Abi memasuki ruang kerjanya diikuti Moza---sang sekretaris---yang tengah memegang benda elektronik tipis dan beberapa dokumen yang harus Abi tanda tangani. Wanita satu itu terlihat menarik dengan kemeja hitam yang ia padu dengan celana kain warna merah maroon. Bisa dikatakan, Moza memang mencoba mencocokkan selera Abi dengan pakaian-pakaian yang akan ia pakai setiap harinya. Seperti pagi tadi, Moza cukup pusing memilih baju sebab semuanya terlihat tidak menarik untuk ia pakai di depan Abi.
Moza berdiri, menatap Abi yang kini sudah mengambil tempat di kursinya. Pria itu terlihat tenang, sementara tatapannya kini mulai mengarah pada Moza.
"Jadwal saya." Abi bersuara terkontrol, memerintahkan Moza hal yang sudah menjadi rutinitas di setiap pagi.
Selama mendengarkan Moza membaca deretan jadwalnya yang padat, Abi sama sekali tidak bersuara, lebih-lebih berekspresi. Dirinya yang tampak dingin dan sulit untuk dijangkau seakan-akan berguna untuk memberitahu Moza sebuah batasan agar wanita itu tidak berbuat seenaknya. Bahkan ketika Moza mencoba untuk membaca ekspresi yang dipancarkan oleh mata Abi, ia tetap tidak bisa. Yang dilihat oleh wanita itu hanya keseriusan Abi dalam bekerja dan bagaimana tegasnya pria itu terhadap segala hal.
"Terakhir, nanti malam Bapak pasti sudah tahu kalau akan ada perayaan untuk menyambut Bapak di perusahaan ini." Moza mencoba tersenyum hangat, walau respon yang ia dapati dari Abi selalu saja membuatnya makan hati sendiri. Abi mengangguk dengan sikap yang tenang. Walau jujur di dalam kepala Abi, ia terlampau malas untuk datang dan membuang-buang waktunya yang berharga di perayaan tersebut. Tempat seperti itu bukanlah Abi, ia lebih baik duduk di perpustakaan ditemani hening sembari membuka buku perihal bisnis. Atau yang lebih normal, mendatangi Renat untuk sekedar bercengkerama.
"Jangan lupa, siap-siap buat meeting sebentar lagi." Abi memberi instruksi, tangannya menengadah dengan kode agar dokumen yang sejak tadi dipegang Moza dapat segera diberikan padanya agar Abi dapat membaca dan memberi tanda tangan.
"Baik, Pak," angguk Moza tampak profesional. Sayangnya, Abi tidak lagi melihat Moza karena sibuk menunduk membaca dokumen. Helaan napas Moza pelan-pelan terhembus, sedikit kecewa akan Abi yang masih belum dapat menerima keberadaannya. Dilarikannya jemari menuju anak rambut dan menyelipkannya di belakang telinga, menunggu untuk beberapa sampai dokumen tersebut selesai.
Untuk sekali saja, Moza ingin agar Abi dapat menghargainya sebagai seorang teman, sebagai seorang perempuan, bukan hanya menetapkan peran atasan dan bawahan kemudian bersikap seolah-olah mereka tidak pernah saling kenal. Lagipula, setelah sekian lama mereka berpisah, tidakkah pria itu merasa rindu? Pikiran Moza hanya diisi oleh kalimat tanya tersebut hingga sekarang, bahkan ia beranggapan bahwa Abi seharusnya sudah memiliki seseorang di umur sekarang atau sudah menikah. Tetapi, Moza bahkan tidak menemukan fakta-fakta bahwa Abi terikat. Selain hanya obrolan lewat telepon di dalam lift waktu itu yang Moza tebak bahwa Abi tengah berbicara bersama adiknya. Pria itu, terdengar hangat sekali. Begitu berbeda dengan Abi di hadapannya sekarang.
Tidak hanya itu, Moza akui bahwa dirinya masih terlampau meletakkan harapan pada Abi. Sekian lama mereka berpisah semenjak duduk di bangku SMA, tidak sekalipun Moza mendengar kabar tentang Abi. Tinggi harapannya untuk dapat bertemu Abi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, namun kenyataan terkadang memang jauh sekali dari harapan sebab Moza masih harus bersabar entah sampai kapan. Setelah sekian lama berusaha mencari kabar Abi, akhirnya ia dapat diberikan kesempatan di waktu sekarang. Dan Moza tidak akan menyia-nyiakan golden ticket yang sudah susah payah ia cari.
Kebodohannya dulu terhadap sosok Raskal yang pada akhirnya hanya menjerumuskan Moza pada satu hal yang hingga sekarang selalu ia sesalkan. Moza pikir, memilih Raskal akan lebih membuatnya dipandang di sekolahan. Kapan lagi membuat Raskal---seorang yang selalu menjadikan Moza bahan olok-olokkan ternyata secara terang-terangan meminta Moza untuk menjadi pacarnya---tunduk padanya. Tetapi bukannya bahagia, Moza hanya merasa bodoh sebab sudah menyia-nyiakan Abi yang kala itu juga ikut mengungkapkan perasaannya. Abi benar dulu, bahwa seekor singa lapar, tidak akan pernah jinak. Pada akhirnya, Moza hanya dicampakkan setelah terus saja menerima sakit dari sikap Raskal yang dingin selama mereka berpacaran.
"Moza!" Panggilan ketiga dari Abi membuat lamunan Moza buyar. Wanita itu mengerjap, menatap Abi sedikit bersalah. Sedang pria itu sudah sejak tadi memegang dokumen untuk kembali dibawa oleh Moza keluar. "Kamu kerja di sini bukan buat ngelamun. Satu lagi, kamu nggak keberatankan kalau selesai meeting, supir kantor yang jemput kamu?"
"Supir kantor, Pak?" tanya Moza kebingungan. Belum juga pergi, dan Abi sudah berusaha mengopernya secara halus pada orang lain. Tampaknya pria itu memang alergi apabila terlalu lama berada dalam jarak dekat dengan Moza.
"Saya mau ke bandara sebentar abis meeting nanti," ucap Abi memberi jawaban cukup jelas.
Moza mengangguk kaku, mau tidak mau hanya mengangguk menyetujui ucapan atasannya itu. Walau tingkat penasarannya memang semakin menjadi-jadi, terlebih ketika Abi mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke bandara tanpa Moza. "Iya, Pak."
"Baik, kamu boleh keluar." Abi, dalam dinginnya kembali mengalihkan tatapan dari Moza untuk melihat layar komputer. Jika bukan karena pekerjaan, Abi mungkin sudah sejak tadi meminta Moza pergi.
♦ r e t u r n ♦
Renat menelusuri etalase kaca dimana begitu banyak skincare yang tersusun rapi berjejer. Renat menggembungkan pipi, berpikir untuk mengambil skincare yang ia rasa paling cocok. Sejak beberapa hari lalu, tampaknya masalah Renat tidak pernah habis dengan benda yang satu ini, sampai mamanya sendiripun ikut-ikutan pusing. Padahal, wajah mamanya tidak pernah sekalipun bersikap nakal seperti wajah Renat---yang hanya karena salah pakai, jadi berubah seperti kepiting rebus.
Tangan Renat bergerak, mencoba memegang salah satu skincare untuk melihat detailnya. Raut wajahnya terlihat jelas tengah berpikir sebab benar-benar takut bila salah pilih. Renat hanya tidak ingin membuat wajahnya semakin buruk terlebih untuk malam ini. Abi baru saja memberi kabar bahwa nanti malam Renat akan diajak ke suatu tempat, tidak menyebutkan tempat selain hanya mengatakan bahwa acara tersebut merupakan acara formal. Renat sendiri langsung mampu menebak bahwa hal tersebut tentu berhubungan dengan pekerjaan Abi.
Renat kembali meletakkan skincare tersebut setelah membaca detailnya, tidak berminat mengambilnya dan hanya menunjukkan senyum masam kepada pegawai toko tersebut. Tampaknya pegawai tersebut juga mampu menilai kesulitan Renat untuk hal memilih. Selama dua puluh menit melayani Renat, banyak hal yang selalu ditepis olehnya---bisa dibilang kekhawatiran---kala pegawai tersebut menjelaskan berbagai kelebihan dari beberapa skincare.
Ia berjalan keluar toko, moodnya sudah hilang untuk mencari lebih lanjut. Perut Renat sudah lapar sementara jarum pendek jam sudah berada di angka dua belas. Tangannya merogoh tas, hendak mencari ponsel dan menghubungi Abi. Terakhir kali Abi mengabari, setelahnya Renat memang tidak dapat menghubungi pria itu. Renat mencoba mengerti saja, bahwa Abi tentu sibuk mengurus pekerjaannya. Tapi tidak akan salah juga bila Renat tetap mencoba menghubungi Abi dengan maksud memberi kabar.
Jemari Renat dengan lihai bergerak di atas layar ponsel, mengetik beberapa kata sederhana untuk Abi. Ketika menaiki eskalator, pandangan Renat dialihkan sesaat. Kemudian kembali menunduk, membaca beberapa pesan yang sebelumnya sempat Renat kirimkan. Namun bukannya fokus, telinga Renat lagi-lagi dibuat bergerak seperti antena semut. Suara seseorang yang begitu familiar kembali Renat dengar, lucunya, eskalator kembali menjadi tempat.
Renat mendongak, menatap punggung seorang pria berkemeja yang tengah berbicara dengan seorang di seberang telepon. Renat penasaran, sebenarnya siapa pria yang ia yakin benar adalah pria yang sama dengan pria waktu itu. Suaranya, Renat tidak mungkin salah. Renat hanya tidak dapat mengingat jelas wajah apalagi nama seseorang di masa lalu yang dapat menjurus pada pria tersebut. Apa salah satu teman SMA yang kebetulan satu kelas dengan Renat, atau memang seorang yang lain---yang lebih memiliki hubungan dengan Renat ketika mereka remaja.
Renat masih menatap punggung pria itu dengan fokus, berusaha menebak sosok di balik kemeja hijau tersebut. Jika Renat tebak dari pekerjaan, pria itu jelas tipe manusia kantoran. Tapi melihat bahwa sudah kedua kalinya Renat menemuinya di sini---dalam keadaan yang sama sebab waktu itu Renat juga melihatnya cukup formal seperti sekarang---bisa saja pria itu memang bekerja di mal ini. Tapi otak Renat, masih belum bisa menebak siapa pria tersebut.
Pria itu mengangkat kaki dari eskalator dan mulai meneruskan langkahnya lurus ke depan. Sedang Renat sendiri mengambil arah kiri karena ia ingin makan. Rasa penasaran tersebut ia biarkan saja mengapung tanpa ada niatan untuk dipuaskan. Renat menyisir rambutnya yang tergerai indah ke belakang, sembari melemparkan pandangan untuk melihat toko dimana dress indah terpajang. Akan lebih baik bila Renat membeli dress baru untuk menemani Abi malam ini, walau kemarin ia juga baru membeli dress. Walau Renat ingin sekali mengajak Abi untuk menemaninya memilih dress, agar pria itu juga dapat menilai bagus atau tidaknya. Helaan napas Renat terhembus, sadar bahwa Abi mana mungkin memiliki waktu untuk sekedar menemaninya. Pesan-pesan Renat saja sampai sekarang belum terbalas. Pipinya yang menggembung membuat Renat tampak lucu, dia tengah belajar menerima kesibukan Abi mulai sekarang.
Langkah Renat terhenti juga, ketika iris matanya menangkap dress warna hitam yang bila diperkirakan ketika dipakai akan jatuh hingga betis. Seorang pegawai mendekati Renat dengan senyum ramah.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai tersebut sehingga Renat menoleh dengan senyum.
"Dress yang ini," tunjuk Renat yakin, "Saya mau coba dong, Mbak."
Pegawai tersebut mengangguk, lantas langsung mengambil dress tersebut dan mengantarkan Renat ke bagian ruang ganti. Untuk urusan seperti ini, Renat tampak begitu percaya diri. Ia yakin bahwa dirinya dapat kembali membuat Abi takjub malam ini. Beberapa saat mencoba, Renat sama sekali tidak kesulitan. Bahkan senyumnya terukir lebar kala menatap gambaran dirinya di cermin. Potongan dress tersebut sederhana, model tali spaghetti membuat bagian tangan Renat terlihat sangat jelas dan hidup karena warna dress, bagian d**a yang polos hingga terakhir bagian bawah yang jatuh sempurna, Renat pikir akan lebih baik jika dirinya mencari heels dengan warna lain agar kaki putihnya semakin terlihat bagus. Untuk malam ini, Renat ingin tampil berkesan di depan rekan-rekan Abi.
Renat tersenyum puas lagi-lagi, kemudian memilih menyudahi kegiatannya. Ia memilih membuka dress tersebut dan kembali memakai baju sebelumnya. Wajahnya yang percaya diri tiba-tiba saja tergantikan dengan raut ragu, takut bahwa ia malah membuat Abi malu. Bagaimana tidak, semua pendidikan Renat tampaknya hanya berakhir sia-sia sebab ia tidak bekerja. Ia bahkan sudah takut memikirkan bila nanti rekan-rekan Abi bertanya perihal pekerjaannya. Renat takut salah bicara dan malah jadi mengecewakan Abi.
Ia keluar dari ruang ganti dan mencoba untuk tersenyum kembali kepada pegawai ramah sebelumnya, "Saya ambil yang ini ya, Mbak." Renat mengeluarkan dompet, membiarkan dress tersebut diambil alih oleh sang pegawai.
Tidak butuh waktu lama, Renat langsung membayar dan keluar dari toko. Tangannya yang sudah berisi kini berbanding terbalik dengan perutnya yang kosong. Renat memutuskan untuk makan sebentar sebelum pulang. Kegiatannya yang sesekali mencuri pandang ke ponsel untuk melihat apakah Abi sudah membalas atau belum hanya berakhir sia-sia. Pria itu sibuk sekali.
Daripada pusing akan Abi, Renat lebih baik memikirkan makan siangnya. Keputusan wanita itu jatuh pada restoran Jepang dan langsung masuk. Kakinya melangkah menuju sudut restoran dan mengambil tempat diikuti oleh seorang pelayan. Renat menerima buku menu setelah disapa oleh ucapan selamat datang, lantas menatap deretan makanan Jepang yang kebanyakan memang menjadi favorit Abi. Renat menggeleng seorang diri akan pikiran lucunya terhadap Abi, seorang pria yang hanya tahan akan masakan rumah dan Jepang. Aneh sekali, kadang Renat merasa tersakiti sebab Abi tidak bisa menyukai masakan Korea.
"Saya mau pesen Sukiyaki, kalau minumnya air mineral aja." Renat tersenyum, mengembalikan buku menu pada pelayan tersebut.
"Ditunggu beberapa menit dulu," ujar pelayan tersebut dan Renat hanya mengangguk. Kemudian kembali mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Abi. Sudah masuk jam makan siang, setidaknya pria itu memiliki waktu untuk membalas pesan singkat Renat.
Renat masih asik menatap ponsel, kali ini membaca berita dengan tulisan hangul. Pertanda bahwa dirinya memang lebih update terhadap berita-berita Korea Selatan, setidaknya untuk berita di dalam negeri, Renat dapat menonton televisi di rumah. Bibirnya terlihat bergerak, membaca dengan berbisik hingga dahinya sukses berkerut sedikit. Bahkan ketika seseorang mulai mendatangi meja Renat, wanita itu masih tidak sadar. Hingga namanya mulai dipanggil secara jelas.
"Renata?"
Renat mendongak, matanya melotot dengan tubuh membeku ketika wujud seorang pria tengah berdiri memasang raut penasaran di hadapannya. Kemeja hijau, pria eskalator, yang cukup membuat Renat penasaran nyatanya mendatangi Renat lebih dulu. Kini, wanita itu jelas-jelas ingat terhadap pria di depannya.
"Raskal...."
♦ r e t u r n ♦
"Kamu nggak apa-apa balik bareng supir kantor, kan?" Abi sudah mempertanyakan hal tersebut sebanyak tiga kali hari ini kepada Moza yang sejak tadi memandang Abi sedikit tidak rela. Dia ingin menemani pria itu, mau ke bandara atau kemanapun, setidaknya Moza memiliki kesempatan untuk tahu apa yang akan Abi lakukan di sana.
Moza terlihat memikirkan beberapa alasan yang masuk akal, sampai kepalanya di sapa oleh lampu terang. "Tadi saya udah ngabarin supir kantor, Pak, tapi katanya lagi nggak bisa kesini karna ada beberapa orang yang harus dianterin. Mungkin bisa kesini, tapi baru satu jam atau lebih."
Abi menahan helaan napasnya, jelas sekali terlihat keberatan bila Moza menemaninya ke bandara kali ini. Abi diam dulu, memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa ia lakukan untuk sekarang. Abi memang sadar bahwa dirinya cukup tidak bertanggung jawab sebagai atasan sebab membiarkan sekretarisnya pulang sendirian, terlebih bila menyuruh Moza kembali dengan taksi karena supir kantor tidak dapat menjemput.
"Atau saya bisa naik taksi---"
"Nggak usah,"potong Abi langsung. Membuat Moza jadi menahan senyum bahagianya. Padahal Moza sudah cukup putus asa sebab Abi tidak kunjung bersuara dan memberikan Moza solusi.
"Jadi saya balik bareng siapa, Pak?"
Abi menghela napas, lantas berdiri dari kursi tempat ia duduk sejak tadi. Di ruangan yang hanya diisi oleh mereka berdua---sebab client Abi sudah undur diri lebih dulu---tidak baik rasanya bila mereka terlalu berlama-lama. Abi mulai berjalan, melewati Moza yang masih menunggu kelanjutan dari Abi.
"Kamu nggak mau tinggal, kan?" tanya Abi di ambang pintu ruangan, tatapannya lurus pada Moza. "Tapi kita harus ke bandara dulu karna saya harus jemput seseorang."
Moza tersenyum senang, namun buru-buru bersikap biasa dan menyusul langkah atasannya itu. Dia mana mungkin ingin ditinggal. Kesempatan lagi untuk bersama Abi, dan Moza pikir ada kemungkinan kecil untuk ia dapat berusaha sedikit.
Moza melihat Abi yang sudah memasuki mobil lebih dulu, ia cepat-cepat menyusul. Membuka pintu di sebelah kemudi dan duduk dalam diam, membiarkan pria di sampingnya fokus dengan jalanan. Namun dalam perjalanan menuju bandara, Moza tidak tahan untuk tidak berbicara. Dia sudah mencoba beberapa kali sebelum ini dan selalu saja gagal.
"Kamu kenapa selalu nolak tawaranku buat dinner bareng?" tanya Moza mulai merubah caranya dalam berbicara. Tidak ada atasan dan bawahan, sekarang hanyalah Moza dan Abi.
Abi menoleh, melemparkan ekspresi penuh tanya. "Apa?"
"Bi, aku cuma nawarin kamu buat dinner bareng."
Abi bergeming, "Aku nggak punya alasan apa-apa buat terima undangan kamu."
"Kamu nggak perlu alasan buat nerima ajakan aku, Bi." Moza bersuara lebih keras, sarat akan permohonan. Tatapannya yang tidak lagi dibalas oleh Abi benar-benar menyiratkan harapan tinggi. "Udah empat kali loh aku ngajakin kamu, masa ditolak terus."
"Kalau kamu nggak butuh alasanku, kalau gitu aku yang butuh alasan kamu kenapa segitunya maksa supaya aku terima undangan kamu." Abi fokus menatap ke depan, jalanan siang yang cukup padat menuju bandara membuatnya sedikit takut bila terlambat.
"Kamu seenggak suka itu sama aku ya, Bi?" tanya Moza takut, dia hanya tidak siap mendengar jawaban menyakitkan dari Abi.
"Apa?" ucap Abi tidak ingin terlalu jelas dalam berekspresi. "Moz, aku udah bilang sama kamu buat jangan bahas sesuatu kayak gini. Ya silahkan kamu asumsiin sendiri, urusanku sama kamu udah lama selesai. Nggak ada yang perlu dibahas lagi."
"Menurut kamu, iya kayak gitu." Moza bersikeras, wajahnya sarat akan kekecewaan. "Tapi enggak buat aku, Bi."
"Itu urusan kamu, bukan aku," respon Abi mudah, tangannya kini mulai memutar kemudi untuk berbelok. Ketika ingin berbicara lagi, Abi baru sadar bahwa dirinya tengah melupakan sesuatu. Dikeluarkannya ponsel yang sejak tadi sengaja ia matikan, malas saja bila diganggu. Berbagai pesan dan panggilan dari Renat masuk lumayan banyak, membuat Abi berpikir untuk menghubungi Renat kembali. Sayangnya, tidak ada jawaban sama sekali walau panggilan terhubung.
"Bi," panggil Moza mencoba mendapatkan kembali perhatian Abi. "Aku cuma pengen hubungan kita baik-baik lagi kayak dulu."
Abi tertawa remeh, menunjukkan Moza ekspresi tidak terima akan pernyataan yang dilemparkan wanita itu. "Aku nggak inget gimana kita dulu."
"Kamu dulu sempet mau jadi temenku, Bi." Moza memandang Abi, membuat duduknya jadi tidak selurus sebelumnya.
"Iya," angguk Abi singkat, matanya enggan untuk kembali menatap Moza. "Terus siapa yang udahin semuanya? Kamu, atau aku? Aku pernah usaha buat kamu, Moz, tapi pengaruh orang lain mungkin emang lebih dari aku."
"Aku nyesel, Bi," ujar Moza merasa tertampar. Abi jelas-jelas masih ingat setiap hal yang terjadi dulu sekali, membuat Moza hanya berakhir malu dan tidak tahu harus apa selain mengaku menyesal.
"Kamu mungkin mudah buat bilang nyesel, tapi aku nggak bisa pura-pura baik ke kamu apalagi pakai nerima undangan makan malam kamu. Mau kamu nyesel atau enggak, yang pasti itu bukan urusanku lagi. Kelas sembilan, Moz, nggak banyak orang yang mau inget itu, termasuk aku."
Moza terdiam, hatinya sakit akan tuturan jujur dari Abi. Tidak lagi menjawab, Moza hanya memilih diam dan melemparkan pandangan menuju pemandangan di luar jendela. Ia harusnya tahu bahwa Abi tidak pernah main-main terhadap ucapannya. Mengetahui hal tersebut, Moza hanya semakin menyesal. Layaknya daun, ia sudah terlampau jatuh dari pohon.
Sisa perjalanan menuju bandara, suasana mobil begitu hening. Abi tidak perduli, bahkan ia lebih suka bila memang begitu dan Moza cukup sadar diri untuk tidak mengganggu konsenterasi Abi. Ketika memasuki kawasan bandara, Abi mulai mengeluarkan ponsel dan mencari kontak seseorang. Kemudian meletakkan ponsel di telinga.
"Dimana?" tanya Abi mulai menurunkan kaca mobil, berusaha memandang untuk melihat keadaan. "Jalan sendirilah, males parkir."
Abi memfokuskan penglihatan, seakan-akan sudah menemukan sosok seorang yang menjadi alasan kedatangannya kemari. Abi buru-buru mematikan ponsel, kemudian mempersiapkan diri untuk berteriak.
"Audrey!" panggil Abi tidak cukup keras, namun ternyata berhasil membuat sosok perempuan berambut brunette---tidak lagi ungu---menoleh. Audrey, dengan senyum terukir lebar mencoba melambaikan tangannya pada Abi.
♦ r e t u r n ♦