Renat duduk di atas kursi makan, menyandarkan punggung lemahnya seraya menatap menu sarapan dengan kecewa. Dia sudah begitu berharap bahwa Abi akan memaafkannya, terlebih memberikan Renat senyuman manis sebagai tanda bahwa mereka akan membuka lembar baru dan mulai berjuang bersama-sama. Tapi harapan memang hanya tinggal harapan, Renat mencoba menyadari bahwa mungkin percobaan sekali memang kerap ditemani kegagalan. Untuk Abi, Renat tidak mau menyerah. Untuk anak mereka di surga sana, Renat ingin membuktikan bahwa ia layak menjadi istri sekaligus ibu. "Gimana sama Abi?" Renat tidak menoleh ketika mendengar tanya dari sang mama yang baru saja keluar dari kamar dan tiba di ruang kamar. Sudah rapi, tampaknya akan pergi ke suatu tempat. "Abi udah pergi kerja?" Renat masih tidak menunjukkan re

