24. Api

2442 Kata
Di atas tempat tidurnya, Renat duduk diam sambil menyelimuti diri agar hangat. Sudah sore, namun Renat enggan bergerak untuk lekas siap-siap. Kepalanya enggan untuk menoleh pada ponsel yang sejak tadi berbunyi. Renat menebak, itu tentu saja Abi yang hendak ditemani malam ini. Renat tertawa remeh, walau matanya malah mencerminkan hal sebaliknya. Renat bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa ia menemani Abi jika pria itu sendiri nyatanya lebih senang bersama dirinya sendiri. Bahkan Abi sampai mengamuk ketika Renat hanya membuang-buang waktunya. Ponsel Renat kembali berbunyi, membuatnya lama kelamaan muak pada suara ponselnya sendiri. Tanpa pikir, Renat menyambar ponsel tersebut, menolak panggilan Abi dengan kasar dan kemudian mematikan total benda pipih itu. Renat sedang tidak ingin diganggu, terlihat dari wajahnya yang benar-benar terlihat lelah. Dalam gelapnya ruang kamar, wanita itu mulai menutup mata hendak tidur. "Re?" Panggilan disertai ketukan pada pintu terdengar, membuat mata Renat terbuka lagi. Ditatapnya pintu kamar yang tinggi tersebut sembari mengusap dahi. Dia tidak ingin diganggu. "Re?" Mamanya kembali memanggil, masih belum enggan meninggalkan posisinya untuk mendapatkan perhatian sang putri. "Katanya mau pergi bareng Abi, udah siap-siap belum? Mau Mama bantuin?" Wajah Renat sendu, ucapan sang mama hanya membuat Renat semakin enggan untuk bangun. Biar saja, tanpa Renat temani pun, ia tahu bahwa akan banyak wanita yang mau menemani pria satu itu. Untuk malam ini, Renat malas melawan karena tenaganya sudah hampir habis. Diabaikannya panggilan sang mama, dengan menarik selimut untuk menutupi seluruh badan. Lebih dari lima menit berlalu, Renat merasakan sepi. Sepertinya sang mama sudah meninggalkan pintu kamar Renat dan menyerah untuk membujuk. Namun baru akan menyibak selimut karena sesak, pintu kamar Renat kembali diketuk pelan. Renat refleks melayangkan lagi tatapannya ke arah pintu, menatap tidak suka sebab ia kembali diganggu. "Kenapa sih, Ma?" teriak Renat pada akhirnya karena geram. Kakinya turun dari tempat tidur diikuti badan dengan gerakan malas, kemudian berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. "Apa---" Renat terdiam, ekspresinya yang meledak-ledak berubah jadi datar. Namun tampilan Abi yang acak-acakan membuat Renat mau tidak mau diketuk oleh rasa khawatir. Kemeja Abi yang sudah tidak jelas bentuknya, dasinya bahkan tidak lagi mengikat leher karena ia memilih menggenggam benda tersebut bersama jas yang juga sudah ia buka. Renat memilih diam saja, tidak mau berkomentar apa-apa sebab rasanya masih saja menyakitkan. "Re," kata Abi pelan, suaranya seakan masuk ke dalam tenggorokan. Renat baru akan menutup pintu kamarnya kembali, namun gerakan Abi untuk menahan nyatanya lebih cepat. Pria itu diam, menatap mata Renat seakan-akan tengah bermohon agar ia diberi kesempatan untuk berbicara. Renat membuang muka, malas melihat Abi. Tenaga Renat yang kalah dari Abi membuat wanita itu mau tidak mau melepaskan pegangannya pada pintu. "Apa?" tanya Renat pelan, dia tidak ingin menyulut emosi Abi maupun dirinya. Energinya sudah terkuras sejak pagi, dan Renat butuh istirahat. "Kamu udah makan?" tanya Abi dengan nada terkontrol pula, tangannya perlahan melepaskan pintu dan memperhatikan gerak-gerik Renat takut-takut