25. Mencoba Mengerti

3073 Kata
Pagi hari biasanya mampu membuat mood buruk seseorang menjadi sedikit lebih baik sebab udaranya yang segar, termasuk untuk Renat. Namun hari ini, suasana padat ibukota nyatanya sukses membuat wajah Renat semakin terlihat kelabu. Bangun dari tidur, alih-alih bergerak menuju kamar mandi atau mencoba resep masakan terbaru, Renat malah termenung seperti orang bingung. Tidak peduli sesemangat apa orang-orang terlihat dari luar kaca mobil, Renat hanya memasang muka malas. Gita di sebelahnya tidak mau bersuara banyak disebabkan Renat yang pasti akan menangis. Sebelum pergi, Gita sudah berhasil membuat air mata Renat mengalir tanpa henti karena ia mencoba memberi Renat nasehat perihal pertengkaran Renat kemarin bersama Abi. Pertanda bahwa Renat tidak bisa lagi melawan seseorang adalah dengan menangis, kepala dan hatinya terlalu lelah untuk sekedar membalas dan berpikir. Jadilah, semenjak dua puluh menit lalu hingga sekarang mereka hampir tiba di butik Nadine, Renat dan Gita tidak sekalipun beradu suara. Ponsel Renat bergetar, membuat kepalanya sontak menunduk untuk melihat ponsel yang ia letakkan di paha. Tanpa tedeng aling, Renat langsung saja membalikkan ponsel agar matanya tidak perlu membaca nama seseorang di layar. Sudah beberapa kali dia menerima panggilan, dan tidak sekalipun berniat untuk menerima. Renat katakan, dia sedang terlampu lelah. Sudah untung bisa pergi ke butik, jika tidak peduli, Renat mungkin akan memilih tidur saja untuk mengistirahatkan kepalanya yang pusing. "Diangkat dong, Re," ujar Gita akhirnya memecah sunyi yang sejak tadi tercipta, kepala wanita itu menoleh sekali pada putrinya sebelum kembali melihat ke jalanan di depan. Renat memberikan gelengan kecil, mengusap dahi sambil melihat jauh ke luar melalui jendela. Beberapa pejalan kaki membuat wanita itu jadi merindukan Seoul, hingga tawaran Raskal pun ikut-ikutan menghampiri kepala Renat. Jika dia menerima, apa nanti kata orang-orang terdekatnya. Mungkin saja akan banyak yang tidak menerima dan Renat malas semisalnya mereka banyak tanya. Belum lagi apabila menerima protesan Abi. Renat malas. Punggung Renat jadi lebih tegap ketika mobil yang dikendarai Gita berhasil memasuki parkiran butik milik Nadine. Renat menatap beberapa mobil yang terparkir dan tidak satupun menunjukkan keberadaan Abi di sini. Helaan napas Renat keluar begitu saja, dia sudah menebak bahwa Abi tentu akan datang lebih lambat daripada dirinya sebab pria itu terlalu sibuk di kantor. Renat tidak peduli, mau Abi datang atau tidak, itu urusannya. "Yuk keluar," ajak Gita dan Renat mengangguk saja. Dirapikannya lagi penampilan walau hanya menggunakan kaus santai warna putih dan celana kulot hitam yang jatuh hingga betis, kemudian memasang sandal teplek kesayangannya---dengan bulu lembut pada bagian penutupnya. Renat mengambil tas, lantas keluar dari mobil sembari menyisir rambut dengan jemari. Walau sedang lelah, setidaknya Renat juga harus memperhatikan penampilan, terlebih pada rambut. Ia menyempatkan keramas sebelum pergi agar tidak terlihat kusut. Bisa bahaya jika orang-orang menyebutnya gila. "WO-nya datang sebentar lagi kayaknya," kata Gita untuk kesekian kalinya walau hanya mendapat respon ala kadar dari Renat. Wanita itu pantang menyerah sekali. "Mama penasaran, kamu mau tema pernikahan yang kayak gimana, Re?" Renat menoleh, melihat sang mama yang sedang berusaha menyamakan langkah dengan Renat untuk sama-sama masuk ke dalam butik. "Kenapa emangnya?" "Ya kan Mama pengen tau, kali aja bisa diwujudin." Pintu butik Nadine terbuka ketika ibu dan anak tersebut berjalan semakin dekat, Renat masuk lebih dulu sambil memikirkan ucapan sang mama. Sebetulnya tidak harus meriah dan besar. Sebuah pernikahan kecil sederhana dan mengundang teman-teman terdekat saja itu sudah cukup baginya. Renat belajar banyak dari teman-temannya ketika di Seoul, yang kebanyakan menikah hanya dengan memakai wedding dress sederhana, tidak banyak yang diundang sebab mereka lebih mengutamakan orang-orang terdekat. Tapi bagi Renat, pernikahan teman-temannya sudah terlihat luar biasa sekali. Alasan utamanya bukan karena dekorasi atau tempat pernikahan, tetapi melihat pasangan yang tampak begitu saling menyayangi dan mereka yakin untuk saling berjanji di hadapan Tuhan, itu yang membuat Renat bergetar dan merinding. "Re!" sapa Nadine semangat sehingga pikiran Renat perihal pernikahan impiannya buyar. Wanita itu tersenyum membalas sapaan Nadine dan menyambut pelukan Nadine dengan hangat. Tampaknya calon ibu mertuanya itu memang tidak mengetahui masalah Renat dan Abi, membuat Renat dapat bersikap lebih santai daripada bersama Gita. "Udah sarapan belum?" "Udah, Tante," jawab Renat sembari menyisir pandangan pada sekitar. Suasana butik Nadine memang terlihat berubah dari terakhir kali Renat kemari---entah tahun kapan, ia pun sudah tidak ingat lagi. Yang Renat tahu, ia sering kemari ketika SMA karena mamanya sendiri yang merekomendasikan. Kala itu, bukannya membiarkan para karyawan yang melayani Renat, Nadine malah turun tangan sendiri membantu Renat mencari baju yang cocok untuk ia pakai. Sifat keibuan wanita itu memang membuat Renat nyaman dan merasa hangat. Sekesal apapun Renat pada sulung Nadine, ia mana pernah bisa kesal pada Nadine. "Re, mau liat-liat baju dulu deh, Tan." "Abi nya udah ditelfon belum, Re?" tanya Nadine sambil asik memperbaiki beberapa baju. Renat yang sedang berdiri di depan dress sontak menoleh dan kebingungan, diselipkannya anak rambut ke balik telinga, lantas tersenyum tidak enak. Tangannya yang sedang memegang ponsel disembunyikan ke belakang, "Itu, Tan, HP-nya Re lagi lowbat." "Oh gitu," respon Nadine kemudian beralih melihat ponselnya sendiri. "Soalnya Tante telfonin tuh nggak diangkat, Re, sama dia. Tadi udah janji bakalan dateng on time katanya. Cuma sampai sekarang juga belum keliatan." "Ada meeting kali, Tan," kata Renat mencoba memikirkan alasan yang masuk akal. Tangannya kembali bergerak memegang beberapa dress indah dengan warna-warna pastel. Renat jadi ingat dress kemarin yang sempat ia beli namun tidak jadi terpakai. Mau bagaimana lagi, daripada memaksakan diri untuk datang, toh dress tersebut masih bisa ia pakai di lain hari. Renat berjalan lagi, memutar untuk melihat pakaian yang lain sehingga ia tidak lagi dapat melihat Gita dan Nadine. Kakinya berhenti, kali ini matanya melihat dress dengan warna-warna gelap. Tangan Renat terulur, mencoba mengambil salah satu dress berwarna hijau lumut dan memperhatikan detailnya. Bawahannya sedikit unik dengan renda yang mengelilingi, sementara lengannya yang panjang tidak menutupi kemegahan dress tersebut. Renat meletakkannya kembali, kemudian mengambil dress warna abu-abu dengan potongan lebih terbuka. Mungkin hanya akan jatuh hingga atas lutut bila Renat memakainya, lalu tali spaghetti di bagian bahu dan bagian uniknya ada di pinggang. Renat tersenyum sesaat, baru akan kembali meletakkan dress tersebut, sebuah suara yang teramat Renat kenal sukses menginterupsinya. "Kamu suka dressnya?" Abi, pria yang tengah menyender pada salah satu sisi lemari tersebut mencoba tersenyum pada Renat, matanya melirik dress abu-abu yang Renat pegang. "Nggak usah yang itu, kependekan, terus bahunya kebuka. Cari yang lain aja." Renat diam saja, tidak menunjukkan reaksi apapun selain meletakkan kembali dress yang tengah ia pegang ke tempatnya. Renat hadap kanan, kemudian mengabaikan Abi dengan kembali melanjutkan langkah. Dirinya sudah tidak lagi dapat fokus karena kedatangan Abi, sedang jantungnya juga ikut-ikutan tidak tenang. Pertama, Renat takut Abi mengajaknya berkelahi lagi. Kedua, sebab Renat tahu ia akan menangis ketika mereka berdebat lagi karena Renat tidak mampu melawan, tenaganya habis sudah. "Re," panggil Abi pelan seraya mengikuti langkah Renat. Sengaja berdiri di depan Renat agar Abi dapat mengunci pergerakan wanita itu. "Kenapa telfon aku nggak dijawab?" Renat menggeleng saja, kemudian mengulurkan punggung tangan agar Abi awas dari jalannya dengan pelan. Alih-alih membiarkan Renat lawan, Abi malah menangkap lengan Renat sehingga wanita itu tidak jadi berjalan. Abi diam, menatap Renat yang enggan menatapnya. Ketika Abi tengah mencoba menahan, Renat malah berusaha untuk melepaskan genggaman Abi. Pikiran Abi makin tidak jelas karena takut Renat belum lupa perihal kemarin. Abi merutuki diri, bagaimana pula Renat dapat lupa sementara ia menangis begitu parah kemarin. "Re, aku minta maaf." Renat sukses menunduk, matanya terpejam kala harus mendengarkan permintaan maaf lagi. Sekali saja, ketika salah, ia tidak ingin mendengarkan Abi berkata maaf. Akan lebih baik apabila pria itu bersikap normal dan Renat sendiri pelan-pelan pun dapat berusaha menjadi biasa kembali. Jika begini, dia hanya ingin menangis. Renat benci saat-saat dirinya menjadi lemah tanpa mampu memberikan perlawanan. Padahal, semua yang akan Renat perjuangkan, tentulah memang untuk kebahagiaannya sendiri. "Iya," ujar Renat pelan kemudian mencoba lebih keras agar lepas dari Abi. Tangannya sukses terlepas, walau tatapan Abi jelas-jelas masih mengikatnya. Abi sadar sekali jika Renat sudah begini, pertanda bahwa kemarahan wanita itu sudah benar-benar mengerikan. Bertahun-tahun Abi bersama Renat, beberapa kali ia sempat ada di posisi menyebalkan seperti ini. Bodohnya, Abi tidak pernah mau mempelajari keadaan dan mengambil pelajaran. Dia belum paham dengan apa yang Renat inginkan di saat seperti ini dan itulah kekurangannya. Cara menutupinya hanya dengan terus berucap maaf dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. "Re, aku tau kamu masih nggak enak sama yang kemarin," kata Abi lagi dan Renat diam saja menatapnya. "Baguslah, Bi, kalau kamu ngerti," jawab Renat pelan, sama sekali tidak emosi. "Jadi jauh-jauh dulu." Renat melanjutkan, kemudian hendak pergi sebelum Abi benar-benar menautkan jemari mereka. Pria itu melihat ke kanan, menangkap salah seorang pegawai sang mama yang tengah bekerja dan Abi pikir tempat mereka sekarang tidak cocok untuk dijadikan tempat bicara serius. Abi menarik Renat bersamanya, membuat Renat secara tidak rela jadi terikut langkah pria itu. "Kita ngomong di ruangan Mama." "Abi," panggil Renat pelan, suaranya malah sudah bergetar sementara satu tangannya yang bebas dan hanya memegang ponsel dengan cepat mengusap mata. Abi membawa Renat masuk, tidak membalas apa-apa ketika mama dan calon mama mertuanya ternyata menangkap pergerakan mereka. Abi menutup pintu ruangan Nadine, kemudian meminta Renat duduk lebih dulu di sofa. Renat masih berbaik hati untuk menurut, tapi ketika Abi menyusul untuk duduk di sampingnya, Renat melarang. "Udah aku bilang, jauh-jauh dulu." Renat menyisir rambut dengan jemari, raut wajahnya menjelaskan bahwa ia tidak ingin ribut. Sedang Abi sukses mendesah frustrasi, mau tidak mau mengikuti keinginan wanita di hadapannya. Kemudian diambilnya tempat duduk pada sofa yang lain, namun masih mencoba untuk dekat. "Re, kasih tau aku harus gimana biar kita bisa baik-baik lagi." "Jauh-jauh dulu aja," jawab Renat menatap jemari di pangkuannya. "Jangan telfon atau chat dulu, aku lagi mumet beneran sama kamu." "Sampai kapan?" tanya Abi dengan wajah serius meminta kepastian. "Sampai aku duluan yang telfon atau chat kamu." Renat mengangkat ponsel, menunjukkan layar dengan banyaknya panggilan masuk dari Abi yang enggan untuk dia jawab. "Liat, kan? Aku lagi males." "Kamu nggak punya niatan buat balik ke Seoul, kan?" Tiba-tiba saja, pikiran Abi ditakuti oleh bentuk pertanyaan semacam itu. Bisa saja Renat memang memikirkan kemungkinan yang satu itu dan pada akhirnya kembali ke Seoul, lantas enggan untuk kembali ke Jakarta. "Ada," ujar Renat santai saja, tidak berpikir bahwa Abi sudah harus menahan dirinya habis-habisan. "Raskal juga nawarin aku buat jadi model majalahnya, terus bakal ada pemotretan di Seoul. Aku lagi mikir bagusan diambil atau enggak." Tanpa Renat ketahui, buku-buku jemari Abi sudah memutih. Pria itu tidak hanya menahan diri tapi harus menahan semuanya. Dia tidak ingin bila Renat kembali membawa nama Raskal dalam obrolan mereka dan Renat nyatanya kembali membawa sosok Raskal ke permukaan. "Kalau aku nggak kasih izin?" tanya Abi masih dalam proses untuk tenang kembali, dia tidak ingin marah-marah lagi seperti kemarin. "Loh?" respon Renat dengan wajah tidak mau kalah, tangannya mencoba menyalakan ponsel dan membuka aplikasi pengirim pesan. "Kamu bukan suamiku, masih calon, nggak punya hak larang-larang aku." Abi mengernyit, "Maksud kamu apa?" "Bener, kan? Kita juga belum sah, jadi kamu belum punya hak." Abi tertawa, merasa benar-benar diremehkan. Jika bukan dia, lantas siapa yang akan menjadi pemimpin dalam keluarga nanti. Dan Renat malah dengan mudahnya membuat posisi Abi tersebut seakan-akan tidak berarti. "Aku bisa halalin kamu sekarang juga kalau aku mau, Re." Raut wajah Abi terlihat serius, tanda ia memang tidak sedang bermain-main ataupun tengah ingin dipermainkan. "Orangtua kamu juga udah setuju. Kita cuma belum lamaran resmi sama tunangan. Nggak pakai tunangan juga boleh. Nanti malam aku lamar kamu, besok kita nikah." "Ngomong apaan, sih, kamu?" tanya Renat tidak suka. "Kamu yang ngomong apa," balas Abi, tangannya mencoba meraih dasi yang terasa menyesakkan. "Kamu pikir selama ini aku main-main sama kamu?" "Aku nggak mikir gitu," jawab Renat langsung, merasa Abi sudah menuduhnya yang tidak-tidak. "Jadi maksud kamu apa kalau aku nggak boleh larang kamu?" tanya Abi menyentak, membuat Renat jadi terpojokkan. "Emangnya nggak wajar kalau aku nggak suka kamu sebut-sebut nama Raskal di depan aku? Terus sekarang kamu enak banget bilang mau jadi model majalah dia. Kamu ngehargain aku atau enggak sih, Re?" "Bi, kenapa jadi marah-marah, sih?" tanya Renat masih terduduk di tempatnya. "Aku yang harusnya tanya kenapa kamu bisa semarah itu sama Raskal! Padahal aku korban dari sikap aneh kalian berdua dan aku masih coba buat maafin dia." Abi diam, tidak ingin mengungkit kembali masa lalu perihal ia, Moza, dan Raskal. Namun melihat Renat yang kini tengah fokus menatap ponsel karena ada satu notifikasi yang masuk, membuat Abi jadi memperhatikan wanita itu penasaran. Renat mengetikkan sesuatu pada ponsel, belum sampai lima detik setelah Renat melepas ponselnya, benda itu berbunyi. Abi yang nyatanya lebih cepat langsung saja mengambil ponsel Renat dan benar-benar tidak terima kala membaca nama Raskal di layar. Abi mengusap layar, kemudian meletakkan ponsel tersebut di telinga tanpa mau mendengar protesan Renat. "Nggak usah hubungin dia lagi," ujar Abi dingin seraya membuang tatapan dari Renat. "Abi? Ini lo?" "Gue cuma bakal ingetin lo sekali, jangan bikin tangan gue jadi beneran bikin nyawa lo ngilang." Raskal terdengar tertawa geli di ujung telepon, merasa bahwa Abi sedang berlaku berlebihan. "Lo masih nggak berubah ya, Bi? Tapi kenapa bisa Renat tahan sama lo kalau misalnya lo sendiri nggak pernah takut buat ngancem orang lain kayak gitu." "Pokoknya jangan pernah---" "Apa?" tanya Raskal memotong. "Lo masih nggak terima sama masa lalu? Kalau gue bisa ngerubah, udah dari lama bakalan gue ubah." "Gue nggak peduli sama apa yang lo bicarain, tapi jangan pernah hubungin Renat lagi." "Ada yang salah kalau gue pengen temenan lagi sama dia?" "Nggak usah coba-coba!" peringat Abi tajam, dia tidak ingin bila Raskal masih ingin mempermainkan mereka seperti dulu. "Kayaknya lebih enakan kalau kita ketemu terus bisa ngomong langsung daripada lo marah-marah nggak jelas. Kalau lo pakai HP Renat, berarti kalian lagi sama-sama. Lo nggak malu Renat liatin gimana lo yang sebenernya?" Abi mendengus, sebetulnya tersinggung dengan ucapan Raskal. Pada akhirnya, Abi menyetujui ide musuhnya itu. "Lo dimana?" "Gue di kantor sekarang, kita bisa ketemu waktu makan siang." Setelah Raskal menyebutkan tempat dimana mereka akan bertemu, Abi langsung memutuskan panggilan tanpa basa basi terlebih dahulu. Baru akan mengembalikan ponsel, Abi membeku sebab melihat Renat yang tengah menunduk dengan jemari terus mengusap mata. Abi membuang ponsel Renat ke sebelah wanita itu, lantas berdiri dengan lutut sebagai tumpuannya tepat di hadapan Renat. Abi mencoba meraih lengan Renat dengan pelan dan berakhir ditepis kasar, membuat pria itu menatap Renat tidak percaya. Mata Renat merah akibat menangis, pun jelas sekali tengah memperlihatkan kekecewaan. "Kalau kamu buat nyawa Raskal ngilang, emangnya kamu bisa hidup bahagia?" teriak Renat sakit hati. Dia sudah lama sekali tidak melihat Abi berlaku keras seperti tadi, namun Raskal---seorang yang sudah Renat anggap sebagai teman---nyatanya masih diperlakukan seakan-akan pria itu memang tidak pantas menerima maaf dari sosok Abi yang angkuh. "Aku nggak perlu kamu lindungin pakai kekerasan, Bi. Aku nggak mau punya suami kriminal apalagi alasan ngebunuh kamu cuma karna Raskal ngehubungin aku. Aku pikir kayaknya kamu beneran sakit. Sana, minta obat sama sekretaris kamu." "Re," panggil Abi pelan tidak percaya. Sekarang kepala pria itu benar-benar diisi oleh banyaknya tebakan-tebakan mengapa Renat semakin marah. Pertama karena Moza dan Audrey, dan kedua sebab sikap kasar penuh ancaman yang Abi tunjukkan pada Raskal. "Kamu maunya apasih, Bi?" Renat bertanya frustrasi, wajahnya tampak benar-benar lelah dengan Abi. Renat ingin pulang, biar saja pertemuan hari ini bersama wedding organizer batal asal ia dapat beristirahat. Lagipula, pria di depannya benar-benar aneh. Abi bahkan belum tahu apakah Renat menerima atau menolak tawaran Raskal dan ia hanya mencurahkan amarahnya tanpa tahu malu. "Aku punya hak buat larang kamu ketemu orang lain, Re. Kalau kamu tanya pendapat aku buat terima tawaran Raskal atau enggak, aku bakalan jawab enggak. Lagipula nggak semua hal yang kamu lakuin bakalan aku larang, Re. Aku cuma nggak mau kamu deket-deket sama Raskal lagi apapun alasannya. Kamu bilang aku nggak punya hak karna masih calon suami kamu? Kalau gitu ayo kita liat sama-sama sampai kapan kamu sanggup kasih jawaban kayak gitu ke aku." "Terus kenapa kamu bisa deket sama perempuan-perempuan lain, Bi?!" Renat berteriak, tangisnya pecah pada akhirnya. Rasa sakit yang ia coba tutupi seorang diri akhirnya tersebut juga. Renat cemburu, melihat Abi yang dekat bersama dua perempuan sementara Renat habis dimarahi hanya karena bertemu sesaat dengan Raskal. "Aku bahkan nggak bisa marah-marah kayak kamu. Aku juga nggak suka liat kamu sama mereka, tapi aku diem karna nggak mau gangguin kamu." "Aku udah minta orang buat cari laki-laki yang bisa gantiin Moza, Re," balas Abi langsung dan mata Renat seketika memancarkan kekagetan. Mulutnya yang baru akan kembali bersuara sukses terdiam. "Nggak cuma kamu, aku sendiri juga nggak nyaman sama Moza." "Nggak nyaman?" tanya Renat kebingungan. Abi menggeleng, tampaknya tidak pas bila kembali mengungkit masa lalu yang tidak berarti sama sekali kepada Renat. Wajah pria itu melunak, tangannya mengusap dahi sesaat akibat pusing mendadak. "Nggak penting, intinya aku emang nggak nyaman sama dia. Apalagi waktu dia mulai ngomong aneh-aneh tentang kamu." "Ngomong apa?" "Dia bilang calon istriku bukan perempuan hebat," kata Abi mencoba menyampaikan ucapan Moza semalam dengan caranya sendiri. Tangannya mencoba mengelus lengan Renat yang terbuka. Beruntung wanita itu tidak menolak dan memberikan tepisan kasar pada Abi seperti sebelumnya. Jika bukan untuk bertemu Renat, Abi enggan keluar kantor. Ia lebih baik mengambil waktu untuk beristirahat sejenak sembari membaca dan mempelajari beberapa file penting setelah meeting pagi ini. "Kenyataannya emang gitu, kan?" tanya Renat tiba-tiba dengan sendu, wajahnya beralih menatap kuku-kukunya yang bersih. Dia malu menatap Abi lama sebab sadar akan kekurangannya yang tidak dapat bekerja dan itu membuatnya merasa kecil hati bila disandingkan dengan Abi. "Kenyataan apa? Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, Re." Abi menggeleng, dia tidak suka bila Renat ikut-ikutan mengucilkan dirinya sendiri. "Ini alasan kenapa aku mau kerja lagi, Bi. Aku nggak mau orang-orang nilai aku nggak bisa apa-apa. Sementara buat dapetin ilmunya aja, aku harus pontang panting belajar. Aku nggak mau apa yang udah aku kejar, akhirnya jadi sia-sia. Aku pengen bisa layak jadi istri kamu. Aku pengen kamu ngerti, Bi." Abi diam, walau kepalanya jelas sedang berperang memikirkan keinginan Renat yang sebetulnya sulit untuk Abi iyakan. Bukannya tidak mau, namun Abi berpikir akan lebih baik apabila Renat di rumah saja tanpa memikirkan bagaimana sibuk dan melelahkannya pekerjaan. Tapi bila dipikirkan kembali, seorang yang memang terbiasa berkarir memang akan tidak terima bila hak hidupnya tiba-tiba dirampas dengan dilarang bekerja. Diperhatikannya Renat yang kembali sibuk mengusap mata. Akhir-akhir ini, sering kali Abi lihat Renat menangis. Bodohnya, semua itu disebabkan oleh Abi dan egoismenya. "Kasih tau aku, gimana caranya bikin nangis kamu berhenti." Abi mengusap mata Renat dengan sayang, kemudian tersenyum menatap wajah Renat yang masih tidak percaya akan ucapan Abi. ♦ r e t u r n ♦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN