23. Belum Sempat Lega

3791 Kata
Moza tidak dapat menyembunyikan kekagetannya kala melihat seorang wanita yang namanya diteriaki oleh Abi. Dilihat dari postur tubuh dan raut wajah, Moza pikir Audrey bukanlah seorang pribumi. Wanita brunette tersebut tumbuh tinggi dengan bentuk tubuh yang hampir bisa dikatakan seperti model. Wajahnya bule sekali, dengan senyum lebar menghias wajah kala mendekati mobil Abi sembari menarik kopernya. Moza tentu merasa tersaingi. Ia cantik, namun bagi moza kecantikan yang ia miliki hanya sebatas cantik Indonesia. Sementara Audrey, pastilah memenuhi standar kecantikan wanita-wanita Britania Raya. Tanpa Moza sadari, kepalanya memang berpikir terlalu jauh. Hobinya yang suka sekali membandingkan kecantikan sendiri dengan yang lainnya memang tidak pernah menghilang sejak dulu. Pun perubahan cukup pesat yang Moza dapati sekarang dikarenakan rasa irinya terhadap seorang wanita, ia tidak ingin kalah saing di perkuliahan, sehingga membuat dirinya berusaha cukup keras untuk berubah. Lagi-lagi agar dirinya bisa mendapatkan perhatian. Senyuman Abi kepada Audrey membuat Moza mau tidak mau kembali berspekulasi. Ibu jarinya mendekati mulut, menggigit ujung kuku sembari berpikir. Namun ketika Audrey mulai membungkuk di kaca jendela dekat Abi dan mencoba melihat ke dalam, Moza dengan segera memperbaiki sikap. Dirinya cukup terintimidasi oleh tatapan Audrey yang penuh akan selidik. Tampaknya wanita---yang terlihat seperti---bule itu memang tidak pernah segan menilai orang secara terang-terangan. Dan Moza harus menjadi korban entah untuk yang ke-berapa. "Who is she?" tanya Audrey dengan aksen british yang cukup ia kuasai. Abi yang ditanya menoleh sebentar pada Moza, kemudian kembali melihat Audrey dengan senyum tipis. "My secretary," jawab Abi pelan, tampaknya sedikit tidak rela ketika menjawab. Audrey yang mendapatkan jawaban malah semakin meniti penampilan Moza tidak segan. Dia penasaran sekali kenapa Abi bisa sampai mengajak wanita ini bersamanya padahal yang Audrey inginkan adalah bertemu Renat. "Really? Are you going to stand right there all the time? I have no time, Drey. We have to go right now." Audrey tertawa, tatapannya sudah tidak lagi terfokus pada Moza melainkan pada Abi. Wanita itu mengangguk, "Yes, Captain!" Audrey beralih pada kopernya, memasukkan kotak besar tersebut seorang diri pada jok belakang sebab kepelitan Abi yang tidak mau membantunya. Sudah untung dijemput, skak Abi tadi kepada Audrey di pesan singkatnya. Audrey tidak masalah, mengangkat koper hanyalah urusan kecil untuknya. Yang malah menjadi masalah sekarang adalah Moza. "Lo tau nggak sih, Bi, alasan kenapa gue pengen lo yang jemput?" Pertanyaan Audrey dengan bahasa Indonesia fasih membuat mata Moza melotot. Wanita itu tetap diam, kini kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Awalnya Moza kira Audrey adalah kekasih Abi, tetapi jika dilihat dari cara mereka berinteraksi, Moza berhasil menemukan spekulasi yang lebih kuat---bahwa mereka tentu hanya teman. Abi yang belum menjawab menatap Audrey lewat kaca spion, memperhatikan wanita yang kini sibuk menunduk menatap ponselnya. "Kenapa?" Abi bertanya, walau dia tidak penasaran sama sekali. "Karna tadinya gue pikir lo kesini bareng Re, gue padahal udah lama banget pengen ketemu dia. Udah nyiapin kata-kata buat kenalan malah." Abi menggeleng, tetap menatap serius ke jalanan. "Dia juga nggak tau kalau aku kesini." "Lo nggak ngabarin? Kabarinlah! Gue mau ketemu." Audrey mendelik sebal pada jawaban ringan Abi. Dia tidak suka pada sikap Abi yang satu ini. jika tidak memikirkan tempat, mungkin Audrey sudah memberi Abi pelajaran agar sadar. Pria itu boleh saja sibuk bekerja, tetapi setidaknya jangan lupa untuk hanya memberikan kabar singkat. Kadang kala, malah kebiasaan cuek seperti itulah yang membuat seseorang tersakiti. Berbeda dengan Moza yang masih sibuk berpikir, sebetulnya hal apa yang dibicarakan oleh Abi dan Audrey. Untuk kesekian kalinya, Moza membuat kesimpulan sendiri. Beranggapan bahwa 'Re' adalah nama seorang pria yang tengah disukai oleh Audrey. Dan Moza dapat menghembuskan napas lega sebab sadar bahwa posisinya aman. Masih terdapat peluang besar untuk kembali bersama Abi. Dering ponsel yang berbunyi membuat pecah suasana dalam mobil. Abi yang sadar bahwa itu ponselnya langsung saja lega ketika mendapati nama seorang tertera di layar. Tanpa pikir banyak, Abi langsung menerima panggilan dengan senang hati. "Halo?" "Abi," panggil suara di seberang telepon seakan-akan tengah gugup. "Kenapa, Re?" tanya Abi panik, membuat Moza yang berada di sebelahnya langsung saja menoleh penasaran sebab nama 'Re' kembali disebutkan. "Suara kamu kok kayak gitu. Kamu dimana?" "Bi, kenapa?" Audrey ikut-ikutan panik, namun tidak digubris oleh Abi. Bila dipikir kembali, bukankah aneh bila 'Re' merupakan pria terlebih Abi terlihat selembut dan sepanik itu ketika berbicara. Jantung Moza malah jadi gemetar sebab takut bahwa tebakannya bahwa Abi sebenarnya sudah memiliki seseorang ternyata benar. Bukankah pria itu menyukainya? Sebenarnya siapa wanita yang berhasil merebut Abi darinya. Pikiran Moza hanya dipenuhi oleh pertanyaan tersebut sampai-sampai ia tidak dapat mendengar lagi dengan baik lanjutan obrolan Abi di telepon. "Terus sekarang kamu dimana? Sama siapa disana? Biar aku yang jemput." "Aku di resto Jepang yang waktu itu sempet kita datengin." "Sendirian?" "Enggak." "Ya terus kamu sama siapa? Kamu kenapa nggak kasih kabar ke aku kalau mau pergi-pergi sih, Re." Suara Abi kentara akan emosi yang sedang ia coba tahan. Sikap egoisnya secara tidak sadar keluar kala menghadapi Renat. "Aku udah kabarin kamu, Bi," ujar Renat malas melawan, sementara dirinya juga berada pada posisi tidak nyaman sekarang. "Kamu bilang mau ajakin aku pergi nanti malem, yaudah aku cuma mau pergi cari dress. Makanya chatku di read!" Abi meringis, sadar bahwa dia memang belum membaca pesan Renat."Udah ketemu dressnya?" tanya Abi dan harapan Moza semakin pupus. "Udah, padahal tadinya pengen minta ditemenin kamu, tapi inget kamunya sibuk banget." Helaan napas Abi tertahan, merasa bersalah karena tidak bisa menemani Renat kemana-mana di hari normal seperti ini. Paling tidak, mereka baru dapat berpergian ketika akhir minggu tiba. "Terus sekarang sama siapa kalau nggak sendirian?" "Sama ... temen kamu," ujar Renat kecil, pelan sekali sehingga sangat mudah menebak bahwa wanita itu sedang ketakutan. "Victor?" tanya Abi dengan raut bingung, kakinya sudah gatal untuk menambah kecepatan mobil. Berhubung dirinya sedang berbicara dengan telepon saja, makanya ia mencoba menjaga kecepatan. "Kamu ngapain bareng Victor? Cuma berdua? Tapi Victor nggak kasih kabar apa-apa." "Bukan Victor," jawab Renat dengan suara semakin tenggelam. "Tapi Raskal." Kaki Abi refleks menekan rem sehingga ban mobil tersebut sukses berakhir dengan gesekan kuat di aspal. Suara klackson memekik kasar sebab kelakuan Abi yang ikut membuat pengendara lainnya terkejut. Moza dan Audrey pun tidak dapat menahan rasa penasaran mereka. Audrey memajukan badan, berusaha mendengar percakapan sepasang manusia tersebut. Sementara Moza tetap diam dengan telinga yang sudah ia pastikan akan mendengar segalanya. Agar setelah ini kesimpulan yang dibuatnya tidak salah lagi. "Raskal?" tanya Abi dingin sekali dengan buku-buku jari yang memutih. Napasnya tiba-tiba saja terasa menyesakkan, membuat jemari Abi dengan kasar melonggarkan ikatan dasi sehingga penampilannya sedikit teracak. Namun tidak hanya Abi, bahkan ketika mulut pria itu kembali mengucapkan nama Raskal, Moza sendiri sudah membatu di tempatnya. "Raskal?" ujar Moza terbata, tatapannya nanar menatap Abi dan ponsel pria itu. "Raskal siapa?" tanya Audrey sudah penasaran sekali. "Kenapa pada kaget sama yang namanya Raskal sih kalian?" "Tungguin aku sampai dateng, aku kesana sebentar lagi." Abi memutuskan sambungan telepon, tidak peduli pada ucapan Moza maupun Audrey yang menurutnya hanya semakin mengganggu. Tanpa pikir, Abi mulai menjalankan mobil, kali ini dengan kecepatan berbeda dari sebelumnya. ♦ r e t u r n ♦  "Kamu apa kabar, Re?" Raskal bertanya sembari mengambil tempat di seberang Renat. Senyuman Raskal sendiri terlihat begitu bahagia, dia memang tidak menyangka dapat bertemu Renat di sini. Awalnya Raskal melihat Renat ketika wanita itu keluar dari toko dengan paper bag lumayan besar, Raskal tebak Renat baru saja membeli pakaian. Cukup ragu untuk menyapa langsung karena dirinya belum begitu percaya. Di mata Raskal, Renat tampak begitu berubah setelah bertahun-tahun ia tidak lagi melihat wanita ini. Renat terlihat dewasa, berbeda ketika Raskal melihatnya di bangku SMA dulu. Bahkan apabila dibandingkan dengan foto-foto mereka di Pulau Komodo, Renat tampak mungil karena tingginya belum bertambah seperti sekarang. Maka untuk memastikan, Raskal memberanikan diri untuk mengikuti langkah Renat memasuki restoran. Ketika mendengar suaranya dalam memesan, Raskal akhirnya mendapatkan keberanian. Pria itu masih tidak percaya dapat duduk kembali di depan Renat dan menatap wajah cantik itu sepuasnya. "Papa sempet bilang sama aku kalau kamu balik," ujar Raskal setelah memperbaiki duduknya, tampaknya dia juga akan ikut makan siang bersama Renat. "Makanya aku sempet datengin rumah kamu, tapi ternyata bukan kamu sama Tante Gita yang tinggal di sana. Jadi aku pikir apa yang dibilang papa nggak bener." Renat diam saja, sejak tadi sangat merasa tidak nyaman. Napas dan detak jantungnya sudah tidak beraturan lagi. Sesekali, Renat menunduk menatap ponsel dan sibuk dengan benda tersebut. "Re?" panggil Raskal mencoba mencari wajah Renat. Pria itu pikir bahwa Renat memang tidak nyaman. "Aku cuma seneng bisa ketemu kamu lagi, Re." Renat tersenyum tipis sembari membuang napas yang baru saja ia hirup. Kepalanya kini dipenuhi oleh Abi dan berharap bahwa pria itu dapat segera datang. Bukan Renat tidak ingin bersikap baik kepada Raskal, namun dalam memorinya, hanya kejahatan Raskal lah yang bisa ia ingat dengan sangat baik. Bagaimana dulu Raskal sering sekali memaksa Renat dan kemudian menjadikan Renat alasan untuk menyulut emosi Abi. Bahkan kemarahan Abi yang tidak mendasar terhadap Renat, yang berlangsung lebih dari tiga tahun, Raskal lah penyebabnya. Kini, tanpa perasaan bersalah, Raskal dapat tersenyum lebar seakan-akan kesalahannya sudah lama dilupakan oleh orang lain. "Kamu sendirian?" tanya Raskal lagi, mencoba mengajak Renat mengobrol normal. "Kamu nggak keberatankan kalau aku ikut makan siang sama kamu? Daripada kamu makan sendiri." Raskal menekan bel, pertanda ia ingin memesan sehingga seorang pelayan langsung datang padanya. Renat menggunakan kesempatan tersebut untuk pergi sebentar menuju toilet. Kakinya dengan cepat melangkah, sedang ponselnya sudah mulai menghubungi Abi. Raskal yang baru selesai memesan langsung saja mendapati ponselnya yang berbunyi. Nama salah satu rekan kerjanya tertera di layar, membuat Raskal mau tidak mau langsung memijit dahi dan mengabaikan panggilan tersebut. Ia pasti ditelepon untuk ditanyai perihal model yang tengah mereka cari. Bukannya Raskal tidak menemukan, namun menurutnya model-model yang ia dapati sedikit kurang cocok. Pemotretan kali ini bertepatan pula membawa kultur budaya tradisonal Korea Selatan pada Dinasti Joseon. Sementara di bulan-bulan sebelumnya, mereka sudah sukses membawa beberapa kultur beberapa negara Asia. Raskal menunggu sampai ponselnya tidak lagi bergetar, kemudian mematikan total benda tersebut. Kini berpikir apakah langkah selanjutnya yang akan Raskal pilih cukup memberi keuntungan. Kurang dari sepuluh menit, Renat tampak kembali dari toilet. Raskal yang tidak ingin membuang waktu lantas memperhatikan penampilan wanita itu lagi. Baju bertema dark vintage yang jatuh hingga pinggang tanpa lengan dengan ikatan membentuk pita yang melingkari pangkal lengannya membuat manis bahu kanan dan kiri Renat. Sementara bawahan, Renat hanya menggunakan legging warna hitam yang tampak seperti jeans. Raskal pikir, dia sudah menemukan modelnya. "Aku harap kamu nggak keberatan kalau kita lunch bareng." Raskal tersenyum, menatap Renat yang tengah mencoba duduk di kursi miliknya. Wanita itu mengangguk, jantungnya sudah lebih baik karena setidaknya Abi sudah berniat untuk menyusul Renat kemari. Pesanan Renat datang lebih awal dibanding Raskal, membuatnya jadi memiliki alasan untuk terus menunduk tanpa bersusah payah membalas ucapan Raskal. "Kamu ternyata banyakan diam sekarang," ujar Raskal tidak enak hati. Tangannya baru akan terulur sebab ingin membuka tutup air mineral Renat, namun buru-buru dicegah oleh wanita cantik tersebut. "Aku cuma mau bantuin kamu." "Nggak usah," respon Renat pelan, kemudian membuka sendiri tutup air mineralnya. Raskal mencoba mengerti, kemudian diambilnya sesuatu dari dalam tas kerja yang ia bawa. Sebuah majalah, yang berisikan berbagai macam bidikan fotografer handal dan model-model bertalenta. Digeserkannya majalah tersebut pada Renat, membuat wanita yang