bila wanita itu menolaknya lagi. Dahi Renat sukses mengernyit, pertanyaan sederhana Abi malah sulit dicerna oleh otaknya. Helaan napas berat Renat keluar begitu, sementara matanya kembali melirik penampilan Abi yang kusut. Renat ingin sekali meminta Abi mandi karena tidak sanggup lagi melihat bentuk pria itu, namun amarah membuat Renat tetap diam sampai akhirnya Abi yang kembali berbicara. "Aku marah sama diriku sendiri waktu tau kamu bareng Raskal," ujar Abi mencoba jujur. Pria itu menekan bibirnya seraya mempersiapkan kalimat baru, berusaha untuk tidak salah bicara lagi seperti siang tadi. Senyuman Renat yang terkesan mengejek terbit juga pada akhirnya, ia menggeleng menatap Abi yang menurutnya selalu saja mencari alasan. "Bukannya kamu nggak percaya? Udahlah, aku capek. Kamu pulang aja, nggak ada gunanya juga ngomong kayak gini." "Aku nggak suka karna dia bisa bikin kamu ketawa, Re," ungkap Abi jujur dengan wajah tersiksa, tangannya berjalan dari dahi dan berakhir mengusap rambut. Benar-benar malu untuk jujur pada Renat yang kini sedang berdiri dengan tangan dan pinggang, tawa remeh wanita itu pun sukses membuat Abi semakin terpojokkan. "Egois banget dong kamu?" tanya Renat dengan senyuman, walau sejak tadi cahaya di mata wanita itu hanya memperlihatkan kekecewaan mendalam. "Kenapa kamu boleh bertigaan sama perempuan-perempuan itu? Aku bahkan nggak tau kalian ngapain aja, Bi. Belum lagi kamu perlakuin mereka baik-baik. Sementara aku? Aku nggak bisa jalin temenan sama siapapun cuma karna sikap konyol yang selalu kamu bikin setiap aku seneng sama temen laki-laki yang lain. Sahabat sebaik Tae Joon yang harus aku coba relain karna kamu nggak suka aku sama dia. Sekarang Raskal? Seriously? Di saat Raskal bahkan udah ngaku sama kesalahannya dan dia coba buat berhubungan baik sama kamu, tapi respon kamu apa? Aku yang kamu katain sakit? Kamu kali yang sakit jiwa. Jemput aku pakai bawa-bawa perempuan lain, sekalian aja satu kantor yang kamu bawa." Napas Renat tidak teratur, apa yang ia pendam sejak tadi akhirnya termuntahkan juga. "Aku coba ngerti sama kamu yang nggak suka kalau aku bareng laki-laki lain. Tapi kamu tau nggak sih, Bi, gimana perasaanku waktu kamu malah nyudutin aku di depan temen-temen perempuan kamu itu seakan-akan aku yang paling jahat, cuma karna kamu ngira aku udah bohong sama kamu. Acara marah kamu tadi bener-bener nggak beralasan. Sadar nggak?" Abi diam saja, ia tahu betul akan kesalahannya perihal marah-marah tersebut. Namun untuk Abi, sepertinya wajar bila tidak suka ketika wanitanya malah menghabiskan waktu dengan pria lain. "Jadi aku nggak boleh nggak suka kalau kamu bareng orang lain?" "Ya aku bahkan nggak ngelakuin apa-apa sama mereka, Bi!" teriak Renat seakan dituduh yang tidak-tidak. Raut wajahnya terlihat tidak percaya pada sikap Abi yang dirasa-rasa sangat keterlaluan. "Kita udah sama-sama gede, kan? Aku nggak mungkin cuma berhubungan sama perempuan kalau misalkan pekerjaan aku ngeharusin aku interaksi sama laki-laki." "Emangnya kamu kerja apa?" tanya Abi dengan nada sarkas, membuat Renat jadi harus menahan diri kuat-kuat. "Kamu nggak perlu kerja, kamu punya aku---" "Diem!" teriak Renat bergetar, tidak mau Abi melanjutkan kalimatnya. Renat menunduk ketika air mata yang ia tahan akhirnya meluncur juga. Membuat Abi yang berada di hadapannya sukses terdiam karena terkejut akan respon Renat. Pria itu menatap nanar tubuh Renat yang pelan-pelan meluncur ke bawah, memeluk erat kedua lututnya dengan air mata yang tidak kunjung berhenti. Abi perlahan ikut menyamakan posisi dengan Renat, bertahan di atas tumpuan kakinya yang ditekuk. Ketika lengan hangat pria itu ingin bergerak mendekap Renat, wanita itu menolak. Menatap Abi dengan tatapan campur aduk. Renat sesak sendiri, hatinya seakan dihantam keras oleh sesuatu paling menyakitkan, yakni larangan. Selama ini, Renat tidak pernah merasakan hal semengecewakan ini. Fakta bahwa Abi terlalu mengikatnya sebagai perempuan membuat Renat muak dan malas. Bukan hal seperti ini yang Renat inginkan. Untuk apa dirinya sengsara dalam sebuah sangkar? Yang Renat inginkan adalah sebuah kebahagiaan bersama kebebasan walau ia sudah menjadi seorang istri, namun Abi tidak mengerti. "Re," panggil Abi pelan sekali, berusaha agar Renat tidak semakin menjadi-jadi. "Diem!" isak Renat agar Abi tidak lagi bersuara. "Aku nggak mau denger kamu ngomong dulu, jadi tolong diem!" "Iya aku di---" "Jangan ngomong!" Bibir Abi tertutup rapat, ia mencoba menuruti kemauan Renat agar tidak berbicara lagi. Abi sanggup-sanggup saja, tapi keadaan Renat yang semakin terlihat buruk membuat Abi tidak bisa lagi menahan diri. Tangannya terulur, memaksa untuk meraih bagian belakang pundak dan bawah lutut Renat. Beruntungnya, Renat tidak membuat perlawanab sama sekali. Sehingga Abi dengan mudah dapat membawanya menuju tempat tidur. Diletakkannya tubuh Renat dengan pelan, kemudian mengusap rambut yang menutupi dahi dan sudah dipenuhi keringat tersebut. Masih dalam diam, Abi berlalu keluar meninggalkan kamar Renat. ♦ r e t u r n ♦ Hanya selang tiga jam setelah Abi meninggalkan kantor, kini ia kembali lagi. Kali ini dalam penampilan yang terlihat lebih baik dari tiga jam sebelumnya. Abi keluar dari mobil, merapikan sebentar jas hitam yang ia pakai. Keinginannya untuk ditemani Renat malam ini pupus sudah, padahal Abi begitu ingin memperkenalkan wanita itu secara tidak langsung di hadapan seluruh karyawan agar tidak ada lagi karyawan yang menatapnya lapar. Setiap memasuki kantor, Abi langsung merasa seperti ikan di hadapan kucing-kucing garang. Akan lebih baik bila Renat di sini dan ikut menemaninya, agar orang-orang tahu bahwa Abi tengah bahagia karena memiliki calon istri semanis wanita itu. Namun apa daya, setelah hal mengejutkan yang terjadi di rumah Renat tadi, Abi tahu bahwa kesempatannya sedang tertutup. Renat tidak akan ingin dihubungi sampai ia benar-benar siap. Bahkan Gita yang ikut mendengarkan hanya bisa meminta maaf dan mengucapkan semangat agar Abi tidak mudah menyerah pada Renat. "Tante emang nggak tau apa masalah kalian, tapi Tante mohon, jangan pernah malu buat minta maaf duluan. Cukup satu aja, nggak perlu dua-duanya, kalau salah satu di antara kamu sama Re ada yang berani buat punya sikap dewasa, kalian bakalan baik-baik aja." Abi mengingat jelas apa ucapan Gita sebelum ia berpamitan. Jika bukan karena acara yang dikhususkan untuk menyambutnya, Abi tidak akan datang dan lebih ingin menunggu Renat di rumahnya. "Boleh Abi dateng lagi abis ini, Tan?" Gita tersenyum, menepuk pelan bahu calon menantunya itu. "Nggak usah malam ini. Kamu juga harus istirahat. Ketemu lagi sama Re nya besok aja." Abi tidak mempunya pilihan lain selain mengangguk, rasanya benar-benar aneh sebab sudah bertengkar seperti tadi dan Renat terlihat begitu tertekan. Seharusnya Abi dapat lebih paham pada apa hal-hal yang diinginkan oleh Renat, namun pria itu terlalu jahat sebab sudah membutakan matanya. Hingga pada akhirnya, Renat terluka juga. Abi tersentak dari pikirannya sendiri ketika kedatangan seseorang mendekati posisinya. Abi menoleh, melihat Moza tengah tersenyum manis dalam balutan dress merah hati. Abi diam saja, memilih melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Waktunya terbuang beberapa detik hanya untuk melihat Moza yang entah untuk alasan apa, selalu saja berada di dekatnya. Abi tahu bahwa wanita itu memang sekretarisnya, tapi bukan berarti Abi berniat untuk terus meminta bantuan Moza pada semua hal. Dalam perjalanannya menuju ruangan dimana acara tengah di selenggarakan, Abi tahu bahwa Moza tengah berusaha menyamakan langkah dengannya. Abi geleng kepala, kepalanya semakin pusing saja karena kelakuan sekretaris satu itu. Sembari memasukkan tangan ke dalam salah satu saku celana, Abi mulai mempercepat langkah, tidak peduli pada Moza yang mulai memanggilnya. Pintu ruangan dibukakan ketika Abi tiba, membuat pria itu dapat masuk dengan leluasa dan langsung menyisir pemandangan di dalam. Kebanyakan yang datang adalah para karyawan perempuan---dan kini sedang fokus menatap Abi yang sedang berjalan di tengah ruangan hendak menuju petinggi-petinggi yang lain. Abi dengan sopan mulai menyapa, bersikap penuh wibawa walau pikirannya tengah dipenuhi beban. Namun untuk sekarang dia harus menyesuaikan sikap atau dirinya akan di cap tidak baik. "Gimana, Bi, pabrik?" Abi tersenyum sekenanya dan mengangguk, "Cukup lancar, Pak. Saya kesana kemarin." "Cukup lancar?" "Ya, ada masalah antar beberapa karyawan waktu saya sampai di sana. Tapi mungkin sekarang sudah selesai, saya sudah bicara dengan kepala pabrik mengenai hal tersebut. Mungkin sedang menghadapi jalan damai." Lawan bicara Abi tampak mengangguk mengerti, merasa puas bahkan ia sampai tertawa ringan akan jawaban Abi. "Saya harap kamu berhasil memegang proyek besar setahun lagi dan dapat melakukannya dengan baik. Satu lagi, selamat datang di perusahaan." "Terimakasih, Pak," ujar Abi setelah itu menatap kepergian pria berumur setengah abad tersebut, tampaknya juga akan menyapa rekan yang lain. "Abi," panggil seseorang membuat Abi cukup terkejut. Dilihatnya Moza kembali menunjukkan senyum. Sepertinya Moza memang sedang mencari kesempatan ketika Abi tengah tidak bersama yang lain sehingga dirinya dapat menyapa pria itu dengan leluasa. Tawanya terbit kecil, "Nggak apa-apakan kalau cuma panggil nama? Anggep aja aku bukan sekretaris kamu malam ini." Abi diam awalnya, memperhatikan gelagat Moza yang aneh. Dengan nada datar, Abi menjawab ucapan wanita itu. "Terserah kamu lah." "Gimana? Seneng nggak satu kantor nyambut kamu?" Moza bergerak, mengambil minuman yang dibawa oleh beberapa pelayan. Kemudian menawarkan Abi dan sayangnya ditolak. "Buat apa?" tanya Abi pelan, dua tangannya masuk ke dalam saku celana. "Mau disambut atau enggak juga nggak akan kasih pengaruh apa-apa." Moza terkikik, kemudian memukul pelan d**a kanan Abi sehingga pria itu sukses mengernyit ngeri. "Kamu nggak boleh kayak gitu tau. Karna udah dibuatin ginian tandanya kamu disambut baik." "Bukan urusanku kalian mau sambut aku baik atau enggak. Yang pasti posisiku tetep atasan. Kalian mau benci juga silahkan, kalian bawahanku. Nggak suka sama apa yang udah aku buat, mudah, silahkan tinggalin perusahaan." Abi berujar secara kasar. Bukan bermaksud apa-apa, tapi ingin sekali membuat Moza enyah dari hadapannya. "Kok kamu jadi serius gitu sih, Bi?" Moza mencibir, ingin berusaha terlihat lucu. Sesekali ia juga menyesap ringan minuman berwarna tersebut. "Kamu pasti masih kepikiran sama yang tadi, ya?" "Apa?" Wajah Abi semakin menatap Moza tidak suka, sempat bila wanita itu menyebut nama Renat, Abi tidak akan tinggal diam. "Iya, masalah yang tadi." Moza meletakkan gelasnya pada baki yang dibawa oleh pelayan lain. Tangannya yang kosong dilipat di depan d**a. Raut wajahnya terlihat bersimpati, namun bukannya tersentuh, Abi malah ingin membuat diam wanita ini. "Gimana ya, Bi, aku minta maaf banget karna nyinggung urusan pribadi kamu. Tapi kamu sendiri harusnya juga lebih pinter, Bi." "Kamu ngomong apa sih, Moz? Langsung ajalah, nggak usah banyak muternya." Moza menghela napas panjang, kemudian tersenyum sebelum berujar. "Kamu seharusnya pilih pasangan yang emang setara sama kamu. Kasihan kamunya loh, mau tenang kerja tapi malah sibuk mikirin pacar karna ternyata dia lagi main belakang. Ya emang gitu, orang yang pendidikannya rendah kadang emang nggak pernah puas sama apa yang udah di punya sekarang. Hati-hati aja kamu ditinggalin, Bi." Abi sukses menatap wanita di depannya tidak percaya. Sebetulnya, sosok seperti apa yang tengah menjadi sekretarisnya. Abi berdehem, merapikan dasinya sebentar. "Siapa yang kamu bilang nggak berpendidikan? Renata? Bahkan dia jauh di atas kamu, Moz. Mungkin kamu emang termasuk salah satu orang paling aneh, gimana bisa kamu ngomong jelek tentang calon istriku di depan aku? Orang yang kamu sebut nggak berpendidikan itu, nyatanya berhasil jemput masternya di Berlin. Dia sukses ngasilin uang dari rumah sakit ternama di Seoul." Abi mencoba menahan diri, bersikap berlebihan di tempat seperti ini tentulah akan menarik banyak pasang mata untuk bersikap ingin tahu. Moza kikuk, gilirannya yang sibuk berdehem. Jantungnya berdetak tidak enak tiba-tiba, sementara kepalanya sibuk merutuki mulut yang tidak bisa dijaga. Moza salah menduga, dia pikir, Renat hanyalah seorang wanita yang sibuk di sosial media dan kesehariannya hanyalah memposting foto-foto terbaru. Buktinya, kenapa bisa di saat siang seperti tadi, Renat dapat berpergian dengan santai seakan-akan tidak memiliki beban sama sekali. "Satu lagi, kamu terlalu cepat buat nilai orang lain. Nyatanya kamu emang nggak pernah berubah, selalu punya sikap iri nggak mendasar dan mikir kalau cuma kamu manusia paling baik." Abi menyisir pandangan di sekitar, kemudian menatap Moza lagi. "Aku nggak tau sampai kapan, tapi mungkin waktu kamu di sini nggak akan lama lagi. Jadi, aku harap kamu bisa siap-siap, Moza." Moza melotot, menatap punggung Abi yang kini tengah berjalan meninggalkannya. Moza berusaha tenang, walau tangannya sedang terkepal keras-keras sembari menahan air mata agar tidak jatuh. "Renata...," lirih Moza tidak percaya bahwa Abi memang betul-betul membela wanita yang jelas-jelas siang tadi sukses ia bentak tanpa hati. ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN