nyatanya sempat tertahan untuk beberapa saat sebab mendengar ucapan mamanya. Abi mengusap kepala yang berat sebelum memutuskan untuk kembali bersuara. "Abi udah minta Re buat jadi istri Abi dua kali, Ma. Di Berlin, Abi terima ditolak dengan alasan belum siap. Oke, Abi siap nungguin Renat sampai dia selesein masternya. Kedua kali,di Seoul, Abi ngajuin permintaan yang sama ke Re. Tapi akhirnya gitu lagi, Abi ditolak sama alasan yang sama kalau Re belum siap. Bahkan dia bilang kalau nikah nggak pernah jadi tujuan hidupnya."
Ekspresi mendung di wajah Abi kian tampak, semua beban yang ia tutupi dari sang mama selama ini sebagai seorang pria dewasa pelan-pelan mulai terlihat juga. Nyatanya, sang mama memang tidak tahu bagaimana hubungan Abi dan Renat dalam kurun waktu selama ini. Bertahan dalam jarak jauh yang hanya mudah dikatakan lewat kata-kata namun begitu sulit untuk dijalani langsung. Setiap kali Abi khawatir akan Renat, ia harus tahan menunggu lama sampai Renat menjawab panggilan teleponnya, atau kala pria itu tengah begitu merindukan kehadiran Renat, ia harus menelan pahit ketika Renat mengabaikan pesan-pesannya. Abi berusaha bertahan di atas itu semua demi Renat sebab wanita itu memiliki satu hal yang tidak dimiliki wanita-wanita lainnya, sebuah kenyamanan.
Kenyamanan yang hanya dapat Renat berikan dan Abi harap dapat selalu ia rasakan. Pernah dulu sekali, ketika Abi tengah pusing menghadapi ujiannya, pria itu memutuskan untuk membeli tiket pesawat agar setelah ujian ia dapat langsung berangkat menuju Korea Selatan. Satu hal yang begitu Abi inginkan saat itu, telapak tangan halus milik Renat. Beruntungnya, Abi mendapatkan apa yang begitu ia inginkan walaupun hingga sekarang, Abi tidak pernah bercerita apa maksud sebenarnya dari kedatangan yang ia lakukan.
Dalam keadaan yang masih sama-sama berdiri, Abi menatap mata mamanya walau pikiran pria itu tengah berkelana jauh. Memikirkan berbagai hal yang menjadi alasan mengapa ia dapat merasa begitu tersakiti. Abi hanya ingin menjadi rasional saat itu, memakai hati hanya akan membuatnya terlihat bodoh sebagai seorang pria dewasa. Seperti yang mamanya katakan, pendidikan yang Abi lalui sampai tinggi memang membuatnya terlalu menggunakan otak sehingga pilihannya sudah pasti untuk memilih pergi.
Nadine yang bediri dengan mata panas menatap wujud sulungnya yang tampak terluka, menatap kedua bahu lesu Abi yang terlihat putus asa sekali walau mereka baru saja melalui malam menyenangkan bersama Renat dan keluarga. Untuk kali pertama, Nadine tahu bahwa sulungnya tidak sepenuhnya kuat. Diraihnya tangan Abi, menatap telapak tangan kosong tersebut entah untuk apa.
"Mama tau," ujar Nadine kecil sembari mengelus pelan telapak tangan Abi. Pria itu bertanya-tanya akan sesuatu yang sedang mamanya lakukan. "Mama tau kalau tangan Aa nggak akan pernah dipakai buat nyakitin perempuan manapun. Yang Mama tau, Aa bakalan selalu ngelindungin perempuan karna Aa punya Mama, Bia, sama Judith. Tapi, A, kadang-kadang ucapan bisa lebih nyakitin seseorang daripada tangan atau kaki. Aa pasti ada ngomong sesuatu yang bikin Renat jadi sakit hati, kan? Mama ngerti kalau Aa ngerasa nggak dihargain, tapi kalau Aa beranggapan pergi itu cara terbaik buat selesein masalah, Aa salah."
Raut wajah Abi tampak bingung, ia masih mengerti akan ucapan awal mamanya. Namun pada pertanyaan sang mama, Abi pikir ia tidak dapat menangkapnya dengan baik. "Maksud Mama?"
"Renat jatuh sakit waktu Aa ninggalin dia," jawab Nadine dengan wajah lesu, membuat Abi terpaku di posisinya. Sedang Nadine, wanita itu sudah tahu segala hal yang menimpa Renat sebab tadi dirinya dan Gita memang memiliki waktu cerita berdua saja. "Dia nggak keluar kamar, badannya panas, nggak bisa makan, nangis terus-terusan. Kalau orang lain tau, mungkin mereka bakal mikir Renat nggak bener karna udah nangis buat sesuatu yang sia-sia. Tapi Renat kayak gitu karna sayang, dia cuma nggak tau gimana caranya nemuin keyakinan buat nerima lamaran Aa. Sampai akhirnya dia bela-belain nyusul ke Jakarta karna dapetin kabar dari Bia. Kalau Renat nggak sayang, dia mungkin bakalan ketawa bahagia karna akhirnya laki-laki cerewet yang selalu bahas soal nikah ke dia udah pergi. Malam sebelum Renat mutusin resign, dia sempet mimpi. Mama sendiri nangis waktu Tante Gita cerita soal mimpi Renat. Karena ternyata mimpi itu yang bawa Renat buat yakin nyusulin Aa ke Jakarta. Minta Aa buat jadi suaminya walaupun ego Aa lagi selangit."
Untuk sesaat, Abi diam guna mencerna perkataan Nadine. Pria itu seperti mendapatkan sebuah tendangan keras akan betapa tidak bergunanya ia. Sejak kembalinya Renat ke Jakarta, Abi sadar bahwa ia tidak pernah repot-repot bertanya mengenai alasan datangnya Renat selain mendengar bahwa wanitanya kembali sebab menyesal. Bagaimana Renat dapat resign, atau seperti apa wanita itu ketika Abi pergi. Abi memang sempat penasaran, namun untuk mempertanyakannya, Abi terlampau malas.
Abi pikir wanita ceria itu sudah ia ketahui segalanya. Renat terlihat seperti buku yang terbuka karena sifatnya yang ceria, dan Abi lupa bahwa Renat juga merupakan buku rahasia yang tidak dapat terbaca oleh sembarangan orang dengan mudah. Belum lagi ketika Nadine berucap perihal mimpi, membuat kepala Abi jadi berpikir bahwa sebenarnya mimpi apa yang telah berhasil merubah Renat untuk mau mengambil keputusan yang dulu memang begitu sulit untuk ia terima.
Apa seseorang yang begitu berharga, kejadian yang mengagumkan, atau malah sebuah nasehat dari seseorang. Berbagai kemungkinan tersebut menghampiri kepala pria yang kini masih diam di hadapan mamanya itu. Tidak tahu ingin memberi tanggapan seperti apa. Tangan kanan Abi yang sudah sejak tadi dilepas Nadine dilarikannya ke kepala untuk mengusap rambut.
"Aa tanya sendiri aja ke Renat buat masalah itu," ucap Nadine kala Abi masih tetap bungkam. Ia tahu bahwa sulungnya tengah sibuk memikirkan mimpi Renat. "Jangan lupa, cari waktu buat mampir ke butik bareng Renat. Mama nggak mau nerima penolakan lagi, ngulur-ngulur waktu lagi, atau malah denger yang aneh-aneh dari kamu sama Renat. Masalah yang satu ini baru Mama anggap selesai waktu kamu bareng mama sama papa ngelamar Renat baik-baik ke rumahnya, minta izin langsung ke orangtuanya.Putusin tanggalnya! Kalau kamu masih sok-sok sibuk, siap-siap aja kamu Mama kasih hadiah. Kalau emang niat buat nikah, yaudah fokus dulu. Jangan maunya doang nikah tapi luangin waktu susah banget."
Abi yang sudah tidak jelas lagi bentuknya karena sudah kelelahan hanya mengangguk patuh. "Abi minta maaf."
"Lamar Renat dulu baik-baik, baru Aa dimaafin. Abis itu kita bisa putusin gimana ke depannya." Nadine berucap tegas, ia tidak mau putranya bersikap buruk dalam memperlakukan orang lain terlebih kepada Renat---calon istrinya.
"Iya," jawab Abi mengangguk lagi. Setelah itu Nadine berlalu, meninggalkan Abi untuk menuju dapur. Baru akan beranjak, namun deheman seseorang membuat Abi menoleh masih di posisinya. "Ngapain Papa ketawa?"
Pertanyaa Abi membuat Aldric buru-buru terdiam. Senyum papanya terbit sembari memiringkan kepala untuk melihat dapur walau ruangan tersebut sama sekali tidak terlihat dari ruang keluarga. "Mama kamu keren, makanya Papa sayang."
Abi seakan-akan tengah mendengar suara jangkrik setelah ucapan cheesy papanya. Tanpa berkata apa-apa, Abi memilih meninggalkan sang papa untuk naik menuju kamar. Besok, hari yang panjang tengah menunggunya dan Abi butuh beristirahat malam ini.
♦ r e t u r n ♦