kini tengah mencoba memakan daging sapi tersebut jadi mendongak dan melemparkan tatapan penuh tanya. "Ini majalah apa?" tanya Renat dan Raskal tersenyum. Tampaknya Renat sudah mulai dapat membuka suaranya pada Raskal, terlihat dari ekspresinya yang lebih tenang dibanding sebelumnya. Raskal menghela napas sebelum mulai menjelaskan, "Majalah ini salah satu majalah yang ngebahas tentang kultur budaya dunia. Aku salah satu orang yang kerja dibalik adanya majalah ini. Bulan kemarin, kita berhasil bawa kultur Kekaisaran Tradisonal Jepang. Bulan ini, kita mau angkat tema kultur Korea Selatan dari Dinasti Joseon. Kamu pasti nggak asing, kan?" Renat hanya mengangguk, lantas bertanya, "Terus? Hubungannya sama aku apa?" "Itu dia, Re, menurutku beberapa model kurang bisa ngebawa emosi era ini. Aku tau ini kurang sopan, tapi aku pengen minta bantuan kamu." "Maksud kamu, aku yang jadi modelnya?" tanya Renat menembak tepat. Membuat senyum penuh rasa bersalah di wajah Raskal sukses terbit disertai anggukan. "Bercanda kamu." "Aku nggak bercanda, Re." Raskal berkata tegas, yakin sekali dengan ucapannya. "Kamu pasti bisa jadi model buat tema yang satu ini. Kamu punya darah model dari Tante Gita." "Kamu pikir hal kayak gini keturunan?" tanya Renat jadi geram. Dia saja sudah dengan keras melarang sang mama untuk tidak kembali menjadi model. Dan Raskal malah secara terang-terangan meminta Renat bahkan sampai mengatakan bahwa Renat memiliki darah untuk hal tersebut. Renat menunjukkan gelengannya lagi, tidak ingin kalah tegas dari Raskal. "Aku nggak bisa." "Kamu bisa, Re," yakin Raskal lewat tatapannya. "Gini, kalau kamu mau, kita bisa mulai bahas-bahas ini, kamu bisa mulai sedikit pemotretan bareng fotografernya nanti. Kalau emang beneran cocok, kita bisa langsung berangkat ke Seoul." Renat terdiam, mencerna ucapan Raskal dengan baik. Dari perkataan panjang pria itu, hanya Seoul yang mampu menarik perhatian Renat. Wanita itu goyah sedikit. Jujur saja, kembali mengunjungi Seoul adalah keinginan Renat di saat sekarang ini. Kebosanannya berada di tanah kelahiran sendiri membuat Renat tersiksa. Dia lebih baik berada di Seoul dan hidup dalam kesibukannya. Ah, tawaran Raskal hanya membuat Renat rindu suasana di Seoul. "Gimana, Re?" tanya Raskal pelan, takut apabila Renat menolak. "Aku nggak tau," ujar Renat dengan gelengan. "Atau kamu lagi sibuk kerja? Kita bisa atur kalau masalahnya itu." "Bukan," geleng Renat, "semenjak balik aku belum kerja sama sekali." "Terus?" Renat diam, memikirkan bagaimana reaksi orang-orang terdekatnya apabila ia menerima tawaran Raskal pastilah membuat mereka tidak terima. "Maaf, Kal, aku nggak bisa." Raskal tersenyum, mencoba menerima pilihan Renat walaupun ia begitu penasaran akan alasan wanita itu. Renat belum bekerja, setidaknya ada kemungkinan besar untuk Renat menerima tawaran Raskal. Namun akhirnya Raskal mencoba menerima, dia tidak ingin terlihat buruk lagi di hadapan Renat. "Kalau emang kayak gitu, aku terima keputusan kamu." Raskal merespon baik. "Tapi kamu masih punya waktu dua hari lagi buat pikirin tawaranku baik-baik, Re." Renat diam saja, kembali memakan makanannya dengan serius walau kepalanya tengah penuh terhadap tawaran Raskal. "Oh iya, Re, kamu belum jawab pertanyaan aku yang pertama tadi." "Apa?" balas Renat kebingungan. "Kamu apa kabar? Gimana Korea? Baik?" Renat mengangguk saja, "Ya, gitulah." "Aku pikir kamu bakalan seumur hidup buat netap di sana." Renat baru akan menjawab, ketika pesanan Raskal tiba dan menginterupsi kegiatan mereka untuk sesaat. Ekspresi pria itu lega, akhirnya ia bisa makan juga seperti Renat. "Niatnya emang buat seumur hidup," kata Renat kecil, jemarinya mencoba menyeka hidung sesaat. "Tapi ada hal penting yang harus aku datengin di sini." Raskal yang baru menelan satu sushi menatap Renat penuh tanya. "Orang?" Anggukan Renat terlihat, walau ia tidak lagi melihat Raskal melainkan menatap suasana lalu lalang manusia dari dalam restoran. Bertanya-tanya kapan Abi akan datang. "Iya, orang." "Kalau aja dulu aku inisiatif buat ngunjungin kamu ke Seoul, mungkin kita bakal jadi temen lebih awal. Aku tau gimana kesalahan aku dulu ke kamu. Iblis banget aku dulu. Sampai sekarang, aku juga selalu mikirin Abi. Bayangan kalau dulu kita sempet hampir bunuh-bunuhan, buat aku mikir kalau itu emang bodoh banget. Aku minta maaf, udah jadi alasan yang bikin kamu sama Abi dulu jadi nggak baik-baik aja." Renat tidak menyangka, bahwa seorang Raskal memang telah berubah. Pria itu tampak dewasa dengan ucapan maaf yang ia ucapkan. Renat pikir, Raskal tidak akan pernah ingat untuk sekedar mengaku salah. Namun ia salah, Raskal malah lebih positif, berbeda jauh dari dirinya dulu yang hanya pandai menyulut emosi orang lain. "Aku tadi sempet takut ketemu kamu lagi," ujar Renat tersenyum tipis. "Keliatan, Re, dari muka kamu, kayak ketemu criminal," tawa renyah Raskal terdengar. "Oh iya, kamu masih sering kontakan sama Abi?" Renat membuang lirikan, sadar bahwa Raskal pasti tidak tahu mengenai hubungan Renat dan Abi yang masih berlanjut hingga sekarang. "Aku sama dia baik-baik aja." "Serius?" kata Raskal tidak percaya. "Berarti kamu tau Abi dimana sekarang?" "Taulah," jawab Renat sedikit sombong sambil terkekeh. "Masih di London?" tanya Raskal lagi dengan raut polos dan Renat langsung saja mengibaskan tangannya. "Dia lagi jalan kesini," ujar Renat santai namun sukses membuat Raskal melotot. "Aku tadi ke toilet buat kabarin Abi kalau kita ketemu. Aku masih bareng dia, Kal. Cuma ya, aku harus nunggu tiga tahun sampai dia berani nyusulin aku ke Seoul." "Astaga...." Raskal bersuara lirih tidak percaya. "Aku pikir kalian emang nggak pernah kontakan lagi sampai sekarang. Aku seneng kalian baik-baik aja. Terus, udah ada niatan serius?" "Ditunggu aja," ujar Renat pelan dan Raskal sukses bertepuk tangan akibat takjub. "Aku doain lancar sampai seterusnya." "Makasih," respon Renat senang hati. Wanita itu benar-benar lega setelah dapat mengobrol ringan bersama Raskal. Seorang dari masa lalu yang Renat pikir akan kembali membawa bencana dalam hidupnya, nyatanya malah memberikan Renat ucapan selamat dan doa mengenai rencana pernikahannya bersama Abi. Renat mengulurkan tangan, mengambil botol air mineral yang juga dipesan oleh Raskal dan tanpa ragu memutar botolnya. ♦ r e t u r n ♦  Ponsel Renat berbunyi tepat ketika dirinya keluar dari gedung mal. Ditatapnya layar ponsel dan tersenyum lebar ketika mendapati ternyata Abi menghubungi. Pertemuannya dan Raskal memang sudah selesai sebab pria itu harus kembali ke kantor dan Renat juga harus segera pulang. Wanita itu baru akan mengabari Abi bahwa dirinya akan kembali dengan taksi saja, agar Abi tidak repot-repot kemari. Lagipula, Renat juga sudah lumayan lama menunggu namun Abi sendiri tidak kunjung datang. "Halo, Bi," sapa Renat lebih dulu. Suaranya juga sudah berbeda jauh dari sebelumnya, kala ia menelepon Abi dengan gugup sebab takut akan Raskal. "Kamu jadi kesini?" "Kamu masih makan? Mobilku baru masuk ke dalem." Tepat setelah itu, Renat dapat melihat gerakan mobil Abi yang datang mendekat. Ia langsung saja melambaikan tangan. Membuat ketiga orang yang berada di mobil tentu memberikan fokus pada Renat. Renat tertawa sembari mendekati mobil Abi yang kini sudah berhenti tidak jauh darinya. Abi juga ikut keluar dengan cepat dari mobil, raut paniknya begitu kentara karena takut Renat kenapa-napa. "Abi," sapa Renat seperti anak kucing yang baru bertemu induk. Dan perilaku Renat mau tidak mau membuat Abi merasa janggal. "Kamu bohong ketemu Raskal?" tanya Abi menyelidik, membuat senyuman Renat langsung luntur. Renat tentu saja menggeleng, "Aku nggak bohong, tadi emang ketemu Raskal tapi dia udah pergi. Dia titip salam ke kamu." "Ha?" respon Abi tidak percaya, merasa bahwa Renat tengah mengada-ngada. "Bercanda kamu?" "Kok kamu gitu?" "Re, aku sibuk." Dalam hitungan detik, kekhawatiran Abi langsung berubah menjadi rasa kesal yang tidak dapat dijelaskan. Lucunya, bagaimana pula ceritanya seorang Raskal dapat menitipkan salamnya untuk Abi. "Aku jauh-jauh ke sini karna khawatir sama kamu. Tau-tau waktu aku sampai kamu malah nyengir kayak gitu. Apa tadi, Raskal titip salam? Kamu sakit? Kamu mendingan nggak usah ulangin lagi hal kayak gini, jadiin nama Raskal alasan supaya bisa buang-buang waktu aku." Renat menatap Abi nanar, matanya bahkan sudah panas. Tidak masalah bila pria itu tidak mempercayainya, namun perkataan Abi bahwa Renat telah membuang-buang waktunya sukses tidak bisa Renat terima. Terlebih, Renat sama sekali tidak berbohong. "Kamu kenapa, sih?" tanya Renat masih berusaha untuk tidak meletus walau hatinya sudah menangis kecewa lebih dulu. "Aku nggak bohong. Tadinya aku nelfon kamu emang karna takut ketemu Raskal. Tapi siapa yang minta aku nunggu? Kamu, kan? Aku nggak minta kamu buat datang dateng kok. Aku minta maaf, kalau cuma buang-buang waktu kamu." Renat tersentak, ketika pintu mobil Abi terbuka dari dalam. Keluarnya seorang perempuan dari jok belakang sukses membuat Renat melemparkan tatapan penuh tanya pada Abi. Tidak selesai dengan itu, keluarnya Moza seperti sukses membuat mood Renat hancur lebur. Sebenarnya apa saja isi mobil calon suaminya itu, akan adakah lagi kandidat ketiga yang keluar dari sana? "Halo, Re," sapa Audrey pada Renat dengan senyum tidak enak yang dibalas dengan tatapan raut tidak bersahabat sama sekali. Belum lagi karena wanita yang Renat pikir bule itu sepertinya sudah mengetahui nama Renat. "Aku cuma temennya Abi kok, namaku Audrey." Renat diam saja, sama sekali tidak mau repot-repot membalas karena rasanya masih saja sakit mengingat ucapan Abi sebelum ini. kini dilihatnya kembali Moza, merasa tidak asing dengan wajah dari wanita berkemeja hitam tersebut. Renat merasa bahwa mereka pernah bertemu sebelum ini, walaupun ia lupa dimana dan kapan. Sementara Moza yang kini tidak dapat terbaca ekspresinya hanya mampu merutuki kebodohannya. Ia ingat betul bahwa Renat adalah orang yang sempat dilihatnya di hotel, ketika ia dan Abi kembali bertemu setelah sekian lama tidak. Moza pikir, Renat adalah adik dari Abi mengingat penampilan Renat kala itu; sweater kuning, rok putih selutut, lalu boots. Tidak ada tanda-tanda yang membuat Moza berpikir bahwa ternyata Renat adalah orang yang mampu membuat Abi melupakannya. Nyatanya, hari ini, Moza mengakui cantiknya Renat dalam tampilannya yang lebih normal untuk wanita seumurannya. Lagi-lagi, Moza kembali membandingkan diri. Belum selesai dengan Audrey, kali ini ditambah Renat. "Re," panggil Abi mencoba menggapai lengan Renat namun berakhir ditepis kasar. Melihat Renat hari ini, Abi memang tidak rela karena Renat keluar dari rumah dengan pakaian terbuka seperti ini. "Kenapa nggak pakai jaket?" Renat menunjukkan senyum miris, harusnya ia yang banyak bertanya sekarang. Setelah menghabiskan waktu sendirian untuk mencari dress, dan berakhir dimarahi karena disangka berbohong, Abi nyatanya tanpa malu malah mengingatkan Renat kenapa ia tidak memakai jaket. Pria itu tampaknya benar-benar tidak bisa melihat gajah di pelupuk matanya sendiri. Abi mencoba membuka jas kerjanya, ketika ingin memakaikannya pada Renat, tangan pria itu kembali ditepis. "Apa, sih? Udahlah, sana balik kerja." Renat mencoba untuk tidak menatap Audrey atau Moza karena ia tahu matanya tidak akan tenang-tenang saja. Renat tidak ingin dinilai jahat walaupun ia sangat ingin seperti itu. "Re, maksud aku nggak gitu." "Apa lagi, Bi?" tanya Renat lemah, dia tidak sanggup lagi. "Yaudah kan aku udah minta maaf karna udah buang-buang waktu kamu. Sekarang balik aja kerja, aku bisa pulang sendiri." "Aku anter---" "Nggak!" potong Renat langsung hingga Abi sukses terdiam. "Anterin mereka aja sepuas kamu. Aku mau pulang sendiri. Besok juga ketemu di butik aku berangkat sendiri aja. Dah." Renat berbalik, menyeret kakinya menjauh. Tatapannya pada Abi sarat akan lelah. Akhir-akhir ini, Renat pikir Abi memang kerap meluapkan emosinya kepada Renat dan itu membuatnya tidak kuat lama kelamaan. Abi yang baru ingin menyusul cepat-cepat ditahan oleh Audrey. "Lo tuh kenapa sih malah marah-marah kayak tadi ke dia? Lagian jelas-jelas di telfon dia hampir nangis, terus lo seenaknya ngatain dia bohong. Ya emangnya kenapa kalau dia udah buang-buang waktu lo? Lo sesibuk itu emangnya? Gue yang ngerasa nggak enak, Bi. Lo bela-belain jemput gue ke bandara tapi buat nyamperin dia kesini lo malah bilang buang-buang waktu. Kalau bukan karna rencana pernikahan lo nih ya, gue nggak akan mau balik ke sini." Audrey geleng kepala tidak tahan, berbalik untuk membuka pintu mobil dan mengambil kopernya. Ketika pandangan Audrey dan Moza kembali bertemu, tatapan tidak bersahabat Audrey tidak dapat terelakkan. Faktanya, Audrey memang merasa bahwa ada hal tidak beres dengan sekretaris satu itu. Moza yang sejak tadi memang diam nyatanya kembali dibuat kaget pada fakta bahwa Abi ternyata tengah mempersiapkan pernikahannya. ♦ r e t u r n ♦ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN